Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 14


__ADS_3

Nayara menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Askara, ia lalu turun dari mobil.


“Kau yakin kau bisa menyetir hingga parkiran rumahmu dalam kondisi seperti ini?” Tanya Nayara.


“Ya, cepatlah pergi sekarang atau aku juga akan menjadi serigala bagimu.” Ucap Asakara.


Nayara lalu meninggalkan Askara. Askara kemudian masuk ke rumahnya.


Saat Askara sampai di depan pintu, Asiyah langsung menyambutnya. Askara langsung terpicu saat melihat Asiyah di depan matanya. Askara langsung menarik Asiyah yang masih syok dengan kondisi Askara yang mabuk.


Askara menyeret Asiyah hingga ke kamarnya. Askara kemudian meutup pintu kamarnya. Dengan kasar ia melempar Asiyah ke ranjangnya. Asiyah masih syok dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“Mas, kau kenapa?” Tanya Asiyah.


Askara tak menjawab, dengan kasar ia mencopoti baju Asiyah satu persatu. Malam itu, untuk pertama kalinya Askara menyentuh istrinya.


Usai melayani Askara, Asiyah lalu membersihkan dirinya. Ia menangis di dalam kamar mandi, ia bingung dengan dirinya sendiri. Apakah ia harus bahagia karena telah menggugurkan salah satu kewajibannya sebagai seorang isrti atau malah sedih karena suaminya yang menyentuhnya dalam kondisi tak sadar dan dalam pengaruh Alkohol. Lama sekali Asiyah di kamar mandi. Saat dini hari, ia pun keluar dari kamar mandi dengan mata yang sembab. Ia lalu mencoba membangunkan Askara.


“Mas, bangun mas, Mas sudah sadarkan?” tanya Asiyah.


“Ya.” Jawab Askara singkat. Ia sepertinya enggan menatap wajah istrinya.


“Mas harus bersuci sekarang, sebelum waktu subuh tiba. Mas bisa kan? Atau mau Ica bantu?” tanya Asiyah.


“Kenapa aku harus bersuci? Au sudah kotor! Aku sudah meneguk alkhohol, bagaimana aku bisa bersujud kepada Allah setelah mendurhakainya seperti ini!” Jawab Askara, tiba-tiba air mata keluar dari matanya. Ia heran, kenapa ia bisa menangis? Dan perasaan apa yang tengah ia alami saat ini?


“Mas, Allah Maha pemaaf, Allah malah suka terhadap hambanya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh.” Asiyah lalu mengelap Air mata di pipi Askara dengan lembut. Askara lalu memegang lengan Asiyah.


Askara lalu menatap wajah Asiyah. Perasaan aneh itu muncul lagi, mengapa saat bersama Asiyah, Askara sering merasakan perasaan aneh di hatinya. Tapi ia tak bisa mengartikan perasa itu.


Asiyah lalu membantu Askara bersuci. Dengan sabar dan telaten, Asiyah menyucikan hingga membantu Askara mengambil air wudhu. Usai itu Asiyah lalu mengajak Askara untuk shalat subuh. Lama sekali Askara sujud, entah apa yang ia adukan pada Allah, mungkin rasa penyesalan yang dalam.


Usai shalat, Askara lalu mengajak Asiyah berbincang. Asiyh yang masih mengenakan mukenanya kemudian mendengarkan Askara dengan penuh perhatian.


“Aku ingin berkata jujur padamu.” Ucap Askara.

__ADS_1


“Mengenai apa Mas?” tanya Asiyah.


“Aku sebenarnya ingin menutupinya darimu untuk selamanya, berharap suatu saat kau bisa kembali ke kehidupanmu yang dulu dan keluar dari kehidupanku. Tetapi sekarang, aku tak bisa melepaskanmu. Aku sudah menodaimu.”


“Mas bicara apa? Siapa yang mau meninggalkan Mas? Ica akan selalu setia, tunduk dan patuh kepada suami Ica selama itu tidak bertentangan dengan agama. Lagi pula sudah menjadi kewajiban Ica sebagai seorang istri untuk melayani Mas.” Jawab Asiyah dengan lembut.


“Ku harap kau masih bisa meneriaku setelah mengetahuinya. Aku, sebenarnya menderita Alexithymia, maka dari itu aku tak pernah menyentuhmu sebelumnya. Tetapi, semalam...” Askara tak mampu meneruskan ucapannya.


“Ica suah tahu tentang itu Mas.” Jawab Asiyah.


“Apa? Dari mana?” tanya Askara.


“Malam itu, usai shalat tahajjud Ica mengangkat telpon dari hanphone Mas, sekertaris mas menelpon. Usai mengangkat telpon itu, tak sengaja Ica juga melihat notifikasi pesan dari psikeater pribadi Mas, mulai saat itu Ica tahu.” Jawab Asiyah.


“Lalu kenapa kau tidak bilang padaku?” tanya Askara.


“Untuk apa?” Ucap Asiyah.


“Kau tidak merasa kecewa karena aku menutupinya darimu atau kau ingin meninggalkanku? Aku tidak sempurna Asiyah. Aku sangat jauh berbeda darimu. Aku tahu, seharusnya pra alim dan soleh yang menjadi suamimu. Bukan pria sepertiku yang brengsek dan berlumuran dosa. Kau mau mengharapkan apa dariku?” Ucap Askara.


“Surga.” Jawab Asiyah dengan yakin.


“Mulai saat ini, mari kita perbaiki diri kita bersama-sama, ica juga sama, ica masih jauh dari kata shalehah, Ica masih banyak dosa maka dari itu, mari kita sama-sama berjuang dalam menggapai ridhonya Allah, bersama dalam ikatan suci pernikahan ini Mas.” Ucap Asiyah dengan mata yang berkaca-kaca.


“...” Askara kembali dibuat terpaku dengan perkataan Asiyah, ia merasa heran, mengapa wanita seperti Asiyah masih mau menerima lelaki seperti Askara.


“Soal sakit Mas, Ica yakin, InysaAllah akan sembuh. kita obati sama-sama ya, ica yakin mas pasti bisa. Ica juga akan bantu semampu Ica.”


“....” Askara terpaku.


“Yasudah, Mas siap-siap untuk pergi ke kantor, Ica akan turun ke bawah untuk masak. Mas mau ica buatkan apa?” tanya Asiyah.


“Apapun.” Jawab Askara.


“Baiklah.” Asiyah lalu melepas mukenanya.

__ADS_1


“Ica.” Askara lalu memegang lengan Asiyah.


“Iya, ada apa Mas?” tanya Asiyah yang sebenarnya dagdigdug saat dipegang lengannya oleh Askara.


“Hari ini weekend, jadi aku tidak ke kantor.” Jelas Askara.


“Oh, iya ya, Ica lupa. Ya sudah, Mas istirahat saja, atau duduk-duduk sambil menunggu sarapannya matang. Tapi jangan tidur lagi, tidak baik tidur selepas subuh. Habis sarapan, bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah Ummi dan orang tua Mas? Boleh?” tanya Asiyah.


“Ya, boleh.” Jawab Askara singkat.


“Asiik.” Asiyah kegirangan. Ia lalu turun ke bawah dengan wajah yang berseri-seri.


Usai menyelesaikan sarapan, mereka berdua lalu berangkat ke kediaman kedua orang tua Askara terlebih dahulu karena itu yang paling dekat dengan rumah mereka. Askara lalu memanaskan mobilnya, sementara Asiyah menyiapkan barang bawaan yang akan dibawa ke rumah orang tuanya dan mertuanya. Usai selesai, mereka pun berangkat.


Asiyah lalu memasang sabuk pengaman, Askara membantunya untuk memasang sabuk pengaman tersebut. Askara lalu memegang lengan Asiyah.


“kenapa mas?” Tanya Askara.


“Lenganmu memar, ini pasti gara-gara semalam. Maaf, semalam aku terlalu...” belum sempat Askara menyelesaikan ucapannya Asiyah langsung menyelanya.


“Tidak apa-apa Mas, ini bisa ditutupi dengan baju. Lagian ica gak papa kok.” Jawab Asiyah.


Mereka pun berangkat. Mereka tiba di kediaman orang tua Askara. Kebetulan, pagi itu kedua orang tua Askara sedang senam di halaman rumahnya. Mereka tampak sennag saat kedatangan Askara dan Asiyah.


“Menantu.” Ucap Mamah sambil memeluk Asiyah.


“Assalamualaikum Mah.” Ucap Asiyah sambil mencium lengan Mamah Askara.


“Waalaikumsalam.” Jawab Mamah sambil tersenyum ramah.


“Tumben kau kemari, Ayah kira kau akan selamanya di sana jika kami tidak menyuruhmu kemari.” Ledek Ayah Askara.


“Ini pasti berkat menantu, lihatlah, Askara banyak berubah sejak tinggal bersama menantu. Ia jadi lebih rapih dan terkesan sopan kan yah?” Ujar Mamah.


“Ah, benar Mah. Ya sudah, ayo Masuk.” Mereka lalu berjalan ke rumah. Tapi mereka dikagetkan dengan sebuah mobil yang masuk ke halaman mereka. Keluar seseorang dari mobil itu.

__ADS_1


“Dewangga!” Ucap Mamah dan Ayah secara bersamaan.


“Dewangga?” Asiyah bingung. Ia lalu menatap Askara, wajah Askara berubah ketus. Siapa sebenarnya Dewangga itu? Mengapa mereka terlihat kaget saat orang yag dipanggil Dewangga itu datang ke sini?


__ADS_2