
“Cuh!” Ketua meludahi wajah Askara.
“habisi dia malam ini juga bersama gadis itu! Jika gagal lagi maka kalian juga akan kuhabisi dengan tanganku sendiri.” Ucap Ketua dengan mata yang melotot.
“Mereka telah menggagalkan kesepakatanku dengan Fang Xiu. Aku rugi triliunan karenanya. Dan karena kecerobohan mereka juga polisi berhasil mengendus gerak-gerik kita. Aku sudah muak dengan mereka. Mereka pantas dihukum!” Ucap Ketua. Ia kemudian duduk lagi di kursi kebesarannya.
Para mafia itu kemudian membawa Askara dan Nayara ke suatu tempat. Masih di markas besar tetapi di tempat yang berbeda. Tempat itu sering disebut oleh para mafia sebagai pintu neraka karena banyak mafia atau target mafia yang disiksa dan dihabisi dengan kejam di sana.
Nayara langsung berteriak histeris saat mengetahui akan dibawa ke sana.
“Tidak! Kumohon jangan habisi dia. Ini salahku, dia tak salah. Kumohon, habisi saja aku.” Nayara memohon kepada para mafia itu.
“Diam kau wanita sialan, kau tidak dengar ya ? ketua menyuruh kami untuk menghabisi kalian. Jadi saksikan dan nikmatilah.” Ucap mafia itu sambil tertawa.
Nayara lalu diikat di sebuah tiang besar bersama Askara. Nayara terus menerus mencoba untuk melarikan diri.
“Askara, bangunlah, kumohon. Jangan mati konyol seperti ini.” Bisik Nayara pada telinga Askara.
Para mafia itu kemudian membawa segalon minyak tanah masing-masing. Nayara langsung berteriak histeris saat mengetahui siksaan apa yang akan mereka jalani.
“Jangaaan! Kumohon! Kasihani kami.” Nayara sudah putus asa.
Mereka lalu mengguyurkan minyak itu ke sekujur tubuh Nayara dan Askara. Nayara terus menangis tanpa henti. Ia juga terus menggoyang-goyangkan tubuh Askara tanpa henti, berharap Askara akan sadar. Tetapi Askara tak kunjung sadar juga.
Mafia itu lalu mengeluarkan korek api dari dalam sakunya. Ia juga mengeluarkan selembar kain seukuran sapu tangan. Mafia itu lalu menyalakan korek dan membakar kain itu.
“Nikmati penderitaan kalian.” Ucap Mafia itu dengan senyum dan tatapan yang kecam.
“Sret.” Sebuah anak panak melaang tepat mengenai kain yag masih menyala dengan api itu. Kain itu lalu tertancap di dinding menyatu dengan anak panah itu.
“Siaaal! Siapa lagi itu?” Teriak mafia itu degan kejam. Seluruh anggota mafia kini tampak sibuk menacri dalang dibalik penyerangan misterius itu. Mereka tak kunjung menemukan sosok itu. Dengan bodohnya, mereka semua lalu keluar meninggalkan ruangan tanpa membawa tahanan. Sekarang Nayara dan Askara hanya sendirian.
__ADS_1
“Bruk.” Muncul sosok misterius itu dari atas mereka berdua. Seorang pria yang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah dan kepala.
Sosok itu lalu membuka ikat tali yang menjerat Nayara dan Askara.
“Siapa kau?” Tanya Nayara.
“Tausah banyak tanya sekarang. Kita harus lari dari tempat ini segera.” Orang itu kini berhasil membuka seluruh ikatan tali itu.
Sosok itu lalu membawa Askara dan Nayara keluar dari ruangan itu lewat pintu rahasia tepat di bawah panggung penyiksan itu. Mereka keluar lewat bawah tanah.
“Siapa kau sebenarnya? Apa kau juga bagian dari mereka? Bagaimana kau bisa tahu ada jalan rahasia untuk lolos dari pintu neraka?” Tanya Nayara yang kini tengah berjalan menyusuri terowongan bawah tanah itu.
“Aku, nanti kau juga akan tahu. Dulu, aku juga bagian dari mereka, akulah yang berhasil membuat terowongan ini. tapi sekarang aku bukan bagian dari mereka. Pria ini tahu semuanya tentang siapa aku sebenarnya.” Ucap sosok itu sambil terus berjalan membawa Askara.
“Bagaimana kau bisa sampai di sana? Dan mengetahui keberadaan kami?” Nayara kembali bertanya.
“Pria ini memberi tahuku sebelumnya.” Jawab sosok itu.
“Kau bisa berenang?” Tanya sosok itu pada Nayara.
“Ya.” Jawab Nayara.
“Baguslah. Kita akan keluar dari pulau ini dengan berenang. Tidak sampai pulau utama, hanya sampai perahuku saja. Perahuku berlabuh agak jauh dari sini. kau sanggup berenang sejauh itu? Karena jika menaiki kapal tidak mungkin. Kita akan tertangkap.” Ucap sosok itu.
“Ya, tenanglah, aku sanggup.” Jawab Nayara. Mereka kemudian mulai berenang ke laut. Sosok itu membawa Askara, untungnya ia membawa pelampung kecil yang bisa dipasang di lengan Askara.
Mereka terus berenang hingga menjumpai sebuah kapal finisi. Mereka lalu naik ke kapal finisi itu. Nayara tampaknya sangat kedinginan dan kelelahan karena sudah berenang sangat jauh. Sosok itu lalu menyuruh Nayara untuk ganti baju dan makan makanan yang ada di kapal itu.
“Keringkanlah badanmu dan makanlah sesuatu. Kau tidak usah taku ini kapalku. Aku akan membawa pria ini untuk diobati di bagian tengah kapal. Kau bisa ke sana jika ingin melihat.” Ucap sosok itu yang kemudian meninggalkan Nayara.
Nayara kemudian mengeringkan badannya dan mengisi perutnya. Usai itu, ia kemudian melihat kondisi Askara. Betapa terkejutnya Nayara saat sampai di ruangan itu. Ternyata sosok itu memiliki paras yang hampir mirip dengan Askara, hanya berbeda sedikit.
__ADS_1
“Siapa kau sebenarnya?” Nayara kembali mengajukan pertanyaan itu.
“Mmenurutmu? Tebaklah, kau bisa menebaknya hanya dengan melihat wajahku.” Jawab sosok itu.
“Kau mirip dengan Askara, apa kau saudaranya atau anggota keluarganya?” Ucap Nanyara.
“Aku saudara kembarnya. Aku juga Askara. Askara Dewangga.” Ucap Dewangga. Ia kemudian tersenyum ramah pada Nayara.
“Benar, aku ingat. Askara pernah menceritakan tentang dirimu kepadaku. Kau juga anggota Mafia kan? Dulu kau berada di anggota inti dan pernah menjadi tangan kanan kepercayaan ketua.” Nayara kini mampu mengenali pria yang ada di hadapannya itu.
“Ya, kau benars sekali.” Jawab Dewangga.
“Lalu, bagaimana kau bisa seperti ini sekarang?” Nayara kembali bertanya.
“Panjang ceritanya. yang jelas, aku juga pernah mengalami hal yang sama dengan kalian. Berada di pintu neraka.” Ucap Dewangga.
“Lalu, kemana kau selama ini? aku tidka pernah melihatmu sekalipun baik itu di anggota maupun di keluargamu.” Kata Nayara.
“Aku pergi dari kejaran mafia itu. Panjang juga ceritanya. bocah ini dengan bodohnya menggantikan posisiku. Maka dari itu aku kini tidak dikejar lagi oleh mereka. Tetapi, sepertinya kali ini kalian juga akan dikejar-kejar sepertiku.” Jawab Dewangga.
“Aku tahu.” Ujar Nayara.
“Masuk dunia mafia itu seperti masuk ke jebakan tikus. Sekali kau masuk maka kau tidak akan bisa keluar. Andaipun kau keluar, maka kau hanya akan tinggal nama.” Ucap Dewangga yang kini telah selesai membalut luka Askara dengan perban.
“Lalu sekarang bagaimana?” Tanya Nayara.
“Aku juga tidak tahu dan tidak ingin peduli. Itu nasib kalian.” Jawab Dewangga dengan senyuman liciknya.
“Lalu kenapa kau tadi menyelamatkan kami hah?” Nayara kini emosi.
“Karena aku punya banyak hutang pada bocah ini.” Dewangga menunjuk Askara, ia lalu pergi begitu saja.
__ADS_1