
Patricia masih terbaring di atas matras dalam alat pemindai khusus untuk seluruh tubuh. Hatinya berdebar sambil berharap mikrochip itu bisa dikeluarkan dari tubuhnya. Ia masih menunggu hasil pemeriksaan dr. Osterlund. Sementara itu suaminya masih terus mengamati dari luar laboratorium dengan jendela bening yang lebar, sehingga dari sana kegiatan di dalam laboratorium bisa terlihat.
Tuan Osterlund keluar dari ruangannya setelah mengamati lebih lanjut struktur mikrochip itu. Ia menemui dua pria yang terus memperhatikannya.
“Aku akan coba mengeluarkannya sekarang. Waktunya tidak akan lama.” Pria itu berkata dengan cukup percaya diri.
“Bagaimana dengan kemungkinan resikonya?” tanya Ridho cemas.
“Kemungkinannya 1:100, sangat kecil untuk menyentuh sistem sarafnya. Setelah kami periksa tadi letaknya ternyata cukup jauh. Bagaimana apakah kau percaya?” tanya dr. Osterlund pada Ridho.
“Baiklah kalau begitu segera saja keluarkan chip itu dari tubuh istriku!”
dr. Osterlund mengangguk, lalu kembali ke dalam ruangan serba putih yang luas itu. Ia akan membius total Patricia sehingga tubuhnya tidak akan tegang, khawatir hal buruk akan terjadi jika wanita itu tersadar. Osterlund memperkirakan waktu untuk mengeluarkan chip itu sekitar sepuluh menit saja. Semoga saja tidak mengalami kendala apapun.
Patricia sudah terbaring, Osterlund mulai menyuntikkan obat bius pada tubuhnya. Perlahan Patricia mulai kehilangan kesadarannya. Pria berjas putih dengan kacamata itu mulai menyibakkan rambut Patricia, dibantu dengan asistennya, alat pencabut mikrochip yang berbentuk seperti jarum suntik berbentuk tabung kotak itu ditempelkan di leher bagian belakang telinga wanita yang sudah terpejam itu. Ketika alat itu ditempelkan di kulit akan membuat bekas merah seperti bentuk kotak. Ridho memperhatikan dari layar cctv yang menyorot mereka.
Perlahan dr. Osterlund mulai memasukan jarum besar seperti sedotan kecil, itu adalah alat untuk menangkap dan mengambil mikrochip. Sambil memperhatikan layar besar untuk mengetahui keakuratan letaknya, Osterlund mencoba mengambil benda super kecil yang kemungkinan seperti bulir padi.
Tiba-tiba, seorang petugas keamanan berlari menghampiri Ridho dan Tuan Larson dengan nafas terengah-engah. Kedua pria itu terkejut dibuatnya.
“Ada apa?” tanya Tuan Larson.
“Ada keributan di gerbang barat, beberapa orang memasuki paksa pintu masuk gedung ini!” ucapnya bergetar.
Ridho dan Tuan Larson saling memandang.
“Dominic!” ucap Ridho.
“Sialan!”
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Ridho mulai panik.
“Perintahkan beberapa anak buahmu untuk menjaga laboratorium ini. Buat sibuk pengawal pria itu dan usahakan jangan sampai tembus ke wilayah ini! Pantau terus CCTV setiap ruangan!” ucap Tuan Larson pada petugas keamanan tadi.
“Siap, Pak!” ucapnya tegas, dan kembali ke pos penjagaannya untuk menginstruksikan hal tadi pada seluruh anak buahnya.
__ADS_1
“Pegang ini!” ucap Tuan Larson memberikan sebuah revolver pada Ridho.
“Astaga!”
“Kita mesti siaga. Setelah Osterlund berhasil, kau bawa Patricia keluar!”
Ridho mengangguk, dirinya mulai bersiaga penuh terhadap kedatangan anak buah Dominic, atau bisa saja Dominic yang langsung datang. Pria gila itu pasti sudah curiga pada keberadaan Patricia di Swedia, sehingga memutuskan untuk datang kemari dan mengambilnya dari suaminya.
Ridho masih terus memperhatikan dr. Osterlund dengan hati yang berdebar. Dokter itu sudah berhasil menangkap benda kecil itu dan kini tinggal menariknya keluar dari tubuh Patricia. Ridho menghela nafasnya, menggoyang-goyang kakinya yang terasa gugup. Ia melihat mikrochip itu sedang dikeluarkan perlahan.
BRAK.
Seorang petugas keamanan terpental menabrak dinding putih dari pintu yang terletak di ujung lorong, membuat Ridho dan Larson terkejut bersamaan.
“Bersiap-siaplah, kita akan membuat Osterlund menyelesaikan pekerjaannya!” ucap Tuan Larson. Dengan tubuhnya yang gagah dan besar, sudah pasti pria itu dengan mudah akan bisa menaklukan pria-pria yang berlari ke arahnya.
Ridho berdiri dengan posisi kuda-kudanya bersiap untuk menangkal serangan. Revolvernya ia taruh di dalam jas miliknya. Beberapa pria lari ke arahnya dengan kepalan tangan yang memburu. Dengan sigap, Ridho membungkukan badannya menghindari serangan pertama, lalu mulai menangkis serangan berikutnya. Ia menggerakan kakinya dengan gesit, tendangan andalannya dengan cepat menyerang satu pria yang akan meninjunya.
Sementara itu Tuan Larson membawa dua pria yang ia pegang kerahnya, lalu mengadukan kepala mereka sehingga kedua pria itu terkulai lemas. Tubuh Tuan Larson memang sangat besar dan tangguh seperti Hellboy dalam film bioskop, bahkan tinggi Ridho hanya sampai bahu pria paruh baya itu. Sekali pukulan di perut pria yang berusaha melawannya, berhasil membuat pria itu mundur beberapa meter.
Ridho masih sibuk dengan lawan-lawan yang berusaha melumpuhkannya. Pipinya sudah terkena beberapa pukulan, membuat area bawah matanya terlihat memar kemerahan. Dengan tendangan kerasnya, beberapa lawan berhasil ia jatuhkan.
Ridho mengangguk dan langsung berlari ke dalam laboratorium.
Osterlund sudah berhasil mengeluarkan chip itu dari dalam tubuh Patricia. Darah segar mengalir dari leher Patricia setelahnya, asisten Osterlund langsung menutupi bekas luka itu dengan perban yang sudah ditambah alkohol untuk mensterilkan lukanya.
“Aku akan bawa chip ini untuk penelitian,” ucap dr. Osterlund.
“Baik, terima kasih, Dok! Kami harus segera pergi! Berlindunglah!” ucap Ridho, ia menggendong tubuh istrinya yang belum tersadar di bahunya. Osterlund mengangguk dan segera pergi dari sana untuk berlindung.
Melihat Ridho sudah menggendong Patricia, Tuan Larson menaklukan satu lawannya lagi dan menghampiri Ridho yang kebingungan untuk mencari jalan keluar.
“Ikuti aku!” ucap pria besar itu.
Larson berlari menyusuri lorong-lorong ruangan diikuti Ridho yang susah payah menggendong tubuh istrinya. Tidak lama mereka keluar dari sebuah pintu besi dan berada di tengah hutan berlapis salju. Ridho lupa, Patricia masih mengenakan pakaian tipis laboratorium, ia pasti akan kedinginan jika berada di luar.
__ADS_1
“Cepat bawa dulu ia ke mobil!” ucap Larson masih terus berlari.
“Sial dimana mobilnya?!” rutuk Larson, karena mereka tampaknya tersasar.
Tubuh Ridho mulai bergetar kedinginan, kakinya kesulitan melangkah karena tebal salju di atas rumput yang cukup tebal.
“Biar aku bawa wanitamu!” ucap Larson.
“Tidak perlu!”
“Dasar lelaki keras kepala!” ucap Larson, pria itu membuka salah satu mantelnya lalu memberikannya pada tubuh Patricia.
“Terima kasih, Sir!”
Kedua pria itu masih terus berjalan mencari jalan kecil agar tidak terlalu sulit melangkah di permukaan salju yang empuk.
BANG. BANG.
Terdengar letusan peluru dari belakang, menembus batang pohon pinus yang berada di belakang mereka. Otomatis, keduanya membungkuk kaget.
“Sialan! Pria gila itu mengejar kita! Cepat biarkan aku menggendong istrimu!” ucap Larson mengambil paksa tubuh Patricia yang sudah terbalut mantelnya dari bahu Ridho, kemudian berlari. Ridho mengikuti Tuan Larson. Mereka membungkuk lagi ketika terdengar suara peluru meletus dari belakangnya.
“Dimana mobilnya?!”
Dominic terlihat mengejar dua pria itu dengan satu pistol di tangannya. Ia terus menembaki keduanya meski tidak tepat sasaran. Ridho dan Tuan Larson masih terus berlari di tengah hutan yang tertutupi salju yang kini permukaannya mulai menipis. Mereka menemukan jalan beraspal. Satu ranting pohon yang rapuh terjatuh karena Dominic terus menembaki mereka.
Tiba-tiba sebuah mobil van hitam berhenti di depan keduanya, membuat dua pria itu berhenti terkejut dengan hati was-was. Kaca mobil terbuka.
“Cepat masuklah!” ujar pria dengan brewok cokelat itu.
Ridho terkejut dengan wajah itu.
\=====
Bersambung...
__ADS_1
Haha maaf ya cerita Ridho ini agak 'berat'
Authornya ngehalu sambil nonton Hobbs & Shaw, haha