
Sinar matahari menembus tirai-tirai yang menjuntai di balik jendela. Pagi itu masih di musim gugur yang semakin dingin saja. Dedaunan kini sudah tidak tampak lagi bertengger di ranting-ranting kayu pepohonan. Mereka luruh dan kini hilang membusuk di atas tanah, bercampur dengan material lainnya, memberi kehidupan baru pada sang pohon suatu hari nanti.
Patricia membuka tirai jendela kamarnya. Sinar mentari pagi menyorot tepat pada wajah yang masih terlelap pagi itu di balik selimutnya. Pria itu mengernyitkan matanya, lalu berbalik ke sisi lain sambil menenggelamnkan kepalanya di balik bantal empuk.
“Bangun, Honey! Ini sudah hampir jam 10 a.m.,” ucap Patricia lembut pada suaminya.
“Hmm …,” Ridho hanya mendesah kecil di balik tutupan bantalnya.
Patricia tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang menurutnya lucu. Baru pertama kali dilihatnya Ridho seperti ini. Setelah mereka menyelesaikan shalat subuh berjamaah tadi, keduanya memang terlibat pergulatan panas lagi. Tentu saja, karena sudah lama sejak kepergian mendiang istrinya dulu, pria itu bagai menemukan musim seminya bersama Patricia yang tidak disangkanya adalah masih seorang perawan. Ia kira Patricia seperti gadis Barat lainnya yang terjebak pada pergaulan bebas dan mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau. Tetapi Patricia ternyata tidak, ia adalah wanita yang penuh impian, kehidupannya memang bebas, tetapi wanita itu menyalurkannya pada hobinya. Wanita itu senang berkelana, sambil melihat mode-mode fashion dunia yang kemudian menginspirasinya dalam gambar desainnya.
Impiannya belum terwujud karena ia jatuh cinta pada pria polos yang menarik. Mungkin ia harus memulai kembali puzzle impiannya bersama Ridho mulai hari ini. Ia berharap tidak ada hal aneh yang terjadi lagi pada keluarganya. Meskipun ia tidak tahu dimana keberadaan kakaknya sekarang yang sering melakukan hal aneh. Ia hanya berharap kakaknya itu baik-baik saja.
Patricia berusaha menarik bantal yang menutupi wajah suaminya. Ridho menarik selimutnya ketika Patricia berhasil mengambil bantalnya.
“Honey!” Patricia mulai kesal karena usaha untuk membangunkan pria itu tidak membuahkan hasil juga.
Ridho membuka matanya, menatap tajam pada istrinya yang juga menatapnya.
“Kau marah?” tanya Patricia ragu.
Bukannya menjawab pertanyaan itu, Ridho malah menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat. Hidung mereka saling bersentuhan, membuat hembusan nafas terasa hangat meski harus berebut udara. Patricia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya, merasakan aroma baru dalam kehidupannya sekarang.
“Di luar dingin, jadi aku ingin berpelukan saja!” ucap Ridho pelan semakin mengeratkan pelukannya.
“Tapi Ferdian dan Ajeng akan pergi, apa kau tidak mau mengucapkan selamat tinggal kepada mereka?” ucap Patricia.
Ridho langsung beranjak bangun, ia lupa kalau sahabatnya itu masih ada di sana. Langsung saja, ia menarik Patricia dan membawanya ke dalam kamar mandi.
“Aku sudah mandi!” teriak Patricia.
“Mandikan aku kalau begitu!” ucap Ridho menggodanya sambil tersenyum menyeringai.
\=\=\=\=\=
Kediaman Keluarga Bocchi sudah rapi hari ini. Tidak ada satupun barang yang terlihat berantakan, bahkan bekas perkelahian para lelaki di lorong lantai bawah. Ferdian dan Ajeng, juga Damian membawa koper mereka masing-masing. Damian akan langsung kembali ke Indonesia, sedangkan Ferdian dan istrinya mungkin akan pergi ke Swiss, setelah mereka mengubah jadwa honeymoon ke-2 mereka dari Inggris.
Sementara Patricia dan Ridho masih kebingungan akan kemana mereka setelah ini. Jadi mereka akan menunda sementara kepergian mereka dari London.
Ridho dan Patricia baru saja kembali dari bandara setelah mengantarkan sahabat dan atasannya sore itu. Patricia membawa Ridho berkeliling London, salah satu kota tua modern yang penuh dengan suasana kerajaan. Patricia membawa mobilnya melewati kawasan Westminster, wilayah yang menjadi pusat pemerintahan Inggris. Melihat Buckingham Palace, istana yang menjadi kediaman Ratu Elizabeth 2 yang sampai sekarang masih menjabat sebagai Ratu Inggris. Kemudian menyusuri jalan melewati Bigben, London Eye yang megah, dan tentu saja Westminster Palace. Sungai Thames yang lebar dan jernih, terlihat berkilauan memantulkan cahaya matahari dari langit. Ridho melihat ke samping jendelanya, membiarkan angin menerpa wajahnya. Hatinya takjub melihat Kota London yang indah ini, tak menyangka kalau ia bisa menjejakan kakinya di tanah yang sejarahnya sering ia pelajari di kampus. Patricia melajukan mobilnya menyebrang di jembatan Westminster, dimana dari sana mereka bisa melihat indahnya gedung-gedung pemerintahan yang bergaya gotik klasik dengan latar belakang langit biru bersih.
London Bridge is falling down
Falling down, falling down
London Bridge is falling down
My fair lady
Build it up with wood and clay
Wood and clay, wood and clay
Build it up with wood and clay
My fair lady
Wood and clay will wash away
Wash away, wash away
Wood and clay will wash away
My fair lady
Patricia menyanyikan lagu klasik yang biasa dinyanyikan oleh anak-anak dengan suara pas-pasannya, ketika ia membawa mobilnya melewati London Bridge. Ridho ikut menyanyikan lagu itu dengan suaranya yang indah.
“Suaramu bagus juga!” puji Patricia.
__ADS_1
“Aku suka menyanyi, tetapi lebih berpahala jika suara ini dipakai untuk mengaji,” jawab Ridho, lalu menoleh ke arah kanannya.
“Lah yang itu jembatan apa namanya?” tanya Ridho ketika melihat sebuah jembatan ikonik yang kokoh dengan dua menara di atasnya.
“Itu Tower Bridge!” jawab Patricia.
“Ah, ternyata. Aku kira yang itu adalah London Bridge!” ucap Ridho.
“Memang orang sering keliru, karena Tower Bridge begitu ikonik, sedang lagu London Bridge is falling down begitu terkenal.”
Angin sore berhembus semakin dingin saja. Ridho mengeratkan syal di lehernya dan menutup semua kancing mantelnya. Bangunan tua di Inggris didominasi oleh gaya gotik yang cukup mengerikan. Bangunan itu semakin terlihat usianya, seperti gereja-gereja tua dan benteng serta istana. Bangunan abad pertengahan di Eropa ini masih berdiri kokoh.
“Kau pernah mendengar kisah Anne Boleyn?” tanya Patricia.
“Ya, hantu wanita tanpa kepala itu bukan?”
“Ahah, nah ini dia kastilnya. Menara London, sebuah istana kerajaan dari abad pertengahan yang menjadi tempat eksekusi para pengkhianat. Konon katanya, banyak jeritan-jeritan terdengar dari istana ini. Hantu Anne Boleyn juga bisa terlihat jika kita berjalan-jalan di sekitar komplek ini,” terang Patricia ketika mobilnya melintasi sebuah komplek istana yang dikelilingi benteng tua.
“Kau pernah kemari?”
“Aku tidak pernah, terlalu menakutkan, Haha!”
“Apakah bangunan ini terpakai. Sepertinya sudah dipugar dan rapi sekali?” tanya Ridho.
“Bangunan tua ini memang dipakai untuk menyimpan koleksi mahkota kerajaan, permata, emas dan barang-barang berharga yang memang dibuka untuk umum. Dari sana, banyak para pengunjung mendengar suara teriakan-teriakan mengerikan itu.”
“Kau mau coba masuk?” tawar Ridho yang justru semakin penasaran saja.
“Ah tidak, aku tidak mau!” protes Patricia.
Ridho tertawa-tawa saja melihat ekspresi wajah istrinya yang ketakutan seperti itu.
“Kenapa harus takut? Kita punya Allah. Allah memang menciptakan makhluk ghaib seperti jin dan malaikat, mereka sama-sama makhluk Allah. Keimanan yang akan mengalahkan ketakutan itu.”
“Ya aku juga mengerti, tetapi lebih baik aku tidak pernah bersinggungan dengan hal-hal seperti itu,” ucap Patricia yang kini mengencangkan laju mobilnya.
“Kita pulang sekarang?” tanya Patricia setelah mereka menyelesaikan shalat maghrib di London Muslim Center yang terletak di Whitechapel.
“Terserah kau saja,” ucap Ridho membetulkan hijab milik istrinya.
“Kita beli kebab dulu ya?” pinta wanita berhidung lancip itu.
“Kau suka kebab?” tanya Ridho.
“Ya, semenjak Namira memperkenalkannya, aku jadi semakin sering membeli di sini.”
Ridho tertegun ketika Patricia menyebutkan nama mendiang istrinya. Ridho hanya tersenyum kecil setelah itu, lalu mengiyakan permintaannya.
Keduanya menikmati kebab yang berisi irisan daging kambing dan rempah khas Asia Barat di dalam mobil saja. Karena udara di luar sudah sangat dingin. Asap mengepul dari kebab yang terasa nikmat itu, ditemani segelas kopi, keduanya menghabiskan menu makan malam itu.
“Kau tidak lelah seharian menyetir sampai selarut ini?” tanya Ridho.
“Tidak, aku sudah terbiasa. Aku jarang sekali berada di rumah, karena aku senang berkeliling seperti ini. Setelah masuk Islam, biasanya aku pergi mengunjungi masjid dari satu wilayah ke wilayah lain dan mencari saudara baru di sana.”
Ridho tersenyum berseri. Tidak menyangka wanita ini memang senang sekali berkelana.
“Aku bisa menggantikanmu untuk menyetir pulang,” ucap Ridho.
“Ah benarkah?”
“Aku pernah membawa mobil kakakmu pulang dari London ke Barnet, tapi siang hari sih!”
“Nah, sudahlah! Biar aku saja teruskan!” ucap Patricia lalu menyalakan mesin mobilnya dan kembali menuju kediamannya.
Patricia dan Ridho baru saja tiba malam itu di kediaman Keluarga Bocchi. Suasana mansion itu begitu hening sejak pesta selesai digelar kemarin, seperti tidak ada penghuninya saja. Meskipun terlihat beberapa pengawal berdiri di pintu-pintu masuk, dan beberapa pelayan masih berjalan-jalan dari kamar ke kamar untuk merapikan perabotan. Tetap saja, mansion itu tidak terdapat kehangatan di dalamnya.
“Apa di rumahmu ini tidak ada hantu?” tanya Ridho ketika ia dan Patricia menaiki tangga melingkar menuju lantai dua.
__ADS_1
“Aku tidak pernah melihatnya,” jawab Patricia.
“Suasana rumah ini begitu dingin dan hampa, kau harus banyak melantunkan ayat Al-Quran di sini,” ucap Ridho.
“Begitu ya?”
“Ya, Al-Quran akan memberikan kehangatan dan cahaya pada setiap rumah yang sering dibacakan ayat suci. Karena Allah memberkahi rumah itu dan mengirimkan malaikat untuk melindunginya.”
“Tapi aku masih belajar, kau harus ajarkan aku ya?!” ucap Patricia.
“Tentu saja, Nyonya Cantik!”
Ridho menarik lengan istrinya dan langsung menuju kamarnya. Tampaknya pintu kamar Patricia sudah dibetulkan, karena sudah tertutup rapat dan sempurna, setelah Ridho merusaknya kemarin.
Ridho mendudukan tubuhnya di samping ranjang, lalu menarik tubuh istrinya agar duduk di pangkuannya menghadap wajahnya.
“Kau tidak mau tidur di kamarku?” tanya Patricia menangkup pipi suaminya.
“Sama saja bukan?”
“Tidak, di sana lebih hangat. Kasurnya lebih empuk dan lembut, kamar mandinya lebih luas. Apa kau mau mencobanya?” tanya Patricia sedikit memainkan jarinya di leher sang suami.
“Apa kau menggodaku?”
Patricia menyeringai penuh intrik. Wanita itu langsung beranjak dan menarik kerah suaminya, lalu menaruh bibirnya di bibir suaminya. Kemudian meninggalkannya dan pergi ke dalam kamarnya.
Ridho menggeleng-geleng saja, lalu mengikuti Patricia berjalan ke dalam kamar. Tetapi ia lupa, ia harus membawa semua barang di kamarnya itu dan meletakkannya di dalam kamar istrinya sekarang.
Patricia sedang membuka hijabnya ketika suaminya itu masuk ke dalam kamar. Sedangkan Ridho menaruh semua barangnya di dekat lemari. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Patricia benar, kasurnya ini lebih nyaman dan empuk. Selimutnya lebih tebal dan lembut, sepertinya ia ingin langsung tidur saja. Ridho pun terpejam.
Sebuah sentuhan lembut terasa menggelikan dan membangkitkan ketika sentuhan itu semakin lama semakin turun ke bawah. Patricia sedang membukakan kancing kemeja milik suaminya, karena pria itu tiba-tiba saja tertidur. Ridho terbangun ketika satu kancing paling bawah belum berhasil dibukakan istrinya itu. Patricia jadi ikut terkejut.
“Kau hobi sekali membuka bajuku ya?” ucap Ridho yang kini ia buka sendiri bajunya, memperlihatkan lekuk otot tubuhnya bagian atas.
“Salah sendiri, kau selalu tertidur tiba-tiba tanpa mengganti pakaianmu lebih dulu,” ucap Patricia memasang ekspresi cemberutnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau suka tubuhku ya?" Ridho menggoda istrinya yang terlihat kesal.
Wanita itu masih terdiam menoleh ke arah lain.
“Kau marah, Sayang?” Ridho berusaha menarik dagu istrinya.
“Tidak, aku hanya kesal!”
“Kenapa kesal?”
“Karena kau tidur lebih dulu!” ucapnya ketus.
Ridho terkekeh-kekeh mendengar nada bicara istrinya itu. Lelaki itu memeluk tubuh istrinya dari belakang, lalu menaruh dagunya di bahu sang istri yang terbuka, karena Patricia sudah mengganti bajunya dengan sebuah gaun tidur berlengan terbuka.
“Kau ingin apa?” tanya Ridho berusaha memancing, meskipun ia tahu Patricia mungkin menginginkan malam hangat lainnya. Ia hanya ingin tahu seberapa agresif istrinya itu.
Patricia hanya mendesah kecil, lalu menghadapkan tubuhnya pada tubuh suaminya yang sudah bertelanjang dada, memainkan jarinya yang lentik di atas dada bidang suaminya itu. “Kau pura-pura tidak tahu, atau kau hanya memancingku?”
Ridho terkekeh kembali. Wanita di depannya itu begitu menggoda karena wangi parfum di tubuhnya tercium. Apalagi sepertinya Patricia sudah sedikit merias wajahnya. Ridho mencium punggung tangan istrinya sambil melirik matanya.
"Kau ingin bermain denganku malam ini?"
Patricia tidak dapat lagi menahan perasaannya, wajahnya merona apalagi ditatap tajam dan hangat seperti itu oleh suaminya. Ia tersenyum tersipu-sipu. Ridho membalas senyumannya.
“Kalau begitu, kita mulai saja permainan ini!”
\=\=\=\=\=
Bersambung...
Like, vote dan comment yaa
__ADS_1
Terima kasih