
“Kita akan menghadapi mereka secara langsung”. Ucap petugas itu dengan tatapan tajam.
“Jika memang itu jalan terakhirnya maka ayo kita lakukan sekarang juga. Sebelum semuanya terlambat.” Jawab Asiyah.
“Ibu yakin?” petugas itu masih ragu dengan keputusan Asiyah.
“Aku yakin. Ayo.” Asiyah lalu naik ke lift.
“Tidak. Kita tidak bisa langsung ke atas. kita harus menyiapkan rencana terlebih dahulu.” Ucap Petugas itu.
“Baik, apa rencananya?” Asiyah kembali turun dari lift.
“Ibu akan mengenakan seragam saya dan saya akan mengenakan baju ibu. Nampaknya para mafia itu belum mengetahui identitas ibu karena ibu mengenakan cadar, jadi saya rasa mereka bisa dikelabuhi.” Jelas petugas itu.
“Tapi itu sama saja aku mengorbankanmu. Tidak, aku tidak setuju dengan rencanamu.” Kata Asiyah tegas.
“Tidak ada cara lain lagi Bu, ibu harus keluar dari sini dengan selamat. Lagi pula jika saya yang tertangkap saya masih bisa melepaskan diri.” Petugas itu mecoba meyakinkan Asiyah.
“Tapi aku masih tak yakin. Aku tidak ingin mengorbankan siapapun di sini.” Ucap Asiyah.
“Tidak Bu, saya pasti akan selamat. Tak usah terlalu mengkhawatirkan saya, sekarang kondisi Ibu yang lebih penting.” Kata petugas itu.
“Tapi...” Asiyah masih ragu.
“Tidak ada tapi-tapi Bu, para mafia itu sudah semakin dekat, kita tidak bisa buang waktu lagi.” Petugas itu lalu mecopot seragamnya.
Akhirnya Asiyah menuruti ucapan petugas itu. Ia dan petugas itu lalu menjalankan rencana mereka. Usai mengganti bajunya dengan seragam, Asiyah lalu naik ke lift.
“Peganglah ini Bu, alat ini terhubung dengan kepala bagian peneliti kita. Jika sesuatu terjadi pada Ibu maka nyalakan alat ini dan beri tahu kondisi Ibu.” Petugas itu lalu menyerahka HT kepada Asiyah. Asiyah menerimanya dengan ragu. Petugas tanpa berpikir panjang langsung menutup pintu lift dan menekan tombol naik. Asiyah kemudian naik ke atas.
Tak lama setelah naik beberapa saat, Asiyah mendengar suara tembakan dari arah bawah, apa jangan-jangan...
__ADS_1
Asiyah menangis, ia takut terjadi sesuatu pada petugas itu, tetapi lift ini tidak bisa kembali turun ke bawah. Petugas itu sudah menyetel lift ini agar hanya sekali jalan. Ia mungkin sudah menebak jika akan terjadi sesuatu di bawah. Asiyah mulai panik. Sekujur tubuhnya gemetaran, ia mencoba untuk mengontrol dirinya agar tetap tenang.
Asiyah harus keluar dari tempat ini dengan selamat, itu pesan dari petugas tadi. Asiyah menangis saat mengingat petugas itu. Petugas itu adalah sosok wanita paruh baya yang hampir seumuran dengan ibunya. Asiyah lalu merasa teriris hatinya saat harus membayangkan kondisi petugas itu saat ini.
Tak lama pintu lift pun terbuka. Asiyah bisa melihat seberkas cahaya yang mulai masuk ke celah pintu sedikit-demi sedikit. Pintu lift pun terbuka, ia bisa melihat kondisi sekeliling. Ternyata di sekelilingnya adalah hutan belantara. Tak ada tanda-tanda dari mafia itu. Asiyah lalu mulai melangkahkan kakinya dengan ragu. Asiyah terus menggenggam erat HT yang diberikan oleh petugas itu. Sambil melirik ke arah sekeliling, Asiyah berjalan dengan penuh kewaspadaan. Ia berjalan terus ke depan.
Sebenarnya ia tak tahu harus berjalan ke mana, yang jelas ia harus menghindari mafia itu. Asiyah berjalan sendirian di tengah hutan belantara itu. Yang ia khawatirkan bukan hanya kemunculan para mafia melainkan juga hewan buas penghuni hutan ini.
Asiyah terus berjalan, dalam hatinya ia tak henti-hentinya melantunkan dzikir dan doa kepada Allah. Asiyah kini tengah diselimuti oleh kehawatiran dan ketakutan. Tak lama terdengar suara dari arah yang berlawanan.
“Siapa di sana?” Reflek Asiyah berkata demikian.
“...” hening, tidak ada yang menjawab.
“sssrrkkk” Suara itu kembali terdengar. Suara seperti ranting-ranting yang bergesekan dengan sesuatu. Suara patahan ranting yang diinjak oleh sesuatu. Suara langkah kaki yang cepat, menuju ke arah Asiyah.
“Tenang Ca, kamu punya Allah yang maha kuat.” Asiyah mencoba meyakinkan dirinya agar tetap berani untuk maju terus.
“Aaaaarrrgggghhh!” Asiyah menjerit dengan kencang. Tetapi jeritannya pun terhenti.
Sesuatu yang kini tengah mendekatinya itu kini menutupi mulutnya. Membekap Asiyah dengan paksa sehingga Asiyah tak mampu untuk berteriak lagi.
Asiyah mencoba melawan, ia terus mencoba melepaskan lengan seseorang yang menyumpal mulutnya itu. Tetapi seseorang itu nampaknya terlalu kuat. Asiyah lalu pingsan karena ternyata kain untuk menyumpalnya itu telah diberi obat bius.
“Diam juga akhirnya dia.” Ucap orang itu.
“Mau kau apakan dia?” ternyata ia tak sendiri, orang itu dikawal oleh seseorang lainnya.
“Kita lihat saja nanti.” Ucap orang itu.
Asiyah lalu diseret paksa oleh orang itu menuju sebuah mobil gunung. Dua orang itu lalu menaruh Asiyah di bagian belakang mobil. Tangan dan kaki Asiyah diikat, matanya ditutup dan mulutnya disumbat. Asiyah diperlakukan layaknya sandraan.
__ADS_1
Mobil itu melaju membelah kutan belantara. Mobil itu menuju ke sebuah bukit. Di bukit itu terdapat sebuah gua rahasia. Mobil itu lalu berhenti di depan mulut gua itu. Saat mobil itu berhenti, beberapa orang keluar dari gua tersebut. Mereka tampak mencurigakan. Asiyah lalu diangkut oleh mereka menggunakan suatu alat.
“Tak kusangka kau akhirnya melakukannya juga. Kau memang pria yang tak terduga.” Ucap salah seorang yang baru keluar dari gua.
“Aku akan melakukan apapun untuk hasratku. Tak akan ada yang bisa menghalangiku.” Ucap pria yang menculik Asiyah.
“Terserah kau, aku tak peduli. Yang jelas, aku hanya tidak ingin hal ini berdampak pada tujuanku.” Ucap orang itu.
“Tenang, semua akan berjalan sesuai rencana. Ku hanya perlu diam dan menyaksikan saja. Adn see teh show begin!” Ucap pria itu dengan tawa liciknya.
“Ok, good.” Orang itu lalu kembali masuk ke gua itu.
Sementara pria itu masih berdiri di depan mulut gua. Pria itu lalu merogoh sakunya. Ia mengambil sebuah smartphone dan menyalakannya. Ia menempelkan alat tambahan agar smarthphone itu bisa terhubung ke jaringan karena tempat ini tidka bisa dijangkau dan diakses dengan apapun.
Setelah smartphone nya terhubung ke jaringan, pria itu lalu mengklik sebuah nomor yang sudah ia simpan sejak lama. Ia lalu menghubungi nomor itu.
“Tuuut...” Lama sekali nomor itu untuk menjawab.
“Halo, siapa kau?” terdengar suara bentakan yang keluar dari telpon itu.
“Tenanglah, santai. Tak ada yang perlu kau takutkan.” Ucap pria itu dengan nada lembut yang dibuat-buat.
“Kau pasti dalang dibalik semua ini kan? Dimana kau sembunyikan istriku hah?” Ternyata nomor itu milik Askara. Askara terdegar marah-marah dan membentak pria itu.
“Istrimu aman di tempatku, sudah kubilang jangan khawatirkan apapun.” Pria itu kini mengeluarkan rokok dari kantongnya. Ia mulai menyalakan rokok itu sambi bertelponan dengan Askara.
“Buang basa basimu itu. Jadi kau mau apa dariku hah? Jangan harap aku mau menurutinya. Aku tengah melacak posisimu, begitu aku tahu keberadaanmu maka jangan harap kau akan lolos.” Ucap Askara dengan berapi-api.
“Ya, silahkan saja coba jika kau bisa. tetapi jika gagal, aku minta satu hal, datanglah nanti ke sutu tempat yang telah aku janjikan, bawa orang tuamu sekalian, jika kau ingin isrtimu kembali ke pangkuanmu dengan selamat.” Ancam pria itu.
“Jangan harap, tunggu saja hingga aku menangkap basah dirimu dan ku jebloskan kau ke penjara hingga membusuk.” Askara lalu menutup telpon itu dengan emosi.
__ADS_1