Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 37


__ADS_3

“Hahaha...Lihatlah! sungguh ironi.” Ucap Wirga dengan puas.


“Lepaskan Ayahku!”Ucap Askara dengan kesal.


“Bagaimana jika aku tidak mau?” Wirga kini mendekati Askara.


“Jangan pernah kau berani sedikitpun untuk menyentuh anakku Wirga!”Teriak Ayah dengan lantang.


“Tentu, dengan senang hati akan kuhabisi dia bersamamu.” Wirga lalu mencekik Askara dengan kencang.


“Wirga!” Ayah benar-benar mengamuk.


“Baik, sudah kulepas. Tetapi, bukan ini yang akan kulakukan pada kalian. Aku akan menghabisi kalian secara bersamaan. Ahahaha.” Ucap Wirga lalu melepaskan cekikannya.


“Jangan harap kau bisa menyakiti kami!” Askara dengan emosi langsung memberontak dan balik menyerang Wirga.


“Bajingan!” Wirga langsung melancarkan serangannya kepada Askara. Dewangga ikut serta dalam penyerangan itu. Hampir seluruh anggota mafia ikut serta dalam penyerangan itu. Askara dan Dewangga kalah jumlah, tetapi serangan mereka berdua tidak bisa diremehkan. Mungkin jumlah mafia itu banyak, tetapi Askara dan Dewangga mampu membuat para mafia itu kewalahan, termasuk Wirga.


Askara kemudian mundur perlahan untuk menyerang para mafia lain. Dan kini Dewangga lah yang mengambil alih perlawanan kepada Wirga. Askara berencana untuk membebaskan sang Ayah dari tangan para mafia itu.


Wirga dan anak buahnya benar-benar dibuat kewalahan. Askara sudah hampir mendekati posisi dimana ayahnya ditahan. Melihat kondisi itu Wirga semakin kesal. Askara berhasil sampai di posisi Ayahnya. Ia lalu menyerang dengan telak para mafia yang mewanawan ayahnya. Askara lalu berusaha untuk membuka borgol dan besi yang terikat di tubuh ayahnya. Melihat hal itu membuat Wirga sangat geram.


“Cukup sudah!” Ucap Wirga dengan nada bicara yang menyebalkan.


“Dor.” Terdengar suara tembakan. Mendengar hal itu semua orang kaget. Askara langsung merunduk. Selang beberapa waktu ia kembali bangkit. Ia melihat kondisi Ayahnya. Ternyata aman. Askara bergegas mendekati ayahnya. Akhirya Askara bisa membebaskan Ayahnya. Tetapi Ayahnya nampak syok. Askara penasaran, ia kemudian berbalik badan.


“Dewangga!” Teriak Askara.

__ADS_1


Dewangga terkulai tak berdaya di lantai. Wirga memegangi bagian kepala Dewangga. Teryata suara tembakan itu berasal dari sana. Wirga menembakan senapannya tepat di kepala Dewangga. Askara langsung emosi. Ia menyerang Wirga dengan brutal dan tanpa perhitungan. Askara tak perduli walau lawanya saat ini memegang sebuah senjata.


“Aaaarrrrgggh!” Askara berlari kencang menuju Wirga. Ia langsung menikam Wirga dengan sebuah pisau. Wirga juga menembakkan kembali senapannya kearaH Askara, tetapi sialnya meleset. Askara kini sudah berada tepat di hadapannya. Askara mulanya meninju dengan keras di bagian kepala. Wirga langsung terjatuh, senapannya terpental ke lantai. Askara langsung menjauhkan senapan itu dari arah Wirga.


“Kau! Bajingan yang telah berani menghancurkan keluargaku! Kau pantas menerima ini!” Askara langsung menusukkan pisau yang ia pegang ke bagian perut Wriga. Askara juga mengeluarkan sebuah senapan dari sakunya. Ia langsung menembakkan senapan itu tepat ke arah jantung Wirga.


“Ini belum seberapa. Tetapi aku ingin melihatmu mati secara perlahan.” Ucap Askara. Ternyata senapan itu bukanlah sebuah senjata yang mematikan, melainkan senapan bius. Wirga hanya dibuat tak sadarkan diri oleh Askara.


Usai menaklukan Wirga, Aksara lalu menghampiri Dewangga. Wajahnya sudah sangat pucat. Darah keluar dari bagian telinga, dan mulutnya. Askara bergegas menolong Dewangga.


“Jangan mati di sini konyol.” Ucap Askara dengan mata yang berkaca-kaca. Walau Dewangga telah berbuat jahat kepadanya, Askara tetap menyayangi Dewangga. Karena bagaimanapun Dewangga adalah saudara kembarnya.


“Sial, padahal aku berniat menghabisimu setelah ini dan membawa kabur harta warisan. Tetapi, aku malah habis di sini, di pangkuanmu.” Ucap Dewangga dengan sisa tenanga yang dimilikinya.


“Jangan banyak bicara bodoh, kau harus menyimpan tenagamu.” Ucap Askara yang kini menitikan Air mata.


“Bertahanlah untuk sebentar lagi, aku akan membawamu ke rumah sakit.” Ucap Askara.


“Dengar, aku tidak habis dengan sia-sia di sini. aku telah menang darimu. Kau harus selalu ingat itu.” Ucap Dewangga dengan senyuman kecil di akhir kalimatnya. Dewangga lalu mengembuskan nafas terakhirnya.


“Dewangga! Bangun! Kumohon, bangunlah!” Askara terus mengguncangkan tubuh Dewangga dengan tangis haru. Ia tak rela saudaranya akan pergi meninggalkannya.


“Dewangga!” Askara lalu memeluk Dewangga dengan erat. Tangis haru pecah saat itu juga.


****


Pagi itu, Askara mengumandangkan adzan terakhir untuk saudaranya. Di pemakaman itu, Askara berjanji untuk tak menumpahkan lagi air matanya. Ia ingin melepas saudaranya dengan damai.

__ADS_1


Saat semua proses telah selesai, satu persatu orang-orang mulai meninggalkan pemakaman itu. Kini hanya tersisa Askara, Asiyah, Mamah dan Ayah.


“Nak, ayo.” Ucap Mamah mengajak pulang kepada Askara.


“Kalian duluan saja.” Jawab Askara.


Memang berat bagi mereka semua untuk melepas Dewangga. Tetapi Askara pribadi rasanya masih belum bisa. akhirnya mereka membiarkan Askara untuk berada di situ lebih lama lagi. Mereka lalu pergi meninggalkan Aksara.


Usai mereka pulang, Askara lalu berbisik di depan nisan saudaranya.


“Ku kira kita akan terus bertengkar untuk waktu yang lama, layaknya seorang saudara. Ya, aku akan selalu kalah darimu karena aku akan selalu menjadi adik kecil bagimu. Tapi tak apa.” Ucap Askara. Saat di tengah ucapan itu, tiba-tiba Askara melihat eorang wanita berbaju hitam yang berjalan menuju ke pemakan Dewangga.


Saat semakin dekat Askara baru menyadari bahwa ternyata itu adalah Nayara. Wanita yang sempat Dewangga bebaskan dari jeratan Wirga. Nayara lalu berdiri tepat di samping makam Dewangga.


“Untuk apa kau ke sini?” Tanya Askara.


“....” Nayara tidak menjawab. Nayara lalu menaburkan bunga di atas makam Dewangga.


“Jawab pertanyaanku!” Kini Askara tampak sedikit kesal.


“Aku ingin meminta maaf padanya. Walau itu mustahil. Aku gagal dalam menyampaikan pesan terakhirnya kepada kalian.” Jawab Nayara.


“Pesan apa?” Askara penasaran.


“Dewangga, mungkin kalian menganggapnya jahat. Tetapi percayalah, dia sebenarnya begitu menyayangi kalian. Dewangga, sebenarnya ingin kembali bersama kalian, diterima kembali diantara kalian. Tetapi, ia bingung harus bagaimana menyampaikannya. Akhirnya ia malah mengambil tindakan yang salah, ia malah menyekap dan menahan kalian di gua itu. Tetapi sejujurnya, ia juga tak ingin mencelakai kalian.”


“Ia hanyalah seorang anak lelaki yang egois dan tak tahu cara untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada keluarganya sendiri. Ia juga sebenarnya haus kasih sayang dari kalian, makanya ia sampai berbuat hal konyol dan bodoh semacam itu. Tetapi percayalah, ia juga menyesali perbuatannya sendiri. Seharusnya, aku mengatakan hal ini saat dia masih berada diantara kalian, tetapi, sekarang semuanya sudah terlambat.” Nayara tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


Askara tak kuasa menahan tangisnya usai mendengar pernyataan dari Nayara. Ternyata Dewangga, saudara kembarnya juga menyayanginya. Askara semakin dibuat menyesal dan bersalah. Kini, ia tak bisa merubahnya lagi, Dewangga sudah istirahat degan tenang. Sementara Askara, akan membawa rasa bersalah dan penyesalan itu sepanjang sisa hidupnya.


__ADS_2