
Beberapa tahun kemudian.
“Alran! Alvan! Bangun! Jangan Malas-malasan! Ayo sholat subuh! Atau mau Ayah siram pakai air?” Askara terdengar ngomel-ngomel pada kedua anak laki-lakinya. Bagaimana tidak, Adzan subuh sudah berkumandang tetapi kedua anaknya bahkan belum bangun.
“heeemmm.. iya Yah, nih Alvan bangun kok.” Ucap Alvan yang malah menaikkan selimutnya.
“Alran titip dua rokaat aja ya Yah, besok Alran ganti ya.” Ucap Alran sambil menguap.
“Titip? Kamu pikir hutang apa? Bisa di titip-titip segala. Anak siapa sih kok kelakuannya kaya gini.” Ucap Askara dengan jengkel.
“Ya anak kamu lah Mas. Mas aja dulu kayak gitu pas Ica bangunin buat sholat subuh.” Asiyah berdiri di depan pintu kamar Alran dan Alvan.
“sssttt! Jangan bilang begitu di depan anak-anak Ca, malu lah Mas. Itu kan dulu.” Ucap Askara yang kini pipinya menjadi merah padam.
“Yaudah, cepet Al, kalian ambil wudhu sekarang. Ayah tunggu di ruang tamu. Buruan ya, keburu iqomah, nanti kita gak kebagian sholat subuh berjamaah di Mesjid.” Ucap Askara.
“Iya.” Jawab mereka berdua. Akhirnya mereka menuruti ucapan Askara.
Usai berwudhu dan berpakaian rapi mereka pun berangkat sholat subuh berjamaah ke mesjid.
“Alran kau yang bawa nasi kotaknya ya.” Ucap Askara sambil menyerahkan satu keranjang penuh berisi nasi kotak. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk bersedekah setelah shalat subuh dari mesjid. Biasanya mereka mebagi-bagikan makanan ke jemaah mesjid dan orang-orang yang mereka temui di jalan.
“Kok aku lagi sih Yah?”Keluh Alran.
“Adikmu kan sedang cidera tangannya.” Jawab Askara. Alvan baru saja terkilir pergelangan tangannya kemarin setelah mengikuti ekskul basket.
“Kita kan Cuma beda lima menit, aku masih seumuran dengannya. Jadi aku bukan kakaknya dan dia bukan adikku. Kita saudara kembar!” Ucar Alran mencoba menegaskan kembali terkait statusnya di keluarga.
“Ayah tahu Nak, tetapi yang namanya persaudaraan kan ada yang jadi kakak dan ada yang jadi adik. Kau Ayah beri amanah dan kepercayaan sebagai seorang pemimpin wakil Ayah, yang akan menjaga dan mengayomi adikmu. Dan Alvan, kau harus menyayangi kakakmu dan ibumu ya nak. Hiduplah dengan rukun dan saling menjaga satu sama lain.” Tak terasa air mata membasahi pipi Askara saat mengatakan hal itu kepada kedua anaknya. Askara jadi teringat Dewangga, saudara kembarnya.
__ADS_1
“Ayah jangan menangis.” Ucap mereka berdua. Mereka lalu memeluk Askara.
“Yasudah, yuk berangkat.” Ucap Askara. Mereka lalu eprgi ke mesjid bersama-sama.
Hari-hari mereka dipenuhi dengan ketentraman dan kebahagiaan. Apalagi sekarang rumah tangga mereka telah dihiasi oleh tiga orang anak. Si kembar Alran dan Alvan dan si cantik Alsya yang baru berusia lima tahun.
Saat Askara dan si sulung kembar pergi ke mesjid, Asiyah sholat di rumah ditemani oleh Alsya. Alsya anak yang manis dan baik hatinya. Alsya bahkan yang pertama bangun. Ia mencium pipi Aisyah lalu berkata ‘Bunda, Dek Sya mau sholat.’ Asiyah merasa sangat bersyukur karena telah dikaruniai oleh putera dan puteri yang sholeh dan sholehah.
Usai shalat subuh Asiyah lalu mebaca Al-Qur’an bersama Alsya. Alsya tampak antusias mendengarkan. Alsya juga sudah mulai menghafal surah-surah pendek. Bahkan bisa dibilang Alsya sudah hampir hafal juz ke 30. Usai mendengarkan Bundanya mengaji Alsya lalu setor hafalan. Baru yang terakhir Alsya diceritakan kisah islami. Kali ini Alsya diceritakan tentang Ka’bah berhubung juga karena mereka beberapa pekan lagi akan pergi umrah ke tanah suci se keluarga.
“Jadi ka’bah itu kiblatnya orang muslim ya Bun?” Tanya Alsya.
“Iya Nak. Dek Sya kan juga kalo sholat menghadapnya ke sana.” Jawab Asiyah.
“Wah, kalau begitu Dek Sya ingin pergi melihat ka’ah Bunda.” Ucap Alsya dengan wajah polosnya.
“Aamiin, insyaAllah ya nak. Bulan depan kita akan pergi ke sana. Dek Sya Excited?” Ucap Asiyah.
“Ikut, Ayah, Bunda, Dek Sya, Kak Ran, Kak Van, Nenek, dan Kakek inysaAllah akan pergi sama-sama ke tanah suci.” Jawab Asiyah.
“Horeeee!” Alsya senang bukan main.
Tak terasa bulan depan pun sudah tiba. Hari itu, Asiyah tampak sibuk mengecek kembali barang bawaan mereka sebelum pergi ke bandara. Askara ikut membantu Asiyah dalam mengurus barang bawaan mereka.
“Ica rasa semuanya sudah dikemas Mas. insyaAllah tidak ada yang tertinggal.” Ucap Asiyah mengkonfirmasi.
“Yasudah kalau begitu Mas akan angkut barang-barangnya ke mobil.” Ucap Askara. Askara lalu mengangkut barang bawaan ke mobil dibantu dengan supir dan pegawainya.
Mereka akhirnya berangkat ke bandara. Di bandara Askara dan Asiyah agak kerepotan karena barang bawaan yang mereka bawa banyak. Untungnya urusan anak-anak ada Ayah dan Mamah yang membantu. Mereka pun naik ke pesawat.
__ADS_1
Membawa anak-anak untuk ikut pergi umrah ternyata gampang-gampang susah. Untungya Askara dan Asiyah tak terlalu kewalahan karena anak-anak mereka tidak rewel saat di pesawat. Tak terasa mereka sudah tiba di tanah suci. Bukan main bahagianya Askara dan Asiyah saat bisa melaksanakan ibadah umrah bersama keluarga. Asiyah sebenarnya merasa sedikit sedih karena Umminya tidak bisa ikut. Ummi sedang sakit dan tenagh dalam masa pemulihan. Padahal Asiyah sudah memesankan tiket untuk umminya. Tetapi Qadarullah, takdir berkata lain.
Asiyah melaksanakan rangkaian proses ibadah umrah dengan lancar, tetapi ada satu hal yang aneh dari ibadah umrohnya kali ini. saat itu, Asiyah sedang melakukan tawaf, Asiyah tiba-tiba terpish dari rombongan. Saat itu Asiyah juga tengah tidak menggendong Alsya karena Alsya sempat rewel dan ingin digengdong oleh Askara. Si kembar Alvan dan Alran juga ikut bersama Askara. Asiyah kemudian mulai panik saat menyadari bahwa dirinya terpisah dari rombongan.
Tiba-tiba dari arah belakang, Asiyah dihampiri oleh seorang bapak-bapak yang perawakannya mirip sekali dengan Abinya. Seketika Asiyah langsung lupa dengan keadaanya yang tenga terpisah dari rombongan Asiyah hanya fokus memperhatikan bapak-bapak itu.
Entah kenapa, tiba-tiba secara reflek, Asiyah mengikuti langkah kaki bapak-bapak itu. Asiyah langsung menitikan air mata karena teringat denganAbinya.
“Abi.” Panggil Asiyah kepada bapak-bapak itu. Tetapi bapak-bapak itu tidak menengok ke belakang dan terus berjalan. Asiyah terus mengikutinya. Tiba-tiba lengan Asiyah dipegang oleh seseorang.
“Bunda.” Ucap Alvan.
“Eh.” Asiyah langsung tersadar kembali.
“Bunda kemana aja sih? Kok jalannya jauh-jauh dari kita.” Ucap Alran.
“Oh, emmm...” Asiyah tak fokus dengan pertanyaan dari si kembar. Asiyah mencoba untuk menengok lagi ke arah bapak-bapak tadi tapi ternyata sudah tidak ada. Siapa pria itu tadi. Tanya Asiyah dalam hatinya.
Asiyah lalu kembali melanjutkan tawafnya. Akhrinya serangkaian proses ibadah umrah telah selesai. Kini Mereka kembali berkemas untuk pulang ke tanah Air.
Saat sudah tiba di tanah air, Asiyah baru berani menceritakan tentang kejadian saat tawaf itu kepada Askara. Dan terkejutnya lagi Askara juga bilang bahwa ia juga beberapa kali bermimpi tentang Ayahnya Asiyah saat di tanah suci.
“Tidak papa Ca, Mungkin Abi kangen kita.” Ucap Askara.
“Ica pengen bilang terima kasih ke Abi Mas.” Ucap Asiyah.
“Untuk?”
“karena abi telah memilihkan pria yang tepat untuk mendampingi Ica.” Jawab Asiyah.
__ADS_1
“Ya, Mas juga sudah berjanji akan terus menjaga dan menyayangi Ica kepada Abi.” Jawab Askara. Mereka kemudian berpelukan. Askara lalu mencium kening Asiyah. Hari-hari mereka kini diliputi oleh kebahagiaan. Usai beberapa kesulitan yang sempat merea alami di hari lalu.