High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 5. Pembicaraan Damian


__ADS_3

Sudah hampir tiga hari sejak telepon dari Patricia yang mengatakan kalau ayahnya ingin menemui Ridho. Sejak saat itu juga, Ridho meminta bantuan sahabatnya, Ferdian. Ia menceritakan segala hal yang terjadi padanya, hingga membuat Ferdian ikut memijat pelipisnya. Ternyata serumit itu ketika Ridho memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Patricia, sesuatu yang tidak pernah diduga oleh siapapun di antara mereka berdua.


Pertemuan dengan Sir Antonio tersisa empat hari lagi. Namun dirinya belum menemukan titik terang akan sekelumit pertanyaan yang selalu menghantui benaknya. Ia harus kembali fokus pada pekerjaannya. Ada banyak proyek yang harus ia susun dalam dua bulan kedepan. Pria itu memasang kembali kacamatanya, lalu mulai menatap layar komputernya.


Sebuah dering telepon dari meja kerjanya menyala. Membuat ia terpaksa untuk mengangkatnya, karena pasti itu berasal dari sekretaris pimpinan perusahaannya.


“Ya, ada apa Anita?” tanya Ridho.


“Pak Damian ingin berbicara denganmu,” jawab perempuan itu.


“Ada apa?” tanya Ridho cemas.


“Langsung saja datang ke ruangannya!”


Telepon itu tertutup, menyisakan rasa penasaran pada dirinya. Damian Winata, pimpinan perusahaan untuk wilayah Jabodetabek, jarang sekali memintanya untuk menemuinya. Kecuali pada saat ia diturunkan jabatannya, dari manajer marketing properti ke divisi yang sekarang ia jabat. Oleh karena itu, rasa cemas menggelayuti pikirannya. Apakah ia melakukan kinerja yang buruk lagi? Daripada berburuk sangka, Ridho memutuskan untuk langsung pergi ke ruangan pimpinannya itu.


Anita, sekretaris Damian, mempersilakan Ridho masuk untuk menghadap langsung dengan Damian Winata, yang tidak lain adalah kakak sulung dari Ferdian, sahabatnya sendiri. Ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan pria dengan tubuh tegap atletis ini. Ridho membungkuk dan mengucap salam ketika memasuki ruangan yang cukup luas itu.


“Silakan duduk, Dho!” ucap Damian ramah, tangannya menunjuk kursi empuk di depannya.


Ridho mengangguk sopan, lalu duduk di sana.


“Ada apa ya, Pak?” tanyanya sopan dan dengan formalitas. Mereka sebenarnya cukup akrab di luar kantor. Ridho terbiasa memanggilnya dengan abang, seperti panggilan Ferdian kepadanya, karena mereka sempat hidup berbarengan ketika kecil dulu.

__ADS_1


Damian tersenyum ramah melihat wajah Ridho yang gugup.


“Santai aja, Dho! Saya memang mau membahas pekerjaan, tetapi ini ada sangkut pautnya dengan kehidupan pribadi kamu,” terang Damian menautkan jari-jari tangannya.


Ridho melirik ke samping kanannya, tidak mengerti.


“Maaf sebelumnya, karena mungkin ini menyinggung privasi kamu. Tapi kami berniat membantu dengan apa yang terjadi sama kamu,” ucap Damian lagi, sama sekali Ridho belum mengerti ke arah mana pembicaraan itu.


“Maksudnya gimana, Pak?” tanya Ridho.


“Ferdian cerita sama saya, kalau kamu berniat melamar Patricia Bocchi, putri dari Sir Antonio Bocchi. Betul seperti itu?” tanya Damian memastikan.


Hati Ridho tersentak, dan merutuki Ferdian di dalam hatinya.


“Kalau betul, memangnya ada apa, Bang?” tanyanya kini berusaha membawa percakapan ke arah yang lebih non formal


“Bantu apa, Bang?”


“Kami bisa kasih apapun yang kamu minta untuk bisa melamar Patricia. Asalkan kamu bisa menjamin bahwa perusahaan kita bisa bekerjasama dengan perusahaan Bocchi. Kebetulan sekali, perusahaan kita ini akan melebarkan sayap ke dunia otomotif. Kerjasama perdana dengan Bocchi adalah batu loncatan yang sangat baik.”


Ridho tertegun dengan penawaran Damian. Tawaran itu sangat menarik, dan jelas sangat bisa membantunya dalam menjawab segala yang menjadi pertanyaan selama ini. Akan tetapi, ia sendiri meragukan dirinya, apakah bisa mencuri hati Sir Antonio untuk bisa mendapatkan Patricia? Belum tentu juga ketika ia bisa mendapatkan Patricia, maka pria itu akan bisa bekerja sama dengan Winata Corporation.


“Dan satu lagi, Dho! Jika kesepakatan antara Bocchi dan Winata terjadi, kami akan memberikanmu jabatan yang lebih tinggi. Saya tahu betul potensi bisnis yang terpendam di dalam diri kamu, hanya saja kamu perlu lebih banyak belajar dan jam terbang untuk semakin bagus. Kami akan menempatkan dirimu menjadi general manager office di perusahaan ini.”

__ADS_1


Lagi-lagi Ridho hanya tertegun.


“Jika kesepakatan itu tidak terjadi, apa yang akan terjadi?” tanyanya pada akhirnya.


“Tidak ada apa-apa. Kau tetap bisa bekerja seperti biasa. Hanya saja, kamu akan memiliki hutang pada perusahaan sesuai dengan permintaan kamu,” jelas Damian.


Ridho menghela nafas. Gajinya saja tidak seberapa. Ah, laki-laki itu butuh cermin lagi, apakah ia pantas untuk Patricia?


“Jangan sia-siakan kesempatan ini, Dho! Jika kamu memang mencintai Patricia, maka berjuanglah untuknya. Kalian saling mencintai kan?” tanya Damian.


Ridho menghembuskan nafasnya.


“Akan saya pertimbangkan baik-baik, Bang!” ucapnya.


“Kamu punya waktu tiga hari lagi untuk putuskan ini, sebelum kamu berangkat ke London!”


Ridho mengangguk kecil, lalu berpamitan pada pimpinannya itu. Sambil berlalu, pikirannya kembali dipenuhi dengan apa yang baru saja dibicarakannya dengan Damian.


Haruskah ia menerima tawaran menarik itu?


\=====


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE


Terima kasih


__ADS_2