
Askara menghentikan mobilnya. Ia lalu turun dari nobil. Askara lalu membukakan pintu mobil Asiyah. Asiyah hanya tersenyum melihat perlakuan Askara kepadanya.
"Turun." Ucap Askara dingin.
Asiyah lalu menuruti perkataan Askara. Asiyah turun dari mobil kemudian melihat pemandangan sekitar. Iya merasa sangat asing dengan tempat barunya.
"Kita kita di mana Mas?" Tanya Asiyah kepada Askara.
"Jangan banyak tanya dan cepat ikuti aku." Maskara lalu jalan menuju rumah sambil menenteng koper.
Mereka masuk ke sebuah rumah yang cukup besar namun tampak sudah lama tak ditinggali. Asiyah merasa ragu untuk masuk ke dalam.
"Kenapa berhenti ayo terus jalan." Askara mengagetkan Asiyah dari lamunannya.
"Ini rumah kita mas?" Tanya Asiyah
"Ini rumahku. Bukan rumahmu." Jawab Askara.
"Tetapi sekarang kita sudah menikah. Rumah Mas adalah rumah Ica juga." Asiyah masih terlihat lugu.
"Rumah ini rumahku karena kubeli dengan hasil uangku sendiri. Dan kau hanya menumpang di sini." Askara menatap tajam ke Arah Asiyah.
"Huft, terserah Mas saja lah. Ica udah capek banget. Ica mau tidur, istirahat." Asiyah tak menggubris perkataan Askara.
Mereka lalu masuk ke rumah itu. Sebuah rumah tua yang besar tetapi usang karena jarang ditinggali. Asiyah sudah merasa putus asa karena ia yang akan membereskan dan membersihkan rumah ini.
"Hey, kau mau kemana ?" Askara mengehentikan Asiyah yang mau masuk ke kamar.
"Mau masuk ke kamar lah Mas, memangnya mau kemana lagi?" Asiyah tampak lelah.
"Tidak bisa. Ini kamarku. Kamarmu ada di sebelah." Askara menujuk pintu kamar yang ada di sebelahnya.
"Mas, kita uda nikah. Mana ada orang yang nikah pisah ranjang." Ucap Aisyah
"Tapi ini keputusanku. Kau harus tidur di sana. Suka atau tidak." Ujar Askara tegas.
"Tapi Mas, kata Abi dan Ummi…."
"Tidak ada tapi." Belum sempat Asiyah menuntaskan perkataan nya Askara sudah menyerobot duluan.
"Blak." Askara langsung menutup pintu kamarnya.
"Astagfirullah. Sabar Ca, sabar." Ucap Asiyah sambil mengelus dada. Asiyah lalu masuk ke kamar yang ada si sebelah kamar Askara.
Keesokan harinya Asiyah bangun sangat pagi untuk menyiapkan sarapan dan segala keperluan Askara. Asiyah memasak masakan yang diajarkan oleh Umminya. Ia begitu memperhatikan masakannya karena ini adalah masakan pertama yang akan dihidangkan kepada suaminya.
__ADS_1
Asiyah nampaknya terlalu bersemangat untuk memasak, hingga ia lupa untuk mengganti baju tidur dengan baju gamisnya. Tak lama Askara turun untuk sarapan. Askara sedikit terkejut saat melihat Asiyah pagi itu.
"Eh, Mas ada di sini? Bentar ya, dikit lagi sarapannya mateng. Mas mau dibuatkan minuman apa? Kopi? Teh?" Tanya Asiyah drngan lembut.
"Kau kenapa?" Celetuk Askara.
"Hah?" Asiyah bingung dengan perkataan dari Askara.
"Kenapa kaua mengenakan itu?" Mata Askara menunjuk ke baju yang dikenakan oelh Asiyah.
"Itu apa?" Asiyah masih tak faham.
"Bajumu. Kukira kau sangat tertutup. Ternyata kau juga mampu seperti ini." Askara masih memperhatikan baju yang dikenakan oleh Asiyah.
"Astagfirullah. Emmm, Ica…Ica lupa ganti baju Mas. Semalam Ica mimpi buruk dan berkeringat, makanya Ica ganti pakai baju yang lebih pendek. Gak kok, Ica selalu menutup aurat Ica di luar. Kalau di dalam rumah dan dengan mahram, ya Ica juga pakai pakaian pendek. Masa mau beres-beres atau nyuci pake gamis Mas?"
"Oh." Jawab Askara dengan singkat dan datar.
Asiyah lalu buru-buru mengganti bajunya. Usai mengganti baju Asiyah langsung turun lagi ke bawah untuk menyajikan sarapan untuk suaminya.
"Nih Mas, makanannya udah jadi." Asiyah lalu menyajikan masakannya kepada suaminya.
Askara lalu mencicipi masakan buatan Asiyah. Askara lalu berhenti mengunyah. Ia seperti melamun untuk beberapa saat. Asiyah merasa tak enak hati saat melihat reaksi dari wajah Askara setelah mencicipi masakannya.
"...." Askara masih terdiam.
"Ica kebelakangin aja ya. Gsusah dimakan ya. Mas Ica buatin roti pangganga aja ya." Asiyah lalu mengambil piring Askara.
"Jangan. Aku akan memakannya." Askara memegang lengan Aisyah untuk menghentikannya. Tiba-tiba Askara merasa aneh kembali dengan perasaannya. Ka kembali bingung dan bertanya-tanya mengenai dirinya dalam hatinya.
"Tidak apa kok mas. Kalau tidak enak gak usah dipaksa. Nanti malah kenapa-kenapa lagi." Asiyah masih mencoba untuk mengambil piring itu.
"Tidak. Masakanmu enak. Aku akan memakannya." Jawab Askara.
"Benarkah?" Asiyah girang bukan main.
"Ya." Jawab Askara.
"Alhamdulillah. Asiyah senang mendengarnya." Pipi Asiyah langsung berubah kemerahan. Asiyah tak mampu menyembunyikan perasaan senang di hstinya tatkala suaminya memuji hasil masakannya.
Usai menyelesaikan sarapannya, Askara lalu berangkat kerja. Asiyah kemudian membantu Askara untuk mengikatkan dasi di kerah bajunya. Satu hal yang dari dulu membuat Askara kesusahan.
Askara merasa canggung dan kaku saat terlalu dekat dengan Asiyah. Ia merasa ada hal anseh yang menjangkiti tubuhnya saat terlalu dekat dengan wanita. Apalagi wanita seperti Asiyah. Askara tak bisa menampik kalau Asiyah memang berparas cantik. Wanita itu juga sangat polos. Berbeda dengan wanita lain yang sebelumnya pernah Askara kenal.
"Nah, sudah rapi. Mas jadi tambah tampan kalau pakai dasi." Ucap Aisyah sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku berangkat sekarang." Askara bingung harus berkata apa lagi. Ia lalu segera melangkah pergi.
"Eh, tunggu Mas. Ica ingin bertanya satu hal." Asiyah mengentikan langkah Askara.
"Apa?" Askara berhenti.
"Kita kan sudah menikah, sudah selayaknya ada keterbukaan diantara kita. Ica hanya ingin tahu pekerjaan Mas. Bolehkan?"
"...." Askara membisu saat ditanya hal seperti itu oleh Asiyah. Bibirnya menjadi kaku, Askara bingung harus menjawab apa.
"Mas? Mas mendengar ucapan Ica kan?"
"Ha? Ya, aku dengar." Lamunan Askara buyar.
"Jadi, pekerjaan Mas adalah?"
"...." Askara kembali membisu.
"Pekerjaannya adalah sebagai CEO dari perusahaan Sabang Buana." Tiba-tiba ada yang menjawab pertanyaan Asiyah. Bukan Askara, melainkan suara perempuan yang asalnya dari pintu.
"Mawar?" Askara kaget saat melihat kemunculan Mawar secara tiba-tiba.
"Ya Pak Askara. Ini pasti istri Anda. Saya ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Oh ya, sebelumnya perkenalkan, nama saya Mawar Eva Celia. Saya adalah sekertaris pribadi dari Bapak Askara Nirwana Sadewa." Wanita itu lalu mendekati Asiyah dan menjabat tangannya.
"Saya Asiyah Humaira." Asiyah merasa canggung.
"Senang berkenalan dengan anda Nyonya Askara. Kalau begitu izinkan kami pergi sekarang karena Bapak Askara ada jadwal meeting pagi ini. Bukan begitu Bapak Aksara?"
"Ya."
"Baiklah, hati-hati di jalan ya Mas. Bekerjalah dengan giat dan jaga kesehatan, oh, dan bawa mobilnya hati-hati juga ya."
"..." Askara tak menjawab.
Asiyah lalu mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Askara. Askara terlihat bingung.
"Assalamualaikum Mas." Asiyah lalu mencium tangan Aksara.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Askara canggung.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan Asiyah seorang diri di rumah tua yang besar ini.
Asiyah lalu masuk ke kamarnya. Ia tiba-tiba menangis.
"Ya Allah, untuk meluluhkan hatinya saja hamba masih belum bisa, sekarang ditambah dengan hadirnya wanita itu. Kuatkan hamba ya Allah. Jaga dan lindungi rumah tangga kami Ya Allah." Asiyah menangis sendirian.
__ADS_1