Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 29


__ADS_3

Sebuah pintu besar telah dibuka. Beberapa orang berpakaian hitam nan menyeramkan mengiringi lngkah Askara. Masing-masing diantara mereka membawa senjata yang berbeda-beda. Senjata itu akan digunakan untuk menyiksa Askara.


Askara diikat dalam sebuah tiang besar. Tangannya dikunci dalam tali rantai yang menggantung di kedua sisi. Kepala Askara tertunduk lemah karena tak sadarkan diri. Para algojo itu sudah siap di posisinya masing-masing.


"Dung." Sebuah gong besar dibunyikan. Tanda dimulainya penyiksaan. Ketua iku menyaksikan dari arah penonton. Ternyata, pintu neraka ialah sebuah arena besar yang melingkar. Askara berada tepat di tengah-tengah arena tersebut. Kursi penonton nampak ramai. Diisi oleh para anggota mafia yang ingin menyaksikan pertunjukan keji yang jarang sekali diadakan.


Para penonton berteriak histeris saat algojo naik ke panggung penyiksaan. Ketua bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa menyaksikan dengan jelas.


"Sret." Suara cambuk yang keluar dari tempatnya membuat bulu kuduk merinding. Salah satu algojo ternyata akan mencambuk Askara.


"Cling." Suara pisau belati tak kalah nyaring dari suara cambuk tadi. Algojo lain mengacungkan pisau belati untuk menyiksa Askara.


Disusul dengan gada, bara api, dan beberapa binatang buas yang disiapkan untuk Askara.


Ketua berdiri, menembakkan senapan kearah langit. Itu berarti penyiksaan sudah boleh dilaksanakan.


Algojo pertama yang memegang cambuk mulai memegang dan mengibas-ngibaskan cambuknya. Cambuk itu kini hampir mengenai kulit Askara.


"Sret." Cambuk pertama mulai mengenai kulit Askara. Membuat punggung menitikkan darah sedikit demi sedikit. Saking sakitnya rasa cambukan pertama bahkan membuat Askara terbangun dari pingsannya.


Saat ia terbangun, ia mulai merasakan rasa panas yang menggerayapi punggungnya. Askara perlahan menerawang daerah sekitar. Ia baru sadar kalau ia kini tengah dalam masa penyiksaan. Askara mencoba untuk kabur tapi tak bisa. Saat menyadari sekujur tubuhnya telah diikat dan tangannya dijerat oleh rantai Askara hanya bisa terdiam.


Algojo itu kembali melayangkan cambukan yang kedua, kali ini mengenai dada Askara. Darah mengalir lebih banyak, apalagi mengenai luka operasi. Askara sudah tak tahan. Rasa sakit yang ia rasakan amat tak tertahankan.


Di tengah-tengah kesakitan itu, muncul secercah harapan. Penonton tiba-tiba histeris. Pertunjukan dibuat kacau oleh sekelompok penyusup yang datang entah dari mana.


Penyusup itu berhasil melumpuhkan para penjaga dan algojo yang berada di sekitar Askara.


Salah satu penyusup membuka tali dan rantai yang menjerat Askara.


"Kau siapa?" Tanya Askara.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara dan tutup mulutmu " ucap penyusup itu. Askara nampak tak asing dengan suara itu.


"Kau mau bawa aku ke mana?" Askara kembali bertanya.


"Sudah kubilang tutup mulutmu atau kubiarkan kau dihabisi dengan konyol di sini!" Penyusup itu semakin kesal dengan Askara.


Penyusup itu kini berhasil membuka seluruh ikatan tali yang menjerat Askara. Askara lalu dibawanya kabur dari tempat itu.


Para penyusup pun mulai bergerak mundur. Mereka mencoba untuk melarikan diri dari arena itu. Bukan hal mudah, penjagaan yang amat ketat dan berlapis membuat sulit gerak mereka. Belum lagi seluruh sistem keamanan mafia telah dipusatkan kepada mereka begitu mereka ketahuan menyusup.


"Jangan bergerak." Ucap mafia yang berhasil mengahadang para penyusup itu.


"Memangnya kalian mau apa hah?" Ucap salah satu penyusup dengan berani.


"Kalian tidak bisa lari lagi. Setelah ini, kalian akan kami masukkan semua ke arena. Hahaha." Mafia itu tertawa puas.


"Jangan senang dulu, tangkap kami jika bisa." Ucap penyusup itu. Seketika penyusup itu langsung naik ke atas seperti laba-laba. Mereka berhasil melarikan diri lewat atas.


Para penyusup melewati lorong kecil, mereka berusaha keluar dari tempat itu. Setelah menaiki lift darurat mereka akhirnya berhasil keluar dari ruangan itu.


Para penyusup itu kemudian berlari menuju mobil yang ada di depan mereka. Askara ikut dibawa masuk oleh mereka.


"Kalian siapa? Kalian mau apakan aku hah?" Askara mulai curiga dengan gerak-gerik gerombolan penyusup itu.


"Oh, tenang. Kami hanya akan bersenang-senang denganmu sebentar. Kami butuh kau untuk beberapa alasan." Ucap salah satu penyusup yang wajahnya masih tertutup topeng hitam.


"Apa maksudmu? Siapa kalian hah? Lepaskan aku sekarang juga!" Askara mulai memberontak. Ia sudah merasa curiga dari awal melihat kemunculan mereka. Apa jangan-jangan mereka jugalah yang telah menyembunyikan Asiyah istrinya.


"Siapa kalian! Katakan! Dimana kalian menyembunyikan istriku hah!" Ucap Askara dengan marah.


"Ah, akhirnya kau tahu juga siapa kami. Ya, istrimu memang ada bersama kami. Tenang saja. Ia baik-baik saja. Ia aman ditangan kami. Hahaha." Penyusup itu tertawa, diikuti oleh penyusup lainnya.

__ADS_1


"Kau sembunyikan istriku dimana hah! Cepat katakan!" Askara memberontak dengan sekuat tenaga tetapi sisa tenanga dan kondisi tubuhnya terlalu lemah.


"Kau sungguh ingin mengetahui kabar istrimu? Baiklah, sebentar ya." Penyusup itu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah telepon. Ia lalu menyalakan telepon itu.


"Lihatlah baik-baik." Penyusup itu menyodorkan teleponnya ke hadapan Askara.


"Aaaa! Tolong! Siapapun! Kumohon, tong bebaskan aku. Keluarkan aku dari sini. " Terdengar rintihan dan jeritan ketakutan yang tak lain adalah Asiyah dari dalam telepon itu. Mendengar itu Askara langsung bereaksi.


"Kau apakan istriku hah!" Ucap Askara dengan murka.


"Aku hanya sedikit bermain-main dengannya. Tenang saja, tidak sampai melukai kok. Ahaha." Ucap penyusup itu dengan puas.


"Beraninya kau." Askara benar-benar murka. Ia langsung menyikut penyusup itu dengan kencang sehingga matanya lebam.


"Jangan pernah kau sentuh atau celakai istriku sekecil apapun." Gertak Askara.


"Kenapa? Kenapa hah? Apa aku takut dengan ancamanmu? Kau akan apa? Melihat kondisimu yang seperti ini, mana bisa kau melawan kami." Ucap penyusup itu.


"Begini, kau dan istrimu, kami hanya butuh kau sebentar. Dan mungkin kedua orang tuamu. Kita akan bersenang-senang di sana. Setelah itu... Akan jadi kejutan dan tidak akan kuberi tahu sekarang, ahahaha." Penyusup itu tertawa kencang dihadapan Askara.


"Kau." Askara mencoba untuk menyerang orang itu dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Tetapi percuma, orang itu berhasil meringkus Askara duluan.


"Jangan bertindak bodoh dasar gegabah!" Orang itu menyuntikan obat bius ke tangan Askara. Seketika Askara langsung tak sadarkan diri.


Askara lalu dibawa ke sebuah gua. Di situ ia di tempatkan di sebuah kursi yang berhadapan dengan Asiyah. Asiyah sendiri sudah diikat dan mulutnya ditutup oleh lakban hitam. Asiyah berteriak dengan kencang saat melihat Askara yang dibawa dwngan kondisi yang sangat menghawatirkan.


Askara lalu dibangunkan dengan sebuah pukulan keras. Askara sulit untuk terbangun karena rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Saat bangun hal yang pertama kali ia lihat adala6wajah istrinya. Reflek Askara hendak bangun dan menghampiri istirnya tetapi tidak bisa. Ia sudah di tali dengan kuat berama kursi itu. Askara juga melihat kedua orang tuanya yang diikatkan tangannya dan dicekal oleh orang-orang misterius itu.


"Selamat datang Askara." Ucap penyusup tadi dengan mengenakan penutup wajah yang berbeda.


"Siapa kau sebenarnya hah? Mengapa kau menahan keluargaku juga? Apa salah mereka?" Ucap Askara.

__ADS_1


"Siapa aku? Yakin kau tidak mengenali ku? Baiklah akan ku buka topengku." Orang itu lalu hendak melepas topengnya. Semua orang di sana termasuk Askara kaget saat melihat orang itu hendak membuka topengnya. Mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya orang itu yang menjadi dalang dibalik penculikan keluarga Askara. Apakah ia ada kaitannya dengan para mafia?


__ADS_2