
Pena sudah dipegang di tangan Askara. Sekujur tubuhnya gemetaran bukan main. Askara khawatir jika Dewangga mengambil alih seluruh harta kekayaan milik keluarganya maka ia akan berbuat sewenang-wenang dan membahayakan keluarganya sendiri. Tetapi jika Askara tidak menandatanganni surat itu maka keluarganya dan dirinya juga ada dalam bahaya.
Askara semakin mendekatkan pulpen itu kepada kertas yang ada di hadapannya. Tinggal selangkah lagi maka seluruh kekayaan keluarganya akan akan jatuh ke tangan Dewangga. Askara sudah daat membayangkan kehancuran keluarganya saat seluruh harta jatuh ke tangan Dewangga.
"Sepat tand tangan bodoh!" Dewangga nampak tak sabar.
"...." Askara tak bergeming. Ia tetap diam dengan pulpen di tangannya.
"Arrrggghh!" Asiyah berteriak. Dewangga mencekik Asiyah.
"Lepaskan dia dasar bajingan!" Askara tampak marah.
"Cepat tanda tangani itu sekarang atau dia akan kuhabisi langsung di hadapanmu!" Ucap Dewangga.
"...." Askara akhirnya menandatangani surat itu.
"Ahahaha! Akhirnya, semuanya milikku!" Dewangga girang bukan main.
"Jerat mereka semua dan bawa mereka ke ruang bawah tanah." Ucap Dewangga kepada para pesuruhnya.
Pesuruhnya lalu meringkus mereka dengan rantai. Mamah dan Asiyah menangis ketakutan.
"Apa maksudmu hah? Ini bukan rencana kita!" Nayara tiba-tiba kaget saat melihat Askara diikat dengan rantai.
"Kenapa? Kau mau apa hah?" Dewangga kini menjambak kerah baju Nayara.
"Bangsat! Dasar penipu licik!" Nayara marah dan mencoba memberontak.
"Kau yang bodoh! Sudah jelas kau ditinggalkan oleh Askara! Apa kau tidak lihat dia lebih memilih gadis itu daripada kau! Untuk apa kau masih menginginkannya?" Ucap Dewangga dengan mata berapi-api.
"...." Nayara hanya bisa mendengus.
"Memang benar apa kata orang, cinta itu buta! Sudah jelas dibuang masih saja mengejar. Lalu aku? Apa perdulinya aku denganmu? Apalagi soal percintaan konyolmu. Makan cinta buta mu itu! Jerat dia juga!" Ucap Dewangga lalu memerintahkan pesuruhnya untuk menjerat Nayara juga.
"Apa-apaan ini? Lepaskan aku!" Nayara mencoba memberontak.
Mereka semua akhirnya dijerat dengan rantai dan dibawa ke ruang bawah tanah.
"Cepat jalan." Ucap salah satu petugas kepada Askara.
"Mas, mas..." Asiyah tampak cemas melihat kondisi Askara yang sudah sangat mengkhawatirkan.
"Mengapa semuanya jadi seperti ini?" Ucap Mamah sambil menangis.
"Ini semua gara-gara anak itu! Mengapa ia jadi seperti itu." Ujar Ayah menimpali.
"Jangan banyak bicara dan terus jalan!" Omel salah satu pesuruh dari Dewangga.
__ADS_1
Mereka berjalan menuruni tangga yang curam nan gelap. Mereka tak bisa membayangkan mau diapakan mereka oleh Dewangga. Yang mereka khawatirkan saat ini adalah keselamatan Askara. Kondisi ya sudah sangat mengkhawatirkan. Tetapi mereka tak bisa berbuat apa-apa.
"Bertahanlah nak."Ucap Mamah kepada Askara.
Askara sudah sangat lemas. Wajahnya sudah sangat pucat. Lukanya mengeluarkan darah dengan jumah yang tak sedikit.
"Cukup sudah!" Nayara tiba-tiba memberontak.
Ia melawan para petugas suruha Dewangga dengan brutal. Meski lengannya diikat dengan rantai, ia masih bisa meluncurkan serangan brutal kepada para penjaga itu.
"Brengsek!" Teriak Nayara sambil menumpas para petugas itu. Para petugas yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada Nayara tampak kewalahan menghadapi Nayara seorang diri dengan kondisi masih diikat.
"Kau mau apa Nak?" Mamah tampak bingung saat Nayara mendekatinya.
"Aku tengah mencoba untuk memutus rantai itu. Jadi diamlah di situ." Ucap Nayara sembari mengaitkan rantainya kepada rantai Mamah lalu menariknya dengan sekuat tenaga.
"Crak." Rantai yang menjerat Nayara akhirnya putus.
Nayara kemudian melepaskan rantai yang menjerat Askara. Kemudian melepaskan rantai mereka semua.
"Apa-apaan ini?" Dewangga tiba-tiba muncul dengan wajah sangarnya.
"Beraninya kau mengacaukan rencanaku!" Ucap Dewangga. Ia kemudian mendekati Nayara.
"Dasar kutu busuk!" Ucap Dewangga. Ia lalu menjambak kerah Nayara.
"Lari!" Ucap Nayara lirih kepada mereka.
"Lari sekarang juga! Sebelum semuanya terlambat." Ucap Nayara kembali menegaskan.
"Cepat!" Nayara mencoba berteriak. Nafasnya semakin sesak.
Mereka akhirnya lari dari tempat itu. Ayah memangku Askara yang sudah tak kuat jalan. Mereka mencoba kabur dn menghindar dari para penjaga dan tentunya Dewangga.
"Diam kalian, jangan coba lari dariku." Ucap Dewangga sambil masih memegangi Nayara.
Nayara lalu menggigit lengan Dewangga dengan keras sehingga membuat Dewangga kesakitan. Fokus Dewangga terhadap mereka akhirnya buyar. Mereka bisa melarikan diri.
"Mau kemana kau hah!" Dewangga memegang lengan Nayara saat hendak kabur.
"Lepaskan." Nayara mencoba melepaskan tangan Dewangga.
"Jangan harap!" Dewangga langsung mencekik Nayara.
"Pergilah." Ucap Nayara dengan susuah ayah kepada mereka.
Mereka akhirnya benar-benar pergi dari Dewangga.
__ADS_1
Asiyah meratapi Nayara sambil terus lari. Asiyah tampak mencemaskan Nayara. Setelah itu, Nayara tak terlihat lagi dari pandangan Asiyah.
Mereka menyusuri lorong yang gelap. Entah kemana lorong ini kan berakhir. Tetapi yang jelas mereka harus terus berjalan sejauh mungkin dari tempat tadi.
Ayah nampaknya sudah mulai kelelahan menggendong Askara. Belum lagi kondisi Askara kini sudah tidak sadarkan diri. Gua ini seperti tak berujung. Mereka sudah berjalan cukup jauh tetapi belum juga terlihat jalan keluarnya.
"Bertahanlah Mas." Ucap Asiyah sembari menangis.
Mereka semuanya sudah kelelahan dn hampir putus asa. Rasanya mustahil bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan. Mereka lalu menghentikan langkah mereka. Kaki mereka sudah tidak kuat untuk diseret lebih jauh lagi.
Ditengah kelelahan dan keputusasaan itu, tiba-tiba mereka mendengar suara dari dalam gua itu. Ayah tiba-tiba mengambil posisi wasada. Ia takut jika Dewangga dan suruhannya berhasil menemukan mereka.
Suara itu semakin keras dan rasanya semakin mendekat. Mereka menatap lekat-lekat ke arah kegelapan dimana tempat suara itu berasal. Tiba-tiba muncul sosok dari arah kegelapan itu.
"Bagaimana kalian bisa sampai ke sini?" Ucap sosok yang bentukannya masih samar terlihat. Ia semakin mendekat dan rupanya semakin terlihat. Ternyata seorang kakek tua renta.
"Siapa kau?" Tanya Ayah yang masih curiga pada sosok itu.
"Tenanglah. Aku tidak memiliki niat jahat apapun. Aku adalah penghuni gua ini. Aku tahu persis seluruh gua ini. Kalian pasti tersesat." Ucap Kakek itu.
"Aku masih tidak percaya." Ucap Ayah.
"Huft, kau, usiamu masih jauh dariku. Tapi baguslah, kau punya insting seorang Ayah. Anak lelakimu terluka parah. Boleh aku melihatnya?" Tanya sosok itu.
"Kau mau apakan dia?" Ayah sangat curiga dengan gelagat dari kakek itu.
"Tenanglah, aku hanya akan mendoakannya. Karena sejatinya, Allah lah yang Maha menyembuhkan. Kita hanya bisa berikhtiar." Jawab Kakek itu. Kakek itu lalu mengangkat kedua tangannya dan membacakan beberapa doa kepada Askara.
"Aamiin." Kakek itu lalu menyelesaikan doanya.
"Mari, aku antar kalian untuk keluar dari gua ini. Tinggal beberapa langkah lagi dari sini maka kalian akan sampai di mulut gua." Ucap Kakek itu lalu mulai berjalan.
Ayah menuruti perkataan Kakek itu begitu saja. Mereka akhirnya dipandu oleh Kakek itu untuk keluar dari gua.
Mereka masih harus jalan agak jauh lagi tapi kali ini tujuan mereka benar. Jalan keluar semakin terlihat. Nampak dari secercah cahaya yang terlihat makin lama makin terang.
"Kita hampir keluar Yah." Ucap Mamah dengan girang.
"Alhamdulillahirobbil aalaamiin." Ucap Asiyah.
Mereka akhirnya berhasil keluar dari gua itu.
"Nah, kita sudah sampai. Kalian lanjutkanlah perjalanan kalian. Ingatlah selalu bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kalian." Ucap Kakek itu.
"Terima kasih kek karena sudah menolong kami." Ucap Ayah lalu menjabat tangan kakek itu.
"Ya sama-sama. Berhati-hatilah." Jawab Kakek.
__ADS_1
Mereka lalu berjalan leuar dari gua. Kini mereka menyusuri jalan setapak yang ada di depan gua tersebut. Asiyah kembali menengok ke belakang, Kakek itu masih tersenyum kepada mereka. Asiyah balas tersenyum. Kakek itu seakan tersenyum dan berkata sesuatu padanya.
Asiyah lalu kembali melihat Askara, dia masih bernafas. Asiyan kembali menengok kakek itu lagi tapi sudah tidak ada. Cepat sekali, padahal rentang waktunya tidak sampai satu menit. Siapa kakek itu sebenarnya?