
Ridho sudah kembali ke kediaman Bocchi di Barnet. Ia mengambil beberapa pakaian dan semua dokumen identitas pribadinya untuk dimasukan ke dalam ranselnya. Namun sebelum pergi, ia harus mengetahui dulu akan kemana ia pergi. Percuma ia pergi dari sana, tetapi keberadaan Patricia saja belum diketahui.
Pria itu mengambil kacamatanya dan membuka laptopnya, lalu mengetikkan nama pria yang dicurigai oleh Antonio. Dominic Bastille, adalah seorang pengusahawan kelas dunia, terkenal sebagai eksportir wine terbesar dan terbaik di Perancis. Selain wine, rupanya pria yang akrab disapa Dom itu, juga memiliki usaha di bidang otomotif. Ridho menghela nafas, tak menyangka kisah cintanya bersama Patricia akan seberat ini, bahkan ia harus bersinggungan dengan pengusahawan kelas dunia. Dulu ia selalu menganggap bahwa dunia tidak akan lebih besar dari tangannya, sehingga bisa ia genggam. Namun, ia menghadapi kenyataan lain di hadapannya. Bagaimanapun, ia sudah masuk terlalu jauh dalam ini, dan harus segera menemukan kekasihnya.
Tiba-tiba, seseorang datang mengetuk pintu kamarnya yang terbuka. Itu Leonardo yang sudah datang. Ridho menoleh dengan memasang wajah siaga.
“Ada apa?” tanya Ridho.
“Bersiaplah, kita akan berangkat!”
Ridho mengernyitkan alisnya.
“Tapi sebelum kita berangkat, sebaiknya kau berlatih memegang senjata api,” ucap Leonardo.
Wajah Ridho menegang. Ia tidak pernah memegang senjata api. Untuk apa? Karena ia tidak pernah bersinggungan dengan kriminalitas. Tetapi kali ini, ia menghadapi penjahat kelas atas yang mungkin sangat berbahaya.
“Bagaimana bisa, mataku sudah tidak bagus?!” ucap Ridho mengelak.
“Pakailah lensa kontak, kita akan segera mengurusnya! Ayo!” ajak Leonardo.
“Kau sudah menemukan Patricia?”
“Ia terlacak masih berada di London. Kami sudah mengirim beberapa agen ke Westminster untuk memastikan. Sepertinya mereka akan terbang ke Paris.”
Ridho menghembuskan nafasnya kasar. Leonardo dan Ridho berjalan menuju halaman, dimana ternyata di sana ada satu bangunan khusus untuk berlatih menembak dan aktivitas bela diri, seperti boxing dan bahkan menggunakan pedang katana, yang biasa dipakai oleh para samurai. Ridho memandangi ruangan itu dengan takjub.
“Ruangan ini khusus untuk para pengawal kami. Papa juga sangat senang berlatih membela diri, terutama menggunakan pedang itu. Ia pernah pergi ke Jepang dan memiliki sahabat seorang pendekar samurai dan berlatih di sana. Jadi ia membuat bangunan ini,” terang Leonardo.
“Sebenarnya, Papa sudah mempercayaimu. Hanya saja aku bodoh, aku telah menyepelekanmu karena aku anggap kau tidak akan bisa menjaga Patricia. Tetapi justru malah aku yang membuatnya terjebak dalam bahaya besar. Aku akan pergi bersamamu, kita akan jemput Patricia,” lanjut Leonardo dengan ekspresi menyesal di wajahnya.
Ridho menatapnya tajam. Haruskah ia mempercayainya?
__ADS_1
“Papa sudah mendapatkan pesan ancaman dari Dom. Ia tidak menginginkan Patricia, tetapi ia akan menjamin keamanannya. Ia hanya menginginkan sebuah file rahasia dari perusahaan kami,” ucap Leonardo sambil memilih sebuah senjata api jenis revolver, salah satu senjata api yang memiliki bobot ringan.
“Peganglah, ini ringan, cocok untukmu!” ucap Leonardo memberikan senjata itu pada Ridho yang terus memperhatikannya.
“Isilah dengan peluru ini!” seru Leonardo, ia mempraktekan cara memasukan peluru itu, sehingga Ridho bisa mengikutinya. Lalu ia menarik pelatuknya, senjata api siap digunakan. Tangan Ridho bergetar, karena ia sama sekali tidak pernah menggunakannya.
“Kunci untuk menembak tepat sasaran adalah tetap tenang dan fokus. Lihatlah!”
Leonardo mengarahkan senjata miliknya ke sebuah papan sasaran tembak yang berada kurang lebih 50 meter dari tempat mereka berdiri. “Gunakan ujung besi ini untuk menyasar targetmu!” ucap Leonardo.
DOR. Leonardo berhasil menembak tepat di tengah pusat sasaran tanpa beban.
“Kau cobalah!” seru Leonardo.
Ridho mengangkat tangannya dan mengarahkan pistolnya menuju sasaran tembak. Leonardo memegangi lengannya yang bergetar dan menurunkannya.
“Kau harus tenang!” serunya.
“Kau harus melakukannya, Patricia membutuhkanmu. Dominic memiliki banyak anak buah yang berbahaya. Meski kita akan datang dengan damai kepada pria itu, tetap saja kau harus berhati-hati.”
Ridho menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia mengangkat tangannya lagi, dan mencoba lagi. Kini dirinya sudah jauh lebih tenang. Pandangannya fokus terhadap titik pusat sasaran di angka nomor 1, lalu mulai menarik pelatuknya dan menekan pemacunya. DOR. Peluru menembus papan itu di area berwarna hitam.
“Tidak terlalu buruk!” ucap Leonardo memujinya. Meski tidak tepat sasaran, Ridho berhasil menembakan pelurunya sekitar 5 cm dari pusat sasaran.
“Berlatihlah satu hari ini. Setelah itu kita akan berangkat ke Paris! Aku akan memanggilkan seorang dokter mata untukmu, agar kau bisa segera menggunakan lensa kontak terbaik, jadi tunggulah disini sambil berlatih!” ucap Leonardo menepuk bahu Ridho lalu melenggang keluar.
Ridho kembali berlatih menembak dengan peluru yang sudah tersedia di sana. Bunyi tembakan yang memekakkan telinganya sungguh tidak terbiasa baginya. Tetapi Leo benar, ia harus melakukannya untuk berjaga diri. Ia tidak tahu seberbahaya apa Dominic Bastille. Ah, sepertinya film action yang biasa ia tonton kini dialaminya oleh dirinya sendiri, seperti mimpinya saja.
Revolver yang sejak tadi dipegangnya, kini diletakannya. Peluru disana sudah habis ia pakai. Dua kali ia menembak tepat sasaran, sisanya terlalu banyak yang melenceng. Telinganya mendengung. Kini pria itu berjalan mengelilingi ruang latihan itu. Entah kenapa ia tertarik sekali untuk memegang pedang katana itu, terlihat keren memang. Tetapi mungkin ia tidak membutuhkannya sekarang. Ridho membuka kaosnya, sehingga menyisakan kaos dalam berwarna hitamnya. Otot-otot lengannya menonjol tidak berlebihan, pas untuk tubuh rampingnya. Ia akan berlatih jurus-jurus bela diri yang sudah ia pelajari sebelumnya. Ia harus lebih kuat meskipun rasa lelah dan nyerinya masih terasa setelah ulah Leonardo tadi pagi.
Ia mendatangi sebuah samsak tinju yang besar ukurannya. Ia ingin mengukur berapa besar kekuatannya untuk bisa membuat benda itu bergoyang. Ridho mulai memasang kuda-kudanya. Ia menggunakan kakinya dulu, menendang benda itu dari arah kanan dengan cepat, sehingga membuat benda itu bergoyang ke samping. Beberapa kali ia melakukan hal itu sampai kakinya merasa kebas. Kali ini giliran tangannya yang mencoba. Ia mengepalkan tangannya dan mulai meninju bergantian, membuat benda berwarna merah itu terpental lalu kembali lagi, dan Ridho terus memukul sekuat tenaganya. Ia sadar betul, teknik perlawanan untuk tangannya masih kurang, karena taekwondo yang ia dapat hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan kakinya. Ia harus memastikan kekuatan tangannya bisa untuk menjatuhkan lawan.
__ADS_1
Sudah hampir dua jam ia berlatih di ruangan itu. Keringat berpeluh di dahi dan sekujur tubuhnya. Ia harus membersihkan diri dan menghadap-Nya, memohon segenap kekuatan yang tidak ia miliki.
\=\=\=\=\=
Malam tiba. Ridho berjalan menuju ruang makan. Ia harus mengisi perutnya agar energi tubuhnya bekerja maksimal. Ternyata Tuan Antonio sudah berada di sana bersama pengawalnya. Ia mengajak Ridho untuk bergabung bersamanya.
“Makanlah, kau butuh energi!” ujarnya sambil memotong daging steak sapi miliknya.
Ridho duduk di sebelahnya, sementara pelayan menghidangkannya makanan.
“Aku tidak akan meminta apa-apa darimu jika kau berhasil menyelamatkan Patricia. Atau justru aku akan memberikan apapun yang kau mau,” ucap Antonio setelah mengunyah daging miliknya.
Ridho terdiam saja. Ia memandangi potongan daging besar di depannya.
“Makanlah! Patricia telah mengatur semuanya agar apa yang ia makan sesuai dengan syariat agamanya. Kecuali untuk wine yang memang khusus untukku dan Leonardo. Dia cerewet sekali setelah menjadi Muslim, tetapi aku bahagia karena senyum yang dulu jarang muncul di bibirnya kini sering muncul lagi,” ucap Antonio, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Ia begitu menyukaimu, padahal aku sering menghinamu di depannya. Tetapi tetap saja ia membelamu. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu,” lanjut Antonio.
“Aku akan memberikan apapun asal dia selamat. Termasuk file-file rahasia perusahaan yang sudah aku bangun sejak dulu,” ucap Antonio meneguk air putihnya.
Ridho mulai memotong daging steaknya, lalu menyuapnya ke dalam mulut.
“Aku akan berusaha,” ucap Ridho singkat.
Antonio tersenyum kecil. Itu adalah kali pertama untuk Ridho melihat senyuman kecil dari Antonio, meskipun kekhawatiran melandanya.
\=\=\=\=\=
Bersambung...
LIKE, COMMENT, VOTE, & TIPS
__ADS_1
thank youuu