
Mereka menyusuri jalan setapak diantara hutan yang rindang. Sudah jauh mereka berjalan, hutan ini rasanya terlalu luar untuk ditembus. Tetapi mereka tak menyerah, mereka terus berjalan menyusuri hutan.
"Kita istirahat di depan ya." Ayah menunjuk pada sebuah pohon besar nan rindang.
Mereka berjalan menghampiri pohon itu. Mereka akhirnya beristirahat di bawah pohon itu.
"Semoga saja para mafia itu sudah pergi dari hutan ini. Ayah tak bisa menjamin keselamatan kita jika kita berhadapan dengan para mafia itu." Ucap Ayah sembari mengatur nafasnya yang naik turun saking capeknya.
"Semoga saja. Tapi, bukan hanya mafia itu yang kita khawatirkan tetapi keselamatan Askara juga Yah. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Ucap Mamah sambil mengelus wajah Askara.
"Ya. Ayah tahu Mah. Tapi bagaimana kita bisa keluar dari hutan ini? Ayah rasa, kita masih jauh dari peradaban." Ucap Ayah.
"Apa ini bisa membantu Yah?" Tanya Asiyah sambil menunjukkan sebuah Halki Talki.
"Kau dapat ini dari mana?" Tanya Ayah.
"Petugas gedung bawah tanah memberikannya kepada Asiyah sebelum Asiyah naik ke lift." Jawab Asiyah.
"Alhamdulillah. Tentu Nak, ini sangat membantu. Ayah bisa rakit ulang untuk mengirimkan signal SOS." Ucap Ayah dengan mata yang berbinar-binar.
"Alhamdulillah." Asiyah dan Mamah ikut senang.
Ayah lalu merakit ulang HT itu dn menambahkan beberapa alat dari jam tangan yang ia bongkar. Terlihat agak rumit tapi akhirnya Ayah berhasil merakit ulang HT itu.
"Kita nyalakan dan...." Ayah menarik antena dari HT itu.
HT itu akhirnya berhasil menyala.
"Alhamdulillah Ya Allah." Ayah kegirangan bukan main.
Akhirnya signal darurat berhasil dipancarkan. Mereka kini tinggal menunggu bantuan yang datang. Sembari menunggu, Asiyah merawat dan membersihkan luka Askara yang kini tampak makin parah.
"Bertahan ya Mas. insyaAllah pertolongan dari Allah pasti akan segera datang." Ucap Asiyah sembari menangis meratapi kondisi Askara.
Tak lama dari itu, terdengar suara helicopter. Mereka bersamaan melihat ke arah langit. Ternyata benar, sebuah helicopter dari tim penyelamat datang.
__ADS_1
Helicopter itu kemudian mendarat di tempat itu. Mereka akhirnya berhasil di evakuasi.
"Pak Askara." Ucap salah satu tim evakuasi.
"Anda mengenali anak saya?" Tanya Ayah kepada petugas itu.
"Tentu. Pak Askara dulu sempat menolong saya saat kecelakaan lima tahun yang lalu. Beliau waktu itu menggendong saya yang tengah terluka kaki dan bagian perut bawah menuju puskesmas terdekat. Berkat pertolongan dari beliau saya bisa bertahan sampai saat ini." Petugas itu berkata sambil berkaca-kaca.
"masyaAllah." Mereka terharu mendengar kesaksian dari petugas tim penyelamat itu.
Mendengar hal itu Asiyah menjadi sedih. Ternyata selama ini ia salah menilai tentang suaminya. Ternyata, suaminya adalah seorang yang begitu peduli dengan sesamanya. Bahkan berjasa bagi orang-orang di sekelilingnya. Asiyah lalu menatap Askara yang masih tak sadarkan diri dan dibawa di atas tandu. Asiyah laku menangis.
***
Pukul satu malam. Semua orang tengah berharap cemas, Askara tengah ditangani oleh tim medis. Asiyah hanya bisa berharap dan berdoa akan kesembuhan dari Askara.
Tak lama dokter keluar dan menghampiri mereka.
"Keluarga Bapak Askara Sadewa?" Tanya Dokter.
"Bagaimana kondisi anak saya sekarang dok?" Tanya Ayah dengan sangat cemas.
"Anak Bapak mengalami luka dalam dibagian perut karena pukulan yang keras. Kami perlu melakukan tindakan operasi karena nampaknya anak bapak mengalami pendarahan dibagian dalam. Luka bekas operasi sebelumnya juga mengalami infeksi dan diperparah dengan luka luar di bagian wajah dan punggung." Jelas Dokter.
"Innalillahi. Maaas.." Asiyah langsung menangis saat mendengar penjelasan daei dokter.
"Tapi operasinya tak bisa dijalankan sekarang. Kondisi pasien terlalu lemah dan ia nampaknya kehabisan banyak darah. Sistem pertahanan tubuhnya juga menurun drastis. Kita hanya bisa menunggunya hingga keadaannya sedikit membaik. Baru kami akan menindaklanjuti terkaitf
penanganan operasi pada pasien." Ucap Dokter.
"Lalu, apakah ada cara lain agar anak saya bisa sembuh lebih cepat?" Tanya Ayah.
"Untuk saat ini kita hanya bisa berharap pada keajaiban Tuhan dan pasien sendiri. Semoga pasien bisa melalui masa-masa kritis ini." Jawab Dokter.
"Pah." Mamah langsung menangis.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi." Dokter llu meninggalkan mereka.
Mereka begitu terguncang saat mengetahui kondisi Askara. Terlebih Asiyah. Ia terus menangis. Ia begitu khawatir dengan kondisi suaminya.
Asiyah tak bisa menolak, ini sudah menjadi takdir dan ketetapan dari Allah. Asiyah hanya bisa bersabar dan berusaha semampunya. Ia kemudian bersujud kepada Allah untuk mengadu dan memohon kesembuhan bagi Askara.
Asiyah sangat larut dalam sujudnya hingga ia tertidur di atas sajadah. Asiyah lalu terbangun karena mendengar suara adzan subuh berkumandang. Asiyah lalu mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh. Asiyah jadi teringat waktu itu tatkala Askara memintanya untuk membantu Askara mengambil wudhu dan sholat. Asiyah kembali menangis tatkala ingat hal itu.
Selepas sholat subuh Asiyah lalu kembali ke ruangan tempat Askara dirawat. Di sana sudah ada Ayah dan Mamah. Ayah dan Mamah nampaknya tidak tidur semalaman. Mata mereka berdua sembab.
"Sudah shalat subuhnya Nak?" Tanya Ayah.
"Sudah Yah." Jawab Asiyah.
"Ya sudah. Kami mau sholat subuh dulu ya. Kami titip Askara ya." Ucap Ayah.
"Iya Yah." Jawab Asiyah.
Mamah dan Ayah lalu keluar ruangan untuk melaksanakan shalat subuh.
Asiyah lalu Duduk di dekat Askara. Ia menyentuh lengan Askara pelan-pelan. Asiyah lalu menitikan air mata.
"Mas... Asiyah tadi sholat subuh. Sendirian di mushola rumah sakit. Biasanya kalau jam segini, Asiyah akan bawel buat bangunin Mas sholat subuh. Mas kadang susah baget buat diajak sholat subuh, sampai bilang titip 2 rokaat. Tapi Mas akan tetap mau dan nurut. Sekarang, Ica gak bisa bawel lagi huat bangunin Mas sholat subuh. Mas cepet bangun ya. Biar kita bisa sholat subuh bareng lagi." Asiyah lalu mengusap wajah Askara pelan-pelan sambil menangis terisak-isak.
"Mas tau gak. Ica mimpiin Mas lagi. Ica mimpi kita duduk di serambi masjidil haram mas. Rasanya seneng banget. Ica pengen banget bisa ke sana bareng sama Mas. Mas harus sembuh ya. Kita jalanin dan wujudkan mimpi-mimpi kita sama-sama. Ica juga kangen Mas." Ucap Asiyah sambil mengusap air matanya.
Askara tak kunjung bangun. Asiyah lalu membacakan ayat suci Al-quran untuk Askara. Setelah itu Asiyah kembali bergumam kepada Askara.
"Mas, Ica keluar dulu ya. Mas istirahat dengan nyaman ya di sini. Semoga Mas bisa cepet bangun. Ica akan selalu tunggu Mas." Ucap Asiyah. Ia pun beranjak dari tempat duduknya.
Saat beranjak dari tempat duduknya, Asiyah kaget karena lengan Asiyah yang tadi memegang lengan Askara kini dipeganng erat oleh Askara. Seolah Askara tak membiarkannya untuk meninggalkan Askara.
Asiyah lalu melihat wajah Askara, Askara masih tak sadarkan diri.
"Mas." Asiyah kembali mengecek. Tetapi tidak ada respon. Asiyah lalu melepaskan lengan Askara dsri lengannya. Tetapi di saat itu juga Askara membuka matanya.
__ADS_1