Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 38


__ADS_3

Askara tengah sibuk bolak-balik gedung pengadilan dan rumah. Hari ini, ia tengah mempersiapkan berkas dan bukti untuk pengdailan Wirga. Askara dan Ayah ingin Wirga dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya. Usai menemui pihak dari firma hukum Askara lalu berlanjut pergi mendatangi korban dari kejahatan Wirga. Angat sulit untuk melacak jejak kejahatannya karena ia seorang mafia kelas kakap. Kebanyakan dari korban juga memilih untuk bungkam tak bersuara.


Sudah beberapa hari ini Askara mendatangi para korban dan meminta mereka agar mau menjadi saksi di pengadilan nanti. Tetapi sedikit sekali yang bersedia. Askara sekarang sudah mulai merasa frustasti, ia bingung harus melakukan cara apa lagi suapaya Wirga bisa dikenai hukuman yang seberat-beratnya. Askara juga setiap hari mengecek keberadaan Wirga di tahanan. Ia ingin memastikan bahwa yang ditahannya memang benar-benar Wirga.


Saat ini Askara tengah dalam perjalanan menuju salah satu korban Wirga yang letaknya berada di pinggiran kota. Orang itu adalah korban Wirga yang dirampas tanahnya. Selain menjadi mafia pengedar narkoba dan kejahatan lainnya, Wirga juga melakukan sindikat mafia tanah. Bahkan jumlahnya tak main-main. korban yang ditemui oleh Askara saat ini contohnya, ia dulu memiliki tanah ribuan hektar yang kini lenyap di tangan Wirga. Askara akan coba menggali informasi dan memintai ke terangan ke orang itu.


“Kita sudah sampai Tuan.” Ucap supir Askara.


“Ya. kau tunggu di sini.” Askara lalu keluar dari mobil.


Askara berada di sebuah perkampungan kumuh di pinggiran kota. Kampung itu berada tepat di bibir sungai. Bahkan letak sungainya lebih tinggi daripada tanah perkampungan itu sendiri. Askara tak mampu membayangkan bagaimana jika hujan melanda.


Askara lalu bertanya pada salah seorang bapak-bapak yang tengah bermain kartu di pos kampung tersebut.


“Misi Pak, apa bapak tahu rumahnya Bapak Rusly?” Tanya Askara.


“Oh, si Rusly. Noh! Yang paling ujung. Gedor aja yang kenceng, takut gak kedengeran sama orangnya. Takut lu juga dikira bank emok yang mau nagih utang. Lu bukan bang emok kan?” Ucap Bapak-bapak itu.


“Oh, bukan Pak. Yasudah, saya pamit ya. terimakasih atas infonya” Jawab Askara.


“Yo, sama-sama.” Ujar para bapak-bapak.


Askara lalu menuju rumah yang ditunjuk. Rumah itu ternyata yang paling kecil diantara rumah yang ada di kampung ini. Entah itu bisa disebut sebagai rumah atau bukan.


“Permisi.” Askara mengetuk pintu rumah.


“....”Hening, tidak ada yang menjawab.


Askara kembali mengetuk pintu, tetapi masih tidak ada jawaban.

__ADS_1


Setelah beberapa kali Askara mengetuk pintu, orang itu tak kunjung keluar. Akhirnya Askara memutuskan untuk pergi. Saat Askara sudah beranjak pergi tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.


“Hey!” seru suara yang berasal dari belakang.


Askara langsung berbalik badan. Akhirnya, orang yang Askara cari keluar juga. Askara langsung berlari ke arah orang itu.


“Pak Rusly.” Ucap Askara lalu menjabat tangan Pak Rusly.


“Siapa kau?mau apa kau datang kemari hah?” Pak Rusly menolak jabat tangan dari Askara.


“Saya Askara Sadewa Pak. Maksud kedatangan saya kemari, saya ingin menanyai beberapa hal terkait Wirga Pak.” Ucap Askara.


Mendengar nama Wirga Pak Rusly langsung mengerutkan dahinya. Ia langsung berubah marah dan mengsir Askara.


“Aku tidak tahu apapun tentang orang yang kau sebut. Sudah sana pergi! Pergi!” Ucap Pak Rusly dengan emosi.


“Tunggu dulu Pak, saya bukan orang jahat. Saya adalah korban dari Wirga juga. Saya dan keluarga saya bermaksud untuk menghukum Wirga. Kini Wirga tengah ditahan, dan beberapa hari lagi akan diadili. Kami butuh saksi yang cukup kuat untuk memberatkan Wirga. Dengan bantuan dari Bapak akan sangat berati bagi kasus ini Pak.” Jelas Askara.


“Kau yakin dia kini tengah ditahan?” Pak Rusly akhirnya angkat bicara.


“Yakin 100% Pak, saya sendiri yang menjebloskannya ke penjara. Jika bapak ingin melihatnya saya bisa antar.” Jawab Askara dengan antusias.


“Akan terlalu berbahaya bagiku jika harus bersaksi. Apa kau bisa menjamin keselamatanku?” Pak Rusly kembali bertanya.


“Saya akan berusaha menjaga keselamatan bapak dan keluarga dengan sekuat tenaga saya.” Ucap Askara.


“Lalu apa yang harus aku katakan?” Tanya Pak Rusly.


“Terkait kasus mafia tanah 7 tahun silam. Bapak masih mengingatnya dengan baik? Apa bapak juga punya bukti atau berkas yang dapat menguatkan ucapan bapak?” Tanya Aksara.

__ADS_1


“Wirga selalu berusaha membungkam mulutku. Tapi akhir-akhir ini aku mulai curiga, kenapa antek-anteknya tak mendatangiku lagi. Ternyata kekuasaannya telah berakhir. Kau tahu, Wirga berusaha memusnahkan semua bukti kejahatannya, tetapi tidak denganku. Aku berhasil menyelamatkan berkas-berkas penting dari tangan jahatnya. Aku bersusah payah dalam menjaganya agar tidak sampai ketahuan olehnya.” Ucap Pak Rusly.


“bagus. Kita akan berhasil dalam persidangan kali ini.”Askara sudah girang bukan main.


“Kita?” Raut wajah Pak Rusly tampak mencurigakan.


“Iya, Bapak mau kan bersaksi di persidangan nanti?” Tanya Askara.


“Untuk apa?”Pak Rusly tampak mencemooh perkataan Askara.


“Tentu untuk menghukum dan mengganjar perbuatan Wirga Pak. Jika tidak maka ia akan menyakiti dan berbuat kejahatan lagi.” Jawab Askara.


“Mungkin maksudmu agar keluarga kalian terbebas dari anaman dan tangan Wirga. Karena jujur saja, mau Wirga dipenjara atau tidak toh sudah tak berarti lagi bagiku. Kini, aku sudah tak memiliki apapun lagi, hartaku, tanahku dan segalanya. Semuanya telah lenyap. Lalu untuk apa aku berambisi ingin menjebloskan Wirga ke penjara? Toh semuanya tidak bisa kembali lagi ke tanganku. Lagi pula, selama ini ia tak pernah mengancamku lagi. Ya walau antek-anteknya sering datang kemari untu memastikan aku tetap tutup mulut. Dan yang paling emnariknya lagi, selama ini aku bisa memerasnya agar aku mau tutup mulut.” Ucap Pak Rusly.


“Apa? Bagaimana mungkin bapak bisa berkata seperti itu? Pak, bagaimana bisa bapak tetap membiarkan kejahatan merajalela, bagaimana bisa bapak membiarkan Wirga tetap hidup tenang meski telah merampas segalanya dari hidup bapak?” Ucap Aksara yang tampak tercengang.


“Dengar baik-baik. Meski kau telah membunuh Wirga, kejahatan masih akan tetap ada di dunia ini jadi tak usah sok bertindak pahlawan. Jika kau memang ingin menjebloskan Wirga ke penjara atau menghukumnya mati maka bayar saja hakim-hakim itu. Beres. Bukankah kau orang kaya? Gini-gini juga aku tahu siapa kau sebenarnya. Dan, soal tanah atau apapun itu sudah kutegaskan baik-baik bahwa itu semua tidak akan kembali walau Wirga telah membusuk di liang kubur sekalipun.” Ujar Pak Rusly dengan marah.


“Anda benar-benar egois!” Ucap Askara dengan kecewa.


“Egois? Kau yang egois anak muda. Kau ingin menyeretku untuk kepentingan keluarga kaian.” Pak Rusly tampak semakin marah.


“Lalu bagaimana agar anda mau bersaksi untuk kami?” Tanya Askara yang sudah putus asa.


“Oh, lihatlah, anak konglomerat memohon kepada gelandangan sepertiku. Sungguh ironi.”


“Baiklah, jika kau memang sangat ingin aku bersaksi di pengadilan nanti maka kau harus bisa mengembalikan semua tanah dan hartaku yang telah habis oleh Wirga.” Ucap Pak Rusly dengan tatapan licik.


“....”Askara tercengang mendengar peryataan dari Pak Rusly.

__ADS_1


“Bagaimana? Kau sanggup?” Tanya Pak Rusly dengan wajah licik dan tampak sangat puas.


__ADS_2