Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 19


__ADS_3

Askara memeluk Asiyah diantara pertunjukan kembang api itu. Malam itu menjadi malam yang paling romantis di rumah tangga mereka. Di saat-saat romantis itu, sebuah dering telpon mengacaukan momen itu.


“Yah.” Keluh Asiyah dalam hatinya.


Askara lalu menjauh sebentar dari Asiyah untuk mengangkat telpon. Wajah Askara berubah menjadi serius saat melihat siapa penelpon itu. Askara buru-buru mengangkatnya.


“Ya, ada apa?” Tanya Askara dengan suara dinginnya.


“Asakara, tolong bantu aku segera. Aku tengah diburu oleh merea. Entah aku sanggup melarikan diri tau tidak. Yang jelas kau tengah dalam bahaya besar. Mereka akan melenyapkanku segera.” Ucap suara yang berasal dari telpon itu.


“Apa?” Askara kaget saat mendengarnya.


“Tuut.” Panggilan terputus.


“Sial!” Askara kesal, ia langsung meninju tiang kapal yang ada di dekatnya.


Askara lalu bergegas kembali menghampiri Asiyah. Wajahnya sudah tidak tenang lagi. Ia langsung menarik Asiyah dan mengajaknya pulang.


“Kita harus pulang sekarang.” Ucap Askara sambil menarik lengan Asiyah.


“Pulang? Kenapa tiba-tiba mendadak begini Mas?” Asiyah heran dnegan perubahan sikap Askara yang drastis.


“Tak usah banyak tanya. Pokoknya kita pulang sekarang.” Asiyah menarik lengan Asiyah dengan kencang. Asiyah pun menuruti perkataan Askara.


Askara membawa mobil dengan sangat kencang. Asiyah semakin dibuat panik karenanya. Askara kini tak memeprdulikan lagi kondisi Asiyah. Ia terus fokus menyetir hingga sampai rumahnya.


“Turunlah, aku ada urusan penting yang mendesak. Kau jangan kemana-mana. Kunci pintu rumah dan jangan buka pintu jika ada yang hendak masuk.” Ucap Asakra dengans serius.


“Baik Mas, tapi kenapa?” Asiyah masih tak paham.


“Tak usah banyak tanya. Lakukan saja perintahku.” Jawab Askara.


“Baiklah.” Asiyah lalu masuk ke rumah.

__ADS_1


Askara kembali menyetir mobilnya dengan sangat kencang. Jika diperhatikan ia seperti orang mabuk yang tengah menyetir mobil. Askara lalu menghentikan mobilnya secara mendadak. Ia langsung merogoh ponsel dan alat khusus dari dalam sakunya.


“Dia tidak memberikan informasi lokasinya.” Askara lalu mengaktifkan alat itu. Ternyata alat itu adalah alat pelacak. Setelah Askara mengetahui dengan pasti keberasaan penelpon tadi Askara kembali menyetir mobilnya dengan sangat kencang.


Askara tiba di sebuah pelabuhan dengan banyak kontainer besar. Asakara langgsung mengenakan topeng penutup wajah dan berganti pakaian. Saat keluar dari mobil ia langsung berjalan mengendap-endap. Askara juga memegang sebuah pistol di tangannya untuk berjaga-jaga.


Askara terus berjalan dengan mata yang mengintai. Ia menerawang ke sekeliling. Ia berjalan dengan penuh kesiagaan dan kewaspadaan. Saat Askara berjalan selangkah lagi tiba-tiba terdengar suara bunyi peluru dang ditembakan. Ternyata peluru itu mengarah padanya.


Beruntunglah Askara dapat mengindar dari peluru itu. Ia langsung bersembunyi diantara tumukan kontainer besar. Askara lalu mengatur nafasnya yang mulai cepat.


“Sial, mereka beranggotakan lengkap. Jika aku memaksa maju maka aku akan kalah. Aku harus berfikir.” Asakara lalu menyusun strategi. Setelah ia memperoleh strategi, ia langsung bergerak maju lagi.


“Dor!” Kini giliran Asakara yang menembak mereka, nampaknya Asakara berhasil melumpuhkan salah satu dari mereka. Askara tidak membunuhnya, hanya melumpuhkannya untuk waktu sesaat.


Akhirnya aksi tembak menembak pun tak dapat terelakkan. Askara terus mencoba menghindar dari peluru yang menghujaninya. Akhirny Asakara tiba di tujuan utamanya. Yakni tempat dimana Nayara tengah disekap dan hampir dibunuh.


Askara bersembunyi terlebih dahulu. Untungnya mereka masih belum menyadari keberadaan Askara. Askara kemudian nekat maju kembali. Ia menembak ke arah salah satu dari anggota mafia ang tengah menyekap Nayara.


“Siapa itu?” saat melihat salah satu rekannya tertembak, mafia itu langsung mengeluarkan pistolnya disusul dengan mafia lainnya.


“Kerahkan semua anggota. Penyusup itu harus kita ***** habis-habisan.” Mafia itu kini murka.


“Dor!” Askara kembali menembak secara mendadak, tetapi kali ini ia tidak tepat sasaran.


“Hajar!” Seluruh mafia kini murka. Mereka berpencar mencari sumber penembakan itu. Di tengah kepanikan itu, Askara langsung berlari ke arah Nayara. Askara tidak bisa mendekati Nayara karena para mafia itu. Kembali, adegan tembak -menembak tidak dapat terelakkan. Askara masih fokus pada Nayara.


“Lari Nayara!” Teriak Askara.


“Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu!” Jawab Nayara.


“Larilah sebelum semuanya terlambat.” Ucap Askara dengan tegas.


“...” Nayara menggeleng. Tak lama salah satu mafia menyeret Nayara. Usaha Askara akhirnya sia-sia.

__ADS_1


“Tidaak!” Akara berteriak. Karena sedang dalam kondisi lengah, Askara akhirnya tertembak di bagian bahunya. Tak lama darah langsung mengalir deras keluar dari luka tembakan itu. Askara masih mencoba untuk tetap bertahan dan melawan mafia itu.


“Habis kalian semua!” Teriak Askara dengan tembakan mebabi buta. Banyak anggota mafia yang akhirnya tumbang karena serangan dari Askara.


“Sial!” Mafia lain geram. Mereka melancarkan serangan yang tak kalah berbahaya dari Askara. Askara masih bisa menghindarinya dengan sisa tenanga yang ia miliki.


“Sudah kubilang, kalian itu iblis kejam yang membabi buta.” Askara msih sempat-sempatnya mengeluarkan hinaan pada para mafia itu.


“Terimalah ini.” Askara menyerang mereka dengan tembakan bertubi-tubi.


Tetapi mereka juga mampu mengindari serangan Askara yang kini sudah mulai melemah. Mereka punbalik menyerang. Askara masih bisa menghindar. Tetapi di langkah terakhir, Askara sudah tidak kuat. Ia akhirnya jauh tak berdaya.


“Tumbang juga kau kutu sialan.” Ucap mafi itu. Mereka lalu mendekati tubuh Askara. Mereka penasaran dengan identitas asli Askara. Akhirnya mereka membuka topeng yang menutupi wajah Askara. Mereka kaget saat melihat siapa sosok penyerang itu. Ternyata itu adalah Askara, anggota mereka sendiri.


“Tidak mungkin. Lihatlah siapa dalang dibalik semua ini?” Mafia itu tersenyum licik saat melihat wajah Askara. Ia lalu menjambak wajah Asakara dengan kasar.


“Kalian lihat, dia sepertinya tengah mencoba menjadi Robin Hood untuk gadis itu. Padahal dia tidak tahu saja kalau setelah gadis itu, dialah target selanjutnya.” Mafia itu melepaskan kembali wajah Askara ke tanah dengan kasar.


“Bawa dia! Kita serahkan dia ke Ketua. Pasti ketua akan senang melihatnya.” Mafia itu menyuruh anggotanya untuk membawa Askara.


Askara kemudian dibawa ke markas besar dengan Nayara. Nayara menangsi sejadi-jadinya melihat kondisi dan nasib Askara saat ini. ia tak berdaya untuk menolong Askara. Kondisinya juga tengah dalam bahaya saat ini.


Mereka lalu menghadap ketua, Ketua tampak murka saat melihat kedatangan mereka.


“Mengapa kau bawa lagi gadis ini ke hadapanku?” Tanya Ketua dengan wajah murkanya.


“Karena kami gagal dalam menjalankan operasi pelenyapan Alpha ketua. Seseorang telah mengacaukan rencana kami.” Ucap Mafia itu.


“Gagal?” Ketua langsung bangkit dari kursinya. Ia lalu berjalan cepat ke arah mafia itu seperti seekor singa yang tengah memburu mangsanya. Ketua lalu menjambak kerah baju mafia itu.


“Siapa? Siapa yang telah berani mengacaukannya?” Tanya ketua dengan wajah jijik pada mafia itu.


“Ketua bisa lihat sendiri. Orang itu telah berhasil kami lumpuhkan.” Mafia itu lalu berjalan mundur. Para mafi lain lalu membawa tubuh Askara ke hadapan ketua. Saat meihat Askara wajah ketua langsung berubah lebih murka dan lebih seram dari apapun.

__ADS_1


Ketua langsung mendekati tubuh Askara.


“Kau! Berani sekali kau! Kita apakan kira-kira pria sok pahlawan ini?” Ketua mentap jahat kepada wajah Askara yang kini sudah pucat pasi.


__ADS_2