
Sebuah mobil sedan hitam melaju kencang di ruas jalan tol yang lengang karena hari pagi masih gelap. Ridho memacu mobilnya kembali menuju Jakarta untuk bekerja. Setelah berbincang dengan kedua orangtuanya mengenai keinginannya untuk menikah kembali, hatinya tidak sepercaya diri sebelumnya. Terlebih lagi, mengetahui latar belakang keluarga Patricia yang sangat jauh berbeda dengan dirinya, telah menciutkan niatnya.
Ridho telah tiba di sebuah gedung bertingkat yang menjadi kantornya belakangan ini. Ia langsung masuk menuju ruangannya setelah menaiki lift menuju lantai 22. Suasana ruangan kantor perusahaan gabungan dari beberapa divisi itu masih terlihat sepi, karena ia tiba lebih cepat dari jam masuk kerja. Pria bermata sipit itu sendiri tergabung dalam divisi fashion, menjabat sebagai kepala divisi, artinya ia pemegang tertinggi pada divisi itu. Ridho menyalakan komputer di atas meja kerjanya, dan langsung memeriksa kepada laporan pemasukan akhir bulan pada divisinya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Patricia tertera di layarnya.
Ridho terkejut, mengapa Patricia meneleponnya sepagi ini? Padahal di London sendiri pasti masih tengah malam.
“Halo?”
“Hai…” jawabnya lembut.
“Kau belum tidur?” tanyanya dengan Bahasa Inggris.
“Aku tidak bisa tidur. Bayanganmu selalu datang di pikiranku,” jawabnya jujur sekali. Hal itu tentu saja membuat Ridho terkekeh geli dengan keterusterangan wanita itu.
“Ada apa?” tanya Ridho setelah ia berusaha menetralkan suaranya, karena grogi.
“Papa ingin bertemu denganmu minggu depan, bisa kah?” tanya wanita itu gugup.
__ADS_1
Ridho tersentak kaget. Patricia pasti sudah membicarakan hal ini dengan ayahnya. Namun ia tak menyangka, mengapa bisa ayah Patricia menginginkannya bertemu? Apa ia tidak salah dengar? Mengingat ayahnya adalah seorang pebisnis besar kelas internasional.
“Ridho, kau masih di sana?” tanya Patricia membuyarkan lamunannya.
“Ah, i-iya….” jawabnya gugup.
“Bagaimana? Papa hanya memberikan kesempatan pada kita satu kali. Kau yakin akan melewatkannya?” ucap Patricia seolah mengancam pria itu.
“T-tapi, apa dia bisa menerimaku?”
“Aku juga tidak yakin. Tapi berusahalah, aku akan selalu di sampingmu!” ucap Patricia menyemangati.
“Baiklah, aku akan mencobanya. Demi masa depan kita!” ujarnya kemudian.
“Semangatlah, Ridho! Minta pada Allah. Aku pun akan melakukannya.”
“Terima kasih atas semangatmu.”
__ADS_1
“Ah sepertinya aku harus tidur malam ini. Aku akan menutup teleponku, selamat bekerja!” ucap Patricia lembut.
“Selamat tidur, Pat!”
Sambungan itu terputus, dan kini Ridho menghela nafas beratnya. Dadanya terasa sesak sekali. Jika ia harus melamar Patricia, apa yang harus ia berikan sebagai mahar? Apakah ayah Patricia akan memberikan syarat berat untuk meminang putrinya? Argh, mengapa ini harus terjadi padanya? Pria itu memukul jidat dengan kepalan tangannya.
Sekelumit pertanyaan berjibaku di dalam pikirannya. Apa yang harus ia katakan di depan Tuan Antonio? Lalu bagaimana meyakinkan pria itu agar mau menyerahkan putrinya? Apa ia yakin bisa menjamin kebahagiaan Patricia ketika menikahinya? Mengapa ia menjadi terjebak dalam situasi ini?
Seandainya Namira tidak pernah pergi. Ah, sudahlah….
Jika ia berandai-andai pun, tidak akan pernah mengubah keadaan. Ia yang memulai, sehingga harus menghadapi persoalan ini untuk menyelesaikannya. Cinta pada Patricia memang sedang tumbuh kembali, dan sudah seharusnya ia menjadikan itu sebagai kekuatan terbesarnya.
\=====
Bersambung
LIKE, COMMENT, VOTE, dan TIPSnya jangan lupa
__ADS_1
Terima kasih, support selalu Author Aerii