Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 32


__ADS_3

Dokter mengecek kondisi Askara. Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat tegang, berharap cemas.


"Bagaimana dok?" Tanya Ayah.


"Kondisinya kini sudah membaik. Tindakan operasi bisa dilaksanankan." Jawab Dokter.


"Alhamdulillah." Ucap mereka.


Betapa senang hati Asiyah tatkala mendengar kabar baik itu. Perlahan berbagai kecemasan yang telah menggelayuti pikirannya kini hilang sedikit demi sedikit.


"Pasien hebat, ia mampu bertahan hingga sejauh ini." Ucap Dokter dengan wajah bahagia.


"Mas hebat. Mas kuat." Asiyah berkata kepada Askara sembari memwgangi lengannya.


Askara hanya diam. Ia belum bisa menggerakan anggota tubuhnya dengan baik termasuk berbicara. Tetapi dengan melhat kondisi Askara yang sudah sadar. Itu jauh lebih baik daripada sehbelumnya.


"Operasi akan dilakukan pukul tujuh malam ini." Ucap dokter menambahkan.


"Baik dok. Terimakasih dok." Ucap Ayah.


Setelah selesai memeriksa kondisi Askara, Dokter lalu pergi meninggalkan mereka.


Askara lalu dipindahkan ke ruang operasi. Semua orang menunggu dan berharap cemas. Operasi berjalan cukup lama.


"Yang tabah ya Nak, insyaAllah suamimu pasti sembuh." Ucap Ayah menguatkan Asiyah. Ia tak tega melihat menantunya yang dari tadi menangis.


"Iya Yah." Jawab Asiyah sambil mengusap air matanya.


Proses operasi pun selesai. Dokter keluar untuk memberi tahu hasilnya kepada pihak keluaraga.


"Operasinya berjalan dengan baik. Kini tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Pasien tinggal melalui masa pemulihan pasca operasi." Ucap dokter.


"Alhamdulillah ya Allah." Ucap semua orang secara bersamaan.


Asiyah bahagia tatkala mendengar kabar operasi suaminya berjalan dengan lancar. Setelah mendengar penjelasan dari dokter Asiyah langsung pergi ke mushola rumah sakit untuk shalat dua rakaat sebagai tanda syukurnya kepada Allah atas kesembuhan suaminya.


Setelah itu Asiyah kembali untuk melihat Askara yang kini sudah dipindahkan ke ruang pemulihan. Askara yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri terkulai lemas diatas ranjang rumah sakit. Hati Asiyah rasanya teriris melihat hal tersebut.


Asiyah, Ayah dan Mamah bergantian untuk menjaga Askara. Hari demi hari berlalu. Akhirnya Askara sudah mulai pulih. Askara juga sudah sadarkan diri.


Hari ini Askara sudah bisa berjalan sendiri ke wc untuk mengambil air wudhu. Tetapi Asiyah juga tetap mengawasi dan membantu Askara.


Kali ini tiba waktu subuh. Askara dibantu Asiyah mengambil air wudhu. Setelah itu mereka sholat subuh bersama.


Usai shalat subuh Asiyah dan Askara melanjutkan dengan membaca Alqur'an. Setelah itu mereka berbincang ringan sebentar.

__ADS_1


"Ca, Mas pengen ngomong." Ucap Askara lalu menatap serius wajah Asiyah.


"Iya. Ica siap mendengarkan dengan baik." Asiyah lalu duduk memperhatikan Askara dengan sungguh-sungguh.


"Ca, Mas kan sebelumnya adalah seorang mafia. Bertahun-tahun mas terjerumus dalam dunia gelap itu. Mas sudah banyak melakukan maksiat. Dosa mas rasanya amatlah banyak. Apa Allah masih mau menerima taubat mas?" Ucap Askara. Ia lalu menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Mas...." Asiyah tampak berbinar-binar.


"Meski dosa kita sebanyak buih di lautan, atau bahkan hampir memenuhi seluruh bumi ini Allah akan tetap menerima taubat kita. Asalkan taubat itu sebelum nafas sampai di kerongkongan atau terbitnya matahari dari arah barat. Ampunan Allah seluas langit dan humi bahkan lebih mas." Jelas Asiyah.


"Kalau begitu, ajari aku tentang islam. Ajari ku untuk mengenal Tuhanku jauh lebih dalam lagi." Ucap Askara.


"Insyaallah, kita sama-sama belajar ya Mas. Semoga kita bisa selalu Istiqomah." Ujar Asiyah.


"Aamiin." Ucap Askara.


Beberapa hari kemudian, saat Askara dan Asiyah tengah mengemas barang-barang untuk pulang, Ayah dn Mamah menghampiri mereka dengan ekspresi terkejut.


"Askara, lihatlah." Ayah menyodorkan sebuah koran kepada Askara.


"Apa ini?" Tanya Askara.


"Bacalah." Ucap Mamah.


Askara lalu membaca koran itu. Usai membacanya wajah Askara langsung berubah drastis menjadi sumringah bukan main. Askara bahkan langsung sujud syukur.


"Kita tidak perlu lagi bersembunyi atau melarikan diri lagi ca. Para mafia itu sudah tertangkap. Bacalah." Jelas Askara dengan antusias. Askara lalu menyodorkan kiran itu kepada Asiyah.


"Ketua Mafia terbesar se Asia berhasil ditangkap usai melakukan transaksi narkoba besar-besaran berskala internasional." Asiyah membaca berita dengan keras.


"Alhamdulillah." Asiyah langsung menngis haru. Ia lalu ikut sujud syukur. Kemudian memeluk Askara dengan erat.


"Mereka akhirnya kena jebakannya sendiri. Mereka pantas mendapatkan semua ini." Ucap Askara.


Usai momen membahagiakan itu, Askara dan Asiyah memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. kini mereka bisa kembali ke rumah dengan selamat dan tak perlu mengkhawatirkan akan kelompok mafia yang memburu mereka. Tetapi masih ada satu lagi, ialah Dewangga, saudaranya sendiri. Askara masih belum bisa lega sepenuhnya.


Mereka mengemasi barang-barang ke dalam mobil. Ayah membantu Askara untuk menaikkan barang-barang ke bagasi. Askara kini sudah benar-benar pulih. Ia bahkan bisa menyetir mobil sendiri tapi Ayah belum mengizinkan nya.


"Semuanya sudah dimasukkan. Ayo kita jalan sekarang." Ucap Ayah kepada Askara.


"Ya." Mereka lalu masuk ke dalam mobil.


Mereka pun berangkat menuju rumah. Di sepanjang perjalanan mereka habiskan dwngan mengobrol ringan. Sudah lama mereka tidak mengobrol selepas ini. Kini mereka tidak lagi dihantui oleh rasa takut.


Mereka akhirnya sampai di rumah Askara. Saat membuka pintu mereka dibuat kaget.

__ADS_1


"Bibi?" Ucap Asiyah dengan wajah syok.


"Eh, bu." Bi Tuti kaget saat melihat kedatangan mereka.


Ternyata bi Tuti tengah mengadakan pesta arisan berama teman-temannya. Melihat hal itu Askara jadi geram.


"Lancang sekali kau menggunakan rumah ini untuk berpesta. Mana rumah ini tak kau rawat lagi. Lihat, halamannya saja sudah bagaikan rumah kosong!" Ucap Askara marah.


"Sabar Mas. Istighfar." Asiyah mencoba menenangkan Askara.


"Astagfirullah." Askara menuruti nasihat dari Asiyah.


"Bubar!" Askara kembali berteriak. Orang-orang yang ada di peata itu oun bubar karena takut mendengar Askara berteriak.


"Iiih, gimana sih Ti. Katanya ini rumah kamu. Ternyata... Hah, jadi gagal deh pestanya." Ucap salah seorang yang ikut pesta. Ia laku pergi keluar.


Bi Tuti malu bukan main. Ia sudah tertangkap basah karena telah memanfaatkan rumah majikannya untuk mengadakan pesta. Askara saat itu juga langsung mengadakan sidang dadakan.


"Apa maksudmu melakukan semua ini?" Ucap Askara kepada bi Tuti.


"Anu Pak....anu..." Ucap bi Tuti terbata-bata.


"Anu apa? Ayo jawab!" Askara tampak kesal.


"Mas kendalikan emosimu." Ucap Asiyah.


"Kenapa Bi, ayo jawab." Kini suara Askara lebih pelan.


"Jadi waktu itu, Bibi didatangi oleh seorang pria dengan mengenakan topeng. Pria itu bertanya terkait keberadaan Bapak dan Ibu. Bibi tidak berniat untuk memberi tahu kan apapun. Tapi..." Bi Tuti tak berani melanjutkan.


"Tapi kenapa?" Ayah kini ikut bersuara. Nampaknya Ayah juga ikut penasaran.


"Tapi orang itu memberikan sejumlah uang yang besar. Lima koper Pak! Makanya bibi bisa ngadain party di rumah ini. Bibi rencananya juga mau resign setelah ini." Ucap Bi Tuti dengan tanpa merasa bersalah.


"Bodoh! Kau membocorkan rahasia penting keluarga ini! Kan kami sudah mewanti-wanti kamu agar tidak memberitahu siapapun terkait informasi keluarga ini. Pantas saja keberadaan ku berhasil dilacak!" Askara kini benar-benar marah.


"Kau memang perlu dikasih pelajaran." Askara tampak murka.


"Mas, istighfar Mas. Jangan bertindak di luar batas. Jangan sampai dikuasai oleh emosi. Kendalikan amarah mas." Ucap Asiyah.


Askara yang sudah maju selangkah mendekati bi Tuti kembali mundur dan duduk lagi.


"Astagfirullah." Askara menghela nafas


"Apa kau tahu siapa orang itu?" Tanya Askara.

__ADS_1


"Ya Pak. Saya tahu. Saya bahkan berhasil memfoto orang itu secara diam-diam. Saya punya fotonya Pak." Ucap Bi Tuti.


Semua orang langsung terkejut setelah mendengar pernyataan dari Bi Tuti. Mereka tampak penasaran. Siapa sebenarnya soaok misterius itu, apakah dari kelompok mafia atau Dewangga?


__ADS_2