High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 27. Waktu


__ADS_3

Ridho terbaring di atas matras dengan selang masker oksigen yang menutup mulut dan hidungnya. Pria itu masih belum tersadar sehabis operasi pengeluaran peluru yang bersarang di perut bagian kirinya. Meskipun begitu kini kondisinya sudah jauh lebih stabil dari sebelumnya.


Patricia tertidur dengan tangan berlipat di samping suaminya, di atas matras. Tubuhnya terasa lelah, bagian leher belakangnya masih terasa perih setelah pengeluaran chip dari tubuhnya itu. Akan tetapi, hatinya sudah lebih tenang, mendengar Dominic telah tewas di tangan kakaknya sendiri. Meskipun begitu ia cemas akan nasib kakaknya yang telah dipanggil oleh pihak kepolisian untuk menerangkan apa yang terjadi. Ia khawatir kakaknya itu akan ditangkap dan dihukum karena membunuh Dominic, hanya saja urusan hukum terkait kasus ini akan sedikit rumit karena keduanya bukan berasal dari negara ini.


Patricia bangun dari tidurnya. Ia memandangi wajah suaminya yang memar dan luka karena goresan oleh pecahan kaca. Hatinya selalu bersyukur karena dipertemukan pria yang berbaring di depannya itu, bahkan pria itu rela melindunginya dengan segenap kekuatan yang dimiliki. Patricia tidak menyangka suaminya akan setangguh itu setelah menikahinya, ia benar-benar merealisasikan janji pada ayahnya. Ridho telah banyak berubah, wanita itu semakin mencintainya saja.


Jari telunjuk Ridho melakukan pergerakan, begitu pula dengan kelopak matanya yang sedikit bergetar. Patricia memperhatikannya. Mata pria itu terbuka perlahan, sambil berusaha fokus pada kesadaran tubuhnya. Pandangannya masih kabur, tetapi ia melihat siluet wanitanya yang sangat ia kenal.


“Pat,” ucapnya lemah.


“Aku di sini, Honey!” jawab Patricia menggenggam tangan suaminya. Wajahnya terpancar rasa lega, karena suaminya telah sadar setelah hampir menunggu selama lima jam.


Ujung bibir Ridho tertarik, menyimpulkan sebuah sudut senyum kecil pada istri yang dicintainya itu.


“Aku ingin pulang!” ucap Ridho rapuh, masih tertahan oleh masker oksigen yang menutup hidung dan mulutnya.


“Kita akan pulang sebentar lagi. Kau ingin bertemu dengan orangtuamu? Kita akan ke Indonesia!” ucap Patricia masih menggenggam tangan pria itu, lalu mengecupnya.


Ridho mengangguk kecil, tubuhnya belum fit benar. Rasa sakit dan nyeri masih terasa. Ia kembali terpejam dan tertidur kemudian.


\=====


Enam bulan kemudian


Matahari hangat terasa menyapa tubuh, terserap dengan lembut dari pakaian hitam lelaki yang sedang berdiri di depan sebuah gedung tinggi. Ia menatap gedung yang biasa menjadi pekerjaannya dulu. Kini seperti janji atasannya, pria itu telah mengisi sebuah jabatan tinggi yang cukup bergengsi. Menjadi seorang general manager dari sebuah perusahaan multinasional, memimpin beberapa perusahaan di bawahnya sekaligus untuk skala nasional. Ridho berjalan masuk ke dalamnya dengan harapan dan kehidupan baru. Ia dan istrinya sudah pindah ke Indonesia. Antonio terpaksa melepas mereka karena keinginan mereka sendiri, meskipun Antonio berharap Ridho bisa masuk ke dalam perusahaannya sendiri.


“Selamat pagi, Pak!” sapa para karyawan kepada pria yang kini rambutnya telah dicukur habis menyisakan satu centi saja rambut lurusnya. Ridho tersenyum mengangguk membalas sapaan para karyawannya. Ia memasuki sebuah ruangan khusus miliknya sendiri, ditambah dengan satu orang asisten yang akan membantu pekerjaannya.


Hari ini bukanlah hari pertamanya menjabat status itu, ia sudah bekerja selama hampir lima bulan. Sejak peristiwa itu, luka tembak yang mengenai perutnya berangsur pulih dan akhirnya mereka kembali ke Indonesia setelah kondisinya benar-benar fit. Orangtua Ridho tidak menyangka bahwa anaknya terjerumus dalam kasus yang cukup kompleks. Pada saat itu, setelah Ridho pulih, pihak kepolisian internasional hanya menjadikannya sebagai saksi. Sementara Leonardo harus menerima hukumannya karena pembunuhannya terhadap Dominic Bastille, ia menerima hukuman ekstradisi di Inggris. Kasusnya benar-benar rumit, mengingat Dominic dan Leonardo berbeda status warga negara, dan kejadian itu terjadi di luar negara mereka. Hanya saja pihak Interpol menyerahkan kasus ini pada pengadilan di Inggris. Pada akhirnya, Leonardo dihukum selama 5 tahun. Larson dan Patricia pun menjadi saksi saja. Kasus mereka pada akhirnya menuntun pada penyelidikan lebih lanjut terkait pembuatan mikro chips yang disalahgunakan oleh para pengusaha seperti Dominic Bastille. Para kepolisian dan agen negara Swedia membongkar kasus semacam itu yang ternyata cukup banyak ditemukan. Sampai sekarang, kasus penanaman mikrochip canggih masih dalam penyelidikan lebih lanjut.


Ridho kembali mengerjakan pekerjaannya siang itu, banyak berkas laporan yang masuk yang harus ia periksa. Ridho menatap layar laptopnya dengan kacamata yang terpasang di wajahnya.

__ADS_1


\======


Wanita pemilik iris mata cokelat terang sedang bersenandung kecil ketika ia memasuki lift apartemennya. Wajahnya terlihat berseri sehabis menghadiri pertemuan bersama dengan para desainer fashion hijab terkemuka di Jakarta. Isi kepalanya penuh dengan banyak inspirasi yang siap ia tuangkan ke dalam gambar dan juga catatan dalam bukunya.


Langkah kakinya yang ramping menyusuri lorong panjang menuju hunian suite-nya. Jarinya yang lentik menekan tombol-tombol angka susunan dari password untuk membuka pintu itu. Ia nyalakan lampu yang terletak di ruang utamanya, lalu menaruh tas jinjing kecil di meja kerjanya. Hijab wanita itu masih terpasang di kepalanya. Sambil sesekali bercermin memperhatikan wajahnya, ia membuka ponsel dan mencari sebuah nama di buku kontaknya.


Tuuut… sebuah sambungan terhubung.


“Hallo…” ucapnya lembut, sudut bibirnya melebar.


“Hai, Sayang!” sebuah suara berat menyapanya ramah.


“Kapan kau akan pulang?” tanya wanita itu terdengar manja.


“Tunggu 30 menit lagi ya?” ujar pria yang menjadi lawan bicaranya.


“Hmm… okay!”


“Sabar sebentar, aku akan segera pulang,” jawab pria itu terdengar tawanya kecil.


“Baiklah! Aku mencintaimu, suamiku....”


“Aku juga mencintaimu, Patricia!”


Sambungan itu terputus, berbarengan dengan helaan nafasnya. Wanita itu menyesal, mengapa ia tidak mampir saja dulu ke kantor suaminya, sehingga mereka bisa pulang bersama? Ia menaruh kepalanya di atas meja, di atas lipatan tangannya.


BRUK. Sebuah suara mengejutkannya, hingga membuat tubuh wanita itu menegak, lalu menoleh ke arah sumber suara. Suara itu berasal dari kamar tidurnya. Ah, mungkin hanya salah satu bukunya saja yang terjatuh, pikirnya.


Wanita itu beralih ke dapurnya, untuk membuat hidangan kecil makan malamnya bersama suami. Ia membuka sebungkus pasta instan yang baru diambilnya dari lemari penyimpanan.


Namun tiba-tiba, sebuah cengkraman kuat membekap mulutnya dari arah belakang. Hidungnya menghirup sebuah aroma kuat yang menusuk, membuat jantungnya meledak, sehingga ia tidak dapat lagi melawan dari serangan tiba-tiba. Lama-kelamaan tubuhnya terasa lemas, matanya melemah hingga terpejam. Wanita itu tidak sadarkan diri setelah mencium bau obat bius.

__ADS_1


Seorang pria bertubuh besar dan kekar, menggendong tubuh wanita itu di bahunya yang kokoh. Diikuti pria lainnya yang juga bertubuh kekar, mereka berjalan keluar dari apartemen dan turun melalui lift.


Dimasukkannya tubuh wanita itu ke dalam sebuah mobil van besar berwarna hitam. Tidak ada orang yang curiga, karena memang kondisi apartemen mewah itu sedang sepi ketika matahari tengah meninggalkan langit. Jadi kedua pria kekar itu bisa berlalu dengan mudahnya.


Mobil van besar itu berlalu begitu saja, ketika sebuah motor besar berwarna merah berpapasan dengannya.


Seorang pria dengan rambut berpotongan pendek turun, dan langsung membawa helmnya. Hatinya sudah tidak sabar bertemu dengan istri tercintanya yang sudah dinikahinya hampir tujuh bulan yang lalu. Pernikahan mereka sedang hangat-hangatnya, meski konflik berat telah menyandung perjalanan cinta mereka. Tetapi hal itu tidak menyurutkan keduanya untuk tetap bersatu. Pria itu berjalan menuju hunian apartemennya di lantai dua puluh.


Betapa terkejutnya hati pria itu ketika menemukan pintu huniannya tengah terbuka lebar. Tidak pernah hal itu terjadi selama pernikahan mereka. Dengan hati was-was, pria itu melangkah masuk dengan mengucap salam.


“Pat, Sayang?!” panggilnya sambil menoleh ke ruangan yang ada di sana.


Hatinya semakin cemas saja ketika panggilan itu tidak mendapat jawaban.


“Sayang, kamu dimana?” panggilnya lagi dengan Bahasa Inggris yang biasa mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari.


Pria itu masuk ke dalam kamar tidurnya, dan memeriksa ke dalam kamar mandi. Nihil. Tidak ada wanitanya itu.


Ponselnya ia keluarkan dan menyambungkannya dengan nomor milik istrinya. Nada dering nyaring terdengar dari atas meja kerja, membuat pria itu menghampirinya.


“Patricia, dimana kamu, Sayang?!”


\=====


Bersambung....


Maaf telat update, semoga bisa crazy update ya hari ini ^_^


Jangan lupa like, komen, dan vote


Terima kasih selalu menunggu cerita ini <3

__ADS_1


__ADS_2