
Pesta pernikahan Patricia dan Ridho pada malam hari itu sudah berjalan selama satu jam lebih. Alunan-alunan musik instrumental yang berasal dari alat musik biola dan cello tampak membuat suasana semakin romantis saja.
Semakin malam, semakin banyak tamu yang datang. Ridho, Patricia, dan Antonio menyambut mereka dengan senyuman. Namun tidak, dengan kehadiran Dominic Bastille di sana. Antonio meminta anak buahnya untuk mengawasi secara khusus pada Dominic dan pengawal yang mengantarkannya. Leonardo sendiri tidak berada di pesta itu. Setelah akad nikah adiknya, ia memilih pergi dari sana dan entah kemana sekarang. Antonio khawatir anak sulungnya itu berulah.
Antonio berjalan menuju ruangan kerjanya, untuk memastikan kalau saat itu Leonardo mengambil flashdisk yang benar. Saat itulah seorang laki-laki muncul dalam lorong yang terlihat lebih redup daripada ruang pesta.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Antonio pada Dominic yang sedang tersenyum menyeringai sambil membawa gelas wine-nya.
“Dimana Leonardo?”
“Aku tidak tahu dimana dia. Dia tidak memberitahuku.”
“Hmm….” Dominic berjalan mendekati Antonio sambil meminum sisa wine miliknya, lalu menaruh gelasnya itu di atas sebuah meja kecil.
“Kau mau apa? Permintaanmu sudah dibayar lunas!” ucap Antonio tajam.
Pria berusia 40 tahunan itu masih saja tersenyum sinis sambil terus mendekati Antonio yang sudah mulai waspada.
“Jangan kau rusak kebahagiaan anakku!” ucap Antonio lagi.
“Tidak! Hanya saja, aku ingin memberimu sedikit saja pelajaran.”
“Apa maksudmu?!”
“Aku tidak tahu. Apakah kau pura-pura tidak tahu, atau ini hanya kerjaan Leonardo?!”
“Apa maksudnya?”
Dominic mengeluarkan flashdisk dari saku jasnya, lalu ia memain-mainkannya di tangannya. Antonio memandangnya tajam.
__ADS_1
“Kau tahu ini kan?” tanyanya pada Antonio.
“Ya!”
“Dan apakah kau tahu, ternyata data di dalamnya semua palsu?” tanyanya mengejek.
“Aku tidak tahu sama sekali. Aku sudah memberikan flashdisk yang benar pada anakku.”
Dominic terkekeh mengejek.
“Sepertinya kau telah ditipunya! Bukan, kita berdua!” ucap Dominic.
“Leo!” ucap Antonio geram.
“Maaf sepertinya, aku harus melakukan sedikit permainan di sini!” ujar Dominic mengeluarkan sebuah senjata api jenis M1911 dari dalam saku jasnya.
Tiba-tiba seorang pelayan wanita datang dan terpaku ketika melihat Dominic tengah mengacungkan pistolnya ke arah Antonio. Pelayan itu berteriak kencang, sehingga Dominic mengarahkan pistolnya ke arah wanita itu lalu menembaknya tepat di dada.
"Maaf aku tidak sengaja!" ucap Dominic dan kembali menodongkan senjatanya ke arah Antonio, menyuruhnya agar pria tua itu mengikutinya.
Sontak karena bunyi senjata yang menggelegar, membuat para tamu undangan berteriak dan berlarian keluar, panik. Pesta malam itu menjadi kacau balau. Para pengawal di mansion itu pun mulai mengeluarkan senjata mereka, mencari keberadaan Tuannya yang entah ada dimana.
Patricia memasang wajah paniknya.
“Papa!” ucapnya pada Ridho.
“Tunggulah di sini, aku akan mencarinya!” ucap Ridho, tetapi Patricia menahannya.
“Jangan! Dominic pria berbahaya, kau akan terluka!” ucapnya terus menahan laju Ridho.
__ADS_1
Ferdian, Ajeng, dan Damian mendekati Ridho, sambil bertanya panik apa yang sedang terjadi sebenarnya.
“Tuan Antonio sepertinya diculik, aku harus menyelamatkannya!” seru Ridho dengan Bahasa Indonesia.
“Aku ikut!” seru Ferdian tanpa pikir panjang.
“Aku juga!” sahut Damian.
“Ferdian! Kamu gila! Jangan ikut!” teriak Ajeng.
“Aku harus membantu Ridho. Kalian berlindunglah di dalam kamar. Mereka tidak mengincar kalian,” ujar Ferdian.
“Tapi gimana kalau kita jadi sandera?!” sergah Ajeng.
“Kita berlindung di ruang latihan!” ucap Patricia, kemudian menarik lengan Ajeng dan berlari dari sana menuju tempat latihan para pengawal Keluarga Bocchi.
“Ferdian…!”
“Aku akan jemput kamu! Aku janji!” teriaknya pada istrinya.
Patricia memandangi Ridho, ia mempercayai suaminya akan bisa menemukan ayahnya.
\=====
Bersambung dulu yaa :D
LIKE & COMMENT
Jangan lupa vote juga
__ADS_1
thank youu