
Lagi-lagi Ridho kebingungan dengan petunjuk yang tertulis di kertas yang tadi tergeletak di samping sebuah tas berbentuk kotak berwarna hitam yang kini ia jinjing. Apakah isinya? Ia bertanya-tanya. Apakah sebuah bom? Tetapi beratnya ringan sekali. Bahkan seperti tidak ada isinya. Hanya saja ia harus menuruti perintah yang tertulis di dalam kertas tadi. Khawatir seseorang akan mengintainya sehingga membahayakan nyawa istrinya.
Ridho kembali melirik jam tangannya. Waktu untuk memecahkan misi kali ini masih sekitar 57 menit lagI. Pria itu mendudukan dirinya di sebuah undakan batu, sambil terus membaca petunjuk.
Frase tempat paling sibuk menjadi perhatiannya. Lalu pada frase manusia akan datang dari seluruh dunia. Bukankah itu sungguh mudah untuk dipecahkan? Tempat paling sibuk di kota ini bisa jadi tempat pertemuan manusia dan melakukan berbagai transaksi di dalamnya. Pasar? Tapi frase dimana manusia akan datang dari seluruh dunia membuat pria itu berkerut. Satu-satunya tempat dimana manusia bisa saja datang dari seluruh dunia adalah bandar udara, tentu saja. Tetapi bandara mana yang paling sibuk di kota ini mengingat ada dua bandara besar di Jakarta. Ridho mencarinya di mesin pencarian.
Bandara tersibuk di Indonesia adalah Soekarna Hatta, hanya saja bandara itu terletak di Tangerang, Banten. Frase bagian ketiga, mungkin saja menunjukan terminal. Apakah benar pertemuan selanjutnya merujuk pada terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Ridho kembali menelusuri pencariannya di mesin pencarian di internet. Ia pun tahu kalau Bandara Halim Perdanakusuma memiliki tiga terminal, tetapi apakah betul? Mengingat Bandara Halim adalah bandara tersibuk ke- 8 di negara ini.
Ridho kembali membaca petunjuk di kertas itu. Ada satu kalimat dari bahasa yang tidak ia mengerti karena bukan ditulis dengan Bahasa Inggris seperti yang lainnya.
Non arrivare in ritardo al parco halal
Bahasa apa ini? Ridho bertanya-tanya masih terus dikejar waktu.
Seperti Bahasa Spanyol atau mungkin Portugal, atau Italia?
Ridho mengetikan kata-kata dalam kalimat itu di mesin terjemahan online dan langsung bisa mendeteksi bahasanya, yang ternyata adalah Bahasa Italia, dengan hasil terjemahan, ‘jangan terlambat datang ke taman halal.’
Waktu yang tersisa tinggal 45 menit. Ridho mengetikan Taman Halal di mesin pencarian, yang ternyata lokasinya cukup banyak. Ia lupa untuk menambahkan petunjuk lainnya, sehingga menulis ulang dengan ‘Lokasi Taman Halal di bandara apa?’
Mesin pencarian itu pun menunjukkan jawabannya. Ridho langsung berlari menuju keluar taman itu lalu memanggil taksi yang lewat, ia sudah tidak sempat jika harus memesan taksi online karena waktu semakin mepet. Terpaksa ia meninggalkan motornya terparkir di Taman Proklamasi. Waktu menuju bandara itu dari tempat ini menghabiskan waktu kurang lebih 35 menit, ia benar-benar mengejar waktu.
Ridho masuk ke dalam taksi, “Ke Bandara Soetta terminal 3, Pak! Cepat!” serunya sambil menutup pintu.
Supir taksi mengencangkan kecepatan gasnya, ketika Ridho terus menyuruhnya untuk seperti itu. Mereka melewati kepadatan jalan raya yang tidak ada habis-habisnya sebelum masuk ke tol dalam kota. Ridho terus menatap jamnya. Jarum detik terus bertambah, tetapi kesempatan pria itu untuk menemukan istrinya terus berkurang. Supir taksi memacu mobilnya di dalam ruas jalan tol dalam kota Jakarta, menuju Jalan Raya Soekarno Hatta. Dengan gesit, pria berkumis yang mengenakan seragam perusahaannya itu menyalip berbagai kendaraan yang ada di sana, sehingga dalam waktu dua puluh menit saja keduanya sudah berada di dalam kawasan Bandara Soekarno Hatta yang kini memasuki ruas menuju terminal tiga Bandara Soekarno Hatta. Dengan harap-harap cemas, Ridho mencari kira-kira dimana Taman Halal berada.
Pria itu berlari keluar dari taksi yang sudah mengantarnya langsung ke terminal tiga Bandara Soekarno Hatta. Ridho langsung menanyakan terkait Taman Halal atau lebih dikenal dengan Halal Park kepada petugas yang berjaga.
“Maaf, Pak? Bisa tolong perlihatkan tiket pesawatnya?” tanya petugas di gerbang terminal.
“Saya tidak akan naik pesawat, saya mau mencari istri saya di sini!” ucapnya panik, karena waktu tersisa 15 menit lagi.
“Maaf Anda tidak bisa masuk tanpa tiket booking pesawat!” ujar petugas lagi.
Ridho benar-benar frustrasi. Apa ia harus mendobrak penjagaan untuk bisa masuk ke dalam dan menemukan Halal Park?
Tiba-tiba Ridho memandangi tas kotak yang masih dijinjingnya. Ia membuka tas itu karena terlalu penasaran, dirinya sendiri masih berada di depan gerbang masuk terminal. Tiba-tiba hatinya terkejut mendapatkan sebuah tiket pesawat atas nama dirinya sendiri di sana. Tanpa pikir panjang lagi, Ridho langsung memperlihatkan tiket itu pada petugas yang menanyai tadi, dan langsung memperbolehkannya masuk tanpa bertanya lebih banyak.
Ridho berlari menuju lokasi Halal Park, banyak orang memperhatikannya yang terburu-buru seperti itu. Mungkin mereka berpikiran kalau pria ini sedang mengejar pesawat meski ia tidak melewati petugas yang mengurus keberangkatannya. Ridho masih terus mencari keberadaan taman itu, sampai akhirnya ia menemukan sebuah papan petunjuk arah yang memberitahunya lokasi Halal Park.
__ADS_1
Ternyata Halal Park berisi tenant dari berbagai produk dan brand di Indonesia yang sudah memiliki sertifikasi halal. Kebanyakan adalah toko souvenir, cafe, dan oleh-oleh. Ridho mulai memindai keberadaan sosok yang mencurigakan. Masih ada waktu tersisa di sana.
Ia melihat sosok yang mirip dengan yang menaruh tas di Tugu Proklamasi tadi. Ridho langsung menghampiri pria berjas dan berkacamata hitam itu tanpa ragu, lalu mencengkram kerah pria mencurigakan itu.
“Dimana Patricia?!” tanya Ridho dengan emosinya.
Pria itu terkekeh tanpa berkata apa-apa.
“Cepat katakan!” ucap Ridho menggunakan Bahasa Inggrisnya.
“Apakah kau tidak ingat denganku?” ucap pria itu kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Ridho melepas cengkraman di kerahnya, lalu melangkah mundur sambil terus memperhatikan pria di depannya.
Pria itu melepas kacamatanya, terlihat matanya yang berwarna cokelat terang mirip seperti Patricia. Lalu mulai mengelap wajahnya yang berwarna kuning kecokelatan, yang kemudian kini berubah menjadi putih kekuningan khas wajah orang Barat.
“Leo!” ucap Ridho tidak percaya.
Pria itu tersenyum. Wajahnya bersih tanpa brewok seperti terakhir mereka bertemu.
“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Ridho terkejut.
“Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk kalian!” ucapnya santai.
“Dimana Patricia? Dan bukankah kau sedang ditahan?” tanya Ridho lagi.
Ridho terkekeh tidak percaya.
“Honey!” teriak seseorang dari samping. Ridho menoleh.
“Paty!” Ridho langsung menghampiri istri yang dicintainya itu dan mendekapnya erat dalam pelukannya.
“Aku sangat mengkhawatirkanmu!” ucap Ridho mendekap kedua pipi istrinya.
“Aku juga tidak menyangka ini semua ternyata kerjaan Leo!” jawab Patricia.
“Dia benar-benar pria gila!”
Leonardo hanya tersenyum mendengar perkataan Ridho yang menghinanya terang-terangan. Tentu saja, apalagi namanya kalau bukan gila? Menculik adiknya sendiri untuk memberi hadiah? Yang benar saja! Ridho tidak habis pikir.
Ridho dan Patricia duduk di hadapan Leonardo, sambil memesan dua cangkir cappucino.
__ADS_1
“Kalian harus pergi, aku sudah membelikan tiket itu untuk kalian. Jadi berliburlah!”
“Kau gila?! Mengapa tidak mengabarkan baik-baik?!” teriak Ridho di depan pria yang santai itu.
“Aku hanya mengetesmu, Tuan Effendi!” ucapnya tersenyum.
Ridho ingin sekali memberikan satu pukulan untuk wajahnya yang kini terlihat mulus itu.
“Kita akan berlibur ke Bali, Honey! Dan kita harus check in sekarang!”
“Apakah kamu yakin? Bahkan kita tidak membawa apa-apa!” ujar Ridho.
“Pakailah ini!” ucap Leonardo memberikan sebuah kartu kredit miliknya.
“Kalian bisa belanja dan berlibur sesuka hati. Anggap saja ini hutangku pada kalian karena telah membuat pernikahan kalian kacau.”
“Leo, kau tidak perlu melakukan ini!” ucap Ridho. Ia memang sudah memaafkannya sejak lama. Ia tidak ingin memiliki masalah dengan kakak iparnya itu.
“Tidak apa! Kalian pantas mendapatkannya, kumohon! Aku ingin melihat kalian bahagia. Dan pulanglah kembali ke London, Papa ingin kita semua berkumpul!”
Ridho dan Patricia saling bertatapan. Ridho sadar ini harus dibicarakan lebih lama, karena membuat keputusan itu tidaklah mudah.
“Baiklah, kami terima hadiahmu! Aku tidak butuh ini dan kami akan memikirkan kembali terkait kepulangan ke London.” Ridho menyerahkan kartu kredit milik Leonardo kembali pada pria itu. Ia masih memiliki harga diri sebagai seorang pria. Ia tidak butuh kartu itu.
“Baiklah kalau begitu. Selamat bersenang-senang! Cepatlah kalian check-in karena pesawat akan datang satu jam lagi!” ucap Leonardo lalu pergi dari sana dan melambaikan tangannya.
Ridho memandangi pria itu dengan heran. Apakah semudah itu bagi Leonardo untuk datang dan pergi dari satu negara ke negara lain. Benar-benar pria gila!
“Jadi kita akan honeymoon?” tanya Patricia berbinar.
“Mungkin!” jawab Ridho.
“Aaah aku senang sekali!” ucap Patricia memeluk suaminya.
\======
Jangan lupa like, comment, dan votenya yaa
Terima kasih sudah membaca kisah Ridho, tapi maaf episodenya gak bisa panjang, haha
__ADS_1
Ini adalah episode terakhir dan mudah-mudahan masih ada bonus episodenya besok-besok
Makasiiih banyak, love love you all