High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 8. Makan Siang


__ADS_3

Ridho tertidur pulas selama beberapa jam setelah kedatangannya di mansion milik keluarga Bocchi. Kasur dan bantal empuk itu benar-benar memanjakan tubuhnya yang letih setelah hampir satu hari ia berada di langit. Pria itu membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa sangat lelah dan ia pikir akan tertidur lagi. Ia membuka layar ponsel dan melihat jamnya. Matahari sudah naik di atas langit. Matanya masih berat, ia memutuskan untuk tertidur sebentar lagi saja.


Satu jam kemudian, ponselnya berbunyi nyaring hingga membuatnya terkejut dan terbangun dari tidurnya.


“Halo?” ucapnya dengan suara serak.


“Kau sudah bangun? Atau aku membangunkanmu?” itu Patricia.


“Ah… tadi aku sudah bangun, tetapi tidur kembali. Rasanya masih lelah. Tapi aku akan benar-benar bangun kali ini karena suara lembutmu itu,” ucap Ridho sedikit menggodanya.


Patricia terdengar tertawa kecil. “Bangunlah, kita akan makan siang di bawah! Oh ya, kau belum solat ya? Aku akan menunjukan arah kiblat. Kau bersiap-siaplah.”


“Baiklah, aku akan mengambil wudhu dulu!”


Ridho bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tak lama kemudian sebuah ketukan terdengar di pintu kamarnya. Ridho membukanya.


“Ini sajadah untukmu,” ucap Patricia sambil memberikan sebuah sajadah merah pada Ridho.


“Kiblatnya dimana?”


“Ah iya, izinkan aku masuk sebentar!”


“Baiklah.”


Patricia mengambil kembali sajadah yang ia berikan, lalu menghamparkannya di depan lemari dengan posisi vertikal.


“Jika kau sudah selesai, keluarlah! Aku akan menunggu di kamarku,” ucap Patricia melenggang keluar dari kamar itu. Ridho tersenyum.

__ADS_1


\=====


Ridho dan Patricia berjalan menuju ruang makan. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan meja berisikan 10-12 kursi. Sebuah lampu chandelier menggantung di atasnya, benar-benar antik. Mereka duduk berdampingan sebelum para pelayan menyajikan menu hidangan untuk mereka berdua saja. Seperti hidangan di restoran mewah, hidangan tersaji dimulai dari menu pembuka atau sering disebut dengan appetizer. Dua orang pelayan menyajikan dua buah piring berisi beberapa potong udang dengan kentang tumbuk serta potongan buah alpukat, serta saus mentega.


“Maaf mungkin menu hidangan di sini akan terasa aneh bagimu,” ucap Patricia mengambil sendoknya.


Ridho tertawa kecil. “Aku sering makan udang seperti ini, hanya saja digoreng dengan tepung, bukan kentang. Namanya bakwan udang kalau di sana.”


Patricia tertawa saja meski ia tidak mengerti. Hanya saja makanan itu pasti tidak terlalu sehat, apalagi cara memasaknya dengan digoreng dan dibalut tepung.


Mereka pun mulai memakan itu. Ridho menerka-nerka dalam pikirannya, apakah ia bisa merasa kenyang dengan hanya memakan lima potong udang, meskipun ada kentang tumbuk, tetapi ia tidak merasa yakin akan merasa kenyang setelah memakan menu itu. Rasa masakan itu terasa hambar di lidahnya. Hanya ada rasa asin dan pedas merica, jika ada rempah, itu pun terasa aneh. Tidak seperti masakan Sunda yang menjadi favoritnya, apalagi sambal terasi buatan ibunya. Sudah pasti ia akan menambah porsi beberapa kali.


Setelah piringnya ludes, dua orang pelayang datang kembali sambil membawa dua piring menu main course, berisi steak salmon panggang dengan baby wortel dan asparagus serta saus bunga kol. Ridho menerka lagi, apa rasanya akan sama saja. Ternyata benar, lagi-lagi hanya terasa asin dan pedas merica. Coba saja kalau ditambah sambal, nasi dan lalapan pasti ikan ini terasa nikmat di lidahnya. Kali ini datang lagi dua piring berisi menu dessert alias pencuci mulut dengan sajian panna cotta strawberry dengan saus vanilla.


“Kau masih lapar?” tanya Patricia setelah makan siang mereka selesai.


“Sepertinya aku akan tambah kurus jika terus berada di sini,” ucap Ridho ketika ia sudah mendapat satu kantong berisi cookies cokelat dan churros dengan taburan kayu manis dan brown sugar.


Patricia tertawa lebar.


“Dulu sewaktu sekolah dan kuliah, tubuhku tidak sekecil ini. Tubuhku gemuk, dan susah bergerak. Setelah lulus aku berlatih dan berolahraga, agar tubuhku ideal. Tetapi semakin kesini rasanya semakin turun saja berat badanku,” ucap Ridho lagi. Keduanya tengah berjalan-jalan di taman belakang yang luas.


“Benarkah?” tanya Patricia tidak percaya.


“Ya, betul! Coba saja tanya Ferdian. Dia sahabatku sejak kecil. Dia tahu segalanya tentang diriku, karena kami tumbuh bersama.”


“Ya mungkin aku akan meminta fotomu padanya saat kau kuliah dulu,” ucap Patricia menggoda.

__ADS_1


Ridho menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertawa.


“Kau mungkin akan illfeel melihatku yang dulu.”


“Oh ya? Aku jadi tidak sabar ingin meminta pada Ferdian foto-fotomu!”


“Coba saja!”


“Benar ya? Aku akan minta sekarang!” ucap Patricia mengambil ponsel di sakunya.


Ridho tertawa lepas, sementara sisi lainnya tidak menginginkan hal itu. Dulu, ia selalu merasa tidak percaya diri dengan tubuh gemuknya. Bernafas saja sangat sulit dilakukan, apalagi ketika ia berkuliah di ruangan di lantai tinggi. Apalagi ketika berlari, sudah tidak mungkin lagi.


Ternyata wanita itu benar-benar penasaran, sehingga Ferdian langsung mengirim beberapa fotonya bersama Ridho ketika mereka berkuliah bersama dulu.  Ridho sengaja berbalik arah dan meninggalkan wanita itu ketika melihat foto-foto miliknya.


“Hey, Ridho! Mau kemana kau?” teriak Patricia yang kemudian mengejarnya.


“Kau lucu sekali dengan pipi gembulmu itu! Saat di Amerika pipimu itu masih terlihat, sekarang sudah hilang sama sekali,” ujar Patricia sambil terus menatap ponselnya, pada foto Ridho yang dikirimkan oleh Ferdian.


“Ah, kau tidak usah mengatakan apa-apa. Aku malu," ucap Ridho menundukan kepalanya seperti anak kecil.


Patricia tertawa-tawa. Konyol sekali pria ini, bisa juga mengatakan malu di hadapannya. Mereka berdua kembali mengitari taman yang luas itu, tanpa disadari bahwa ada sepasang mata tengah mengintai mereka dari kejauhan.


\=====


Bersambung....


LIKE, COMMENT, & VOTE yaa

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2