
Patricia dan Ajeng sudah pergi menuju ruang latihan para pengawal Keluarga Bocchi. Mereka memasuki bangunan itu di tengah cahaya redup karena melewati taman. Cuaca di luar sangat dingin sekali.
“Kita seharusnya kembali!” ucap Patricia kedinginan.
“Tetapi di sana cukup bahaya!” sergah Ajeng.
“Kita harus kesana!” ucap Patricia, kemudian ia mencari sesuatu di sana, meski tubuhnya kedinginan.
“Apa yang kau cari?” tanya Ajeng.
“Aku ingin membawa pistol-pistol ini untuk mereka. Kau bisa gunakan?”
“Hah? Pistol?” tanya Ajeng tidak percaya, tubuhnya bergetar karena ketakutan.
“Kita akan membawa pistol ini untuk mereka. Kau bisa bantu aku?”
“Baiklah!” ucap Ajeng, lalu mengambil senjata api beserta pelurunya. Ia membawa dua buah pistol jenis revolver. Sedangkan Patricia membawa dua pistol jenis Colt 1911.
“Kau bisa bela diri, Ajeng?” tanya Patricia setelah ia mengambil pistol-pistol itu.
“Karate! Tapi sudah lama sekali aku tidak pernah melakukannya,” ucap wanita berhijab pendek itu.
“Bagus!” ucap Patricia.
Kedua wanita itu kembali ke bangunan utama yang kini sudah tampak sepi dari tamu. Mereka mengendap masuk melalui pintu dapur untuk berhati-hati sambil memegang pistol-pistol itu.
Sementara itu, Ridho, Ferdian, dan Damian masih mengendap-endap di sepanjang lorong mansion. Kemungkinan Antonio masih berada di dalam rumah itu. Dominic pasti mencari sesuatu. Dua orang pria berjas hitam sepertinya pengawal Dominic tengah berjaga di sana, di depan sebuah ruangan. Ridho menempelkan tubuhnya di sebuah sekat ruangan yang lain agar tidak terlihat. Begitu juga dengan Ferdian dan Damian di sisi ruangan yang lain.
Ridho khawatir akan keberadaan sahabat-sahabatnya itu. Ia tahu Ferdian pernah mengenyam karate ketika SMA dan awal kuliahnya. Begitu juga dengan atasannya, Damian. Meskipun begitu, situasi ini terlalu berbahaya. Apalagi para pria penjaga itu memiliki senjata api. Dimana para pengawal Antonio? Apakah mereka mengamankan para tamu terlebih dahulu? Mungkin saja.
Ridho melempar sebuah benda untuk menarik perhatian para pengawal Dominic. Ia memberikan kode kepada Ferdian dan Damian untuk menyergap kedua laki-laki itu lalu merebut senjatanya. Ketika pria berjas hitam itu sudah mendekat sambil mengacungkan pistol mereka, Ferdian dan Damian bersama-sama menyerang tubuh pria itu dari belakang, sehingga pistol mereka terjatuh, Ridho segera mengambil dua pistol itu. Ferdian menyerang seorang pria dengan jurus karate yang sudah lama tidak dipakainya, meskipun begitu ia masih bisa menggunakannya. Pukulan demi pukulan ia daratkan di wajah dan perut pria bertubuh tinggi sama seperti dirinya.
Begitu juga dengan Damian yang mudahnya menaklukan pria yang menjadi lawannya, hingga tidak berkutik sama sekali.
Sementara itu keluar dua pria bertubuh besar lagi dari dalam karena mendengar keributan yang terjadi di sana. Ridho langsung menyerang salah satu pria yang terdekat dengan tendangan kakinya tepat di wajahnya. Lalu pria lainnya menghajar Ridho dengan kepalan tangannya ketika melihat rekannya tersungkur. Damian langsung bergabung untuk menyerang pria yang masih menyerang Ridho dengan mendorong punggungnya, sehingga Ridho bisa menendang dadanya.
Pria yang tadi tersungkur kembali terbangun, membuat Ferdian yang baru saja menaklukan lawannya berlari ke arahnya, agar pria itu tidak menyerang abangnya. Ferdian mendorong dada pria itu dengan kakinya yang panjang, lalu menonjok perutnya dengan kepalan tangannya.
Pria-pria besar yang sudah mereka lawan, kini kembali bangun, meski sambil menahan nyeri di tubuhnya. Salah satu pria mengambil sebuah meja kecil yang diangkatnya, lalu dilemparkannya ke arah Ferdian. Namun Ferdian masih bisa mengelak dari serangan itu. Ia malah mengambil meja itu lalu menghancurkannya, dan mengambil kaki meja untuk dijadikan senjata tumpul.
Empat lawan tiga. Keempat pria besar itu berlari untuk menyerang Ridho, Ferdian, dan Damian yang sudah memasang posisi kuda-kuda untuk menahan serangan. Ferdian memukul wajah pria yang menjadi lawannya dengan kayu yang sudah diambilnya tadi. Namun pria yang menjadi lawannya begitu kuat, sehingga terpaksa, Ferdian memukulnya keras di atas kepala pria itu, membuat pria itu terhuyung-huyung lalu terjatuh.
Sedangkan Damian melawan seorang pria tinggi. Ia lebih banyak banyak menahan serangan lawannya, hingga sampai satu titik pria itu merasa kelelahan, Damian menyerangnya dengan jurus ampuh yang langsung menyasar ulu hatinya. Pria itu pun roboh di depannya.
Ridho langsung mendapat serangan dari dua pria sekaligus. Ia menjatuhkan lawannya menendang wajah pria itu dengan sebuah tendangan back kick, lalu memutar kakinya untuk menjatuhkan lawan lainnya. Damian menyambut pria yang sedang terdorong itu dengan jurus pukulan tangannya yang keras. Begitu pula dengan Ferdian yang juga menyambut lawan yang baru saja terkena tendangan Ridho, memutar lengannya dan membantingnya terhempas ke atas lantai.
__ADS_1
Semua lawannya sudah berhasil di atasi. Tidak ada satupun dari mereka yang kembali bangkit, karena tulang-tulang mereka pasti sedang retak.
“Fer kamu jaga di sini!” pinta Ridho setelah Ferdian berhasil membekukan lawannya.
“Iyow!” ucapnya menggoyangkan tangannya yang terasa kebas.
Tiba-tiba, Ajeng dan Patricia muncul di sana. Ridho dan Ferdian terkejut memandangi istri mereka yang kembali.
“Kamu ngapain kesini lagi?” tanya Ferdian memeluk istrinya.
“Aku cuma mau kasih ini!” ucap Ajeng memberikan dua buah revolver pada suaminya.
“Hati-hati, Sayang! Aku akan tunggu di atas!” ucap Ajeng lalu mengecup bibir suaminya.
“Doain kita selamat!”
Ajeng mengangguk.
Sementara itu Ridho menghampiri istrinya.
“Pergilah ke atas! Kita akan bertemu di sana!” ucap Ridho.
“Bawalah ini, kau bisa menggunakannya jika kurang!” ucap Patricia, memberikan senjata api jenis Colt itu. Sehingga para pria di sana memiliki dua buah senja api masing-masing.
“Terima kasih, Pat!” ucap Ridho menatap lekat mata istrinya.
Keduanya berciuman sesaat, teringat pada ciuman pertama mereka di Amerika dulu. Terasa manis dan lembut, hanya saja suasana tidak mendukung.
Patricia dan Ajeng pun pergi ke lantai atas, ke dalam kamar Patricia. Untuk berlindung di sana. Semoga saja tidak ada penjahat yang pergi ke atas.
Ridho dan Damian kembali mengendap-endap untuk mendekati ruangan kerja milik Antonio. Ridho mengintip dari sisi pintu. Ternyata benar, Dominic masih berada di sana bersama ketiga pengawalnya. Sedangkan Antonio tengah menyalin data dari laptop miliknya untuk ditransfer ke flashdisk milik Dominic.
Pistol terus ditodongkan di kepala Antonio.
Ridho tidak mengerti bukankah Leonardo sudah memberikan flashdisk itu pada Dominic tiga hari yang lalu. Mengapa sampai Dominic kembali lagi kesini? Apa mungkin Leonardo telah memanipulasi data di dalam flashdisk itu? Ia sungguh tidak menyangka, Leonardo sudah membawa mereka pada situasi berbahaya seperti ini. Bahkan pria itu tidak tahu dimana keberadaannya.
Ridho berpikir keras bagaimana membebaskan Antonio dari sana? Apakah ia harus menyerang terlebih dahulu? Atau membiarkan ia memberikan datanya dengan sukarela?
“Aku tahu kau ada di sana Tuan Effendi, keluarlah!” ucap Dominic dari dalam ruangan.
Hal itu membuat Ridho menghela nafasnya.
Ridho dan Damian saling bertatapan. Ridho mengangguk lalu keluar di sana sambil mengangkat kedua tangannya, dengan satu tangan memegang pistol. Ia muncul di hadapan Dominic, membuat para pengawalnya mengarahkan senjata pada pengantin baru itu.
“Buang senjatamu, Tuan Effendi!” seru Dominic.
__ADS_1
Antonio menatapnya, memberinya kode agar mengikuti perintah Dominic.
Ridho pun membungkuk pelan, sambil menurunkan tangannya yang memegang senjata, lalu menaruhnya di atas lantai dan menendangnya ke arah mereka. Dominic tersenyum sinis.
“Menantu barumu ini ternyata berani juga. Tidak seperti anak lelakimu yang entah berada dimana dan hanya mengacaukan segalanya. Betul seperti itu Antonio?”
Antonio tidak menjawab, tetapi perkataan Dominic itu tepat sekali. Ia ingin sekali menghajar Leonardo dan mengurungnya di penjara bawah tanah jika saja ia muncul sekarang.
“Kau tak perlu melawan kami! Kami akan segera pergi, sebaiknya kau nikmati saja malam pernikahanmu dengan Paty!”
Sebuah helikopter terdengar mendekat, lalu mendarat di pekarangan luas kediaman Bocchi. File-file rahasia milik Bocchi sudah 98% status transfernya. Lalu begitu statusnya berubah menjadi 100% completed, Dominic langsung membawa flashdisk itu dan memasukannya ke dalam jasnya.
“Terima kasih Tuan Antonio! Sampai berjumpa lagi!” ucap Dominic sinis.
“Aku berharap tidak pernah berjumpa denganmu lagi!” ucap Antonio menatapnya tajam.
Pria itu hanya menyeringai lalu berlari menuju helikopternya bersama para pengawalnya.
“Kau tidak apa-apa, Sir Antonio?” tanya Ridho menghampirinya yang terlihat tertekan.
“Tidak apa!” jawabnya lalu meminum segelas brandy yang ada di meja kerjanya.
“Dimana Patricia?” tanyanya cemas.
“Patricia ada di dalam kamarnya,” jawab Ridho.
“Syukurlah!” ucapnya lega.
“Aku akan menghukum Leonardo jika sampai anak itu muncul di hadapanku!” ucapnya geram.
“Kau perlu istirahat, Sir! Aku akan panggilkan pelayanmu!”
“Terima kasih, Ridho!” ucapnya lemas.
Ridho keluar dari ruangan itu, menemui Ferdian dan Damian yang masih menunggu.
“Gimana?” tanya Ferdian.
“Tuan Bocchi kehilangan data perusahaannya. Tetapi dia sudah merelakannya. Aku akan memanggilkan pelayan untuk mengurusnya.”
“Oh…”
“Abang akan jaga disini, kalian temuilah istri-istri kalian!” ucap Damian berdiri di depan pintu.
Ridho dan Ferdian mengangguk, lalu keduanya pergi dari sana.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu yaa :D