Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 16


__ADS_3

"Sudahlah Ca, gak akan selesai-selesai kalo kamu nangis mulu. Mba aja cape liatnya, masa kamu gak capek sih? Tuh lihat, mata kamu udah bintit gitu. Kamu jadi jelek tau kalo nangis mulu." Mba Asya mengusap air mata yang jatuh di pipi Asiyah. Ia kemudian memeluk adiknya sambil mengelus-elus pundaknya.


"Ica sakit hati Mba. Ica ngerasa sudah diperalat sama mereka. Apa salah Ica sama mereka Mba? Terus Abi, kenapa mereka tega membohongi Abi. Andai Abi masih ada." Tutur Asiyah sembari menangis sesenggukan.


"Hush! Istighfar Ca! Gak boleh mengungkit-ungkit hal yang sudah terjadi. Tidak baik, berandai-andai hal yang sudah lalu. Dari pada Ica berfikir seperti itu lebih baik Ica fikirkan solusi untuk masalah yang sedang Ica hadapi. Bukan meratapi atau bahkan mengungkit hal yang sudah lalu." Mba Asya menasehati.


"Mba mu benar Ca, Ummi paham kamu syok dan sakit hati. Memang tidak mudah baginu untuk melalui semua ini, tapi percayalah pasti ada hikmah dibalik semua ini. Ica harus sabar, banyak berdoa ya nak." Sambung Ummi yang juga duduk di sebelah Asiyah.


"Astagfirullahaladzim." Asiyah mengelus dadanya. Ia kemudian mengelap air mata yang mengalir di pipinya.


"Mending kamu sholat dulu gih Ca, kamu kan belum shalat. Semoga aja setelah sholat perasaan kamu jadi agak baikan dan pikiranmu juga jadi jernih." Mba Asya menasehati.


"Iya Mba." Jawab Asiyah.


Asiyah kemudian mengambil air wudhu. Tangisannya terhapus oleh bulir-bulir air wudhu yang tak hanya mampu membasuh wajahnya tetapi juga membasuh luka di hatinya. Usai mengambil air wudhu Asiyah melanjutkan dengan shalat dzuhur yang ia tambah dengan enam rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat selepasnya.


Asiyah bersujud lama sekali, ia menangis diantara sujudnya. Bersimpuh kepada sang Kuasa, mengadukan segala rasa sakit yang ia alami. Tak lupa ia juga memohon untuk diberikan petunjuk dan jalan keluar atas masalah yang tengah ia hadapi. Ia juga memohon agar diberi kesabaran yang luas.


Selepas sholat Asiyah masih duduk diatas sajadahnya, lama sekali ia berdiam diri di sana. Air mata kerap kali menetes diatas sajadahnya.


Melihat itu Ummi dan Mba Asya merasa tak tega.


"Mi, apa kita datangi saja pihak keluarganya? Mba rasa kita juga berhak meminta penjelasan dari mereka." Ucap Mba Asya.


"Belum saatnya Sya. Ummi rasa, ini permasalahan rumah tangga mereka. Biarkan mereka menyelesaikan nya sendiri dulu. Bila memang sulit untuk menemukan jalan keluarnya baru kita bantu sama-sama. Mungkin dengan masalah ini, Ummi berharap baik Ica maupun suaminya bisa lebih dewasa dan saling terbuka. Saling memahami dan menerima kekurangan masing-masing." Jawab Ummi.


"Baiklah Mi." Ujar Mba Asya.


Asiyah tertidur diatas hamparan sajadah. Ia tengah bermimpi, ia melihat Abinya. Sosok yang saat ini tengah ia rindukan. Tetapi dalam mimpi itu, ia juga melihat Askara, suaminya. Abi menggandeng Askara lalu menyatukan tangan Askara dan Asiyah. Abi kemudian tersenyum pada mereka. Setelah mereka bergandengan tangan, Abi lalu pergi ke suatu tempat yang sangat menyilaukan. Setelah itu Asiyah kemudian terbangun. Ia mendengar ketukan dari pintu kamarnya.


"Ca! Ica!" Ternyata Ummi yang mengetuk.


"Iya, sebentar." Asiyah melepaskan mukenanya lalu membukakan pintu.


"Kamu dari tadi asik di kamar mulu sampai lupa untuk makan." Tutur Ummi.


"Ica ketiduran Ummi." Jawab Asiyah.


"Oh, yasudah. Ummi hanya ingin bilang itu di depan ada tamu, dia bilang ingin bertemu denganmu." Kata Ummi.


"Tamu? Siapa? Mas Askara?" Tanya Asiyah.

__ADS_1


"Bukan. Kalau tidak salah namanya Dewa...."


"Dewangga." Ucap Asiyah membetulkan.


"Nah itu. Kalian saling kenal?" Ummi kembali bertanya.


"Dia yang kata Ica laki-laki yang seharusnya dijodohkan dengan Ica Mi. Dia kembarannya Mas Askara." Jawab Asiyah.


"Lailahaillallah. Sungguh?" Ummi tampak kaget.


"Iya Mi." Kata Asiyah.


"Ya sudah, lebih baik kamu temui dia di luar. Mungkin dia juga mau meluruskan sesuatu." Kata Ummi.


"Baiklah Mi." Asiyah lalu bersiap.


Asiyah lalu turun dari kamarnya. Ia pergi ke teras rumahnya. Di sana sudah ada Dewangga yang menunggunya. Asiyah lalu duduk agak jauh dari Dewangga. Ummi memperhatikan dari dekat pintu rumahnya.


"Ada kepentingan apa kamu kemari?" Tanya Asiyah dengan datar.


"Oh, ayolah jangan terlalu dingin kepadaku." Jawab Dewangga.


"Kalau dirasa tidak ada keperluan maka saya akan kembali masuk ke rumah. Assalamualaikum." Asiyah lalu bangkit.


"Katakan." Ucap Asiyah.


"Aku ingin meminta maaf kepadamu karena dulu aku telah menolak perjodohan denganmu." Ucap Dewangga.


"Tak usah dipikirin, semuanya sudah terjadi." Jawab Asiyah.


"Tetapi aku masih menyimpan penyesalan itu." Tukas Dewangga.


"Relakanlah. Apa yang sudah pergi tak akan pernah kembali." Tutur Asiyah.


"Lalu bagaimana denganmu dan Askara?" Dewangga kembali bertanya.


"Biar itu menjadi urusan rumah tangga kami. Kami akan menyelesaikannya bersama-sama dan saya harap kamu tidak ikut campur." Jawab Asiyah.


"...." Dewangga hanya terdiam.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin dikatakan, saya akan masuk ke rumah sekarang. Assalamualaikum." Asiyah kini benar-benar beranjak.

__ADS_1


"Tunggu Asiyah. Bolehkah aku minta tambahan waktu untuk bisa duduk lebih lama denganmu?" Tanya Dewangga.


"Untuk apa? Tidak baik seorang perempuan apalagi yang sudah beristri duduk bercengkrama dengan pria lain. Jika tidak ada keperluan yang mendesak. Maka saya izin masuk, assalamualaikum." Asiyah melangkah masuk.


"Wa'alaikumsalam. Jawab Dewangga.


"Asiyah!" Terdengar teriakan dari luar. Asiyah kemudian berbalik. Ternyata itu Askara.


"Mas?" Asiyah tampak kaget.


Askara lalu membuka pagar. Ia langsung menghampiri Asiyah. Wajahnya tampak masam saat melihat kehadiran Dewangga di rumah mertuanya.


"Beraninya kau datang kemari!" Askara tampak marah kepada Dewangga.


"Kenapa? Aku tak perduli meski ia sudah jadi milikmu sekalipun. Lagi pula kedatangku ke sini baik-baik." Jawab Dewangga dengan mata liciknya.


"Jaga sikapmu di rumah mertuaku. Awas saja kau." Gertak Askara.


Askara lalu menatap Asiyah. Ia lalu memegang lengan Asiyah.


"Pulanglah bersamaku sekarang." Ucap Askara kepada Asiyah.


"Tapi Mas..." Asiyah mencoba melepaskan lengan Askara.


Kemudian Ummi tiba-tiba menghampiri mereka.


"Pulanglah kembali ke rumah suamimu nak. Tempatmu di sana. Tidak baik pisah atap terlalu lama dengan suamimu. Jika ada masalah maka bicarakanlah dengan suamimu baik-baik, cari jalan keluarnya bersama-sama." Ummi menasihati Asiyah.


Mendengar itu Asiyah langsung luluh. Ia laku menuruti nasihat Ummi nya. Asiyah lalu membawa barang bawaannya kembali. Ia dan Askara lalu pulang bersama. Melihat itu Dewangga jadi kesal. Ia meninggalkan mereka tanpa ucaoan pamit sedikitpun.


"Mi, Ica pamit pulang ya." Ucap Asiyah.


"Iya, hati-hati di jalan ya. Ummi doakan semoga masalah kalian cepat selesai. Semoga rumah tangga kalian selalu harmonis, sakinah, mawadah dan warohmah." Ucap Ummi.


"Aamiin. Kalau begitu Ica pulang ya, Assalamualaikum." Asiyah lalu mencium tangan Ummi. Askara mengikutinya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ummi.


"Mba, makasih ya udah mau nemenin Ica selama di sini. Ica pamit pulang dulu ya." Asiyah memeluk Mba Asya dengan erat.


"Iya, sama-sama." Jawab Mba Asya.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya kembali pulang ke rumah.,


__ADS_2