Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 24


__ADS_3

Askara memeluk Asiyah dengan erat. Tak lama mereka pun melepaskan pelukannya satu sama lain.


“Kau memaafkanku?” Tanya Askara. Asiyah pun mengangguk.


“Alhamdulillah.” Ucap Mamah dan Ayah secara bersamaan. Mereka tersenyum melihat anak dan menantunya yang kini kembali akur.


“Ica, ada satu hal yang ingin aku ceritakan padamu. Ini terkait siapa aku sebenarnya.”


“Apa yang ingin mas ceritakan pada Ica? insyaAllah Ica siap mendengarkan Mas.” Jawab Asiyah.


“Sebelumnya, aku minta maaf karena tidak jujur dan berterus terang padamu. Tetapi sekarang aku sadar, sebagai pasangan aku harus terbuka padamu. Ica, sejujurnya, aku adalah seorang mafia.” Ucap Askara dengan wajah yang ditekukan. Ia tak kuasa memandang wajah istrinya secara langsung.


“Apa? Apa yang baru saja mas bilang?” Asiyah tampak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Iya, aku adalah seorang mafia. Tetapi sekarang tidak. Justru sekarang, akulah yang jadi buruan mereka. Hidupku tengah dalam ancaman. Mereka akan terus memburuku hingga tertangkap. Aku melakukan suatu kesalahan pada mereka dan mereka tak bisa memaafkan kesalahanku. Sekarang aku harus terus bersembunyi dari mereka. Sudikah kau bersamaku jika kau sudah mengetahui kondisiku yang sebenarnya?” ucap Askara.


“....” Asiyah Syok. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia kembali menitikan air mata.


“Mengapa mas?” Ucap Asiyah dengan putus asa.


“Aku terpaksa masuk dalam dunia mafia. Aku harus menggantikan saudaraku. Jika tidak saudara ku akan dihabisi oleh mereka. Aku juga tak bisa lari dari hal itu, saudaraku, Dewangga telah mendonorkan separuh ginjalnya untukku. Mana mungkin aku tidak akan menolongnya. Itu sudah menjadi hutang seumur hidupku padanya.” Ucap Askara.


“Dan Mamah serta Ayah sudah mengetahui ini sebelumnya?” Tanya Asiyah kepada Mamah dan Ayah.


“Tentu Nak, tentu kami tahu. kami sengaja merahasiakan semua ini darimu. Rencanya, kami akan membebaskan Askara dari duni mafia itu secara baik-baik. Tetapi di luar dugaan, semuanya menjadi kacau balau begini. Bukan maksud kami untuk menipu mu atau pak Syarif saat perjodohan. Kami hanya takut jika kau akan menolak Askara secara mentah-mentah.” Jelas Ayah.


“Iya Nak, tolong maafkanlah kami atas kesalahan kami karena telah menyembunyikan semua ini darimu. Sekarang, keputusannya kami serahkan padamu. Askara juga sudah siap dengan segala keputusan yang akan kamu buat. Apakah kamu akan melanjutkan pernikahan ini atau menyudahinya.” Mamah ikut angkat bicara.


“Aku rela dengans segala keputusanmu.” Askara menegaskan.


“...” Asiyah termenung untuk beberapa saat. Dalam hatinya, ia terus mengucap kalimat istighfar dan dzikir. Ia benar-benar kaget bercampur bingung dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


“Beri Ica waktu untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Asiyah.


“Tentu. Kau boleh mempertimbangkannya selama yang kau mau. Akan kutunggu.” Jawab Askara.


“Pikirkan dan pertimbangkanlah dengan bijak ya nak.” Mamah menasehati.


“Baik, kalau begitu aku akan meninggalkanmu sekarang. Jika kau ingin menemuiku, aku ada di ruang rawatku.” Ucap Askara.


“...” Asiyah hanya mengangguk.


Mereka pun keluar masjid meninggalkan Asiyah sendirian. Asiyah pun kembali menangis, lama sekali ia berdiam diri di masjid itu. Keesokan harinya Asiyah pun berkeliling ruang bawah tanah itu sambil memikirkan keputusannya terkait pernikahaannya. Di jalan, Asiyah bertemu dengan Dewangga.


“Hey.” Sapa Dewangga. Asiyah tak bergeming, ia terus berjalan.


“Woy.” Dewangga kini menghampiri Asiyah dan berdiri langsung di depan wajahnya.


“Kau ini kenapa? Berjalan sambil melamun. Bagaimana jika kau jatuh atau tertabrak dengan seseorang.” Dewangga memarahi Asiyah.


“Kau pasti tengah memikirkan si Askara. Hah, kau repot-repot saja memikirkan anak itu.” Ucap Dewangga.


“Tidak.” Asiyah mengingkari.


“Halah, tak usah berbohong. Kau tidak pandai dalam berbohong. Dari pada kau melamun tak jelas, lebih baik kau ikut aku. Akan kutunjukkan tempat terbaik dari ruang bawah tanah ini.” Ajak Dewangga.


“Tidak, aku tidak bisa. kita tidak boleh berduaan karena bukan mahram. Nanti malah timbul fitnah atau semacamnya.” Jawab Aisyah menolak ajakan Dewangga.


“Iya bawel, aku juga tahu. lagi pula kita tidak berduaan, aku dan tim pengembang dari ruangan ini akan masuk ke ruang 43. Jadi kita tidak akan berduaan di sana karena ramai orang.


“Tim apa? Ruang berapa?” Asiyah bingung dengan ucapan Dewangga.


“Tim pengembang, ruang nomor 43. Tuh, mereka ada di belakangmu.” Dewangga menunjuk ke belakang badan Asiyah.

__ADS_1


Asiyah lalu berbalik badan. Ternyata benar, di belakangnya terdapat sekelompok orang yang mengenakan jas putih lab. Orang-orang itu kemudian tersenyum kepada Asiyah.


“Kalian sudah melihatnya kan.” Ucap Dewangga pada sekelompok orang itu. Sekelompok orang itu kemudian mengangguk.


“Mereka ingin bertemu denganmu. Sejak kedatanganmu dan Askara kemari semua orang di sini jadi penasaran. Ya sudah ayo kita ke sana.” Ucap Dewangga.


Mereka kemudian menuju ruangan itu. Ruangan itu ternyata masuk lagi ke bawah tanah. Mereka menaiki lift untuk sampai ke sana. Saat tiba di ruangan itu, banyak sekali orang yang sibuk dengan penelitiannya. Dan satu hal yang paling menarik dari ruangan itu adalah, pemandangan di sekitarnya. Mungkin bisa dibilang hanya ruangan inilah yang memiliki kaca. Dan di luarnya terdapat pemandangan kristal yang cantik diterangi dengan sorot lampu.


“MasyaAllah.” Ucap Asiyah kagum melihat pemandangan di ruangan itu.


“Ini adalah tempat penelitian. Pusat utama dari gedung ini. dulu, kakek membangun tempat ini hanya untuk penelitian tambang batu bara miliknya. Tetapi, saat kakek terlalu berambisi dan mengeruk tanah semakin dalam, tanah longsor. Ternyata kakek menggali tepat diatas gua kristal yang luas. Dari situlah kakek mengembangkan dunia bisnisnya hingga turun temurun sampai kepada kami sekarang.” Jelas Dewangga.


“Tempat ini, indah sekali.” Hanya kekaguman yang terus keluar dari mulut Asiyah. Ia sudah tersihir oleh keindahan tempat ini.


“Ya, dan yang paling menakjubkannya lagi semua ini milik keluarga kita. Tempat ini milik pribadi termasuk tanah yang ada di atasnya. Kakek sudah membeli lahan di hutan ini jauh sebelum tambang kristal ini ditemukan. Tak sangka jika ia akan menemukan tempat semenakjubkan ini.” Tutur Dewangga.


“Jadi kecuali kalian dan semua orang yang ada di ruangan ini tidak ada uang mengetahui keberadaan tempat ini?” Tanya Asiyah.


“Tidak. Tempat ini juga sebagai tempat pelarian dan perlindungan bagi kami jika sesuatu yang buruk terjadi pada kami. Termasuk saat ini, saat Askara tengah dikejar-kejar oleh mafia sialan itu. Untuk sementara, kalian aman berada di sini.” Jelas Dewangga.


“Tapi rasanya, tidak mungkin kami terus berada di sini untuk selamanya.” Jawab Asiyah.


“Ya. ngomong-ngomong, bagaimana keputusanmu? Kau akan tetap bersamanya atau pergi darinya? Jika kau sudah tidak mau dengannya, aku akan siap menerimamu dengan sepenuh hati.” Kata Dewangga terus terang.


“Apa yang kamu bicarakan, meskipun aku tak bisa bersama Mas, aku tidak akan mencari laki-laki lain lagi. Mas adalah yang pertama dan terakhir.” Tegas Asiyah.


“Ya mulut hanya bisa berucap. Ngomong-ngomong lagi, aku hanya ingin bilang, Askara, dia itu memang sudah brengsek dari lahir. Sejak kecil ia hanya berdiam diri di ruamh dan tak keluar kemanapun. Teman bermainnya hanya buku, dari situlah kami tahu kelainan anehnya itu. Meski ia bocah yang kata orangtuaku pintar dan penurut tetapi dia sakit-sakitan sejak kecil. Gagal ginjal, membuat dia harus cuci darah terus. Aku yang bandel saat itu, dan terus menerus dibanding-bandingkan dengannya merasa panas.”


“Aku juga ingin terlihat keren dimata kedua orang tuaku, hingga aku dengan bodohnya mengambil keputusan untuk mendonorkan ginjalku pada Askara setelah kami lulus SMA. Hal itu membuatnya merasa berhutang budi padaku. Akhirnya, saat aku berada di titik terendah dalam hidupku, dikejar-kejar oleh mafia, Askara dengan bodohnya menggantikan posisiku. Kau lihat kan ? ia memang bodoh. Lagi, saat aku lari dari perjodohan denganmu, Askara juga bersedia menuruti perintah orang tuaku untuk menggantikanku. He’s so stupid!” Jelas Dewangga dengan nada kesal.


Mendengar hal itu, Asiyah langsung menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2