Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 36


__ADS_3

"Ayah akan menyerahkan diri Ayah ke Wirga." Ucap Ayah dengan penuh penyesalan.


"Apa yang Ayah bicarakan!" Askara terkejut sekaligus tak percaya dengan yang Ayah katakan.


"Ayah serius Askara. Ayah akan menyerahkan diri Ayah kepada Wirga. Dengan begitu kalian akan selamat. Kalian tidak akan lagi dikejar-kejar oleh Wirga." Ucap Ayah.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan Ayah melakukannya. Aku tidak rela!" Askara tampak emosi bercampur sedih.


"Ayah tidak punya pilihan lagi Askara." Ucap Ayah dengan berat hati.


"Wirga sudah tertangkap Ayah. Dia sudah membusuk dalam jeruji besi. Jadi Ayah tak perlu menyerahkan diri Ayah kepadanya." Kata Askara.


"Kau percaya dia benar-benar sudah tertangkap? Omong kosong. Yang tertangkap hanyalah bonekanya bukan dia. Orang semacam Wirga tidak akan pernah bisa tertangkap. Ayah tahu betul macam apa dia." Jawab Ayah.


"Tapi aku tidak akan pernah membiarkan Ayah menyerahkan diri Ayah ke Wirga." Askara tetap bersikeras.


"Ayah sudah menduga kau akan seperti itu." Ayah lalu menepuk kedua tangannya. Tiba-tiba muncul dua sosok pria yang langsung meringkus Askara.


"Apa-apaan ini! Ayah, jangan bertindak gila! Kumohon, pertimbangkanlah ucapanku. Aku tidak ingin Ayah mati sia-sia di tangan Wirga." Askara mencoba memberontak.


"Andai ada pilihan lain." Ucap Ayah. Ayah lalu meninggalkan Askara yang diringkus oleh dua pesuruh Ayah.


"Tidaaak!! Ayaaah!" Askara masih coba memberontak dan ingin menghentikan Ayahnya.


Tetapi semuanya sudah terjadi. Askara tak bisa melawan dua orang itu. Tangannya bahkan kini sudah diborgol. Dn Ayah sudah pergi keluar. Bagaimana cara menghentikan Ayah. Askara terus berfikir keras.


Askara kemudian dibawa ke tempat penahanan oleh kedua orang itu. Askara benar-benar sudah muak. Ia tak bisa tinggal diam. Ia harus menyelamatkan ayahnya dari tangan Wirga.


Dia dimasukkan ke sebuah sel. Betapa terkejutnya Askara saat mengetahui bahwa ternyata di sana juga ada Dewangga yang tak sadarkan diri. Nampaknya obat bius itu masih berefek. Askara laku dijebloskan ke sel itu. Petugas itu pun mengunci sel.


"Kumohon, keluarkan aku sekarang." Askara menggedor sel.


"Kami akan melepaskan anda dan saudara anda Tuah. Tetapi sesuai perintah, tidak saat ini." Ucap salah seorang yang tadi meringkus Askara.


"Arrrggghhh!" Askara jengkel.


Askara kemudian tertunduk lesu. Ia lalu bersandar ke sebuah dinding. Askara teua memutar otaknya supaya menemukan jalan untuk keluar dari tempat ini.


"Sial!" Askara sudah kehabisan cara. Ia berteriak dengan sangat kencang.


"Diamlah." Ternyata ada yang menjawab teriakan Askara. Askara kaget.


Ternyata suara itu berasal dari Dewangga. Ia sudah bangun.


"Diam atau kubunuh kau sat ini juga." Gertak Dewangga.

__ADS_1


"Ini bukan saatnya untuk mencelakai ku. Terserah kau mau lakukan apapun setelah ini. Tapi ada yang lebih penting dari itu semua. Ini terkait Ayah." Ucap Askara dengan gelisah.


"Ada apa dengan Ayah?" Ternyata Dewangga belum mengetahui tentang ayahnya.


"Ayah menyerahkan dirinya ke ketua." Ucap Askara.


"Apa? Bagaimana mungkin? Bagaimana Ayah bisa tahu soal ketua?" Dewangga bingung.


"Ceritanya panjang dan rumit. Yang jelas Ayah ternyata adalah kawan lama Ketua dan Ayah juga merupakan perintis dari mafia Elang Hitam. Ayah dan Ketua dulu adalah teman dalam kejahatan." Jelas Dewangga.


"Lalu kenapa Ayah akan menyerahkan dirinya jika ketua adalah sahabatnya sendiri?" Tanya Dewangga.


"Karena Ayah ingin menyelamatkan kita! Ayah akan menggantikan kita. Dan sekarang Ayah tengah menuju ke tempat Ketua. Kita harus menghentikannya sekarang." Jelas Askara.


"Kenapa kau baru bilang sekarang!" Dewangga malah menyalakan Askara.


"Arrrggghhh! Berhenti untuk terus menyalahkanku!" Askara hampir terbawa emosi.


"Aku punya cara agar kita bisa keluar dari tempat sialan ini." Dewangga tiba-tiba terpikirkan sebuah ide.


"Apa?" Tanya Askara tak sabar.


"Kemarilah! Akan kubisikan." Ucap Dewangga. Askara lalu mendekati Dewangga. Dewangga lalu membisikkan sesuatu ke telinga Askara.


"Apa kau yakin ini akan berhasil?" Askara tampak ragu.


"Baiklah." Ujar Askara.


Dewangga lalu kembali berpura-pura tertidur. Askara lalu kembali ke posisi semula. Dewangga lalu merogoh sebuah pil dari saku celananya. Ia lalu menelan pil itu. Tak lama mulut Dewangga keluar busa.


"Dewangga! Kau kenapa?" Askara pura-pura panik. Ia laku menghampiri Dewangga dan mencoba untuk menolongnya.


"Tolong! Siapapun!" Teriak Askara dengan panik.


Tak lama muncul dua orang dari luar. Dua orang itu lalu membukakan pintu sel dn masuk menghampiri mereka.


"Ada apa Tuan Muda?" Tanya salah seorang.


"Entahlah, aku juga bingung. Saat aku tengah frustasi tiba-tiba dia jadi seperti ini!" Jawab Askara dengan sangat takut.


"Ayo bawa dia." Ucap orang itu kepada rekannya.


Dewangga lalu digotong keluar. Saat baru sampai pintu sel Dewangga tiba-tiba menyerang mereka berdua. Askara juga ikut menyerang. Askara lalu menyuntikkan obat bius dari tangan Dewangga kepada dua orang itu. Akhirnya mereka berhasil mengalahkan dua orang itu.


"Ayo cepat." Ucap Askara kepada Dewangga.

__ADS_1


Mereka lalu mencari jalan keluar.


Saat tiba di lantai atas mereka dihadang eh banyak petugas. Tetapi siapa yang mampu mencegah dua mafia kelas kakap seperti Askara dan Dewangga? Mereka akhirnya berhasil memukul mundur setiap orang yang mengahadang mereka.


Mereka pun keluar dari tempat itu. Askara lalu menaiki salah satu mobil Ayahnya yang terparkir di garasi. Mereka lalu melaju kencang menuju tempat persembunyian ketua.


"Kau tahu tempatnya?" Tanya Askara kepada Dewangga.


"Ya. Jawab Dewangga. Askara lalu mengendarai mob sesuai dengan arahan dari Dewangga.


Mereka pun sampai di tempat persembunyian Ketua. Tempat itu sangat mencurigakan. Tampak sepi dari luar. Tapi mereka tahu bahwa ini hanyalah jebakan.


Mereka mencoba masuk ke tempat itu. Saat tiba di depan gedung, masih tidak ada apapun. Ini sangat mencurigakan. Tetapi mereka tetap memaksakan diri untuk masuk ke dalam gedung.


Saat membuka pintu, tidak ada apapun di dalam ruangan itu. Mereka laku masuk lagi ke dalam. Baru saat sampai di temgah ruangan mereka tiba-tiba dikagetkan dengan sebilah pisau yang melayang begitu saja di atas kepala mereka. Hampir saja pisau itu mengenai mereka.


"Hahahaha," tak lama muncul banyak sekali komplotan mafia yang datang dari berbagai sisi dan mengepung mereka berdua.


"Lihatlah siapa yang datang berkunjung!" Ucap salah satu anggota mafia.


"Prok! Prok! Prok!" Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari atas tangga. Askara lalu melihat ke atas, ternyata ketua.


"Benar-benar anak yang berbakti." Ucap ketua sambil berjalan menuruni tangga.


"Askara Sadewa dan Askara Dewangga. Hampir saja aku terkecoh oleh kalian. Ku kira kalian adalah dua orang yang berbeda. Ternyata kalian adalah anak dari kawan karibku. Seharusnya aku lebih memperhatikan dan memperlakukan kalian dengan baik." Ejek ketua.


"Dimana Ayahku!" Ucap Dewangga marah.


"Ayah? Benarkah itu? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau sngat membenci keluargamu? Kau hanya menginginkan warisan kan dari Ayahmu yang malangnya malah jatuh ke saudara kembarmu, hahahaha." Ucap Ketua.


"Dasar penipu sialan!" Dewangga baik pitam.


"Diam." Ketua emosi Dewangga kembali diringkus oleh para mafia itu.


"Katakan dimana kau sembunyikan Ayahku Wirga!" Ucap Askara dengan emosi.


"Apa? Wah, nampaknya kau sudah tahu kisah kami ya. baik sekali Ayahmu menceritakan itu kepadamu. Baiklah jika kau ingin tahu dimana Ayahmu, maka lihatlah sendiri." Ucap Wirga lalu tangannya memberi isyarat.


Askara mencari-cari ke senua arah. Tak lama muncul dari arah pojok sebuah kayu besar yang didorong. Itu Ayah! Ayah diikat dengan kencang di kayu itu. Sekujur tubuhnya sudah babak belur.


"Ayah!" Ucap Dewangga dan Askara secara bersamaan. Mereka hendak menghampiri ayah tetapi tidak bisa. Mereka diringkus oleh para mafia itu.


Ayah laku6di bawa ke hadapan mereka. Ketua senang bukan main.


"Oh, lihatlah pemandangan yang indah ini. Seorang Ayah dan anak-anaknya. ahahaha." Ucap ketua dengan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Sudah kubilang jangan kemari." Ayah kini bersuara dengan parau. Tenaganya sudah hampir habis. Ayah tampak sangat lemah. Apa yang telah Ketua perbuat padanya.


__ADS_2