
Mobil yang mereka kendarai melaku dengan cepat. Suasana tegang menyeruak memenuhi seisi mobil itu. Nayara tampaknya tengah sekarat. Sementara Dewangga diikat dan di sumpal mulutnya.
Ayah tengah fokus mengendarai mobilnya. Sementara Askara berada di samping Ayah sambil terus mengawasi kondisi sekitar.
"Jangan hubungi siapapun untuk saat ini." Ucap Ayah kepada Askara.
"Ya." Jawab Askara singat.
Mereka terus melaju hingga sampai di suatu tempat. Rumah besar dengan pencahayaan yang dibuat minim.
Mobil mereka berhenti tepat di depan rumah besar itu. Ayah lalu keluar terlebih dahulu disusul dengan Askara.
"Keluarkan wanita itu terlebih dahulu." Perintah Ayah kepada Askara.
Askara dengan sigap menuruti perintah dari Ayahnya. Ia lalu mengeluarkan Nayara dari mobil Dan membawanya masuk ke rumah besar itu. Sementara Ayah mengurus Dewangga.
Mereka lalu masuk ke rumah besar itu. Saat masuk lampu langsung otomatis menyala membuat isi dalam rumah itu terlihat jelas.
Terdapat beberapa orang yang telah siap berjaga. Saat mereka masuk, orang-orang itu langsung menyambut baik kedatangan mereka. Orang-orang itu bahkan membantu Askara dan Ayah untuk mengurus Nayara dan Dewangga.
"Tuan, kami sudah cemas. Untunglah Anda berhasil. Apa Tuan muda juga baik-baik saja?" Tanya salah satu dari orang-orang itu. Askara tak mengenali satupun dari orang-orang itu.
"Ya, dia baik-baik saja. Cepat bawa Dewangga ke ruang nomor 7. Dan gadis itu, bawa ke tempat perawatan." Jawab Ayah sambil menunjuk ke orang itu.
"Baik Tuan." Jawab orang itu langsung menuruti perintah dari Ayah.
Orang-orang itu pun meninggalkan Askara dan Ayah berdua. Mereka kini disibukkan dengan tugas menangani Nayara dan Dewangga.
Askara lalu mengikuti Ayah yang berjalan menuju tangga.
"Tempat apa ini Ayah?" Tanya Askara yang masih dibuat bingung.
"Kau akan mengetahuinya setelah sampai di atas. Oh ya, kau boleh menelpon istrimu atau Mamah sekarang. Ayah rasa kita sudah aman." Jawab Ayah sambil terus berjalan menaiki tangga.
__ADS_1
Askara lalu merogoh sakunya untuk mengambil telponnya. Ia langsung menekan nomor Asiyah dan menelponnya.
"Tuuut..." Askara menunggu telpon diangkat.
"Assalamualaikum. Mas..." Ucap Asiyah.
Seketika hati Askara dibuat kembali tenang setelah mendengar suara isterinya.
"Ya, aku baik-baik saja. Jadi tolong tenanglah." Ucap Askara.
"Alhamdulillah, Mah... Mas baik-baik saja." Terdengar Asiyah berjalan mendekati Mamah.
"Alhamdulillah. Askara, ini Mamah. Apa ayahmu ada di sana bersamamu?" Tanya Mamah.
"Ya. Mamah tahu Ayah bersamaku?" Askara tampak heran.
"Ya Mamah tahu. Ya sudah, kalau kalian sudah dalam kondisi aman syukurlah. Mamah lega." Ucap Mamah.
Ya, kami baik-baik saja." Ujar Askara.
"Iya." Jawab Askara.
"Yasudah, aku tutup telponnya sekarang."tambah Askara.
"Baiklah Mas. Assalamualaikum." Ucap Asiyah.
"Wa'alaikumsalam." Askara lalu menutup teleponnya. Ia lalu memasukkan ponselnya ke sakunya kembali.
Askara sampai di lantai paling atas. Terdapat banyak sekali pintu. Tempat apa ini? Tanya Askara dalam hatinya. Askara masih mengikuti langkah kaki ayahnya. Pasti Ayah akan masuk ke salah satu ruangan dibalik pintu yang paling besar itu. Fikir Askara.
Ternyata tebakan Askara salah. Ayah malah berjalan ke dekat lukisan kecil di sebelah pintu nomor 48. Ayah lalu memiringkan posisi lukisan itu.
Usai lukisan itu dimiringkan, tiba-tiba salah satu lemari besar yang ada di ruangan itu terbelah menjadi dua. Di balik lemari itu ternyata ada ointu masuk menuju suatu ruangan.
__ADS_1
Ayah lalu berjalan ke arah pintu itu. Pintunya dilengkapi dengan keamanan yang canggih. Ayah lalu menempelkan sidik jarinya dan mendekatkan wajahnya ke mesin pengaman itu. Tak lama pintu pun terbuka.
"Ayo, masuklah!" Ucap Ayah kepada Askara.
Askara dan Ayah lalu masuk ke ruangan itu. Di sanalah semua pertanyaan Askara terjawab.
Saat pertama kali masuk, pandangan Askara langsung tertuju ke sebuah foto kecil yang tersimpan di atas meja. Ada foto lainnya juga. Askara serasa tengah diajak untuk melihat kembali ke masa lalu.
Di foto itu, ada dirinya yang masih bayi, dipangku oleh Mamah. Sementara Dewangga dipangku oleh Ayah. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
Tetapi satu hal yang mencuri perhatian Askara, ialah wajah dan leher Ayahnya yang penuh dengan tatto. Di foto lain, Askara juga melihat wajah Ayahnya yang masih muda tengah minum-minum bersama temannya. Bukan, tetapi rekan mafianya.
Apa?? Ayah juga seorang mafia?
"Ayah..." Ucap Askara yang masih syok.
"Kenapa? Kau pasti bertanya-tanya ya setelah melihat semua ini? Nak, dunia kalian, dunia yang kau dan Dewangga selami selama ini telah Ayah arungi sebelumnya." Ucap Ayah dengan wajah prihatin.
Askara tam berani menatap wajah ayahnya secara langsung. Ia langsung memalingkan wajahnya ke foto yang paling besar di ruangan itu. Foto seorang laki-laki berpakaian layaknya anggota mafia sejati. Laki-laki itu tampak berbeda dari laki-laki yang kini tengah berdiri di samping Askara. Padahal mereka adalah orang yang sama.
"Bagaimana mungkin...." Gumam Askara.
"Panjang ceritanya. Yang jelas Ayah sangatlah menyesalinya." Ucap Ayah dengan wajah yang kini tampak sedih.
"Ayah, tolong jelaskan yang satu ini." Askara menunjuk kesebuah foto. Di foto itu tampak dua orang yang terlihat sangat akrab. Mereka saling merangkul satu sama lain. Ternyata itu adalah Ayah ketika muda dan disebelahnya adalah Ketua. Apa? Askara tidak salah lihat kan? Bagaimana mungkin?
"Ya. Dia adalah kawan karib Ayah. Wirga atau kau kini menyebutnya ketua. Kami dulu bersama-sama membentuk kelompok mafia Elang Hitam. Banyak hal sulit yang kami hadapi bersama. Setiap hari di waktu itu adalah pertaruhan nyawa. Tapi bukannya jera, kami malah merasa tertantang." Jelas Ayah yang kini wajahnya berkaca-kaca.
"Wirga sangatlah ambisius. Ia punya mimpi yang besar bagi Elang hitam. Tetapi Ayah, baru menyadari setelah menikah dengan Mamahmu bahwa Ayah telah tersesat sangat jauh. Apalagi usai kematian Kakekmu karena kecerobohan Ayah. Ayah sangat menyesal setelahnya." Kini Ayah menitikkan air mata.
"Saat Ayah mulai mundur perlahan, Wirga tak rela. Ia ingin Ayah terus berada di dunia mafia bersamanya. Apalagi Ayah sudah banyak tahu tentang kelompok mafia kami dan Wirga sendiri. Tetapi Ayah tetap bersikeras keluar. Hingga akhirnya Ayah kabur dan menjauh dari Wirga sejauh-jauhnya. Ayah dn Mamahmu bersembunyi di Kristal tower sampai kalian lahir. Saat kalian hadir Ayah rasa Ayah sudah tidak bisa bersembunyi lagi."
"Ayah akhirnya keluar dari persembunyian dengan identitas baru. Untunglah setelahnya kami tidak berhadapan lagi dengan Wirga. Entah ia sudah menyerah mencari Ayah atau bagaimana. Tetapi Dewangga, saudara kembarmu. Dengan bodohnya terbujuk dan masuk ke dalam hasutan Wirga. Nampaknya Wirga tahu bahwa kalian adalah putera Ayah. Apa yang kalian alami adalah bentuk pembalasan Wirga terhadap kesalahan yang telah Ayah perbuat."
__ADS_1
"Sekarang Askara paham. Tapi, bagaimana Ayah bisa membiarkan Dewangga masuk ke dunia mafia bahkan jatuh ke tangan Wirga jika Ayah sendiri sudah tahu akibatnya bagaimana." Tanya Askara.
"...." Lama sekali Ayah terdiam. Nampaknya ada sesuatu yang sulit Ayah ungkapkan. Isi hati Ayah, hanya dia sendiri yang tahu.