
Keputusan sudah dibuat. Ridho dan Patricia telah membeli tiket pesawat untuk pergi ke Indonesia untuk mengunjungi orangtua Ridho di Bandung. Kedua orangtua Ridho dan keluarga besarnya sudah tidak sabar untuk melihat sosok wanita bule keturunan Italia yang kini sudah menjadi pasangan halal Ridho, pemuda polos yang selalu menjadi kebanggaan keluarganya. Bahkan mereka sudah menyebarkan undangan untuk pesta ngunduh mantu yang akan diadakan di hari lusa. Jadi, mereka akan berangkat malam nanti.
Tuan Antonio lebih sering terdiam akhir-akhir ini. Terlebih lagi karena ia tidak tahu dimana anak sulungnya yang selalu mendampinginya berada. Meskipun begitu ia sudah mengirim beberapa agen rahasia untuk mencari keberadaan Leonardo. Saham perusahaan Bocchi terus menurun sejak Dominic mengambil data rahasia perusahaannya itu. Masa depan perusahaannya kini diujung tanduk. Meski ia sudah berinvestasi pada perusahaan Winata untuk sektor lain yang baru digelutinya.
Antonio memperhatikan Patricia dan Ridho dari jauh ketika keduanya tengah menikmati sarapan pagi hari itu sambil diselingi tawa dan canda. Pria paruh baya itu tersenyum kecil melihat putrinya bisa tertawa lepas bersama kekasih hatinya. Ia tidak lagi memandang Ridho sebelah mata, meskipun ia masih belum mengenalnya lebih dekat. Ia hanya ingin mengetahui bagaimana kemampuan bisnis Ridho, jika pria itu diterjunkan langsung dalam perusahaannya.
"Papa, aku akan mengunjungi Indonesia. Kau tidak apa sendiri di sini?" tanya Patricia di ruangan kerja pribadi milik ayahnya itu.
"Pergilah, aku akan baik-baik saja. Bahagialah kau di sana bersamanya," ucap Antonio mengelus rambut anaknya.
"Kami janji akan kembali secepatnya." Patricia memegang tangan ayahnya yang masih menempel di pipinya.
"Tidak usah pikirkan Papa. Pergilah bersamanya. Aku lihat kau sangat bahagia. Kebahagiaanmu sudah cukup untukku." Mendengar hal itu dari lisan ayahnya, mata Patricia berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Ia tahu ayahnya itu sedang cemas memikirkan Leonardo, putra kebanggaannya, penerus perusahaannya.
"Aku janji akan segera kembali kesini."
Antonio memaksakan senyumnya, ia tidak ingin terlibat lemah di hadapan anaknya itu. Ridho kini menghampirinya, meminta izin untuk membawa putrinya ke negara asalnya.
"Sir, aku akan bawa Patricia kembali ke sini!" ucapnya tegas.
"Jangan panggil aku, Sir! Panggil aku, Papa!" ucap Antonio.
"Baik, Papa!" Ridho tersenyum padanya.
"Jagalah dia. Dia putriku yang berharga!"
"Aku janji, Papa!"
Antonio melebarkan kedua tangannya. Ia meminta pelukan dari menantu barunya itu. Dengan senang hati, Ridho memeluk pria yang ada di hadapannya itu. Ia sudah mempercayainya saat ini. Patricia tersenyum melihat keduanya.
Para pelayan membawakan barang-barang milik Patricia dan Ridho. Supir mengantarkan mereka menuju bandara Heathrow di London pusat. Kepergian dari London memang tepat, karena cuaca di sana semakin dingin saja, mungkin salju akan turun dalam tiga hari kedepan. Kedua pengantin baru itu terbang menyebrangi luasnya samudera dan benua, menembus batas langit yang terhalang oleh awan-awan tebal menuju sebuah negeri yang padat penduduknya.
Jalanan padat merayap kini menjadi pemandangan mata wanita yang mengenakan scarf oranye itu. Diantarkan supir dari perusahaan suaminya, Patricia dan Ridho membelah ruas jalan tol dari bandara Soekarno-Hatta menuju Kota Kembang berjuluk Sister City.
Suasana ramai penuh dengan cengkrama nan hangat dan candaan khas Sunda, tersaji di kediaman Pak Yusuf Effendi, seorang pria paruh baya yang masih bekerja menjadi supir pribadi seorang pengusaha sukses, Tuan Gunawan Winata. Kediamannya dipenuhi oleh keluarga besar dan tetangga-tetangga dekatnya.
Sajian makanan ringan khas daerah memenuhi piring-piring kecil. Kepulan asap rokok terbang ketika para kerabat saling bersilat lidah, bercanda satu sama lain. Suasana di sana begitu akrab dan hangat. Kebiasaan orang-orang Sunda yang senang berkumpul menjadi kekuatan tersendiri bagi tiap keluarga di tatar Pasundan. Mereka hendak menyambut kedatangan pengantin baru yang dua hari lalu baru saja menyelesaikan akad nikah.
Sebuah mobil Alphard hitam berhenti di depan rumah sederhana yang memiliki halaman cukup luas. Ridho keluar dari mobil itu sambil membantu istrinya turun dari sana. Pria itu menggandeng tas ranselnya dan berjalan sambil menuntun tangan Patricia.
"Assalamu'alaikum," ucapnya dengan ekspresi sumringah.
"Wa'alaikumsalam!"
Orang-orang yang berada di dalam rumahnya berhamburan keluar, berebutan menyambut pengantin baru itu.
__ADS_1
"Ya Allah Dho, sehat?" sambut ayahnya yang langsung memeluknya erat.
"Alhamdulillah, Pak!"
"Wajah kamu kenapa itu baret-baret gitu?"
"Ah kegores dikit aja, Pak!" ucapnya menutupi.
"Ini teh Patricia?!"
Patricia tersenyum lebar, sambil menyalami ayah mertuanya itu. Terasa canggung memang, apalagi mereka berasal dari kebudayaan yang jauh berbeda.
"MasyaAllah, meni geulis pisan, Dho! Kamu mah bisaan milih istri teh!" ucap bapaknya itu.
"Ah udah jodoh atuh Pak! Jadi gak kemana!" ucapnya dengan logat Sunda khas miliknya.
Patricia tersenyum saja karena tidak mengerti. Bahkan ia masih tidak tahu dengan Bahasa Indonesia.
Kini giliran Ibu Narti yang memeluk erat anak bungsunya, melepas rindu yang hampir selama satu Minggu ini berjauhan jarak. Wanita paruh baya itu tidak pernah menyangka anaknya akan pergi jauh untuk mengejar cintanya. Ia pun memeluk tubuh anak menantunya yang cantik, dan langsung membawanya ke dalam rumah, karena tampaknya ia akan menjadi pusat perhatian warga yang mulai berdatangan. Padahal acara syukuran pernikahan Ridho dan Patricia akan diadakan besok.
"My name is Narti Sunarti, I am Ridho's mother," ucap Bu Narti percaya diri meski lafal Bahasa Inggrisnya cukup kaku. Ia mempersilakan Patricia duduk di atas sofa miliknya dan menyuguhkan secangkir teh panas.
"Thank you, Mom!" uca Patricia.
"Very relaxing!" puji Patricia.
"What?"
"Relaxing!"
"Oh, relax, ya!" timpal Bu Narti.
Ridho dan ayahnya masuk ke dalam sambil membawakan koper mereka dan menyimpannya di dalam kamar Ridho.
"Dho bawa istrinya istirahat, kasian kalian pasti capek!" seru Bu Narti membawakan lagi minuman teh panasnya untuk anaknya.
"Iya Bu!"
Ridho mengajak Patricia untuk beristirahat di dalam kamarnya yang tidak seluas kamar di mansion Bocchi. Meskipun begitu, Patricia tetap antusias memperhatikan kamar suaminya itu. Apalagi ketika dilihatnya sebuah foto dalam pigura hitam yang menggantung di dinding. Itu foto pernikahan Ridho dan Namira. Patricia menatap lekat. Seulas senyum muncul di bibirnya.
"Kau keberatan foto itu ada di sana?" tanya Ridho setelah ia tahu Patricia menatap pada benda itu.
"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Namira bagian dari hidupmu, bahkan diriku. Ia sudah seperti saudaraku sendiri."
"Aku beruntung sekali mendapatkan dua wanita baik seperti kalian. Terutama kamu, Patricia!" ucap Ridho mencium pipi istrinya itu.
__ADS_1
Patricia tersenyum dan terduduk di atas kasur.
"Maaf kamarnya terlalu sempit. Juga tidak ada kamar mandi di dalamnya." Ridho membereskan pakaian dari dalam kopernya.
"Tidak apa-apa, Honey! Ini kamarmu, jadi aku harus menyukainya!"
"Tidurlah! Besok akan ada acara untuk kita!" ucap Ridho.
\=\=\=\=\=\=
Sebuah tenda luas berwarna hitam yang sudah didekorasi oleh kain putih dan salem, sudah berdiri di depan halaman rumah Pak Yusuf. Pesta resepsi kecil dan sederhana akan diadakan pukul 10 hari ini. Patricia sudah didandani dengan kebaya khas Jawa Barat berwarna salem. Ia terlihat cantik dengan hijab mengkilapnya, rangkaian bunga melati menghias di bagian kepala dan menjulur indah hingga ke dadanya. Bagian kepalanya telah dipasang dengan aksesoris siger, semacam mahkota berhiaskan permata imitasi yang terlihat indah berkilauan. Dari pinggang ke bawah, tubuh Patricia dililit oleh kain samping batik kebat. Tak lupa memakai selop bermata atau sandal berhak 3 cm, sebagai alas kakinya.
Begitu pula dengan Ridho yang terlihat tampan dan gagah dengan pakaian adatnya. Tubuhnya mengenakan jas buka prangwedana dengan warna senada dengan pakaian perempuan. Di bagian pinggangnya tersemat keris di balik tali pinggang dan kain samping batik kebat. Kepalanya dipasang bendo berhiaskan permata.
Kedua mempelai pengantin itu duduk di sebuah kursi di atas panggung pelaminan yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Didampingi oleh orang tua Ridho, mereka siap menyambut para tamu undangan yang akan memberi ucapan selamat. Bunyi alunan dari gamelan khas Sunda siap mengiringi acara selama dua jam kedepan itu.
“Kau cantik sekali!” ucap Ridho ketika mereka bertemu di panggung pelaminan.
“Terima kasih! Ini begitu unik, semoga saja aku kuat sampai nanti siang.” Tentu saja ini pengalaman pertama bagi Patricia. Mahkota di kepalanya memang tidak terlalu berat, hanya saja cukup sulit membuatnya bergerak leluasa.
“Aku akan menjagamu. Nikmati saja!”
Bunyi gamelan sudah menggaung sejak tadi pagi, kini para tamu sudah berdatangan. Memang tidak banyak, hanya dari keluarga dan kerabat terdekat saja yang akan datang, termasuk teman-teman kampus Ridho.
“Selamat my Men, cantik banget istri lu!” puji Danu.
“Nuhun Mang!”
Danu menyalami Patricia yang hanya mengucapkan thank you for coming. Di belakang Danu, ada Syaiful dan Sally, yang ternyata membawa buah hatinya yang masih bayi. Ada juga Malik dan Ghani yang membawa serta istri-istri mereka.
Acara berlangsung tertib dan teratur, dan selesai tepat ketika adzan dzuhur berkumandang.
“Kau lelah?” Ridho mengipas wajah istrinya, meski sudah terpasang kipas angin di hadapan mereka tetap saja panas terasa.
“Cukup lelah,” jawab Patricia.
“Ayo kita ganti baju. Pesta sudah selesai, kita bisa istirahat setelah ini.” Ridho membawa istrinya itu turun dari panggung dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tanpa sadar, ada sepasang mata mengawasi mereka dari jauh.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung...
LIKE, VOTE & COMMENT-nya ya
Terima kasih
__ADS_1