
Matahari telah terbenam di ufuk barat. Burung-burung berkicau meninggalkan langit yang telah gelap. Giliran serangga malam dalam hutan-hutan kecil yang bersuara, unjuk diri atas eksistensi mereka. Udara malam terasa sangat dingin. Namun itu tidak terasa di dalam mansion Keluarga Bocchi, karena penghangat ruangan telah ada di tiap kamar.
Ridho sedang menatap layar laptopnya. Setelah berbincang dan berkeliling bersama Patricia, ia mengurusi pekerjaan jauhnya, sekedar untuk melihat dan memeriksa laporan yang sudah masuk ke emailnya. Ridho melihat ke arah jam dinding antik yang menempel, sepertinya Tuan Antonio akan pulang sebentar lagi. Sebaiknya ia bergegas membersihkan dan mempersiapkan dirinya dengan penampilan terbaik. Patricia memberitahunya, bahwa satu jam lagi papanya itu akan pulang.
Ridho telah mengenakan setelan jasnya. Ia berpenampilan rapi dan formal, maklum saja orang yang akan ditemuinya itu adalah seorang pebisnis sukses kelas internasional. Ia harus memberikan kesan baik di awal pertemuannya itu.
Patricia menghubunginya via telepon pararel yang ada di kamar itu, memberitahukannya kalau papanya itu sudah tiba di mansion. Ia juga menyuruhnya untuk segera keluar kamar, agar mereka bisa lebih dahulu tiba di ruang makan sebelum papanya itu turun dari kamarnya.
Ridho menghela nafas. Jantungnya berdebar kencang. Ia memastikan penampilan dirinya di cermin, apakah ada cela? Apakah sudah sempurna? Ia menyemprotkan parfumnya ke pakaiannya, lalu merapikan rambut bagian depannya sedikit. Lelaki yang berpakaian serba hitam itu pun keluar dari kamarnya, berbarengan dengan Patricia.
“Hey!” sapa Patricia sambil menatap lelaki pujaan hatinya itu dari bawah sampai atas. Ia merasa penampilan Ridho sangat jauh berbeda. Matanya terpana.
“Wow, kau tampan sekali!” pujinya, membuat wajah Ridho sedikit merona.
“Ah, kau jangan mencandaiku, Pat!” responnya tersipu-sipu.
“Aku tidak bercanda, kau sangat berbeda. Aku suka penampilanmu, sudah seperti CEO perusahaan keluargaku saja!”
“Memang siapa CEO perusahaan keluargamu?” tanya Ridho.
“Papaku!” jawab Patricia tersenyum.
Ridho tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Wanita dihadapannya itu juga tidak kalah menawannya. Meski sudah berhijab, ia tetap saja cantik. Malam itu ia mengenakan sebuah gaun panjang satin berwarna maroon dengan hijab pendek yang ia lilitkan di lehernya. Bibirnya dipoles tipis dengan warna senada dengan gaunnya itu, ia terlihat elegan dan dewasa.
“Kau juga cantik hari ini!” puji Ridho bergantian.
“Hanya hari ini saja?”
“Ah, maksudku, kau selalu tampil cantik setiap hari. Tapi malam ini lebih cantik daripada biasanya!” jawab Ridho salah tingkah.
Patricia terkekeh.
Mereka berdua pun berjalan dan menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan. Para pelayan yang berpapasan dengan mereka tersenyum sembari menganggukan wajah. Memang cukup banyak pelayan yang ada di mansion tersebut. Patricia berdiri di samping jendela, sementara Ridho mengikutinya.
Keduanya memasuki ruang makan yang terasa terang dan hangat karena pencahayaan di sana cukup baik. Lampu-lampu kuning telah bersinar, begitu pula dengan chandelier yang berisi beberapa lilin yang juga sudah menyala. Perapian yang ada di sana pun telah dinyalakan, semakin membuat hangat ruangan itu.
“Kau tegang?” tanya Patricia sambil melirik ke arah Ridho.
“Ya, pastinya!”
“Tenang saja. Papaku itu orang baik, hanya saja kadang ia memiliki cara unik untuk bisa menerima orang baru dalam hidupnya. Mungkin karena pengkhianatan yang dilakukan oleh mamaku, ia terlihat lebih garang dan tidak mudah untuk percaya. Tapi percayalah, dia sangat baik. Dia sangat berharga untukku,” terang Patricia.
Ridho mengangguk, tersenyum.
Tidak lama kemudian, beberapa orang pelayan dengan seragam serba hitam masuk dan berdiri di samping arch door tanpa daun pintu. Kepala mereka menunduk. Kini seorang pria paruh baya berjas abu dan berkemeja putih lengkap dengan dasi navy bercorak, masuk ke dalam ruang makan. Lelaki yang memiliki brewok itu diikuti oleh lelaki muda yang memiliki tubuh lebih tinggi. Pakaiannya sama formalnya,dengan wajah tampan.
Patricia berjalan menghampiri kedua lelaki itu, lalu memeluk dan mencium pipi mereka.
__ADS_1
“Papa, apa kabarmu?” sapa Patricia setelah ia mencium pipi papanya.
“Luar biasa,” jawabnya sambil melirik ke arah Ridho yang berdiri di belakang Patricia dengan tatapan segan.
“Papa, ini Ridho, lelaki yang kuceritakan padamu. Dia baru saja tiba tadi pagi,” terang Patricia.
Ridho pun melangkah maju. Ia mengulurkan tangannya. Tuan Antonio menyambut uluran itu, meski dengan tatapan tajam.
“Kenalkan, namaku Ridho Effendi, Sir!” perkenalan singkatnya sambil tersenyum kecil.
Tuan Antonio tersenyum tipis sekali, hampir-hampir tidak terlihat kalau dia memang tersenyum. Lalu ia menduduki kursinya setelah menjabat pria muda itu.
“Dan ini kakakku, Leonardo!” ucap Patricia.
Leonardo mengulurkan tangannya lebih dahulu, bahkan senyumannya begitu lebar di bibir yang berhias kumis dan brewok cokelat seperti ayahnya.
“Panggil saja, Leo!” ucapnya.
“Ridho!” jabat lelaki bermata sipit itu sambil tersenyum.
Mereka pun menduduki kursi yang tersedia. Tuan Antonio duduk di kursi utama di bagian tengah di ujung meja. Sementara Leonardo duduk di samping kanan ayahnya. Ridho dan Patricia duduk di samping kanan Tuan Antonio. Jantung Ridho bergetar sangat keras, bahkan tangannya terasa dingin dan bergetar sehabis menjabat tangan Antonio.
Para pelayan berdatangan sambil membawakan menu hidangan makan malam untuk keempat orang tersebut. Seorang pelayan menaruh sebuah botol wine lengkap dengan gelas cantiknya di hadapan Tuan Antonio dan Leonardo. Mereka pun mulai menikmati menu pembuka di malam itu.
“Sejak kapan kau kenal Patricia?” tanya Tuan Antonio pada Ridho setelah ia menuangkan saus labu ke dalam hidangannya. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.
“Kami berkenalan ketika di Amerika dan kami sekelas pada saat pelatihan,” jawab Ridho tegang.
Antonio juga memperhatikan sekilas ke arah wajah Ridho. Wajah Asia yang cukup tampan dengan tubuh tegapnya. Rambutnya tersisir rapi dengan gelnya. Dari penampilannya pun elegan dan rapi. Wajar saja jika putrinya menaruh perhatian padanya. Namun, Antonio tidak akan membuat lelaki muda itu mendapatkan Patricia dengan mudah.
“Apa yang akan kau berikan untuk putriku?” tanya Antonio.
Ridho menoleh ke arahnya terkejut.
“Aku akan memberikan apapun yang aku punya,” jawabnya tegas.
Antonio tersenyum di satu sudut bibirnya, terlihat menyepelekannya.
“Apakah kau punya banyak harta sebanyak punyaku?” tanyanya menantang.
Ridho tertegun sejenak. Ia berusaha bersikap tenang.
“Aku sadar, aku tidak memiliki banyak harta seperti Tuan. Tetapi satu yang saya yakini, bahwa kebahagiaan putri Anda tidak dijamin dari banyaknya harta yang saya miliki. Karena kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan apapun. Aku akan menjamin kebahagiaannya ketika berada di sisinya,” ucap Ridho
“Dengan cara apa kau membahagiakannya?” Tuan Antonio menatapnya sinis.
“Kesetiaan dan kasih sayang,” jawabnya.
“Kesetiaan? Kau pikir semudah itu melakukannya?”
__ADS_1
“Aku yakin bisa melakukan itu semua, selama aku berpegang teguh pada prinsip hidup dan prinsip agamaku, menjadikan pernikahan sebagai ibadah dalam menggapai ridho Tuhanku, aku akan bisa menjalaninya.”
Sir Antonio masih menatap tajam kepada Ridho, sementara Patricia menunduk dengan hati yang bergetar. Ia tak menyangka Ridho akan membicarakan masalah prinsip agamanya di depan ayahnya.
“Apa tujuan terbesarmu untuk menikahi putriku? Apakah karena sekedar cinta atau menikmati tubuhnya?” tanya Antonio lagi, lalu menyesap wine dari gelas rampingnya.
Ridho menghela nafasnya pelan.
“Maaf Tuan! Mungkin ini akan sedikit sulit dijelaskan karena kita memiliki pandangan yang berbeda terkait keyakinan. Tetapi karena kami, maksudku, aku dan Patricia sudah menjadi muslim, tujuan pernikahan kami adalah mendapat keridhoan dan rahmat dari Yang Maha Kuasa. Dimana Tuhan kamilah yang akan memberikan cinta dan kebahagian pada kami, sehingga pernikahan itu akan terjaga, karena ada cinta yang lebih besar.”
Rahang Antonio terlihat mengeras. Ia tidak suka kalau segala sesuatu dikaitkan dengan agama. Tetapi begitulah mungkin cara pandang para Muslim, termasuk putrinya itu.
“Baiklah, aku akan menghargai keyakinan dan tekadmu untuk menikahi putriku. Hanya saja, jangan sampai kau melanggar apa yang tadi kau ucapkan. Aku hanya ingin putriku bahagia. Kehilangan akan kasih sayang ibunya sudah cukup membuatnya menderita. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi kedua kalinya. Jika kau melanggar hal itu, bersiap-siap saja aku akan membuat perhitungan denganmu!” ucap Antonio meletakan peralatan makannya, lalu berdiri dan meninggalkan ketiga anak-anak itu di sana. Para pelayan yang mungkin juga merangkap sebagai bodyguard Antonio mengikutinya.
Ridho dan Patricia saling berpandangan tersenyum. Sepertinya Antonio sudah merelakan Patricia untuk menikah dengan Ridho.
“Selamat Tuan Ridho! Tetapi kau harus hati-hati, ucapan papaku tidak main-main. Kau tidak boleh memainkan perasaan adikku ini. Kalau tidak, aku pun akan langsung turun tangan!” ucap Leonardo yang kemudian meninggalkan keduanya.
Ridho menghembuskan nafasnya panjang. Hatinya merasa lega sesaat. Ternyata Tuan Antonio tidak seseram apa yang dibayangkannya. Ia sudah berjanji dalam hatinya, akan berusaha mungkin untuk bisa membuat Patricia bahagia ketika kelak mereka akan menikah.
“Kini tinggal satu langkah lagi,” ucap Patricia tersenyum, matanya berbinar.
“Apa itu?” tanya Ridho.
“Pernikahan kita! Kau akan bisa buktikan janjimu setelah itu,” jawab Patricia.
“Ya. Aku akan berusaha!”
“Ayo habiskan makan malammu!” suruh Patricia, karena memang sebenarnya jamuan makan malam belum usai. Tetapi Antonio sudah tidak berselera makan, jadi ia memutuskan untuk pergi dari sana.
Sementara itu di ruangan kerjanya, Antonio menyesap cerutu yang sudah dibakarnya, lalu dibuangnya asap itu ke udara. Ia tidak habis pikir, mengapa hal itu terucap dari lisannya. Padahal ia sudah berencana untuk mengancam pria muda itu dengan banyak hal. Sungguh bodoh, ia merutuki dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Leonardo memasuki ruang kerja ayahnya itu.
“Apa yang Papa lakukan?!” sergahnya, dengan ekspresi tidak percaya.
“Aku tidak tahu! Semua diluar dugaanku!” ucapnya, dari mulutnya mengepul asap putih, ia berjalan mondar mandir di sisi meja kerjanya. Sementara Leo sudah duduk di atas sofa panjang yang ada di sana.
“Aku punya ide!” ucap Leo bangun dari sandaran tubuhnya.
“Apa itu?” tanya Antonio.
Leonardo tersenyum sinis.
\======
Bersambung...
Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE setiap episodenya
__ADS_1
Terima kasih