High Voltage Love

High Voltage Love
Bonus Episode (2)


__ADS_3

Sudah hampir satu tahun usia pernikahan Ridho dan Patricia. Mereka kembali ke London di musim gugur. Ini adalah musim gugur kedua bagi Ridho, dan suasana London benar-benar tidak berubah. Ia berharap pernikahan ini membawanya pada harapan tertingginya seperti pada saat waktu itu ketika ia menjelaskan kepada Antonio. Ia berharap tidak akan ada masalah berarti pada pernikahan mereka. Meskipun ia sadar, hidupnya dengan Patricia di London akan sangat jauh berbeda dengan kehidupan mereka di Jakarta kemarin.


Ridho menghela nafas ketika memandangi langit biru dengan sinar mentari yang berkilauan memantul di gedung gedung kaca.


“Ayo pulang!” ajak Patricia ketika sebuah mobil van hitam dengan merek nama keluarganya menjemput di bandara.


Ridho tersenyum dan menaiki mobil kebanggaan Keluarga Bocchi.


Sama seperti waktu pertama kali mengunjungi London. Ia disambut dengan pohon-pohon beranting kering. Hanya saja kali ini ia temukan, masih terdapat banyak pohon berdaun merah keemasan yang rapuh tertiup angin. Sungguh sangat indah. Udara pun terasa lebih hangat. Apakah ini pertanda bahwa kehidupan di sini akan baik-baik saja? Semoga saja.


Seorang pria besar terlihat berdiri di depan pintu megah mansion Bocchi. Di sampingnya berdiri tubuh pria yang lebih ramping dan lebih tinggi. Itu Antonio dan Leonardo yang menyambut kedatangan Ridho dan Patricia. Keduanya langsung turun dari mobil setelah berhenti di depan pelataran mansion.


“Papa!” ucap Patricia memeluk tubuh ayahnya dengan rindu. Sudah enam bulan lamanya mereka tidak bertemu. Antonio membalas pelukan anaknya dan menciumi pipinya.


Patricia memeluk Leonardo setelah memeluk ayahnya tadi.


Sedangkan Ridho berdiri di depan Antonio sambil membungkukan badannya, menaruh hormat pada mertuanya itu. Antonio membuka tangannya, meminta pelukan hangat dari menantunya itu. Ridho memeluk tubuh mertuanya.


“Selamat datang anakku! Kau akan selalu diterima di sini. Aku membutuhkanmu di perusahaan saat ini.” Antonio mengucapkan itu sambil menepuk punggung Ridho yang masih memeluknya, membuat Ridho melepaskan diri. Ia menatap serius pada Antonio.


“Beristirahatlah dulu, akan kita bicarakan lagi nanti!” ucap Antonio tersenyum lebar.


Leonardo menepuk bahu adik iparnya, lalu membisikan sesuatu.


“Papa akan menempatkanmu di perusahaannya. Bersiaplah!”

__ADS_1


\======


Malam itu, suasana ruang makan Keluarga Bocchi terasa hangat. Lilin-lilin telah menyala di atas meja makan, begitu pula dengan perapian yang semakin menghangatkan suasana. Senyum dan tawa tersaji malam itu, jauh berbeda ketika pertama kali Ridho menikmati perjamuan makan malam pertamanya setahun yang lalu.


“Jadi bagaimana kehidupan kalian di Jakarta?” tanya Antonio sambil menyuap steak salmonnya.


“Kami bahagia, Papa!” jawab Patricia.


“Semoga saja kalian juga bahagia di sini. Papa sudah merenovasi kamar kalian supaya kalian bisa tidur dengan nyaman.”


“Terima kasih, kami sangat senang ketika melihat kamar kami!”


“Syukurlah.”


“Apakah kau sudah …, kau tahu?!” tanya Antonio pada putrinya, sambil menggerak-gerakkan tangan di depan perutnya.


“Hamil?” seru Leonardo.


Patricia saling berpandangan dengan suaminya. Lalu kembali menoleh pada ayahnya, dan menggeleng.


“Ah, tidak usah kau pikirkan. Jalani saja hidup kalian, kau boleh mengejar cita-citamu lagi sebelum itu,” terang Antonio.


“Terima kasih Papa!” ucap Patricia.


Patricia tiba-tiba saja mengurut keningnya. Kepalanya terasa pusing. Ia sebenarnya sudah merasakan hal itu sejak beberapa hari yang lalu. Wanita itu menyangka hal ini terjadi karena ia terlalu banyak melakukan penerbangan. Jadi ia hanya meminum aspirin seperti biasanya.

__ADS_1


“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” tanya Ridho memperhatikan istrinya.


“Sepertinya aku masih jetlag, aku akan kembali ke kamar tidur!” ucap Patricia pelan.


“Aku akan temani!”


Hidangan makan malam telah selesai, Patricia meminum obat aspirinnya lalu kembali ke kamar bersama suaminya. Namun, belum juga meninggalkan ruang makan, Patricia segera berlari menuju sebuah toilet yang terletak di dekat dapur. Ia memuntahkan isi perutnya di sana. Ridho mengejarnya, ia cemas. Antonio dan Leonardo pun begitu.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ridho mengurut tengkuk leher istrinya.


“Aku hanya mual sedikit. Aku harus segera tidur!” ucap Patricia mengelap mulutnya.


“Ayo!”


Patricia dan Ridho telah berganti pakaian di dalam kamarnya, bersiap-siap tidur setelah menunaikan shalat isya berjamaah. Patricia terduduk di samping matras sambil menghitung jarinya dan mengingat sesuatu.


“Kamu sedang apa, Sayang? Ayo kita tidur!” ajak Ridho yang sudah bersandar di dipan kasurnya.


“Aku sedang memikirkan datang bulanku. Seharusnya hari ini sudah keluar, bahkan sejak kemarin-kemarin.Tetapi kenapa tidak muncul juga?” tanya Patricia cemas.


“Ah, mungkin hanya telat sebentar!” ucap Ridho menutup tubuhnya dengan selimut. “Ayo tidur!”


“Antarkan aku ke dokter besok!”


\======

__ADS_1


__ADS_2