
Dokter menyoroti mata Askara dengan senter. Semua orang tengah berharap cemas akan kondisi Askara. Dokter lalu selesai memeriksa Askara secara keseluruhan.
“Semuanya normal. Kini ia hanya perlu istirahat. Ia sudah dalam masa pemulihan.” Ucap Dokter kepada semua orang yang ada di ruangan itu.
Mendengar hal itu, Asiyah merasa sangat lega. Akhirnya kini suaminya tidak berada dalam kondisi kritis lagi. Asiyah kemudian menanyakan beberapa hal terkait Askara kepada dokter.
“Dok, apakah suami saya mengalami luka di bagian kepala atau semacamnya?” Tanya Asiyah.
“Tidak. Kepalanya normal. Memangnya kenapa?” Ujar Dokter.
“Tidak apa-apa dok. Hanya saja saat suami saya sadar, ia seolah tak mengenali saya.” Asiyah akhirnya mengeluarkan hal yang menjadi kecemasannya saat ini.
“Oh, itu wajar. Ketika pasien baru sadar ingatannya memang belum terkumpul sepennuhnya. Nanti jika pasien sudah benar-benar sadar dan sudah istirahat total, pasti ingatannya normal kembali.” Jelas Dokter kepada Asiyah.
“Oh, begitu ya dok. Terima kasih atas penjelasannya.” Kata Asiyah.
“Iya sama-sama.”
Usai menjelaskan secara detai terkait kondisi Askara kepada pihak keluarga, dokter lalu pergi meninggalkan ruangan.
“Mas.” Asiyah mendekati Askara.
Tiba-tiba Askara berbalik badan.
“Mas, ini Ica Mas, istri Mas.” Ucap Asiyah.
Askara tak bergeming, Mamah dan Ayah pun menghampiri Askara.
“Sadewa, ini istrimu Nak, Apa kau tidak mengenalinya?” Tanya Ayah.
“Jauhkan dia dariku.” Ucap Askara dengan nada dingin.
Mendengar perkataan Askara, hati Asiyah langsung hancur seketika.
“Kau ini kenapa Askara?” Mamah kini ikut menimpali.
“Dia tak pantas untuk berada di sampingku. Kini hidupku sudah hancur, mereka akan selalu memburuku jadi kalian semua jangan dekati aku.” Askara kini marah-marah.
“Apa yang Mas bicarakan? Siapa dan apa yang memburu Mas?” Asiyah tak paham sedikitpun perkataan Askara.
__ADS_1
“Kau, pergi jauh sana! Tak usah bilang kau istriku lagi. Pernikahaan ini sudah berakhir.” Askara tak seharusnya mengatakan hal itu.
Asiyah kaget saat mendengar perkataan dari Askara. Ia sudah tak mampu membendung air matanya. Sambil menangis ia memohon untuk yang terakhir kalinya kepada Askara.
“Mas, apa salah Ica? Jika memang Ica telah melukai Mas, maka Ica mohon ampun yang sebesar-besarnya. Tapi Ica tidak mau meninggalkan Mas, Ica ingin selalu berada di samping Mas.” Ucap Asiyah sembari merintih.
“Pergi! Pergi!” Askara kini mengamuk.
“Nak, lebih baik kau keluar dulu sekarang, kami akan coba membujuk Askara. Mungkin saat ini emosinya belum stabil. Nanti jika ia sudah tenang kau bisa mengunjunginya lagi.” Ucap Ayah kepada Asiyah.
“Baiklah Ayah.” Dengan berat hati Asiyah meninggalkan ruangan itu. Ia keluar dengan derai air mata. Ia tak menyangka jika semuanya akan jadi seperti ini. padahal baru beberapa hari yang lalu Askara memberikannya kejutan yang romantis.
Di dalam ruangan, Mamah dan Ayah mencoba berdiskusi baik-baik dengan Askara. Tak lama Dewangga pun masuk ke ruangan.
“Ada apa ini? mengapa tadi Istri Akara keluar ruangan dengan menangis?” Tanya Dewangga.
“Sadewa berniat meninggalkan Asiyah.” Ucap Mamah dengan berat hati.
“Apa?” Dewangga syok mendengar hal itu.
“Iya, dia bahkan keceplosan membicarakan soal kelompok mafia itu pada Asiyah.” Ayah menimpali.
“Jaga ucapanmu Dewangga.” Ucap Ayah.
“Apa? Memang benar, jika Sadewa sudah tidak mau maka akan kuambil.” Dewangga tertawa cekikikan.
“Kau!” Ayah tampak marah kepada Dewangga.
“Sudahlah Yah, kita fokus saja terhadap masalah kita sekarang. Sadewa, kau tidak bisa meninggalkannya begitu saja.” Ucap Mamah kepada Askara.
“Tapi dia tidak bisa terus menerus bersamaku. Dia bisa dalam bahaya yang besar jika berada dekat denganku.” Ucap Askara.
“Kau berbicara seperti itu seolah kau sangat mencintainya. Apa benar kau mencintainya Sadewa? Jawab pertanyaan Ayah dengan jujur.” Ucap Ayah.
“Mengapa Ayah berfikir demikian?” Askara kaget saat mendengar pertanyaan dari Ayah.
“Jujur saja Sadewa, mesti kau tidak memberi tahu kami pun kami bisa melihat. Kau sebelum bertemu dengan wanita itu sangatlah berbeda dari kau yang sekarang. Dan Alexythimia mu sembuh. kau jadi lebih peka terhadap emosi dan kau juga mampu mengungkapkan emosimu. Sesuatu yang dari dulu kami tidak bisa melakukannya untukmu tapi wanita itu bisa. kau juga mengkhawatirkan keselamatannya, apa lagi kalau bukan cinta?” Jelas Ayah.
“Iya Nak. Kau banyak berubah sejak bertemu dengannya. Mamah rasa kalian tidak bisa dipisahkan. Baik kau atau dia, kalian sama-sama membutuhkan. Membutuhkan kehadiran satu sama lain.” Mamah ikut menimpali.
__ADS_1
“Tapi dia tidak bisa lagi bersamaku.” Ucap Askara dengan putus asa.
“Bisa. kau harus berani menghadapinya sama-sama. Kau juga harus terbuka padanya. Jelaskan padanya terkait apa yang sebenarnya terjadi padamu. Ayah yakin, dia pasti bisa memahamimu dan menerima kondisimu saat ini.” Ayah menasihati Askara.
“Tapi aku takut jika dia kenapa-napa.” Askara terlihat cemas.
“berusahalah semampumu untuk melindunginya. Kami juga akan membantu kalian agar bisa lepas dari jerat mafia sialan itu.” Ucap Mamah.
“Tapi aku tadi sudah melukai hatinya.” Askara kembali bersedih hati.
“Minta maaflah, dia pasti akan memaafkanmu.” Ucap Ayah.
“...” Askara lalu terdiam untuk beberapa saat. Ia tengah memikirkan perkataan dari orang tuanya.
“Bagaimana nak?” Tanya Mamah memastikan.
“Baiklah, aku akan mencobanya.” Askara lalu bangun dari tidurnya.
“Pelan-pelan nak.” Ucap Mamah yang membantu Askara bangun.
“Yah, aku tidak jadi memiliki gadis itu. Tapi tak apa, aku akan terus menunggu.” Dewangga tiba-tiba bersuara. Ia lalu keluar dari ruangan.
Semua orang yang ada di ruangan itu tidak menghiraukan ucapan Dewangga. Mereka tengah fokus untuk membantu Askara duduk di kursi roda.
Ayah dan Mamah lalu mengantar Askara untuk menemui Asiyah. Wanita itu ternyata tengah berdiam diri di masjid yang ada di ruangan itu. Asiyah tengah menangis sambil mengangkat tangannya ke langit. Isak tangisnya sampa terdengar ke telinga Askara.
Melihat istrinya yang tengah menangis, Askara kemudian merasa bersalah. Betapa ia begitu tega melukai hati yang bersih dan lembut itu. Askara lalu dibantu oleh kedua orang tuanya mendekati Asiyah.
“Ica.” Ucap Askara dengan sedikit kaku.
Asiyah berbalik badan, ia begitu kaget saat melihat Askara datang menghampirinya.
“Mas?” Asiyah tampak tak percaya. Ayah dan Mamah hanya bisa tersenyum.
“Kemarilah.” Ucap Askara kepada Asiyah. Asiyah lalu menuruti perkataan Askara. Ia lalu mendekatkan dirinya kepada Askara. Ia lalu bertekuk lutut di hadapan Askara yang tengah duduk di atas kursi roda.
“Mas...” Asiyah kendak berbicara tetapi Askara keburu menyela pembicaraannya.
“Mas minta maaf.” Askara meraih kedua lengan Asiyah lalu memegangnya dengan lembut.
__ADS_1
Kedua bola mata Asiyah langsung berbinar-binar saat mendengar ucapan dari Askara. Tak terasa air matanya tumpah ke pipinya. Askara lalu menghampus air mata Asiyah dengan lembut.