Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 12


__ADS_3

Kriiing.” Dering telpon terdengar dari hanphone milik Askara. Saat itu pukul tiga dini hari, siapa yang menelpon di waktu seperti ini? Askara masih terlelap tidur, Asiyah yang saat itu bru selesai melaksanakan shalat tahajjud pun menyadari panggilan dari handphone milik Askara. Asiyah lalu mengangkat telpon itu.


“Assalamualaikum.” Ucap Asiyah.


“Loh, kok kamu sih yang mengangkat telpon? Mana Askara?” terdengar suara wanita yang mengomel dari panggilan itu.


“Mas sedang tidur, ada perlu apa Mbak hingga menelpon di waktu seperti ini?” tanya Asiyah.


“Loh, kok kamu ngatur-ngatur sih? Terserah aku dong mau nelpon jam berapapun. Aku ini sekertaris pribadinya Askara.” Ternyata telpon itu berasal dari Mawar.


“Dan saya istri sahnya. Meskipun Mbaknya sekertarisnya Mas Askara atau bahkan atasannya, Mbak tetap perlu menjaga etika, ini waktunya orang istirahat, jika memang benar sangat mendesak mbak bisa kirim pesan singkat atau menelpon di waktu subuh.” Asiyah mencoba tetap sabar meladeni wanita genit itu.


“Eh, jangan mentang-mentang kamu udah jadi istri sahnya Askara kamu berhak ngatur-ngatur aku ya. lagi pula kamu dinikahi olehnya karena terpaksa, suatu saat askara pasti ninggalin kamu.” Ucap Mawar dengan ketus.


“Astagfirullah, Mbak, jangan seenaknya mengatai atau berucap yang tidak-tidak. Dan perlu Mbak ingat juga, Mba juga jangan ikut campur soal rumah tangga kami. Assalamualaikum.” Asiyah buru-buru menutup telpon itu. Percuma jika diteruskan, yang ada malah jadi dosa.


“heh, apa kamu bilang? Halo! Halo! Awas kamu ya! akan ku rebut Askara darimu!” Mawar marah-marah tak jelas.


***


Adzan subuh berkumandang, seperti sebelum menikah, Asiyah selalu merutinkan mandi di waktu sebelum subuh, ia juga mengaji dan berdzikir sambil menanti waktu subuh. Tatkala dzan berkumandang Asiyah kemudian membangunkan Askara yang masih terlelap tidur. Dengan penuh kelembutan dan kesabaran Asiyah membangunkan Askara yang sulit bangun.


“Assalamualaikum Mas, bangun Mas, kita sholat subuh sama-sama yuk.” Bisik Asiyah ke telinga Askara.


“Hemm, kau duluan saja. Aku titip saja 2 rakaat.” Tampaknya Askara mengigau.


“Hah? Titip 2 rakaat? Emang bisa? Ah, pasti Mas lagi ngelantur. Mas, bangun yuk, kita shalat.” Asiyah berusaha membangunkan Askara yang kini malah berbalik badan.


“Aku tak perlu shalat, dua hari yang lalu aku minum bir, jadi untuk apa aku shalat.” Timpal Askara.

__ADS_1


“Astagfirullah.” Asiyah kaget saat mengetahui bahwa suaminya tidak shalat. Asiyah kemudian terpaku untuk beberapa saat.


“Ya Allah, jika jodoh adalah cerminan diri, maka bantu hamba untuk menuntun Mas ke arah yang lebih baik. Bantu hamba untuk menuntun Mas supaya lebih dekat denganMu Ya Allah. Luaskan sabar hamba, dan bukakan pintu hidayah untuk Mas. Ridhailah pernikahan kami, jadikan pernikahan kami pernikahan yang sakinah, mawadah dan warahmah. Aamiiin.” Batin Asiyah dalam hatinya. Ia lalu meneteskan air mata.


“Shalatlah walau dosa kita sebanyak bumi dan seisinya Mas, jadi tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat. Yuk shalat sama-sama.” Kata Asiyah sambil mengelus pundak Askara perlahan. Ajaibnya Askara langsung bangun.


“Ya sudah aku shalat.” Ucap Askara dengan enggan.


Askara kemudian ke kamar mandi untuk mandi dan wudhu, tiba-tiba Asiyah menyerobot masuk.


“Heh! Mau ngapain kamu?” tanya Askara dengan ekspresi kaget.


“Mas mau mandi kan?” tanya Asiyah dengan wajah antusias.


“Iya, lalu apa hubungannya dengan kau?” Askara tampak heran.


“Meski Ica sudah mandi, Ica mau mandi lagi deh bareng Mas, kan katanya kalau mengagumi dan menandangi tubuh suami itu dapet pahala, kita mandi bareng yuk! Lagian Ica juga sudah batal wudhunya gara-gara tadi menyentuh kulit Mas.” Jawab Asiyah dengan bersemangat.


“sabar, mungkin kli ini belum Ca.” Ucap Asiyah sambil mengelus dada.


Asiyah pun duduk di atas sajadah sambil menunggu Askara selesai mandi dan mengenakan baju. Usai Askara mengenakan baju Asiyah tampak begitu kagum dan terpesona melihat Askara.


“MasyaAllah, ganteng sekali suami Ica.” Puji Asiyah kepada Askara. Mendengar hal itu Askara langsung salah tingkah.


“Jangan banyak bicara, ayo cepat selesaikan sholat ini.” ucap Askara dengan dingin.


“iya Mas.” Jawab Asiyah.


Usai melaksanakan shalat subuh bersama, Asiyah langsung turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Asiyah selalu antusias saat memasak karena ternyata suaminya menyukai masakannya dan selalu menikmatinya hingga habis. Asiyah merasa bersyukur sekali.

__ADS_1


Usai semua masakan matang, Asiyah seperti biasa akan menyajikan masakan itu pada Askara. Asiyah menuangkan bubur beserta lauk pauknya di mangkok Askara dengan telaten. Tanpa ragu Askara langsung menyantap masakan buatan Asiyah. Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan nyaman.


“Mas, kira-kira kapan ya hasil inteview itu akan keluar?” tanya Asiyah sambil menyendok bubur yang ada di mangkoknya.


“seminggu lagi. Tapi kau tak usah bimbang, aku sudah tahu hasilnya, kau diterima.” Jawab Askara.


“Alhamdulillah, benarkah? Tapi Ica keterima karena murni dari kualifikasi yang Ica miliki kan? Bukan dari...” Asiyah tak berani melanjutkan pembicaraannya.


“Bukan, aku tak ikut campur dengan keputusan itu. Kau diterima murni karena kemampuan dan pengalamanmu sebelumnya. Ku kira kau hanya wanita lulusan dari pesantren biasa, ternyata kau juga punya pengalaman di dunia bisnis yang cukup mumpuni dari dalam dan luar negeri.” Jawab Askara.


“Ica hanya beruntung karena diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa mengembangkan diri Ica.” Ujar Asiyah.


“Kau terlalu merendah.” Jawab Askara.


“Ngomong-ngomong, hari ini Mas pulang jam berapa?” Asiyah mengalihkan topik pembicaraan.


“seperti biasa, sore menjelang maghrib.”


“Alhamdulillah, kalau begitu Mas jangan makan di luar ya, untuk makan malam Ica akan masak yang spesial untuk Mas. Jadi usahakan pulang awal ya.”


“Ya.” Askara menuruti perkataan Asiyah.


Usai sarapan Askara pun berangkat ke kantor. Seperti biasa Mawar akan datang ke rumah Askara dengan wakil sekertarinya. Asiyah selalu harus menyiapkan stok sabar ekstra untuk menghadapi wanita itu. Tapi untunglah kali ini semua berjalan normal dan baik-baik saja.


***


Sore pun tiba, Asiyah telah siap dengan masakannya. Kini, ia duduk di ruang tengah sambil menunggu Askara pulang. Ia membaca kitab hadis untuk mengisi waktu luangnya. Tak terasa maghrib pun tiba, tetapi Askara tak kunjung pulang. Asiyah akhirnya memutuskan untuk shalat maghrib sendiri. Asiyah lalu menelpon Askara, tetapi tak diangkat. Waktu pun mulai malam, kini sudah pukul sembilan tetapi Askara belum pulang. Apa ada meeting atau rapat mendadak ya di kantornya? Tanya Asiyah pada dirinya sendiri.


Tak lama, terdengar suara mobil Askara, Asiyah langsung membukakan pintu. Asiyah kaget saat melihat Askara yang pulang dengan kondisi sempoyongan. Bau alkohol memenuhi sekujur tubuhnya. Askara mengigau tak jelas. Askara lalu menyeret Asiyah dengan sangat kencang.

__ADS_1


“Ikut aku ke kamarku, kau milikku malam ini.” Ucap Askara dengan kondisi antara sadar dan tak sadar.


__ADS_2