High Voltage Love

High Voltage Love
Epilog


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat. Angin musim semi bertiup sejuk menyisakan rasa sejuk dan dingin dari musim salju di Kota London. Bunga-bunga bermekaran indah, sebagian lagi masih berupa kuncup yang menghiasi pepohonan. Keadaan memang begitu cepat berubah. Sepasang suami istri yang sedang berjalan di taman milik keluarganya terlihat tersenyum berseri-seri sambil merasakan udara segar di musim semi.


Ridho menemani istrinya yang kini sedang hamil sembilan bulan. Perut wanita itu terlihat besar, tidak sebanding dengan tubuhnya yang tetap ramping terlihat dari tangan dan kakinya yang tertutupi pakaian serba panjangnya. Patricia mengelus-elus perutnya yang besar, berisi dua janin buah hatinya dengan Ridho.


Sinar matahari menerpa tubuh wanita yang sedang menghadap suaminya itu. Terasa hangat dan menenangkan.


“Kamu bahagia tinggal di sini?” tanya Patricia pada suaminya, yang sejak musim gugur tahun lalu berada di Kota London.


“Tentu saja. Aku akan selalu merasa bahagia dimana pun, asal ada kamu di sampingku.” Ridho mendekatkan tubuhnya pada istrinya.


Patricia tersenyum mendengar jawaban suaminya itu.


“Apa urusan kerjaanmu lancar bersama Papa?”


“Ya, urusan kerja di sini memang lebih sulit dibandingkan dengan tempat kerjaku sebelumnya. Tetapi aku menikmati pertumbuhanku di sini. Papa bangga ketika aku berhasil menggaet seorang investor dari Amerika, luar biasa bukan?!” ucap Ridho terlihat bangga.


“Kamu hebat, Honey! Pantas saja Tuan Damian begitu ngotot ingin mempertahankanmu di Jakarta!”


Ridho tertawa kecil.


“Papa akan menaikan jabatanku jika performa kerjaku terus meningkat!”


“Benarkah?”


“Ya, setidaknya itu yang kudengar dari Leo!”


“Syukurlah.”


Keduanya kembali berjalan-jalan mengitari taman yang luas itu. Padang rumput yang sebelumnya tertutupi salju kini sudah terlihat hijau kembali. Begitu segar dipandang mata.


Patricia mendudukan dirinya di sebuah kursi taman. Ridho berlutut di hadapannya. Pria itu menempelkan telinganya di perut besar sang istri.


“Mereka sudah bangun!” ucap Ridho, wajahnya terlihat antusias.


“Haha, mereka pasti sedang ribut membicarakan ayahnya!” ujar Patricia.


“Ya, mereka pasti sedang membicarakan kehebatan ayahnya, haha!”


Patricia tertawa-tawa.


“Menurutmu, mereka akan seperti apa jika sudah besar nanti?” tanya Ridho.


“Tentu saja. Anak perempuanku akan berani seperti ayahnya, dan anak lelakiku akan setangguh diriku.”


Ridho tersenyum.


“Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka. Kapan katanya mereka akan lahir?”


“Mungkin sekitar dua minggu lagi, jika dilihat dari tanggal prediksinya.” Patricia mengelus-elus perutnya lagi.

__ADS_1


“Kamu takut, Sayang?”


“Aku tidak pernah takut! Aku justru khawatir kamu akan bersikap berlebihan.” Patricia mungkin teringat pada Ridho yang pernah kehilangan anaknya dulu.


“Tidak, aku percaya Allah akan memberikan kebahagiaan untuk kita semua. Aku hanya menyerahkan semua pada-Nya, setelah apa yang sudah kita usahakan.”


“Aku pun begitu.”


Seorang pelayan menghampiri keduanya dengan sebuah nampan berisi piring dengan buah-buahan segar yang dikhususkan untuk Patricia. Ridho mengambil piring itu dan menyuapi istrinya dengan buah-buahan itu. Seketika tendangan keras terasa dari perut Patricia, membuat wanita yang hendak disuapi itu mengerang.


“Ada apa, Sayang?!” tanya Ridho cemas.


“Mereka menendang perutku! Ah, sepertinya salah satu dari mereka!”


“Wah kalian ingin Ayah ajarkan tendangan hebat?” ucap Ridho sambil melihat perut istrinya.


“Aku ingin mereka semua hebat bela diri.”


“Tentu saja. Apalagi di sini ada tempat untuk latihan.”


Ridho menyuapi istrinya lagi.


Bunga yang bermekaran tetapi sudah lepas berterbangan ketika disentuh angin. Ridho melindungi piringnya dengan tangannya. Sedangkan Patricia meraih satu bunga yang menghampirinya.


“Musim semi di London sangat indah. Tetapi aku ingin melihat musim semi di kota lainnya. Seperti Jepang mungkin, atau Swiss,” ucap Patricia tiba-tiba.


“Kamu ingin berlibur?”


“Tentu saja. Jika si kembar sudah lahir. Aku juga ingin pulang ke Indonesia agar kakek neneknya bisa menemuinya nanti.”


“Ah itu pasti harus direncanakan, mereka sudah sering mengatakan ini berulang kali. ‘Kumaha Dho, iraha bade ka Bandung deui? Ibu sareng Bapak tos sono pisan (Gimana Dho? Kapan mau ke Bandung lagi? Ibu dan Bapak udah kangen banget!)’, itu yang mereka katakan tiap aku meneleponnya.” Ridho mempraktekan itu dengan Bahasa Sunda yang sudah lama tidak diucapkannya ketika bersama istrinya. Patricia memandangnya dengan keheranan, tetapi ia selalu suka jika melihat suaminya mengeluarkan bahasa yang masih tidak dimengertinya itu.


“Aku benar-benar tidak sabar!” ucap Patricia sambil meregangkan tubuh dan tangannya.


“Mereka akan lahir dii waktu yang tepat!” ucap Ridho mengecup kening sang istri.


Tiba-tiba Patricia tertegun. Ia memegangi perutnya yang terasa kencang sekali, seperti sesuatu tengah memilin perutnya. Ridho menatap istrinya cemas. Patricia berdiri. Sekujur punggung dan sekeliling perutnya terasa panas. Patricia berusaha mengambil nafas panjang dan mengembuskannya.


“Ada apa?” tanya Ridho.


“Sepertinya mereka akan keluar!”


“Benarkah?!”


“Aku harus banyak berjalan!”


Patricia berusaha berjalan kaki mengelilingi taman, masih sambil menahan rasa mulasnya yang kali ini datang berkala. Sepertinya kontraksi sudah berlangsung. Ridho memanggil dokter kandungan yang menangani istrinya. Dokter berkata untuk terus mengambil langkah-langkah ringan dan ia akan datang sekitar empat jam lagi.


Sudah empat jam berlalu, Patricia sudah berada di dalam kamarnya bersiap-siap melakukan persalinan di rumahnya sendiri. Wanita itu begitu percaya diri untuk melahirkan dua anaknya sekaligus meskipun hanya di rumah saja.

__ADS_1


Ridho terus berada di sisinya untuk menyaksikan istrinya yang sedang berjuang mengeluarkan dua jagoannya. Meskipun rasa takut menghampirinya ketika teringat mendiang istrinya dahulu, Ridho berusaha kuat. Ia yakin Allah akan menyelamatkan istri dan anak-anaknya.


Dokter memberi aba-aba pada Patricia untuk mengejan karena pembukaan telah lengkap dan air ketuban sudah pecah. Patricia pun mengejan dengan susah payah. Para pelayan dan perawat di sana membantunya. Wanita itu kembali menarik nafas untuk mengeluarkan anak pertamanya.


Dokter mengeluarkan anak pertama itu dari sana dan memberikannya pada perawat untuk dibersihkan setelah dipotong tali pusarnya. Seorang bayi laki-laki terlahir lebih dahulu. Tangisan kuat pecah dari mulut bayi mungil berkulit kemerahan itu. Ridho terpana dan takjub anaknya sudah keluar dengan selamat.


“Kau pasti kuat, Sayang! Kau harus mengeluarkan jagoan kita satu lagi!” ucap Ridho memberi semangat.


Patricia terengah-engah. Ia mengambil nafas sebanyak yang ia mampu dan mengeluarkan anaknya satu lagi dengan sekuat tenaganya.


Patricia menggenggam erat jari jemari suaminya, dalam satu tekanan nafas, bayi perempuan berhasil keluar dari sana. Kali ini terdengar tangisan lebih kuat.


“Alhamdulillah ya Allah!” ucap Ridho penuh haru, matanya mengeluarkan tangis bahagia. Ia mencium istrinya yang terkulai lemah tetapi terlihat bahagia.


“Kau luar biasa, Nyonya Effendi. Selamat untuk kalian berdua!” ucap dokter kandungan.


Sementara para perawat sedang memeriksa bayi-bayi mereka. Kondisi bayi Ridho dan Patricia stabil dan mereka sudah dibersihkan langsung. Para pelayan mereka membawanya ke hadapan Ridho dan Patricia yang sampai saat ini masih diliputi perasaan haru dan bahagia.


Ridho melantunkan adzan di telinga anak-anaknya satu persatu. Patricia mengecup dua buah hatinya dan menaruh mereka di atas dadanya.


“Kita akan lebih sibuk mulai hari ini!” ucap Ridho mengelus rambut istrinya.


“Ya, aku akan berusaha menikmati peran baru ini.”


Bayi Ridho dan Patricia sudah tertidur setelah disusui perdana oleh ibu mereka. Mungkin beberapa jam lagi akan terbangun. Suara derap langkah kaki terdengar menggema dari lorong lantai dua mansion Bocchi. Kamar yang sudah sepi dari perawat, dokter, dan pelayan itu terbuka pintunya.


“Dimana cucuku?!” ucap Antonio terdengar terengah-engah.


“Ssst!” seru Patricia.


Antonio yang diikuti Leonardo di belakangnya berjalan perlahan menuju samping ranjang Patricia. Melihat dua wajah polos nan damai, Antonio dan Leonardo terenyuh bersamaan. Antonio bahkan menangis ketika melihat dua cucu kembarnya itu.


“Siapa nama cucuku ini?” tanya Antonio masih terus memperhatikan kedua bayi yang wajahnya belum bisa ditebak akan mirip siapa.


“Mikail dan Malala!”


Burung-burung merpati berterbangan ke udara, menyampaikan kabar gembira dari mansion keluarga Bocchi yang bertambah anggota keluarganya. Dibantu angin musim semi, berita bahagia itu sontak menjadi kabar di seluruh dunia. Kebahagiaan Keluarga Bocchi menjadi pembicaraan di media massa seluruh Inggris dan Italia.


\=====


T A M A T


\=====


Terima kasih banyak kepada semua yang sudah membaca kisah Ridho dan Patricia dan terus mendukung saya dengan memberikan vote, like dan comment


Mohon maaf belum bisa memperpanjang episode karena ternyata saya kesulitan jika harus menulis dua cerita sekaligus


Sampai jumpa di karya yang lain yaa

__ADS_1




__ADS_2