Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 25


__ADS_3

Asiyah keluar dari ruangan itu dengan spontan. Rasanya, ruangan itu berubah menjadi menyesakkan. Rasa pedih di hatinya mulai timbul. Dewangga yang menyaksikan Asiyah pergi begitu saja langsung mengejarnya.


“Asiyah! Kau mau kemana?” Dewangga kaget melihat sikap Asiyah yang spontan.


Asiyah berlari dengan sangat kencang. Air matanya sudah berada di ujung pelipis matanya. Asiyah tak menghiraukan Dewangga sedikitpun. pria itu terus mengejar Asiyah.


Asiyah kembali naik ke lantai atas. Ia ternyata hendak menemui Askara, suaminya. Asiyah langsung masuk ke ruang Askara begitu saja. Padahal saat itu Askara tengah dalam waktu istirahat. Mendengar kedatangan Asiyah, Askara langsung terbangun. Asiyah lalu duduk di samping Askara.


“Mas.” Kini air mata itu menetes dengan perlahan.


“Ada apa?” Jawab Askara pelan. Kondisinya masih lemah.


“Ica sudah putuskan.” Ucap Asiyah dengan isak tangis.


“Benarkah? Kau yakin?” Tanya Askara.


“Ya, Ica sudah yakin dan bulat dengan keputusan Ica.” Jawab Asiyah.


“Lalu apa jawabanmu?” Tanya Askara.


“Ica akan tetap bersama dengan Mas walau apapun yang terjadi pada Mas. Ica akan setia pada Mas, baik itu di kala senang maupun sulit. Di kala lapang maupun sempit. Ica akan mengabdikan hidup Ica sebagai istri Mas seorang.” Ucap Asiyah. Matannya berbinar-binar. Mukanya menunjukkan kesungguhan dalam perkataannya.


Mendengar hal itu Askara senang bukan main. baginya itu adalah obat terbaik yang ia terima selama di sini. setelah mendengar hal itu rasanya seluruh luka Askara jadi sembuh seketika. Seakan tidak ada sakit atau beban sedikitpun dalam hidupnya.


“Apakah kau bersungguh-sungguh atas ucapanmu barusan?” Askara masih setengah tak percaya.


“Ica bersungguh-sungguh Mas.” Asiyah kembali meyakinkan.


“Aku benar-benar lega mendengarnya.” Ucap Askara dengan embusan nafas yang ringan.


Askara lalu memegang pipi Asiyah dengan lembut dan menatapnya dengan kesungguhan. Sementara Asiyah mengelus lengan Askara dan menatapnya dengan tatapan yang menyejukkan.


Dewangga mendengarkan semua ucapan mereka berdua dari balik pintu. Matanya berubah benci saat itu juga. Ia kemudian meludah ke arah kiri lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


“Tidak apa, masih ada waktu yang lain.” Ucap Dewangga dengan nada sinisnya.


Tak lama, Ayah dan Mamah masuk ke ruangan itu. Ayah dan Mamah kaget saat melihat Askara dan Asiyah yang sudah kembali terlihat akur. Ayah dan Mamah pun tersenyum hangat.

__ADS_1


“Nak.” Mamah lalu duduk di samping Asiyah.


“Mah.” Asiyah lalu mencium tangan Mamah.


“Kau sudah memutuskannya?” Tanya Mamah.


“...” Asiyah lalu mengangguk pelan.


“Apa jawabanmu?” Tanya Ayah penasaran.


“Kami tetap bersama-sama.” Askara justru yang menjawabnya.


“Benarkah?” Tanya Mamah dan Ayah secara bersamaan.


“...” Asiyah menatap Askara, begitupun sebaliknya. Mereka lalu mengangguk bersamaan.


“Alhamdulillah. Mamah ikut senang mendengarnya. Mamah dan Ayah akan selalu mendoakan kalian, semoga rumah tangga kalian langgeng ya Yah?” Ucap Mamah.


“Iya.” Jawab Ayah sambil tersenyum bahagia.


“InysaAllah, Ica sudah siap dengan resiko yang akan Ica dan Mas hadapi. Termasuk jika harus tinggal di sini untuk waktu yang lama. Selama Ica bersama Mas dan Mas ridha dengan Ica, InsyaAllah Ica terima.” Jawab Asiyah.


“Ya sudah, kalau begitu sekarang kalian istirahat. Besok kita pikirkan lagi jalan keluarnya.” Ucap Mamah.


Askara dan Asiyah lalu mengagguk.


“Kami keluar sekarang ya. Menantu, kami titipkan Askara padamu ya.” Ucap Ayah.


“...”Asiyah mengangguk lembut. Ayah dan Mamah pun keluar ruangan.


Asiyah hendak beranjak, Askara lalu memegang lengan Asiyah.


“Kau mau kemana?” Tanya Askara.


“Ica mau ambil wudhu Mas. Ica mau shalat.” Jawab Asiyah.


“Tunggu, aku juga ingin shalat. Bimbing aku untuk shalat.” Ucap Askara dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


“MasyaAllah.” Bahagia bukan main mendengar hal itu. Asiyah langsung sujud syukur saat itu juga.


Askara lalu dibantu Ayah untuk mengambil wudhu. Setelah itu Askara dan Asiyah melaksanakan shalat.


Usai Shalat Asiyah lalu mencium tangan Askara.


“Ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Ucap Askara.


“Apa Mas?” Asiyah lalu duduk di samping Askara.


“Ini terkait Abi mu. Lebih tepatnya, alasan mengapa Abi mu tiba-tiba mempercayakan kau kepadaku.” Ucap Askara.


Asiyah lalu diam mendengarkan dengan penuh seksama.


“Aku pertama kali bertemu dengan Pak Syarif di Masjid dekat rumahmu. Kebetulan saat itu aku tengah mengintai target yang menjadi buruan kelompok mafia. Tiba-tiba Pak Syarif yang datang dari arah masjid mendekatiku. ‘Nak, ayo sholat bersama’ itulah ucapan pertamanya padaku.”


“Aku lalu menurutinya begitu saja. Ternyata beliau juga imam masjid itu, suaranya begitu merdu, dan suara itu berhasil menyentuh ke relung hatiku. Setelah perjumpaan dengannya hatiku menjadi gelisah. Entah kenapa, tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal.”


“Di lain waktu kami kembali bertemu. Pak Syarif tengah mencari kucingnya yang hilang, dan kebetulan saat itu aku juga tengah berada di daerah situ, aku tiba-tiba dihampiri oleh seekor kucing yang meminta makanan di bawah kakiku. Aku lalu memberikan ayam dari piringku ke kucing itu. Kucing itu lalu membawanya pergi.”


“Tak lama kucing itu kembali lagi padaku, tapi dengan Pak Syarif di belakangnya. Dia bilang begini : ‘kucing saya telah mencuri ayam dari tempat makan ini, jadi saya kemari untuk memberi ganti rugi’ aku langsung spontan bilang padanya kalau aku memang sengaja memberikannya, kucing itu tidak mencurinya. Setelah kejadian itu, entah kenapa kami jadi sering bertemu.”


“Seperti saat aku menyamar jadi donatur untuk sebuah panti asuhan di daerah situ. Sebenarnya aku tengah ditugaskan untuk mencuci dana dari mafia itu. Aku lalu menyumbangkan uang dari mafia itu ke panti asuhan dengan jumlah yang tidak main-main. kebetulan juga ternyata Pak Syariflah yang menjadi pegurus panti itu. Entah kenapa aku selalu dipertemukan dengannya dalam kondisi yang seolah baik di matanya, padahal sebenarnya tidak.” Jelas Askara.


“Mungkin memang sudah begitu jalannya Mas. Allah telah menyusun sedemikian rupa agar Mas bisa meluluhkan hati Abi. Allah yang membuat Abi memutuskan untuk menikahkan Mas dengan Ica. Allah yang sudah mengaturnya Mas.” Jawab Asiyah merespons semua cerita dari Askara.


“Ya mungkin benar. Dan malam tadi, aku bermimpi bertemu dengan Pak Syarif. Padahal, belum pernah sebelumnya aku memimpikannya.” Ucap Askara sambil kembali mengingat-ingat mimpi itu.


“Memangnya Mas mimpi apa?” Tanya Asiyah.


“Saat itu aku mimpi melihat Pak Syarif di sebuah taman yang luas nan indah. Belum pernah aku melihat tempat yang seindah itu. Pak Syarif tengah duduk di sebuah bangku, aku lalu menghampirinya. Pak Syarif lalu tersenyum padaku. Aku pun balik tersenyum padanya. Pak Syarif lalu menyuruhku untuk duduk di sebelahnya.”


“Aku menurutinya, ia lalu mengeluarkan sebuah Alquran. Di bilang seperti ini : ‘pegang ini bersama anakku Asiyah, ku titipkan anakku padamu. Tuntunlah ia, bersama ini, kau bawa ia menuju kebahagiaan yang sejati.’ Pak Syarif mengelus lembut sampul al-quran itu dan menyerahlannya padaku. Aku lalu menerimanya. Setelah itu ia lalu berjalan pergi meninggalkanku. Aku hendak mengejarnya, aku masih ingn bertanya dan berbincang padanya tetapi ia hanya melambaikan tangan.”


“saat aku berlari lalu berteriak’tunggu’ Pak Syarif bilang seperti ini: Kau tidak usah takut, selama kau menggenggam itu dengan erat bersama istrimu, kau pasti akan sampi ke sini dan bertemu denganku lagi.’ Pak Syarif lalu menghilang diantara cahaya putih yang begitu menyilaukanku dan setelah itu akupun terbangun dari mimpiku.” Ucap Askara.


Mendengar penjelasan dari Askara, Asiyah menangis perlahan-lahan. Ia begitu terharu saat mendengar cerita yang disampaikan oleh Askara.

__ADS_1


__ADS_2