Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 11


__ADS_3

"Kemana sebenarnya wanita itu pergi?" Tanya Askara pada dirinya sendiri. Dari tadi ia terus berkendara tanpa arah. Ia telah memutari tempat ini.


Tak lama Askara mendapatkan sebuah panggilan masuk dari nomor yangbtidak dikenal. Askara lalu mengangkat telpon itu.


"Jika kau ingin istrimu selamat maka datanglah kemari segera." Ucap sosok misterius yang ada dalam telpon itu.


Askara sudah bisa menebak, ia lalu kembali menyalakan mobilnya dan pergi ke tempat yang ditunjuk.


Askara tiba di sebuah gudang pabrik yang sudah terbengkalai. Ia keluar dari mobil dan mulai berjalan dengan waspada. Askara melirik ke arah sekitar, dia mencari tanda-tanda keberadaan Asiyah. Kemudian Askara mendengar suara minta tolong dari arah dalam.


"Tolong! Lepaskan aku." Teriak suara itu. Askara mengenali suara itu, itu adalah suara Asiyah.


"Lepaskan dia." Ucap Askara.


Ternyata benar, Asiyah tengah disandera oleh kelompok mafianya. Asia diikat dengan tali dan matanya ditutup oleh kain. Asiah terus pemberontak untuk melepaskan diri.


"Kukira kau tidak akan peduli dengan nasibnya." Ucap ketua yang berdiri dekat dengan Asiyah.


"Lepaskan dia sekarang. Dia tidak tahu apa-apa tentang urusan ini." Kata Askara


"Oh sekarang kamu mulai bersimpati kepada orang lain ya? Ku kira kau akan jadi robot selamanya." Ujar ketua.


"Aku tak peduli, tetapi aku akan dalam masalah besar jika terjadi sesuatu padanya. Cepat! Lepaskan dia." Jawab Askara.


"Boleh, boleh saja tapi dengan satu syarat." Ketua menatap licik ke arah Askara.


"Apa? Katakan!" Askara tak sabar.


"Lakukan tugas yang kuperintahkan. " Ketua kini tersenyum lebar.


"Aku tidak bisa." Askara berterus terang.


"Kalau begitu aku akan melenyapkan ia sekarang juga." Ketua mulai menjambak kepala Asiyah.


"Aaa, kumohon jangan apa-apakan aku." Asiyah gemetaran seluruh tubuhnya.


"Jangan sentuh dia sedikitpun." Askara tiba-tiba mengeluarkan amarahnya. Ini adalah momen yang langka di hidup Askara. Untuk pertama kalinya ia bisa mengekspresikan emosinya.


"Kau marah? Apa aku tidak salah lihat? Wah, menarik sekali. Semakin menarik." Ketua melepaskan cengkraman tangannya di kepala Asiyah.


"Naraya!" Ketua berteriak. Kemudian datanglah Naraya, si mafia cantik itu.


"Ya, ketua." Naraya mengahadap.


"Lucuti baju tawanan kita." Ucapnya.


"Bauk ketua." Naraya mulai mendekati Asiyah.


"Jangan! Kumohon jangan apa-apakan aku." Asiyah kini menangis sambil memelas.


"Cukup! Jangan apa-apakan dia lagi. Aku akan melakukan apa yang kau mau." Askara kini benar-benar emosi.


"Bagus, bagus. Kenapa tidak dari tadi. Naraya! Lepaskan tawanan kita." Ketua menunjuk Naraya.


Naraya lalu mepas semua ikatan yang menjerat tubuh Asiyah. Saat hendak melepaskan ikatan kain di kepalanya Askara melarangnya.


"Jangan buka penutup matanya." Ucap Askara.

__ADS_1


"Oh, nampaknya kau ingin main rahasia bersama pasanganmu. Baguslah, itu akan menjadi senjata bagiku untuk menusukmu jika kau membangkang lagi." Ujar ketua.


"..." Askara hanya terdiam.


"Bawa dia pergi sekarang! Sebelum aku berubah pikiran." Ucap ketua kepada Askara.


Asiyah pun bisa bangkit. Askara langsung menariknya pergi. Askara memangku Asiyah sampai ke luar gudang. Askara lalu mendudukkan Asiyah di mobilnya.


Askara laku menyetir mobil dengan sangat kencang.


"Mas, itu kau?" Asiyah kini berani berbicara lagi.


"...." Askara hanya terdiam. Keheningan pun menyelimuti sampai mereka tiba di rumah.


Askara mssih memangku Asiyah sampai di kamarnya. Askara kini meletakkan Asiyah di kamar Askara. Askara lalu membuka kain yang menutup mata Asiyah.


"Buka matamu sekarang." Ucap Askara. Asiyah kemudian membuka matanya.


"Mas!" Asiyah reflek memeluk Askara dengan erat. Askara tak berkutik sedikitpun. Ia hanya diam mematung.


"Aku takut mas." Badan Asiyah masih menggigil.


"Kau yak perlu cemas lagi. Sekarang kau sudah di rumah, kau aman." Ujar Askara.


"Mereka itu siapa mas? Mengapa mereka berniat mencelakai kita? Mengapa mereka berani mengancam Mas?" Tanya Asiyah.


"Mereka…. Mereka hanya atasan kantorku. Aku melakukan kesalahan, jadi mereka mengancamku." Askara beralibi.


"Tapi mereka begitu jahat! Berani sekali mereka melakukan hal itu. Mas bisa lapor polisi." Ucap Asiyah dengan polosnya.


"Tidak, aku akan menyelesaikannya sendiri." Jawab Askara.


"Aku yakin." Ucap Askara sambil menatap kosong ke arah depan.


"Semoga mas selalu dalam lindungan Allah. Aamiin."


Asiyah laku melirik ke arah sekitar, wajahnya langsung berubah sumringah.


"Mas tidak salah membawa Ica kan?" Tanya Asiyah memastikan.


"Kenapa?" Askara penasaran.


"Tak biasanya mas membolehkan Ica masuk ke kamar mas." Asiyah tersenyum-senyum.


"Mulai hari ini kau boleh tidur di sini." Jawab Askara.


"Benarkah?" Asiyah girang bukan main.


"Ya." Askara mencoba tidak terlihat malu.


"Yeaaay! Alhamdulillah, akhirnya, kita satu ranjang juga mas." Asiyah kembali memeluk Askara. Kini Askara menolaknya.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, sekarang cepat turun ke bawah dan masakan aku sesuatu." Askara mengalihkan topik pembicaraan.


"Baik, dengan senang hati mas. Mas mau Ica masakan apa?" Tanya Asiyah yang masih tersenyum.


"Apapun, terserah kau." Jawab Askara.

__ADS_1


"Baiklah, Ica akan masakan menu yang paling spesial buat Mas." Asiyah lalu keluar kamar dengan berseri-seri.


"Ya Allah, terima kasih kau telah membukakan sedikit demi sedikit pintu hati suami saya. Ternyata di balik kejadian tadi ada hikmahnya. Mas jadi lebih dekat dengan Ica. Semoga Engkau semakin mendekatkan kami Ya Allah, aamiin." Tutur Asiyah dalam hatinya.


Asiyah laku memasak dengan antusias. Ia menuangkan semua fokus dan cintanya pada masakannya kali ini. Asiyah ingin membuat kesan yang baik di depan suaminya.


Masakan pun matang. Asiyah menyajikan masakannya di atas meja makan. Asiyah lalu menyuruh Askara turun.


"Mas, ayo makan, masakannya sudah matang." Kata Asiyah.


Askara lalu turun ke bawah, wangi maskan langsung memenuhi seluruh rongga pernafasannya. Askara lalu bergegas ke meja makan.


Asiyah lalu menyajikan masakannya kepada Askara. Askara lalu memakannya. Saat sendokan pertama Askara langsung dibuat takjub. Makanannya begitu enak, ia sampai termenung untuk beberapa saat dan diam seribu bahasa.


"Bagaimana mas, enak?" Yanya Asiyah.


"Ya, enak." Jawab Askara.


"Alhamdulillah." Mereka pun menikmati makan malam yang nikmat itu bersama.


Asiyah mengajak ngobrol Askara di tengah pmakannmalam mereka.


"Mas, kan malam ini kita sudah seranjang, mas mau Ica layani malam ini?" Mendengar itu Askara langsung tersedak.


"Uhuk." Askara langsung mengambil air minumnya.


"Kenapa mas?" Tanya Asiyah.


"Kau jangan berfikir yang tidak-tidak. Seperti kataku waktu itu, aku tidak akan menyentuhmu." Askara lalu mengakhiri makan malamnya.


Usai makan malam mereka kemudian naik ke atas untuk tidur. Malam itu Askara merasa sangat canggung.


"Jangan dekat-dekat! Guling ini sebagai batas antara kita." Askara menseuh guling di tengah-tengah mereka.


"Mas! Mana ada seperti itu! Saling dekatpun tak apa lah mas. Kan kita sudah halal!" Asiyah tampak putus asa.


"Jangan paksa aku atau kau kembali tidur di kamarmu." Askara kini mengancam.


"Baiklah." Asiyah laku berbaring.


Askara juga ikut tidur, posisinya membelakangi Asiyah. Asiyah tampak kecewa, ia sudah berharap malam ini bisa tidur sambil menatap wajah suaminya. Tetapi Asiyah tidak kehabisan akal. Asiyah lalu turun dari ranjangnya. Ia tidur di lantai sebelah kiri tepat di sebelah Askara.


"Hah!" Askara kaget saat membuka matanya. Asiyah ada di lantai.


" Mengapa kau tidur di situ?" Tanya Askara.


"Biar bisa liat wajah mas terus. Kalo ica tidur di sana ica hanya hisa melihat punggung mas." Jawab Asiyah.


"Kembali ke tempat tidurmu!" Ucap Askara.


"Baik mas. Tapi mas berbaring ke sebelah kanan ya. Bisr Asiyah bisa liat eajah mas."


"..." Askara tak menjawab.


Asiyah lalu kembali tidur di kasurnya.


"Mas." Ucap Asiyah. Askara lalu berbalik badan. Asiyah langsung tersenyum. Tetapi Askara langsung menutup wajahnya dengan selimutnya.

__ADS_1


"Yah." Asiyah putus asa. Merekapun terlelap tidur.


__ADS_2