
Berpikirlah! Berpikirlah!
Ucap Ridho pada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan tulisan di atas sobekan kertas bergaris yang terlihat seperti terburu-buru. Ridho memandangi jam tangannya, sudah hampir 20 menit ia masih berusaha memecahkan petunjuk di kertas itu. Waktu terus berjalan, si penculik hanya memberikan waktu padanya satu jam saja. Ini berarti dia memiliki waktu sisa sebanyak 40 menit lagi, belum lagi ia tidak tahu dimana lokasi mereka jika petunjuknya terpecahkan.
Ridho mengepalkan tangannya, sambil menggeram kesal. Pikirkan!
Dua orang paling berjasa di negeri? Pahlawan? Jika memang dua orang itu pahlawan, tetapi siapa? Mata Ridho terpejam sambil terus memikirkan jawaban petunjuk itu.
Dua orang pahlawan yang mungkin sosoknya kini diabadikan dalam sebuah patung atau monumen karena jasanya. Monumen pahlawan di Jakarta sangat banyak, ia harus berhati-hati memecahkan petunjuknya agar tidak salah tempat untuk menemukan Patricia. Ridho kembali membaca petunjuknya.
Seorang pahlawan membawa kertas dengan seorang teman di sampingnya. Ridho kembali berpikir. Siapa pahlawan yang memiliki teman? Atau monumen apa yang berisikan dua orang? Apakah itu Monumen Selamat Datang di Jalan Bundaran HI? Pria itu menggeleng, monumen itu bukan monumen pahlawan dan salah satunya tidak membawa kertas di tangannya.
Mata Ridho tiba-tiba terbuka, ia mengenakan helmnya dan mulai menyalakan mesin motornya. Pria itu melajukan kendaraan roda duanya menuju sebuah tempat. Dengan deru mesin motor yang kencang, menyalip kendaraan-kendaraan lain yang ada di jalan yang padat itu. Hatinya berharap bahwa petunjuk yang sudah dipecahkan oleh otaknya bisa mengantarnya pada tempat yang tepat dimana Patricia berada.
Ridho memacu motornya ke kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Jalanan di sore hari begitu padat, bahkan beberapa titik persimpangan motornya itu benar-benar tidak bisa bergerak meski ia berniat untuk menerobos lampu lalu lintas. Dalam suasana rumit itu, Ridho melirik ke arah jam tangannya, tinggal lima belas menit lagi. Padahal dari tempat tinggalnya menuju tugu tebakannya itu sebenarnya tidak jauh, hanya saja karena sore merupakan jam sibuk dan padat, serta jam pulang karyawan, tugu itu terasa lebih jauh. Jantung Ridho semakin berpacu di tengah kerumitan suasana Kota Jakarta.
__ADS_1
Kalau tebakannya benar, maka petunjuknya itu mengarah pada Tugu Proklamasi, di Jalan Proklamasi. Di sana terdapat patung Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi dan Hatta yang berdiri di sampingnya, dan memang lokasi itu juga yang menjadi tempat pembacaan proklamasi pada saat kemerdekaan Indonesia. Ia merasa yakin itu adalah tempat yang tepat dan berharap bisa sampai tepat waktu agar menemukan wanitanya.
Waktu semakin tipis saja, Ridho memarkirkan motornya di luar kompleks Taman Proklamasi. Ia melirik jam tangannya, waktu tersisa tinggal 2 menit lagi. Ridho mengaitkan helmnya pada kaca spionnya, lalu langsung berlari menuju Tugu Proklamasi, di mana patung Soekarno dan Hatta berdiri. Ia melihat seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di samping patung Soekarno, lalu menaruh sebuah tas kerja berwarna hitam di sampingnya. Sebelum pergi, pria berkacamata hitam itu tersenyum angkuh pada Ridho yang masih terus berlari menghampirinya. Ridho tidak dapat mengenal wajahnya sama sekali. Pria itu tinggi dan ramping, wajahnya lokal dengan kulit putih. Kemudian ia pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Ridho berusaha mengejarnya hanya saja pria itu hilang di tengah pepohonan yang menutupi sosoknya.
Ridho berhenti dari larinya. Melihat tas kotak hitam yang tersimpan begitu saja di samping patung Soekarno, Ridho bertanya-tanya. Apakah pria yang menaruh tas tadi ada hubungannya dengan Patricia? Sebuah kertas putih gading tergeletak di samping tas. Ada tulisan lain di sana, Ridho memungutnya.
Kau terlambat beberapa detik saja, Tuan Effendi
Kau gagal dalam misi pertama ini
Bawalah tas ini, temui aku di tempat paling sibuk di kota ini
Tempat pertemuan dimana para manusia akan datang dari seluruh dunia, tepat di bagian ketiga
Jangan pernah buka isinya sebelum sampai di sana, atau tidak istrimu terancam
__ADS_1
Karena misi pertamamu gagal, kuberikan waktu satu jam lagi
Non arrivare in ritardo al parco halal
"Aarrgh!"
Ridho berteriak kesal. Apa ia sedang dipermainkan?
\=\=\=\=\=
Bersambung
Hayo Ridho mulai frustrasi >.<
Like, komen, dan votenya ya
__ADS_1
Terima kasih