
Terdengar suara mesin mobil yang berhenti. Tak lama setelah itu pintu mobil dibuka. Ayah lalu menyuruh mereka untuk membuka Kain yang menutupi kepala mereka.
“Bukalah, kita sudah sampai.” Ucap Ayah kepada Asiyah dan Mamah.
Asiyah lalu mebuka penutup kepalanya. Awalnya semua terlihat silau. Tak lama bauru ia bisa melihat kondisi sekeliling seluruh kain hitam yang menutupi jendela kini dibuka. Asiyah kini mampu melihat kondisi di sekitarnya.
Nampaknya mereka tengah berada di hutan. Sekelilingnya penuh dengan pepohonan besar. Ayah lalu menyuruh mereka untuk turun dari mobil.
“Ikutikah aku.” Ucap Ayah dengan nada yang dingin. Asiyah merasa ada yang janggal. Ia kemudian melihat raut wajah Mamah yang kini tengah menampakkan kecemasan.
Mereka lalu menyusuri hutan belantara itu. Ayah membukakan jalan untuk mereka dengan sebuah golok yang panjang. Asiyah merasa heran, apa mungkin Askara berada di tengah hutan belantara begini? Ia mulai berfikiran yang tidak-tidak. Apa mungkin mertuanya memiliki niat jelek padanya? Asiyah terus mencoba untuk mengontrol pikirannya agar tetap jernih.
Mereka semakin masuk ke dalam hutan. Setelah melihat sebuah pondok kecil yang tua nan usang tiba-tiba Ayah menghentikan langkahnya.
“Kita telah sampai.” Ucap Ayah dengan raut wajah yang waspada.
Asiyah ta percaya. bagaimana mungkin di tengah hutan belantara begini ada sebuah pondok. Dan tak mungkin Askara akan ada di sana. Asiyah tahu betul Askara orang yang seperti apa. Ia tak pernah ingin berada di tempat yang kotor dan bau. Apa benar mertuanya ingin menyesatkan Asiyah? Begitu batin Asiyah.
“Ayah, sebelumnya Ica minta maaf atas kelancangan Ica untuk bertanya hal semacam ini, tetapi Ica masih ragu apa Mas ada di tempat itu. Apa kita tidak tersesat?” Tanya Asiyah yang mulai khawatir.
“Tidak Nak, memang benar ini tempatnya. Kau tidak akan tahu jika kau belum masuk ke dalam.” Ucap Ayah dengan wajah yang kini jauh lebih ramah dari sebelumnya.
“Baiklah.” Ujar Asiyah.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam pondok tua itu. Saat pintu di buka di dalamnya tidak ada apapun. Hanya ada tumpukan jerami. Asiyah kini mulai benar-benar curiga. Ia tak meneruskan langkah kakinya. Tetapi tia-tiba Ayah memintanya untuk membantu mengangkat jerami dan beberapa tong yang ada di dekatnya. Asiyah terpaksa menurutinya.
Setelah semua jerami dan tong disingkirkan barulah Asiyah menemukan sebuah pintu menuju ruang bawah tanah. Pintu itu dilengkapi dengan kunci sandi. Ayah lalu memasukkan sandi dan tak lama puntu terbuka. Terlihat dari tempatnya berdiri saat ini, ada sebuah tangga yang menjurus ke bawah. Tangga itu tampak sangat curam dan gelap. Ayah lalu turun lebih dulu. Disusul dengan Mamah, Asiyah pun mengikuti mereka. Saat Asiyah sudah masuk, pintu itu tertutup kembali dengan sendirinya dan lampu pun menyala menerangi tangga itu. Tangga itu lumayan panjang dan diujunya terdapat sebuah pintu lagi.
Mereka pun sampai di ujung tangga, Ayah kembali membuka pintu yang ada di hadapannya, kali ini bukan dengan menekan sandi melainkan sidik jari dan pindai wajah. Pintu pun terbuka. ternyata itu adalah sebuah lift. Mereka semua lalu masuk ke dalam lift itu.
“Sekarang kita berada di kedalaman 10 meter dari bawah tanah, dan lift ini mengarah ke kedalaman 56 meter di bawah tanah.” Jelas Ayah sambil menekan nomor 100 di tombol lift itu.
Asiyah tampak kagum bercampur heran mendengar hal itu. Seumur hidupnya ia baru melihat ada sebuah ruangan yang dibangun puluhan meter di bawah tanah.
Lift itu terus masuk ke bawah dan semakin bawah. Asiyah mulai merasakan perbedaan tekanan dalam lift itu. Ia terus berdoa dalam hatinya bahwa ia bisa naik lagi ke atas dengan selamat. Tak lama lift pun berbunyi dan pintu mulai terbuka.
Terlihat sebuah ruangan yang luas dan begitu terang. Asiyah tak percaya jika dirinya kini berada di 56 meter di bawah tanah. Semuanya tampak seperti ruangan diatas tanah pada umumnya. Asiyah malah merasa bahwa ruangan ini tampak seperti sebuah hotel, luas, bersih, dan mewah. Ayah lalu dihampiri oleh seseorang yang sejak lama ada di ruangan itu.
“Mereka ada di ruangan nomor 18 Tuan.” Jawab orang itu.
“Baiklah, kami akan ke sana sekarang.” Ucap Ayah.
“Apa perlu saya antar Tuan?” Tanya orang itu.
“Tidak usah. Ayo Mah, menantu.” Ajak Ayah pada Mamah dan Asiyah.
Mereka pun berjalan lurus menuju ruangan 18. Di sepanjang jalan Asiyah tak henti-hentinya mengagumi tempat itu. Tempat itu canggih dan elegan di saat yang bersamaan. Tempat itu memiliki fasilitas lengkap layaknya hotel. Saat mereka tiba di ruang 18 ternyata ruang itu adalah ruang perawataan. Banyak sekali alat rumah sakit yang di pasang di ruang itu. Layaknya rumah sakit, ruangan 18 juga dilengkapi dengan dokter dan susternya. Dan pasien yang tengah mereka rawat adalah Askara.
__ADS_1
“Mas.” Asiyah kaget saat melihat Askara. Ia langsung berlari ke arah Askara. Sebelum ia sampai ke dekat Askara Dewangga keburu mencegatnya.
“Jangan sekarang, dia sedang dalam kondisi tak sadarkan diri. Dia baru saja menjalani operasi.” Jelas Dewangga. Mendengar hal itu Asiyah menjadi sedih bercampur kaget.
“Operasi? Memangnya Mas kenapa?” Asiyah bertanya sambil menahan tangis.
“Panjang ceritanya dan aku sudah berjanji kepada Askara untuk tidak menceritakannya padamu. Tetapi yang jelas, Askara terkena tembakan peluru. Peluru itu bersarang di pundaknya, beruntung peluru itu tak mengenai organ vitalnya. Karena jika ya, maka nyawanya tidak akan tertolong saat itu juga.” Ucap Dewangga.
“Tertembak peluru?” Hancur seketika hati Asiyah saat mendengar hal itu. Rasanya sebagian dari kebahagiaan hidupnya lenyap begitu saja. Ia langsung tersungkur. Jiwanya syok dengan berita itu. Aiyah pun akhrinya menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan.
Kedua lengannya menutupi mulutnya. Tubuhnya menjadi gemetaran. Ia tak bisa membayangkan lagi bagaimana suaminya saat ini. melihat menantunya menangis, Mamah langsung menghampiri Asiyah dan mendekapnya dnegan penuh kelembutan.
“Sabar Nak, InsyaAllah Askara pasti akan sembuh. kita kirim doa terus ya untuk kesembuhan Askara.” Ucap Mamah sambil mengelus Asiyah dengan lembut. Asiyah pun menangis sejadi-jadinya saat itu juga.
Malam harinya Asiyah sholat di dekat ranjang Askara. Asiyah lalu berdoa dan merintih kepada Allah. Ia terus menerus memohon agar suaminya segera sadar dan diberikan kesembuhan. Setelah berdoa Asiyah lalu membacakan Al-Quran di dekat Askara. Di tengah-tengah bacaan itu Asiyah mendengar erangan dari mulut Askara. Asiyah kaget, ia langsung menghentikan bacaan Al-Qur’annya dan langsung memperhatikan Askara.
“Mas?” Ucap Asiyah dengan lembut.
Askara lalu membuka mata perlahan-lahan. Saat seluruh matanya terbuka, Askara langsung menatap Asiyah. Asiyah menangis karena bahagia melihat Askara yang sudah sadarkan diri. Asiyah lalu memegang lengan Askara. Tetapi Akara malah menyingkirkan lengan Asiyah dari lengannya. Asiyah pun kaget.
“Mas, ini Ica. Mas masih ingat Ica kan?” tanya Asiyah.
Askara tak begeming sedikitpun. ia malah memalingkan pandangannya dari Asiyah. Ada apa dengan Askara?
__ADS_1