
Siang itu, Askara baru selesai mengadakan rapat bersama jajaran PT lainnya. Askara kemudian ke ruangannya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum ia sempat ia kerjakan. Tak lama dering telpon kantornya berbunyi. Mungkin dari kantor pusat, beitu pikir Askara. Askara lalu mengangkat telpon itu dengan segera.
“Halo.” Terdengar suara pria yang dingin. Askara kaget saat mendengar suara itu.
“....” Askara hanya terdiam.
“Selesaikan tugas itu malam ini! jangan coba lari atau apapun. Atau akan kuhancurkan semua keluargamu!” terdengar nada ancaman dari telpon itu.
“....” Askara lalu menutup telpon. Ia terdiam untuk sejenak. Ketukan pintu dari luar kemudian berhasil menyadarkannya kembali.
“Askara!” ucap seseorang yang masuk ke kantor Askara.
“Nayara?” Wajah Askara berubah pucat pasi.
“Aku diminta oleh ketua untuk menemanimu malam ini.” ucap Nayara dengan datar.
“Tidak! Jangan kau! Kumohon!” Askara nampak resah.
“Aku tidak bisa menolak perintah dari ketua. Begitupun kau, jadi ayo cepat selesaikan malam ini.” ucap Nayara.
Malam pun tiba, Askara telah berganti busana menjadi setelan yang begitu formal. Rambutnya ditata begitu klinis, juga wewangian yang menghiasi sekujur tubuhnya. Askara lalu menggandeng Nayara, gadis itu juga merubah penampilannya seratus delapan puluh derajat. Ia mengenakan gaun merah yang tampak seksi juga rambut yang digerai. Sangat berbeda dari Nayara yang sebelumnya, dimana ia yang selalu mengenakan setelan hitam dan rambut yang diikat kencang agar nampak macho.
Nayara kemudian menyematkan bunga mawar merah di saku jas hitam Askara. Kini mereka tampak sangat serasi. Mereka kemudian masuk ke mobil. Askara lalu menyetir mobil milik Kelompok mafia dengan kecepatan tinggi.
Tujuan mereka adalah sebuah pulau kecil dekat kota ini. pulau pribadi yang sangat tertutup dan ketat penjagaannya. Pulau itu bukan milik kelompok mafianya, melainkan pulau pribadi milik seorang ekspatriat Cina.
Mobil yang dikendarai oleh Askara langsung melesat melewati jalan yang dikelilingi oleh pepohonan yang lebat. Mereka kemudian sampai di tengah pulau, terdapat sebuah hunian mewah nan artistik bergaya klasik. Nayara kagum melihat keindahan dari gedung itu. Belum pernah ia melihat bangunan semewah itu diantara pulau kecil di dekat kota ini.
Mereka bedua kemudain turun dari mobil, dengan berlagak layaknya pasangan yang tengah mengadiri pesta mewah, mereka disambut oleh para pelayan di acara jamuan itu. Malam itu, adalah malam jamuan bagi para kolega ekspatriat itu. Lebih dari itu, malam ini adalah malam transaksi antar gembong narkoba terbesar se-Asia. Tamu tak hanya datang dari dalam negara melainkan dari hampir seluruh Asia. Bahkan dari kawasan timur, seperti Iran, Afganistan, dan Maroko.
Askara ditunjuk langsung oleh ketua untuk melakukan proses tawar menawar dengan ekpatriat itu. Askara menolak tugas ini sebelumnya, karena ia tahu ada ritual lain setelah proses transaksi berakhir. Yakni, jamuan para gadis. Di pesta itu, disediakan para gadis bayaran yang jumlahnya puluhan untuk melayani para kolega yang hadir. Dan itu menjadi tantangan besar bagi Askara yang seorang Alexithymia. Dan bukan hanya itu, Askara juga tak bisa menyentuh gadis lain karena ia sudah menjadi seorang suami. Tetapi, Askara terpaksa melakukannya karena ancaman yang akan membahayakan keluarganya jika ia tak menuruti ketua.
Askara berjalan mendekati meja bundar di dekat panggung. Di sana, telah duduk Fang Xiu, ekspatriat yang juga pemilik pabrik pembuat narkoba terbesar se-Asia. Askara lalu menjabat tangan Fang dengan datar.
“Wanita yang anda bawa sangat cantik Tuan Askara.” Fang menatap Nayara dengan tatapan layaknya seekor anjing yang tengah melihat sebongkah tulang besar.
“Aksen anda sngat bagus, terdengar seperti orang pribumi asli. Dia Nayara, he’s mine.” Askara menatap Nayara dengan senyuman kakunya. Nayara membalas dengan senyuman anggunya.
“Tentu, karena saya sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di sini. bumi indonesia sangat subur. Tak sia-sia saya membuat pabrik di sini.” balas Fang.
__ADS_1
“....” Askara mencoba untuk tersenyum tapi malah terlihat aneh.
“have a sit Tuan Askara.” Fang mempersilahkan duduk Askara dan Nayara.
“Oh, terima kasih. Suatu kehormatan untuk bisa duduk bersebelahan dengan anda Tuan Fang.” Ucap Askara.
“Ya, ya. nikmatilah pesta malam ini, aku sudah menyiapkan banyak wanita cantik, tapi jika kau hanya ingin nyonya ini pun tak apa. Aku tak memaksa.” Fang tersenyum aneh kepada Nayara.
“Dia sudah lebih dari cukup.” Jawab Askara.
“Oh, so romantic. Okay, kalau begitu saya tinggal dulu ya, ada banyak tamu yang harus saya sambut di depan.” Ucap Fang.
“Ya, silahkan Tuan.” Jawab Asakra. Fang pun beranjak dari kursi dan menghampiri gerombolan tamu yang baru datang.
“Aku akan ke wc sebentar, kau jangan kemana-mana, tetaplah duduk di sini agar kau aman.” Ucap Askara pada Nayara.
“Hah, kau pikir aku wanita seperti apa? Jangan berfikir aku wanita yang lemah setelah mengenakan gaun sialan ini. aku adalah Nayara, anggota Alpa dari mafia Elang putih. Mereka tak akan bisa menyentuhku walau secuil.” Ucap Nayara dengan sombong.
“Terserah kau saja.” Askara lalu pergi.
Asakara menutup pintu wc, dari dalam jasnya, ia keluarkan ponselnya yang telah ia sembunyikan secara rahasia. Untunglah ponsel itu berhasil lolos dari detector petugas. Askara kemudian mecari nomor telpon Asiyah, ia ingin memberi tahu Asiyah agar tak usah menunggunya pulang karena Askara sendiri tak bisa memastikan dirinya bisa keluar dari sini dengan selamat.
“Mwo(apa)? Ah, pasti sangat sulit, wanita itu bersama pria lain. Eotteoke(bagaimana)?” Ucap salah satu pria.
“ne, majayo(ya, benar). Tapi wanita itu nomu yeppeuda(sangat cantik). aku ingin menidurinya malam ini. Aish!” ucap pria lainnya.
“Omo! I have an idea!(aku punya ide).” Pria lain berucap kegirangan.
“ mworago?(apa)” salah satu pria tampak tak percaya.
“ aku membawa ini dari Korea, kau tahu aku sering menggunakan ini untuk membuat wanita cepat terlena dibuaian ku.” Salah satu pria itu mengeluarkan sebuah serbuk.
“Hoel!(omg) hyunga!(kakak) no jongmal toktokhae! (kamu sangat pintar!).” Ucap pria lainnya.
“of course, lets have fun tonight.” Para pria itu kemudian meninggalkan wc dengan tertawa terbahak-bahak.
Askara kaget saat mendengar pembicaraan para lelaki dari Korea itu, jangan-jangan wanita yang dimaksud adalah Nayara. Askara bergegas menutup telponnya. Ia kemudian kembali ke ball room untuk menghampiri Nayara.
Askara kembali ke tempat duduknya, tak ada Nayara di sana. Askara melihat ke sekeliling, ternyata Nayara tengah berbincang dengan pria yang ada di wc tadi. Askara langsung menghampiri mereka.
__ADS_1
“Gladish, my darling.” Askara memanggil Nayara dengan nama samarannya.
“Julians, why you come here? I think you get out for some air before, You’ve done?”( Julian, kenapa kamu ke sini? kuira kau sbeelumnya tengah menikmati udara di luar. Kau sudah selesai?) tanya Nayara.
“Yes, lets join with the others there.”(Mari bergabung dengan yang lainnya di sana). Askara lalu menarik Nayara dari para pria brengsek itu.
“Okay.” Nayara lalu menuruti Askara.
“Whats the rush sir? We just had a little chat with your lady, hahaha.” (kenapa sangat terburu-buru Pak? Kami hanya berbicara sedikit dengan wanita anda) Mereka menertawai Askara dari belakang.
Askara dan Nayara pun kembali duduk.
“Ada apa?” tanya Nayara yang masih heran dengan sikap Askara.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya tak suka saja.” Jawab Askara.
“Tak suka? Sejak kapan kau berbicara soal perasaan suka dan tidak suka Askara?” Nayara tak percaya dnegan ucapan Askara.
“Mereka memiliki niat jahat padamu, jadi waspadalah.”
“Ya, aku tahu.” jawab Nayara.
Tak lama Fang Xiu pun kembali ke meja itu dengan membawa beberapa tamu. Proses transaksi pun dimulai. Askara berhasil memperoleh kesepakatan dengan Fang Xiu, tugasnya pun selesai. Tapi, Askara harus tetap mengikuti ritual itu. Pertama para tamu dsajikan minuman keras yang begitu banyak. Para tamu meminum minuman itu seperti orang gila. Askara ragu, tetapi ia dipaksa oleh Fang Xiu untuk meminumnya.
“Minumlah, kau akan mengecewakanku jika tidak meminumnya. Aku sendiri yang mengolahnya di pabrik.” Ucap Fang Xiu sambil mengasongkan miras itu.
Askara lalu meneguk minuman itu, segelas, dua gelas, hingga belasan gelas. Askara mulai kehilangan kesadarannya. Ia pun mabuk. Ia sampai tak sadar jika ada gerombolan pria brengsek yang mendekati Nayara, untungnya Nayara tak mabuk. Nayara masih meladeni pria itu dengan sopan, tetapi lama-lama pria itu mulai ngelunjak. Pria itu kemudian mengasongkan segelas minuman kepada Nayara, Nayara tak tahu isi minuman itu yang sebenarnya, Nayara hampir meneguknya. Tetapi Askara kemudian merebut gelas itu.
“My dear, dont drink this, its poison.” Ucap Askara yang masih dalam kondisi mabuk. Karena sedang mabuk, Askara malah meminumnya. Askara mulai kejang-kejang dan mulutnya keluar busa. Nayara panik, ia lalu membawa Askara pulang. Untunglah Fang Xiu dan para petugas keamanan mengijinkan mereka pulang tanpa harus menyelesaikan ritualnya.
Nayara membaringkan Askara di jok mobil belakang, dengan cepat Nayara mengendarai mobil itu.
Tak lama Askara bangun, ia sudah tidak kejang-kejang lagi.
“Dasar bodoh, pria itu memberimu obat perangsang, kau mau sja meminumnya. Untunglah aku sudah mengantisipasi sebelumnya. Aku meminum obat yang dan berpura, pura kejang di depna mereka agar kita bisa lolos.” Ucap Askara yang masih setengah mabuk.
“Obat perangsang? Tapi kau meneguknya Askara!” Nayara malah semakin panik.
“Maka dari itu, cepat bawa aku pulang ke rumahku.” Ucap Askara.
__ADS_1