Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 34


__ADS_3

"Tunjukkan foto itu pada saya sekarang!" Ucap Askara kepada Bi Tuti.


"Iiiiya Pak." Bi Tuti langsung pergi ke kamar untuk mengambil handphone nya. Ia lalu menyerahkan handphone itu kepada Askara.


"Ini. Lihatlah Pak." Bi Tuti menunjukkan foto itu kepada Askara.


"Memang benar ternyata dugaanku." Gumam Askara.


"Siapa orang itu sebenarnya Askara?" Tanya Ayah penasaran.


"Dewangga." Ucap Askara.


"Astaga..." Ujar Mamah dengan wajah yang berubah menjadi sedih.


"Dia benar-benar sudah gila." Ayah nampaknya sangat kesal kepada Dewangga.


"Kita akan menyeretnya dalam pengadilan. Ayah tenang saja." Timpal Askara.


"Ayah kurang setuju Nak. Bagaimanapun dia saudara kembarmu." Ayah kini tampak sedih.


"Tapi saudara mana yang berani mencelakai saudara dan bahkan orang tuanya sendiri?" Askara tampak kesal.


"Mamah Tau Nak. Tapi, hati orang tua mana yang tega untuk memenjarakan anaknya sendiri? Walau Dewangga sudah berbuat terlampau batas, tapi kami masih membukakan Pintu maaf untuknya." Ucap Mamah dengan wajah penuh belas kasih.


"Aku tak paham dengan prinsip yang kalian pegang. Tapi, aku benar-benar tidak bisa memaafkan tindakan Dewangga kepada kita. Dia harus diberi pelajaran agar jera." Askara tetap kekeuh dengan pendiriannya.


"Mas, apa yang dikatakan oleh Ayah dan Mamah ada benarnya juga. Jika kita bisa menyelesaikannya dengan baik-baik maka kenapa tidak?" Asiyah ikut berucap.


"Baik-baik bagaimana? Aku benar-benar ingin menghabisinya saat ia mencekik dan menjambakmu. Kesabaran ku sudah habis untuknya." Askara terlihat sangat marah.


"Askara...." Ayah mencoba membujuk Askara.


"Tidak. Sudah tidak ada lagi kesempatan kedua untuknya. Aku akan cari ia sekarang juga! Akan kuberi dia pelajaran yang setimpal!" Askara kemudian beranjak pergi.


"Mas, tunggu Mas. Jangan." Asiyah mencoba menghalau Askara.


"Tidak. Jangan cegah aku untuk yang satu ini." Askara melepaskan lengan Asiyah dengan kasar. Ia tidak menggubris siapapun. Ia langsung pergi begitu saja.


"Bagaimana sekarang Yah?" Mamah kini tampak cemas.

__ADS_1


"Aku sudah tak bisa membayangkannya lagi. Mamah tahu sendiri, jika mereka berkelahi maka tidak akan ada yang bisa melerainya sebelum keduanya habis atau kewalahan." Ucap Ayah.


"Ya Allah, lindungilah suami hamba. Semoga ia tidak dikuasai oleh nafsunya dan bisa mengontrol emosinya." Ucap Asiyah dalam hatinya.


"Ayah akan telpon polisi dan pihak keamanan lainnya. Harus ada yang mengontrol mereka jika mereka sudah kelewat batas." Ayah lalu juga beranjak pergi untuk menghubungi pihak berwajib.


Suasana rumah oun berubah menjadi tegang.


Sementara itu, di jalan. Askara tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum. Ia tak memedulikan apa yang ia lewati. Ia juga tak peduli dwngan mobil yang lewat atau rambu-rambu jalan. Semua ia terobos begitu saja.


"Tunggu saja Dewangga! Kau akan dapat pelajaran yang berharga." Ucap Askara. Ia meremas kemudi mobilnya dengan sangat kencang. Wajahnya tampak sangar dan penuh dendam.


Askara lalu menghentikan mobilnya di sebuah tempat. Ia keluar mob tanpa ragu. Askara langsung berjalan cepat tanpa perhitungan.


"Tak salah lagi, pasti dia bersembunyi di sini." Ucap Askara sembari menengok ke arah alat yang ia bawa.


"Dewangga keluar kau!" Teriak Askara dengan murka.


"Keluar kau dasar pecundang!" Sekali lagi Askara memecah kesunyian di tempat itu.


Tak lama terdengar suara langkah kaki diiringi dengan rintihan. Terlihat bayangan mulai muncul. Sesosok wanita keluar dengan pakaian compang-camping.


"Nayara!" Askara kaget melihat kemunculan Nayara dengan kondisinya yang begitu memprihatinkan. Ia seperti habis dihabisi oleh bianatang buas. Mulutnya diikat dengan kain. Begitupun dengan mata, tangan dan kakinya. Ia didorong oleh seseorang dari belakang.


"Kenapa? Kau iba melihatnya?" Tiba-tiba terdengar suara yang datangnya entah dari mana.


"Keluar kau sekarang juga! Akan kuhabisi kau tanpa ampun!" Ucap Askara.


"Hah! Coba saja kalau bisa! Lagi pula kau hanya seorang pecundang dan akan terus begitu. Kau tidak bisa melawanku." Ucap Dewangga.


"Kaulah yang pecundang! Beraninya bersembunyi. Keluar dan hadapi aku sekarang." Tantang Askara.


Tak lama kemudian keluar sesosok manusia dengan baju serba hitam. Ternyata itu adalah Dewangga.


"Aku tidak pernah bersembunyi bodoh. Aku akan selalu melawanmu dari depan. Dan kau akan lihat bagaimana aku akan menghabisimu tanpa ampun." Ucap Dewangga sembari mendekati Askara.


Dewangga telah memegang sebuah pisau di tangannya dan pistol di sakunya. Dewangga nampaknya sudah memperhitungkan langkah yang diambilnya.


Askara juga ternyata menyimpan sebilah pisau di sakunya. Ia mengeluarkannya dengan hati-hati. Askara lalu memasang posisi siap bertarung.

__ADS_1


Askara lalu maju dengan penuh keyakinan, ia hendak menghunuskan pisau itu ke arah Dewangga. Saat pisau itu hampir mengenai Dewangga, ternyata Dewangga berhasil menahannya dengan sempurna.


"Jangan harap kau bisa mencelakai ku dengan mudah!" Ucap Dewangga lalu membalikkan serangan dari Askara.


Askara berhasil menahan serangan dari Dewangga. Askara kini benar-benar dikuasai oleh emosinya. Askara berkali-kali menyerang Dewangga tanpa ampun. Lalu goresan pisau berhasil mengenai wajah Dewangga. Tepatnya di area halis dan pipi.


"Itu untuk sikap pecundang mu yang telah rela menjebloskan saudaranya sendiri ke dunia mafia." Ucap Askara dengan begitu marah.


"Aaarrrgggh!" Dewangga menyerang dengan brutal setelah mendapatkan serangan dari Askara.


"Terimalah pembalasanku!" Dewangga hampir saja menghunuskan pisau itu ke jantung Askara. Untungnya Askara berhasil menghindar. Padahal jaraknya tinggal beberapa centi lagi.


"Dasar keparat!" Askara menyerang dengan jauh lebih kejam dan tanpa ampun. Tetapi Dewangga juga tak kalah kuat. Dewangga berhasil menahan setiap serangan dari Askara.


"Bruk!" Ditengah pertempuran panas itu tiba-tiba terdengar suara orang jatuh. Ternyata Nayara.


"Nayara." Askara lalu kehilangan fokusnya.


"Aaarrrgggh." Askara mengerang kesakitan karena dicekik oleh Dewangga.


"Sudah kubilang aku yang akan mengalahkanmu." Dewangga lalu mengeluarkan senapannya. Senapan itu lalu diarahkan tepat ke kepala Askara.


"Dasar bajingan sialan!" Askara meludahi wajah Dewangga.


"Itu kata-kata terakhirmu? Baiklah. Ucapkan selamat tinggal pada Askara Sadewa." Ucap Dewangga.


"Dor." Terdengar peluru yang berhasil dilepaskan.


Askara sudah menutup matanya. Ia sudah pasrah dan merasa bahwa saat itu juga ia akan habis di tangan Dewangga.


Tetapi kenyataannya bukan Askara lah yang terjatuh melainkan Dewangga itu sendiri. Dewangga langsung ambruk di depan mata Askara.


Senapan itu berasal dari belakang. Dewangga terjatuh dan langsung tak sadarkan diri. Askara lalu segera menjauh dari Dewangga.


Askara melihat sosok yang menembakkan peluru ke arah Dewangga. Sosok itu ternyata tak lain dan tak bukan adalah Ayah mereka sendiri.


"Ayah?" Ucap Askara keheranan.


"Jangan tanya Ayah menggunakan senapan apa? Dia hanya Ayah bius. Tenang saja. Mana mungkin Ayah mencelakai anaknya sendiri." Ucap Ayah dengan santai.

__ADS_1


"Bagaimana Ayah bisa..." Askara keheranan.


"Bagaimana Ayah bisa tahu tempat ini?" Panjang ceritanya. Tetapi Ayah tahu semua yang kalian lakukan. Sekarang tak usah banyak tanya. Cepat bawa Dewangga dan gadis itu. Sebelum saudaramu kembali sadar. Ayo." Ucap Ayah. Ayah lalu membawa Dewangga sementara Askara membawa Nayara. Mereka lalu meninggalkan tempat itu.


__ADS_2