Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 10


__ADS_3

"Mas, aku tak yakin akan lolos interview." ucap Asiyah kepada Askara ketika sedang mengendarai mobil.


"Kau akan lolos karena aku sendiri yang akan menginterview mu." Jawab Askara dengan nada datar.


"Apa? Mas yang akan menginterview ku?" Asiyah tak percaya dengan ucapan Askara.


"Ya." Askara masih fokus berkendara.


"Lalu, untuk apa aku melaukan interview ini? Toh Mas juga yang menginterview ku, dan Mas sendiri yang merekomendasikanku." Asiyah tampak sedikit kecewa.


"Aku juga belum tentu meoloskanmu. Kita lihat saja apa hasilnya. Lagi pula bukan hanya aku yang akan menginterview mu, tapi juga ada atasan lainnya. Ini sudah merupakan prosedur perusahaan." Jelas Askara.


"Oh, baik Ica mengerti sekarang." Asiyah menganggukan kepalanya.


Mereka pun tiba di kantor, semua orang begitu kaget saat melihat Askara jalan dengan seorang wanita di sampingnya. Askara terkenal dengan ketegasannya dan banyak rumor yang menyebar di perusahaan ini bahwa Askara adalah seorang gay. Semua orang tampak membicarakan mereka berdua di belakang.


"Kira-kira siapa ya wanita yang bersama Pak Askara? Apa dia sekertaris barunya?" Ucap salah satu pegawai.


"Bukan, sekertaris Pak Askara masih Bu Mawar, lihatlah dia ada di meja depan ruangan Pak Askara." Jawab pegawai lain sambil menunjuk Mawar yang tengah fokus pada layar komputernya.


"Lalu siapa wanita itu ya kira-kira?" Dua pegawai iu kini tengah menebak.


"Dia istriku. Nampaknya sekertarisku bekum memberitahu kalian bahwa aku telah menikah." Askara menggubris gosip para pegawai.


"Pak Askara? Anda mendengarkan pembicaraan kami?" Salah satu pegawai tampak kaget.


"Hey, diamlah. Ekhm, selamat ya Pak Askara atas pernikahannya. Istri Anda tampak sangat cantik, benarkan Ben?" Ujar pegawai yang satunya lagi.


"Iya, benar." Jawab pegawai yang dipanggil Ben.


"Yasudah, kami izin masuk ruangan kami ya Pak." Kedua pegawai itu lalu cepat-cepat pergi.


"Menggosip di pagi hari, sangat tidak bermanfaat." Askara laku menarik Asiyah ke ruangannya.


Saat sampai di depan pintu ruangan, seperti biasa sekertaris Askara, Mawar akan mengikuti Askara ke ruangannya untuk memberitahu Askara soal schedule Askara hari ini dan menyerahkan beberapa berkas yang harus Askara tandatangani atau Askara baca.Tetapi pagi ini Mawar dibuat kaget saat melihat Askara menggandeng istrinya ke kantornya.


"Selamat Pagi Pak As…" Mawar tak sempat menyelesaikan ucapannya.


"Kau membawa wanita itu ke kantor ini?" Ucap Mawar yang kini terlihat kesal.


"Lalu?" Askara bertanya balik.


"Sebegitu pentingkah wanita itu hingga harus kau bawa juga ke kantormu? Kau bilang kau tidak mencintainya." Kata Mawar dengan nada sinis.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu Mawar. Ini kantor, bukan hutan. Semua orang bisa mendengar ucapanmu." Ujar Askara.


"Biarkan saja, biarkan semua orang mendengarnya." Mawar malah semakin meninggikan suaranya.


"Mawar! Dia adalah calon kandidat manager yang akan menggantikan Litani." Jelas Askara.


"Kau mengangkat istrimu sebagai manager perusahaan ini? Apa aku tidak salah dengar? Apa kau sengaja mempekerjakannya agar kalian bisa terus berduaan?" Mawar semakin tidak terkontrol.


"Jaga bicaramu Mawar! Atau kau kupecat hari kni juga!" Kata Askara dengan tegas.


"Tenang Mas." ucap Asiyah.


"Apa? Tega sekali kau Askara. Tak kusangka kau berubah hanya karena dia." Mawar lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Wanita gila." Ucap Askara sambil berjalan.


"Istighfar Mas." Ucap Asiyah.


"Tak usah mencoba menasihati ku." Kata Askara.


Asiyah kemudian tak lama di interview. Asiyah tampak gugup karena ternyata ada beberapa orang yang menginterviewnya. Meski Askara adalah sakah satu diantaranya, itu tak membantu apapun. Askara malah berubah menjadi intervier yang galak dan tegas. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya sangat sulit dijawab oleh Asiyah. Tapi untunglah Asiyah mampu mengontrol pikirannya dengan baik sehingga ia mampu melewatinya.


"Asiyah Humaira, usia 25 tahun lulusan S-3 doktor manajemen dan bisnis. Frshgraduate. Jadi, apa kesibukanmu akhir-akhir ini?" Tanya Askara sambil membolak-balikkan CV milik Asiyah.


"Apa?" Asiyah tak percaya Askara akan bertanya demikian.


"Maaf, saya akhir-akhir ini tengah fokus untuk belajar mengkaji Al-Qur'an dan hadist di rumah." Jawab Asiyah.


"Jadi, anda tidak bekerja?" Tanya peng interview yang lain.


"Ya, karena setelah lulus saya memutuskan untuk langsung menikah dengan…"


"Ekhm…" Askara menyela pembicaraan Asiyah.


"Maksud saya, setelah saya lulus, saya memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangga."


"Lalu kenapa sekarang Anda ingin bekerja?" Tanya wanita yang ada di sebelah Askara.


"Karena saya memperoleh izin dari suami saya."


"Baik, lalu…"


Interview berjalan cukup lama. Setelah selesai, Asiyah langsung diajak oleh Askara ke suatu tempat. Ternyata tempat itu adalah halaman yang ada di belakang kantor. Askara lalu memelototi Asiyah.

__ADS_1


"Aku mencoba untuk profesional. Kau aku ajak bekerja di perusahaan ini karena aku lihat kau cukupp bagus untuk memegang jabatan ini. Mereka sepertinya akan meloloskanmu, jadi kuharap kau bekerja dengan baik dan jangan mengecewakanku. Kau membawa nama baikku." Ucap Askara.


"Ya, aku tau Mas. Karena semuanya sudah beres, Ica pulang sekarang ya. Ica belum masak dan beres-beres rumah." Jawab Asiyah.


"Ya. Pergilah." Ucap Askara.


"Mas tidak mengantar Ica pulang?"


"Aku ada meeting setelah ini. Kau bisa naik taksi. Kau memegang uang kan?"


"Ica bawa uang kok, kalau begitu Ica pamit pulang ya Mas. Assalamualaikum." Asiyah lalu mencium lengan Askara.


"Wa'alaikumsalam." Mereka lalu berpisah.


Asiyah lalu pulang, ia tengah menunggu di halte. Tak lama taksi datang. Asiyah tanpa curiga langsung naik ke taksi itu. Asiyah mulai curiga saat arah yaksi itu tak sma dengan arah menuju rumahnya.


"Pak, jalan ke rumah saya bukan ke sini." Asiyah mulai panik.


"Karena kita tidak akan pulang ke rumah." Terdengar suara wanita dari balik kursi sang supir.


Asiyah mulai khawatir, ia mencoba menelpon Askara, tetapi sang supir malah merebut handphone Asiyah. Sehingga mobil melaju tanpa disetir. Mobil kemudian menabrak sebuah pohon di pinggir jalan.


"Bruk." Mobil menabrak pohon dengan keras.


"Aaaa." Baik Asiyah maupun sang supir terbanting.


Sang supir tak sadarkan diri. Untungnya Asiyah masih sadar walau tubuhnya sudah terbentur sana sini. Asiyah mencoba membuka pintu mobil, sangat sulit untuk dibuka. Dengan sisa-sisa dari tenaganya Asiyah kemudian mendobrak pintu. Akhirnya ia pun berhasil keluar. Tetapi tenanganya sudah sangat sedikit. Ia kemudian terjatuh. Ia mulai kehilangan kesadaran. Di sisa-sisa kesadarannya ia mencoba untuk meraih ponsel yang ada di sampingnya. Ia berhasil meraih ponsel itu. Ia kemudian menelpon Askara.


Lama sekali Askara tak menjawab.


"Tuut."


"Assalamualaikum, Mas."kata Asiyah dengan lemah.


"Ya, ada apa?" Jawab Askara dingin.


"Mas, Ica kecelakaan mas." Asiyah mulai tak sadarkan diri.


"Apa? Kau jangan bercanda ya."


"Ica?" Askara reflek menyebut nama Asiyah yang sebelumnya belum pernah ia memanggil Asiyah dengan nama itu. Bisanya askara hanya menyebutnya dengan kamu atau kau.


"Ica? Kau dimana sekarang?" Askara tak mendengar jawaban.

__ADS_1


"Hallo? Hallo?" Telpon terputus.


"Astaga? Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu?" Askara memegang dahinya. Ia lalu keluar dari ruangannya dan langsung pergi.


__ADS_2