High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 24. Laboratorium


__ADS_3

Udara musim dingin begitu menusuk kulit hingga ke tulang. Ridho sudah mengenakan baju berlapis-lapis ditambah mantel tebal, syal, serta topi rajut tebal dan sarung tangannya. Ini adalah salju pertamanya, tepat di Kota Stockholm, ibukota Negara Swedia, negara di Eropa Utara yang terkenal karena musim dinginnya yang gelap dan dingin, seakan matahari tidak hadir di sana. Mengapa justru kesan buruk yang didapat oleh Ridho untuk salju pertamanya? Tentu saja ini semua demi Patricia.


Antonio sudah menghubungi kolega terdekatnya di Stockholm. Anak dan menantunya itu akan diterima di kediaman seorang pengusaha yang juga investor bagi perusahaan Bocchi. Tuan Havard Larson, seorang pria paruh baya kepercayaan Antonio. Tak disangka, ia juga memiliki akses penuh ke sebuah laboratorium tempat diproduksinya microchip jenis MX10, jenis microchip sebelum versi MX11 yang terdapat pada tubuh Patricia. Antonio memberitahunya, kalau mereka boleh mempercayainya, karena Tuan Larson adalah pria baik yang selama ini selalu membantunya.


Awan tebal menggantung di langit. Suasana Kota Stockholm begitu tenang, jalanan yang berbalut salju tampak sepi dari kendaraan yang melintas. Seorang supir Tuan Larson menjemput Ridho dan Patricia dari Bandara Arlanda, Stockholm, membawa mereka ke kediaman Tuan Larson, di Solna, dekat dengan Danau Brunnsviken.


Kediaman Tuan Larson yang cukup luas, dari luar terlihat seperti kastil kuno yang terbuat dari tumpukan batu-batu. Halamannya luas terselimuti salju, dihiasi dengan pohon-pohon beranting hitam tanpa daun. Ridho berharap, ruangan di dalam tidak akan semenakutkan dari luar. Mobil sedan hitam produksi Bocchi itu terparkir di halaman mansion Tuan Larson. Seorang pelayan menyambutnya dan mengantarkan pasangan suami istri itu ke sebuah ruangan luas dengan perapian yang menyala. Suasana terasa hangat di dalam.


“Tunggulah di sini, Tuan Larson akan segera ke sini sebentar lagi,” ucap pelayan laki-laki itu.


Ridho dan Patricia mengangguk bersamaan.


Tidak lama kemudian, seorang pelayan wanita menyajikan kepada mereka sebuah teko berisi teh panas, beserta cangkirnya. Keduanya menyesap teh chamomile beraroma mint yang seketika menghangatkan tubuh mereka.


“Kamu pernah bertemu Tuan Larson?” tanya Ridho pada istrinya.


“Aku tidak yakin. Sepertinya pernah, mungkin saat aku kecil.” Patricia kembali menyesap tehnya dan menaruhnya kembali di atas tatakan cangkir.


Seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan rambut dan brewok yang sudah beruban memasuki ruangan. Ia mengenakan setelan jas berwarna pasir, yang berjalan sambil menyesap cerutunya yang terbakar, lalu memberikan cerutu itu pada pelayannya.


Ridho membungkuk sedikit untuk menghormatinya.


“Kau Patricia?” tanya pria itu.


“Ya betul.”


“Kau tumbuh cepat sekali. Terakhir kita bertemu, kau masih setinggi ini,” ucapnya menunjuk pinggangnya, nadanya terdengar ramah.


Patricia tersenyum saja karena ia tidak ingat sama sekali.


“Dan kau pasti Tuan Effendi, suami Patricia?” tanyanya memastikan, ia menjulurkan tangannya. Segera Ridho menyambut tangannya yang terlihat kekar.


“Betul, Tuan Larson!”


“Antonio sudah menceritakan semuanya padaku. Kalian tinggalah dulu di sini. Besok kita akan menuju laboratorium di Danderyds. Beristirahatlah. Pelayan akan menyiapkan semua keperluan kalian. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri!” ucapnya terlihat meyakinkan.

__ADS_1


“Terima kasih banyak, Tuan Larson!” ucap Ridho dan Patricia berbarengan.


Pelayan yang menyambut mereka tadi, kini mengantarkan mereka ke lantai dua menuju kamar tidur mereka. Rumah ini tampak sepi, mirip sekali dengan mansion Bocchi. Karpet merah tergelar di sepanjang lorong lantai dua. Lukisan-lukisan terkemuka menempel di dinding. Hanya saja, bangunan ini tampaknya lebih tua dari kediaman Bocchi.


Ridho dan Patricia menggantung mantelnya di sebuah gantungan kayu bermodel seperti ranting pohon yang terletak di ujung ruangan kamar tidur. Ruangan ini benar-benar hangat. Kasur bertirai dengan selimut tebal sungguh sangat menggoda untuk berbaring di atasnya. Tubuh Ridho terasa lemas sekali setelah hampir seharian lebih terus berada di udara. Bahkan kepalanya saja masih terasa pusing. Pria itu langsung menjerembabkan tubuhnya di atas kasur, seperti kebiasaannya.


“Honey! Bisakah kamu membersihkan tubuhmu dulu sebelum istirahat?” Patricia mulai memprotes kebiasaan buruk suaminya itu.


“Aah, baiklah!” ucapnya lemas, sambil melangkahkan kakinya yang berat ke dalam kamar mandi.


Patricia menggeleng-geleng melihat kelakuan suaminya itu. Ia tahu Ridho pasti hanya mencuci tangan dan kakinya saja. Pria itu terlalu malas untuk membersihkan seluruh tubuhnya. Benar saja, ia cepat sekali keluar dan langsung kembali tidur di atas ranjang bertirai itu, beberapa detik kemudian terdengar nafasnya yang kuat pertanda dirinya sudah menyeberang ke dunia lain.


Wangi sup panas tercium di hidung Ridho ketika ia merasa sudah cukup beristirahat. Pria itu terbangun dan melihat Patricia tengah duduk di sebuah kursi sambil menyiapkan makan siang mereka.


“Pelayan mengirimkan ini tadi,” terangnya tanpa ditanya.


“Kamu tidak beristirahat?”


“Sudah, aku lebih dulu terbangun,” jawabnya sambil menuangkan sup berisi sayuran itu ke dalam sebuah mangkuk.


Ridho beranjak dari kasurnya dan duduk di hadapan istrinya.


“Baiklah, Nyonya Effendi!”


\=====


Ridho menatap langit yang terlihat sendu dan gelap. Benar apa yang dibicarakan orang-orang terkait Kota Stockholm, matahari seperti enggan mengunjungi kota ini. Padahal musim salju baru saja dimulai, bagaimana jika nanti pada puncaknya? Lelaki itu berharap urusannya segera selesai dan pergi dari kota yang dingin ini untuk mencari sinar hangat mentari.


“Ayo kita berangkat!” ajak Tuan Larson.


Ridho dan Patricia mengangguk bersamaan. Keduanya memasuki sebuah mobil van hitam yang cukup besar dengan interior yang nyaman. Mobil itu masih produksi Bocchi. Damian benar, kendaraan hasil produksi perusahaan mertua Ridho itu banyak memenuhi jalan. Tuan Larson pasti salah satu pemasok terbesar di sini.


“Aku sudah menganggap ayahmu sebagai saudaraku,” ucap Tuan Larson tiba-tiba.


“Aku sangat puas dengan hasil produksi perusahaan Bocchi serta inovasi-inovasi mereka. Mendengar Bastille mencuri data kalian, aku sangat menyayangkannya. Aku tidak suka pria itu, penuh intrik dan strategi busuk. Jadi aku akan menolong kalian. Kalau bisa, aku akan langsung membunuhnya jika bertemu langsung dengannya,” ucapnya lagi.

__ADS_1


Ridho cukup terkejut dengan pernyataan terakhir Tuan Larson. Bahkan hal itu tidak pernah terlintas sama sekali di benaknya yang polos. Ia hanya ingin  Patricia cepat lepas dari mikrochip yang tertanam di dalamnya, lalu pergi kemanapun yang tidak akan mungkin bisa diketahui oleh Dominic.


“Apa mikrochip di sini legal dipakai?” tanya Ridho/


“Ya, tahun lalu pemerintah kami membuatnya resmi demi kemudahan transaksi warganya,” jelas Tuan Larson


“Apa Anda pernah mendengar efek samping penggunaan mikrochip itu, Tuan?”


“Ada beberapa kasus di sini. Peretasan pernah terjadi pada orang-orang cukup terpandang, ada juga mereka yang terserang autoimun ketika melepaskan mikrochip secara paksa karena jaringan dalam tubuh mereka rusak.”


“Apa Anda sendiri menanamnya dalam tubuh Anda?”


“Tidak, aku tidak ingin mengambil resiko itu. Aku memiliki banyak teknologi untuk kepentinganku sendiri, dan pemerintah tidak berhak mencampuri urusan pribadiku!” terangnya lagi.


Ridho mengangguk-angguk.


“Siapa yang membuat teknologi mikrochip itu pertama kali?”


“Teknologi ini dibuat pertama kali oleh Biomac Internasional lima tahun silam. Lalu dikembangkan oleh perusahaan IT, Epicentrum, hingga akhirnya diresmikan oleh pemerintah.”


“Apa Anda pernah melihat bagaimana pemasangan mikrochip ini ke dalam tubuh manusia?”


“Aku hanya pernah melihat alatnya, itu semacam jarum suntik yang berbentuk kotak, lalu mereka menyuntikan mikrochip itu ke dalam jaringan tubuh manusia.”


Ternyata perjalanan menuju Danderyd dari kediaman Tuan Larson tidak jauh, hanya butuh waktu perjalanan sekitar lima belas menit saja. Mereka tiba di sebuah bangunan luas di tengah hutan. Laboratorium itu masih milik Biomac Internasional yang merupakan perusahaan pembuat mikrochip itu pertama kali. Larson membawa mereka menemui Dr. Ivan Osterlund, kepala laboratorium di sini.


“Kenalkan ini Tuan Effendi dan istrinya Patricia Bocchi,” ucap Larson memperkenalkan keduanya pada Dokter Osterlund.


Tuan Larson menceritakan semuanya dengan bahasa Swedia, tentang apa yang terjadi pada Patricia. Kedatangannya kesini adalah untuk mengeluarkan mikrochip yang bersarang di lehernya. Ia berharap Dokter Osterlund bisa membantunya.


Tuan Osterlund membawa Patricia pada sebuah ruangan luas, mirip seperti ketika wanita itu dipindai oleh sebuah mesin aneh yang memperlihatkan bagian jaringan dalam tubuhnya. Osterlund dengan cermat memeriksa bentuk mikrochip tersebut yang ternyata memang versi terbaru dari jenis sebelumnya. Ia tidak tahu spesifikasi dan apa diferensiasinya dengan jenis yang lama. Meskipun begitu, dilihat dari bentuknya yang sama, ia yakin bisa mengeluarkannya dengan alat yang sama seperti jenis sebelumnya.


“Aku telah melihat bentuknya dan secara detail dari permukaannya, benda ini tetap mirip dengan versi MX10. Aku yakin bisa mengeluarkannya, hanya saja aku ragu dengan resikonya karena letaknya dekat sekali dengan sistem saraf di leher. Kami belum pernah melakukannya di sana sama sekali.”


DEG. Jantung Ridho berdebar mendengar pernyataan Dr. Osterlund.

__ADS_1


\=====


Bersambung


__ADS_2