
Patricia beserta Ridho dan Leonardo sudah kembali lagi ke Barnet, London, ke kediaman keluarga mereka. Sir Antonio Bocchi memeluk anaknya yang kembali dengan selamat. Ia sudah tidak peduli dengan nasib masa depan perusahaannya karena data-data yang selama ini dipegangnya sudah ia berikan pada Dominic Bastille.
Namun, Antonio kembali memasang harapan besar ketika Ridho menawarkan kerjasamanya dengan Winata Corp. sebuah perusahaan besar multinasional tempat ia bekerja di Indonesia. Winata Corp memang terbilang baru di dunia otomotif, tetapi mereka telah bekerja sama dengan perusahaan jasa dan transportasi di negaranya, sehingga memungkinkan bagi perusahaan Bocchi membuka pasar otomotif di Asia, menjadi saingan negara Jepang dan Cina yang banyak memproduksi kendaraan bermotor. Sir Antonio menyetujui usulan kerjasama itu, ia dijadwalkan akan bertemu Damian Winata, Presiden Direktur Winata Corporation setelah hari pernikahan Patricia dan Ridho.
\=\=\=\=\=
Awan setipis kapas dengan latar belakang langit biru bersih menghias di angkasa. Matahari bersinar terang di penghujung musim gugur di London. Angin lembut menerbangkan dedaunan maple yang rapuh dan kering. Pepohonan terlihat cantik dengan sisa-sisa daun cokelat keemasan yang masih bertahan di rantingnya.
Hari ini adalah hari yang dinanti oleh Patricia dan Ridho setelah sekian minggu menunggu. Akad pernikahan akan diadakan di sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari Barnet. Sebuah masjid besar dengan pekarangan yang luas akan menjadi saksi bagi perjanjian yang akan diucapkan Ridho di hadapan Allah. Itu adalah Masjid Palmers Green, yang terletak di wilayah Barnet Timur. Akan ada banyak jamaah di sana yang memenuhi akad pernikahan, karena akan dihelat setelah shalat Jumat.
Sir Antonio sudah rela menikahkan putrinya dengan seorang pria yang tidak pernah ia sangka untuk menjadi pendamping putrinya itu. Hatinya kini lebih terbuka dan menerima Ridho untuk menjadi menantunya.
Banyak jamaah sholat Jumat berdatangan memenuhi penjuru masjid dengan bangunan bergaya ala Timur Tengah itu. Meskipun Muslim masih menjadi minoritas di London, tetapi kenaikan jumlah Muslim di ibukota Britania Raya itu termasuk pesat kenaikannya. Bukan hanya karena pernikahan atau mualaf, melainkan juga karena banyaknya jumlah imigran dari Timur Tengah yang masuk ke London. Banyak masjid dan Islamic Center berdiri di sini, bahkan ketika sholat Jumat tiba, ruangan masjid selalu penuh. Ridho melaksanakan shalat Jumat penuh khidmat dengan jas yang sudah ia siapkan untuk melakukan akad pernikahan keduanya.
Imam besar masjid memberitahukan kepada seluruh jamaah, bahwa akan ada akad nikah selepas sholat jumat, sehingga bagi yang tidak memiliki agenda lain, semoga bisa memberikan doa bagi pasangan yang baru itu. Akad nikah dilaksanakan di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, tempat para jamaah melakukan diskusi atau pertemuan-pertemuan, bukan di area sholat. Di sana Ridho duduk sendiri di depan sebuah meja pelaminan, dimana imam masjid akan menjadi wali nikah bagi Patricia, karena menurut syariat Islam, seorang non Muslim tidak bisa menjadi wali bagi Muslim.
Sir Antonio sudah duduk di hadapan Ridho untuk menyaksikan pernikahan anaknya. Ia begitu asing dengan suasana baru ini, apalagi berada di dalam sebuah masjid yang tidak pernah ia injakan kaki di dalamnya. Banyak jamaah pria yang hadir untuk melihat dan mendoakan acara itu.
Telah hadir juga di sana secara khusus, Damian dan Ferdian, sebagai atasan dan sahabat Ridho untuk menjadi saksi nikah antara Ridho dan Patricia. Begitu pula dengan Ajeng yang hadir di sana untuk mendampingi Patricia.
“Semoga pernikahanmu langgeng ya Dho!” ucap Ferdian yang telah datang jauh-jauh dari Singapura untuk menghadiri pernikahan ke-dua Ridho.
“Mudah-mudahan, Fer! Cobaan untuk dapetin Patricia berat banget! Sampai rasanya aku mau nyerah kemarin-kemarin,” terang Ridho mengancingkan jasnya.
“Aku juga gak nyangka ternyata keluarga Patricia pengusahawan besar. Orang tua kamu gak datang kesini?” tanya Ferdian.
“Aku khawatir aja kalau mereka datang kemari, jadi biar nanti aja setelah pernikahan ini kita pulang,” jawab Ridho.
Ferdian menepuk punggung sahabatnya.
“Ayo kita ke ruangan sebelah!” ajak Ferdian, karena para jamaah sudah berkumpul untuk menyaksikan acara suci itu.
Sementara itu di ruangan kecil lainnya. Patricia tampak anggun dan cantik berbalut dress putih panjang. Hijabnya sudah menutupi kepalanya dengan sempurna. Ia bahkan tidak mengenakan riasan apapun. Tetap saja terlihat cantik.
“Masya Allah, Pat, kamu cantik sekali!” ucap Ajeng dalam Bahasa Inggris.
“Terima kasih Ajeng! Terima kasih kamu sudah mau datang ke sini!” ucap Patricia tersenyum.
“Kalian berdua sahabat kami. Jadi sudah sepantasnya kami datang kesini. Alhamdulillah ada rezeki untuk sekalian berlibur ke London!” ucap Ajeng.
__ADS_1
“Anak-anak kalian bagaimana?” tanya Patricia.
“Mereka bersama kakek neneknya di sana.”
“Ah begitu, jadi kalian akan berlibur dulu di sini?”
Ajeng membetulkan riasan untuk hijabnya. Ia pun berdandan sederhana saja dengan sebuah dress muslim bergaya casual.
“Umm, mungkin sedikit honeymoon ke-2! Kau mau ikut?” tawar Ajeng.
“Haha, aku tidak tahu! Hanya saja aku ingin segera pergi dari sini. Mungkin tinggal di Indonesia akan lebih baik!”
“Kalau begitu tinggallah di sana. Mungkin di sana agak lebih ribut daripada di sini,” ucap Ajeng terkekeh-kekeh.
“Ya kau benar! Kau pernah ke London sebelum ini, Ajeng?” tanya Patricia.
“Pernah. Dulu aku mengambil summer school di University of London.”
“Ooh, begitu.”
“Ah sepertinya acara sudah dimulai. Kau tegang?”
“Ya tegang sekali.”
Patricia tersenyum lebar. Hatinya tegang dan cemas. Entah mengapa hatinya merasa tidak tenang meski kini ia sudah bersama keluarga dan teman-teman yang dicintainya. Ia hanya berdoa agar pernikahannya lancar dan bahagia.
\=\=\=\=\=
Ridho Effendi dan Patricia Bocchi kini sudah resmi menjadi suami istri. Ridho mengecup kening istrinya itu dengan lekat, ia begitu mencintainya, dan ia berjanji akan melindungi dan membahagiakannya mulai sekarang.
Hati Patricia terasa lega, ia hanya ingin hidup bahagia dan tenang bersama lelaki yang dicintainya. Ia tidak ingin lagi terseret kasus ulah ayah atau kakaknya lagi. Sehingga ia akan mengajak suaminya pergi dari sana secepatnya.
Semua jamaah di sana mendoakan kebaikan untuk pernikahan mereka. Ridho dan Patricia berharap doa mereka bisa tersampaikan langsung pada Allah. Mereka pun pergi meninggalkan masjid setelah ada jamuan makan siang. Namun, pesta pernikahan tidak berakhir sampai sana. Antonio telah menyusun pesta kecil untuk pernikahan putrinya di kediamannya sendiri. Pesta itu akan dihadiri oleh kolega terdekatnya. Mungkin akan terlihat lebih mewah daripada jamuan makan di sini, tentu saja. Antonio memaksa putrinya sebelum mewujudkan keinginan putrinya itu untuk pindah dari London. Jadi, Patricia mengiyakan saja.
Ferdian dan Ajeng merasa takjub dengan mansion mewah milik Sir Antonio Bocchi. Apalagi malam ini, semua ruangan di bawah sudah didekorasi sedemikian rupa untuk menyambut tamu-tamu besar dari kelas pengusaha. Sebuah karpet merah tergelar di sepanjang jalan masuk, menjadi alas bagi para tamu yang datang.
“Kamu mau punya rumah sebesar ini?” tanya Ferdian kepada istrinya ketika mereka melangkahkan kaki di atas karpet merah.
“Boleh sih, tapi anaknya harus banyak kayaknya biar gak sepi!” ucap Ajeng yang merangkul lengan suaminya.
__ADS_1
“Kalau anak banyak, aku ahlinya, wkwk!” ucap Ferdian genit, sampai membuat Ajeng menyenggol tubuhnya.
“Gak nyangka Ridho dapat mertua sekaya ini, euy!” ucap Ferdian lagi.
“Emang ayah kamu gak kaya? Ayah aja menurut aku udah kaya banget, cuma emang beliau gak mau nampakin aja.”
“Ya iya sih. Tapi kalau dibanding Tuan Bocchi, yang termasuk jajaran 100 orang terkaya di dunia kayanya masih jauh.”
“Kalau di ranking, ayah kamu masuk jajaran berapa besar emangnya?”
“Enggak tau juga tuh! Kalau aku masuk jajaran orang terkaya di dunia, kamu mau?” tanya Ferdian, mereka masih berada di luar mansion dengan para tamu yang juga berjalan di belakang mereka.
“Gak mau ah! Nanti di akhirat bakal lama loh dihisabnya. Mending kaya di akhirat aja. Banyak-banyakin sedekah, itu lebih baik kan?” ucap Ajeng tersenyum pada suaminya.
“Hihi….istriku sholeha!” ucap Ferdian mengecup tangan istrinya.
\=\=\=\=\=
Para tamu yang memang sebagian besar datang dari para pengusahawan telah datang. Mereka mengucapkan selamat kepada Patricia dan Ridho yang tengah berdiri sambil menyapa tamu-tamu mereka. Ridho memang terasa kaku di sana, tetapi ia masih bisa menyesuaikan diri ketika Antonio mengenalkannya kepada teman-teman sejawatnya sebagai seorang pengusaha sukses. Ridho hanya mengamini saja.
Di sana juga Damian memainkan strategi bisnisnya untuk berbicara mengenai rencana masa depan kerjasama antara Bocchi dan Winata. Meskipun masih pembicaraan umum, tetapi Antonio bisa mengira-ngira bahwa kerjasama ini akan bisa membantu perusahaannya naik kembali. Apalagi Damian juga menawarkan agar Bocchi bisa menanamkan modalnya untuk bisnis di sektor perhotelan dan pariwisata. Tentu saja, hal itu menggiurkan Antonio.
Tiba-tiba, Antonio mendapatkan pemandangan tidak terduga, ketika sedang berbicara dengan Damian. Dominic Bastille muncul di pesta itu tanpa diduga, padahal ia tidak pernah diundang.
Dominic berjalan angkuh sambil sesekali tersenyum pada tamu-tamu yang ada di sana. Mengingat kenangan buruk yang pernah terjadi bersama pria itu, Patricia merangkul lengan suaminya erat, lalu bersembunyi di belakang tubuh Ridho. Sementara Ridho menatap dan mengawasi pria berambut gondrong itu dengan tajam. Dominic berdiri di depan pasangan suami istri yang baru itu.
“Aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk kalian berdua,” ucapnya tersenyum lebar.
“Selamat untukmu, Patricia dan kau… umm…, siapa namamu?” tanyanya sambil memutar-mutar jarinya di hadapan Ridho.
“Panggil saja Effendi.”
“Ah, ya, selamat Patricia dan Tuan Effendi! Semoga kalian selalu berbahagia!” ucapnya menyeringai.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung dulu yaa
Yuk ah komen dan likenya
__ADS_1
hihi aku bonusin scene Ferdian dan Ajeng disini
Tenang masih ada kejutan hari esok :*