Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 26


__ADS_3

“Abi juga datang ke mimpi Ica semalam.” Ucap Asiyah setelah mendengar Askara selesai bercerita.


“Benarkah?” Tanya Askara.


“Iya, Abi berpesan di mimpi Ica untuk tetap bersama Mas. Abi bilang, Mas adalah lelaki yang baik untuk Ica. Abi juga bilang’tempuhlah jalan kemenangan itu bersama-sama’.” Jelas Asiyah.


“...” Askara terkesima mendengar cerita dari Asiyah.


“Mungkin memang Abi menginginkan kita untuk terus bersama. Ica berharap Ica mampu menjaga amanah itu, untuk terus bersama Mas dan menempuh surganya Allah bersama-sama.” Mata Asiyah berkaca-kaca.


“Aamiin.” Jawab Askara sambil menatap wajah istrinya.


Usai perbincangan itu, Askara kembali beristirahat, sementara Asiyah menunggunya sambil membaca kitab hadist dan tafsir Al-Qur’an sebagai kebiasaannya dalam mengisi waktu kosongnya. Tak terasa hari sudah begitu larut, Asiyah sudah bersiap-siap untuk istirahat. Selepas shalat Isya dan menyuapi akan malam untuk suaminya, Asiyah pun hendak tidur. Namun sesuatu hal yang tak diduga terjadi.


Tiba-tiba terdengar bunyi alarm yang kencang, suara itu berhasil membangunkan Askara dari tidurnya. Asiyah mulai panik. Begitupun dengan semua orang yang ada di ruangan itu.


“Ada apa ini?” Tanya Askara.


“Entahlah Mas, Ica juga kurang tahu dari mana dan apa penyebab suara itu berasal.” Jawab Asiyah.


Tak lama Ayah dan Mamah datang, diikuti dengan Dewangga dan beberapa orang lainnya. Mereka semua tampak panik dan ketakutan. Melihat hal itu, Asiyah jadi ikut panik.


“Kalian harus segera pergi dari tempat ini.” Ucap Ayah dengan tatapan tajam.


“Ada apa?” Tanya Askara.


“Penyusup telah berhasil memasuki tempat ini. ia mengirimkan informasi tempat ini kepada para mafia. Kau dan istrimu harus segera keluar dan pergi dari tempat ini.” Jelas Ayah.


“Apa? Penyusup?” Asiyah kaget.


“Sialan! Bagaimana mereka bisa masuk dengan mudahnya ke dalam tempat ini? apa seseorang telah membocorkan data pribadi dari tempat ini?” Ujar Askara dengan ekspresi kesal.


“hal itu belum kami tahu pasti. Tapi yang jelas kita semua harus segera mengososngkan tempat ini secepatnya dan membawa apapun yang berharga dari tempat ini.” Jelas salah seorang dari tim peneliti.

__ADS_1


“Ayo kita berkemas segera Mas.” Asiyah lalu mengemasi barang bawaannya.


“Tunggu.” Askara memegang tangan Asiyah.


“Kenapa Mas?” Asiyah kaget.


“Kau lihat sendiri kan? Keadaan sudah mulai genting, ada bahaya besar di luar sana. Apa kau yakin akan memilih keputusan ini?” Askara kembali mempertimbangkan keputusannya. Ia tak rela jika sesuatu atau hal buruk terjadi pada istrinya.


“Bismiillah, atas izin Allah, Ica yakin Mas. Ica siap dengan apapun yang akan kita hadapi selama kita masih memiliki Allah di hati kita. Allah pasti akan menjaga dan menolong kita.” Jawab Asiyah. Perkataannya berhasil menguatkan Askara.


Mereka semua lalu sibuk berkemas dan mengeluarkan isi dari ruangan bawah tanah itu ke atas, terutama aset utama dari ruangan itu. Orang-orang dari ruangan itu mulai keluar lewat pintu lift darurat. Kini giliran keluarga inti yang keluar dari ruangan itu. Ayah menyuruh Dewangga untuk keluar bersamanya dan Mamah, tetapi Dewangga tetap bersikukuh ingin keluar bersama Asiyah dan Askara.


“Jika kau tidak menuruti perintah kami maka kau akan kami hapus dari ahli waris, camkan itu baik-baik Dewangga.”Ayah sudah lelah dengan keegoisan Dewangga dan sifat kekanak-kanakannya. Akhirnya Ayah menggunakan senjata terakhirnya, yaitu ancaman. Dewangga pun akhirnya menuruti perkataan Ayah.


Kemudian giliran Askara dan Asiyah yang keluar. Askara dan Asiyah hendak naik lift, tiba-tiba lift berhenti total. Padahal tinggal mereka berdua dan lima orang pegawai dari ruangan itu yang belum keluar. Ayah, Dewangga dan Mamah sudah naik ke atas. Asiyah dan semua orang yang ada di ruangan itu pun panik.


Tak lama berselang lift kembali menyala. Pintu lift terbuka, tapi yang mengagetkannya adalah keluar beberapa sosok misterius dari dalam lift itu. Askara sudah bisa menebak kalau sosok itu ialah para mafia sialan itu. Dengan segera petugas menyembunyikan Askara dan Asiyah. Para petugas itu dibekali dengan ilmu bela diri dan senjata api. Tiga petugas itu pun melawan para mafia yang jumlahnya empat orang itu. Sementara dua petugas lainnya membawa Asiyah dan Askara pergi.


“Dasar mafia bejat! Kau mau apakan tempat ini?” Askara mengamuk.


“Lift daruratnya ada di sebelah kanan ruangan ini. jauh di bawah sana. Kita harus menuruni empat ratus tangga dulu baru bisa sampai sana. Sebenarnya itu lift untuk mengangkut barang tambang ke atas tanah. Tapi itu lift terakhir yang bisa kita akses dengan aman tanpa sepengetahuan para mafia itu.” Jelas salah satu dari petugas yang mengawal mereka.


“Tak apa, asalkan kita bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.”Jawab Asiyah. Mereka pun terus berjalan.


Mereka akhirnya sampai di pintu menuju tangga panjang nan curam itu. Asiyah tak masalah jika harus menuruni tangga itu, tetapi Askara, kondisinya baru selesai operasi dengan bahu nya yang masih dibalut perban. Jalannya saja masih harus dibantu. Asiyah begitu mengkhwatirkan Askara.


“Mas, apa mau Ica bantu?” Tanya Asiyah.


“Tidak usah, aku bisa.” Jawab Askara sambil terus berjalan. Di tengah perjalanan, Asiyah bertambah khawatir saat melihat kondisi wajah Askara yang pucat dan perbannya yang mengeluarkan darah.


“Mas, kita istirahat dulu ya. Ica takut Mas kenapa-napa.” Ucap Asiyah dengan ekspresi khawatir.


“Tidak, aku masih kuat.” Jawab Askara.

__ADS_1


“Apa ini tidak apa?” Tanya Asiyah kepada dua petugas itu.


“Tidak, tetapi Pak Askara harus segera ditangani setelah sampai di atas sana. Kita tidak punya waktu yang banyak, darahnya terus keluar, yang dikhawatirkan adalah kemampuan tubuhnya dan darah yang keluar lewat luka jahitannya. Kita harus bergegas.” Ucap salah satu dari petugas itu.


Setelah itu, petugas lelaki yang bertubuh kekar akhirnya menggendong Askara. Askara ngotot dari tadi tidak mau dibantu. Akhirnya setelah dibujuk dengan terus menerus oleh Asiyah akhirnya Askara mau.


Mereka pun sampai di depan lift itu. Lift itu sangat kecil. Mungkin hanya muat untuk anak kecil. Asiyah tampak ragu.


“Apa ini aman?” Asiyah memastikan.


“Aman bu, kami sering menaiki lift ini jika lift utama dan lift darurat sedang dalam perbaikan.” Jawab salah satu petugas.


“Baiklah, kalau begitu kau naik duluan ke atas, setelah itu Mas, tolong segera bawa Mas ke tempat yang aman dan obati dia. Nanti kami akan menyusul.” Ucap Asiyah mengomandokan.


“Baik bu.” Jawab petugas itu bersamaan.


Petugas pertama pun naik ke atas. tak lama halki talki dari petugas ang di bawah menyala, memberi tahu bahwa ia sudah sampai atas. akhirnya Askara pun dinaikkan. Tak lama HT kembali berbunyi, memberi tahu bahwa Askara berhasil dinaikkan.


Saat Asiyah hendak naik, HT kembali berbunyi.


“lapor, Pak Askara sudah berhasil diamankan, tetapi jalan menuju tempat kalian baru saja dikepung oleh mafia. Aku sedang mencoba untuk kebali lagi tapi tak bisa karena dihadang oleh mafia,....” HT pun terputus secara tiba-tiba.


“tes...tes...” Tak ada respon.


“Gawat Bu, kita nampaknya telah terkepung.” Petugas itu panik.


“Bagaimana dengan Mas?” Tanya Asiyah.


“Dia telah berada di tempat yang aman. Tetapi yang perlu dikhawatirkan saat ini adalah Ibu. Bagaimana agar Ibu bisa keluar dengan selamat.” Petugas itu tampak hampir putus asa.


“alhamdulilah.” Sejenak Asiyah menarik nafas dengan lega.


Apa tidak ada cara lain?” Tanya Asiyah.

__ADS_1


“Ada. Tetapi ini terlalu berbahaya.” Jawab petugas itu.


“Apa? Katakanlah?” Tanya Asiyah dengan tegang. Mereka terus dipacu dengan waktu. Ekspresi petugas itu juga tampak panik. Mereka benar-benar dalam bahaya saat ini.


__ADS_2