High Voltage Love

High Voltage Love
Ep 7. Mansion Keluarga


__ADS_3

Patricia telah keluar dari London Orbital Motorway yang penuh dengan berbagai macam kendaraan yang akan melintasi antar wilayah. Kini mereka tengah menyusuri jalan yang lebih kecil, melewati hutan-hutan kecil dan danau, lalu pemukiman warga. Rumah-rumah bergaya country cottage dengan susunan batu bata merah berjejer di sepanjang jalan. Tampak asri sebenarnya, meskipun tampak cukup mengerikan juga bagi warga Indonesia yang terbiasa menonton film horor klasik. Apalagi dengan ranting pohon elk yang merunduk, mungkin akan membuat suasana mencekam ketika malam tiba.


Patricia membelokan setir kemudinya ke sebuah jalan kecil beralaskan aspal mulus berwarna hitam. Tidak jauh dari jalan utama, sebuah gerbang tembok dan pagar besi tinggi berukiran tanaman terpampang di depan mereka. Patricia mengerem gasnya. Dua orang pria membukakan pagar itu untuknya. Patricia kembali menginjak gasnya menuju sebuah mansion bergaya English country cottage bercampur seni arsitektur Romawi dengan empat pilar tinggi yang berdiri kokoh di bangunan paling depan. Sebuah taman dan air mancur terdapat di depan halaman mansion itu. Tamannya luas dan rapi, dilengkapi dengan berbagai macam tanaman hias dan bunga-bunga cantik yang terawat. Ada juga bangunan lainnya yang lebih kecil di bagian kiri bangunan utama. Entah berapa hektar luas mansion beserta tamannya ini.


Ridho terkesima dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


“Kita sudah sampai!” ucap Patricia memberhentikan mobilnya tepat di depan pelataran pintu mansion milik keluarganya.


Seorang pelayan pria menyambut kedatangan mereka. Patricia menyuruhnya untuk mengambil barang-barang Ridho dan meletakan itu semua di sebuah kamar, tempat Ridho akan beristirahat. Ridho hanya memandangi saja. Hatinya terlalu tegang untuk semua yang ada di depannya ini.


“Dimana papamu sekarang?” tanya Ridho pada Patricia setelah pelayan tadi membawa barang-barangnya.

__ADS_1


“Papa sedang berada di kantornya bersama kakakku. Ia akan tiba tepat pada jam makan malam nanti,” terang Patricia.


Ridho mengangguk saja.


“Kau beristirahatlah dulu di kamarmu. Aku akan mengantarmu.”


Keduanya pun masuk ke dalam mansion. Sebuah pintu tinggi yang mungkin mencapai tiga meter menyambut mereka, disusul dengan dua buah tangga melingkar masing-masing di sisi kanan dan kiri menuju lantai dua. Sebuah lampu kristal berkilauan dengan butiran-butiran permata lainnya menggantung di atas langit-langit yang tinggi. Lukisan antik yang berharga tinggi menggantung di sisi tembok. Ada pula patung berukiran setengah  tubuh manusia yang berdiri di bawah lampu nan mewah itu. Patricia mengambil tangga di sebelah kanan. Kakinya yang ramping melangkah ringan menaiki anak tangga berlapis karpet tebal dan empuk itu. Ridho mengikuti dari belakang, ia masih takjub dengan interior yang tersaji di dalam mansion ini.


Langkah Patricia berhenti di sebuah pintu kayu cokelat yang sudah terbuka, karena pelayan sudah mengantarkan barang Ridho dan menyimpannya di dalam. Mereka memasuki kamar itu. Sebuah kasur berukuran king dengan penutup kasur tebal bermotif klasik terdapat di sana. Ada juga sebuah lemari dan dua nakas di kedua sisi kasur. Sebuah kamar mandi juga ada di dalamnya. Benar-benar seperti hotel kelas mewah.


“Kau akan tidur di kamar ini selama beberapa hari. Dan aku akan berada tepat di seberang kamarmu, Ridho! Jadi kau tidak usah sungkan untuk menggangguku jika memang kau ada perlu. Kau bisa gunakan telepon di kamar ini, dan menekan tombol 8 jika akan menghubungiku. Kau juga bisa menekan tombol angka 2 jika membutuhkan pelayan. Beristirahatlah dulu, aku akan menghubungimu lagi ketika jam makan siang tiba,” terang Patricia panjang lebar.

__ADS_1


“Terima kasih, Pat!” jawab Ridho pelan.


“Aku akan kembali ke kamarku,” ucap Patricia tersenyum.


Ridho membalas senyuman itu, lalu Patricia keluar dari kamar itu dan menutup pintunya. Ridho menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Debaran jantungnya entah berapa kali meningkat menuju tegangan yang paling tinggi. Sungguh, keadaan keluarga Patricia jauh lebih besar dari apa yang ia bayangkan dulu, ketika ia meminta wanita itu untuk menikahinya. Kini ia hanya bisa berharap bahwa dirinya bisa meyakinkan Tuan Antonio untuk menyerahkan anaknya itu pada dirinya. Cinta perlu diperjuangkan, dan ini tidak main-main.


\=====


Bersambung….


LIKE, COMMENT, & VOTE yaa

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2