
Pesawat dengan maskapai British Airways itu tengah melakukan pendaratan di Bandara Charles de Gaulle, Paris, Perancis. Siang itu, Ridho, Leonardo, dan beberapa pengawal mereka meninggalkan bandara dengan sebuah mobil hitam yang menjemput kedatangan mereka di ibu kota Perancis itu.
Leonardo sudah mendapatkan informasi terkait keberadaan Patricia dari agen pribadi milik keluarganya. Begitu pula dengan Ridho yang mendapatkan hal itu dari atasannya, Damian. Posisi Patricia milik mereka cocok, dan tidak ada perbedaan, jadi Ridho tidak menaruh curiga lagi pada Leonardo atau keluarga Antonio. Kini fokusnya hanya satu, yaitu untuk membawa Patricia selamat.
Dominic Bastille meminta Leonardo untuk menemuinya di sebuah hotel mewah miliknya. Transaksi antara file rahasia perusahaan milik Bocchi dan Patricia akan berlangsung di rooftop. Dimana sebuah helikopter akan mengantar mereka di sana.
Leonardo beserta Ridho, serta kelima pengawal mereka telah berdiri di atap gedung tertinggi di lantai 50. Angin berhembus kencang membuat rambut mereka bergoyang-goyang. Menara Eiffel dengan jelas terlihat berdiri dari ketinggian gedung ini. Tak menyangka Ridho akan datang kemari, meski dengan terpaksa.
Banyak orang bilang, Kota Paris terkenal karena keromantisannya, tetapi ia tidak berharap ada adegan romantis sekarang ini. Ia hanya berharap Patricia akan kembali dengan selamat. Apa bisa hal itu dikatakan romantis? Bisa jadi mungkin.
Sebuah helikopter terlihat sedang mendekati gedung itu. Helikopter milik Dominic Bastille, sang pengusaha wine terbaik di Paris. Bunyi baling-baling helikopter itu terdengar bising memekakan telinga dari jarak dekat. Hembusan angin dari baling-balingnya membuat mereka yang sedang berdiri mengernyitkan mata. Seorang pria berjas hitam turun ketika helikopter itu berhasil mendaratkan tubuhnya di sebuah helipad, atau landasan khusus pesawat baling-baling itu.
Pria itu membawa seorang wanita yang kepalanya ditutup dengan kain. Ya itu Patricia. Ridho terperanjat. Wajah Patricia tampak kusut, ia juga terlihat lelah. Kedua tangannya diikat, begitu juga dengan mulutnya. Kerudung yang menutupi rambutnya berantakan, memperlihatkan helai anak rambut yang tidak bisa ia rapikan. Ridho begitu mengkhawatirkannya, ia ingin segera mengambilnya dari sana lalu terbang kemana pun agar mereka selamat. Tetapi tidak bisa seperti itu, ia tidak boleh gegabah sama sekali jika ingin selamat.
Kemudian seorang berpakaian jas serta celana jeansnya terlihat santai menuruni helikopter. Rambutnya sedikit ikal dan gondrong. Itu adalah Dominic Bastille, sama persis dengan foto yang tertera di mesin pencarian ketika Ridho menyelidikinya. Pria itu tersenyum menyeringai, tampak angkuh sekali.
__ADS_1
Leonardo berjalan mendekatinya. Ada jarak sekitar lima meter di antara mereka berdua. Para pengawal ikut maju untuk mendampingi. Mereka berhenti ketika Leo memerintahkannya, dengan kode tangannya. Di tangan Leo sudah ada sebuah flashdisk berisi data rahasia milik perusahaan Bocchi yang diincar oleh Dominic. Dominic ingin menggunakan data itu sebagai pengganti Patricia yang tidak jadi dinikahinya. Lagipula ia berpikir bahwa data itu lebih berharga daripada wanita yang sempat mencuri perhatiannya.
“Serahkan adikku dulu!” ujar Leonardo.
“Tidak! Aku ingin kau serahkan flashdisk itu. Setelah aku memastikan kalau isinya sesuai, baru aku bisa menyerahkan adikmu!” ujar Dominic menyeringai.
Leonardo berdecak. Lalu ia melemparkan flashdisk itu pada Dominic. Asisten Dominic membawakannya sebuah laptop, lalu memasukan flashdisk itu dan membuka isinya. Flashdisk itu berisi ratusan folder dengan data-data pribadi dan rahasia konsumen milik Bocchi. Tentu hal itu sangat berharga bagi perusahaan Bastille yang baru saja akan mengembangkan bisnis otomotifnya. Setelah memastikan keberadaan isinya sesuai, Dominic memerintahkan pengawalnya untuk melepas Patricia.
“Aku sudah memegang janjiku untuk mengembalikannya dalam keadaan sehat,” ujar Dominic kemudian menaiki helikopternya kembali, lalu terbang ke udara meninggalkan mereka. Sementara Leonardo menangkap tubuh adiknya yang lemas.lalu merangkulnya.
Patricia mengangguk lemah.
“Maafkan aku, sudah membuatmu terjebak dalam situasi ini!” ujar Leonardo masih mendekap tubuh adiknya. Leonardo menangkup pipi adiknya, melihat sorot matanya yang tampak tertekan dan tidak berdaya, lalu membuka tali yang mengikat di kedua tangan adiknya itu. Leonardo mengecup kening adiknya.
“Aku janji akan selalu menjagamu!” ucap Leonardo, membuat Patricia terpejam ketika mendengarnya. Keduanya pun berbalik.
__ADS_1
Di sana lah, Ridho memandangi Patricia dengan seluruh rasa yang selama ini berkecamuk di dalam dadanya. Ia tidak dapat menahannya lagi. Begitu pula dengan Patricia, yang membuat dirinya menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan kekasihnya itu. Keduanya saling berpelukan erat, melepas rindu dan rasa cemas yang tertanam beberapa hari ini.
“Kita pulang sekarang!” ucap Ridho menangkup wajah Patricia dan menatapnya lekat.
Patricia mengangguk sambil meneteskan air matanya.
Ingin sekali dirinya mencium wajah yang dibalut ketakutan itu dan menenggelamkannya kembali dalam dadanya. Namun dirinya harus bisa menahan itu semua. Cukuplah satu pelukan saja untuk melepas rindu dan kekhawatiran selama ini.
\=====
Bersambung....
like, comment, & vote
terimakasih
__ADS_1