
"Kau mencintainya?" Mawar yang tengah menatap lurus ke depan tiba-tiba melirik ke arah Askara yang sedang menyetir mobil.
"Tidak." Jawab Askara yang masih fokus menyetir mobil.
"Lalu kenapa kau menikahinya?" Mawar masih menatap Askara.
"Karena desakan dari orang tuaku."
"Dan kau menuruti mereka begitu saja?"
"Ya."
"Apa? Hah, tak kusangka." Mawar tak puas dengan jawaban daei Askara. Ia lalu mendengus dan memalingkan wajahnya dari Askara.
"Memangnya kau berharap apa?" Askara kini memalingkan wajahnya kepada Mawar.
"Kau tolak desakan dari mereka. Mengapa kau begitu mudah menerima permintaan dari mereka tetapi kau sangat sulit untuk menerima permintaan dariku." Ujar Mawar dengan kesal.
"Karena seperti dia, aku tidak mencintaimu. Aku juga tidak mencintai siapapun." Askara kembali fokus menyetir.
"Kau serius? Setelah semua yang pernah kita lalui? Tak ada satupun yang berkesan di hatimu?"
"Tidak."
"Dasar aneh. Astaga! Atau jangan-jangan kau…." Mawar mulai panik.
"Aku tidak Gay." Askara sudah menebak jalan pikiran Mawar.
"Lalu apa yang membuat mu begini? Mengapa Askara? Apa aku harus terus begini? Lebih parah lagi sekarang ada wanita itu!" Mawar tampak putus asa.
"Aku tidak menintamu untuk mencintaiku atau terus berada di hidupku. Jika kau ingin pergi, silahkan. Aku tidak akan melarangnya. Kau sendiri yang ingin mengejarku." Jawab Askara.
"Hah! Yang beanr saja. Sudah! Aku turun saja di sini! Aku bisa naik taksi sendiri." Mawar tampak sangat kecewa.
"Baiklah." Dengan mudahnya Askara menyetujui perkataan dari Mawar barusan.
__ADS_1
"Hah? Mudahnya kau berkata begitu. Baiklah. Cukup sudah. Aku pergi sekarang." Mawar laku turun dari mobil dengan wajah kusut dan penuh amarah.
Askara lalu mengejar Mawar dengan mobilnya. Mawar tiba-tiba merasa senang karena dia pikir Askara akan mengejarnya. Mobil Askara lalu berhenti di depannya. Askara lalu menurunkan kaca mobilnya dan berkata kepada mawar.
"Tolong kirimkan salinan schedule ku untuk hari ini dan besok. Aku butuh segera." Ucap Askara datar.
"Hah? Kukira kau akan menyuruhku untuk naik mobil lagi. Aku tak percaya ada lelaki sepertimu di dunia ini." Mawar merogoh tablet yang ada di tas nya dengan kesal. Ia lalu mengirimkan salinan schedule itu kepada Askara.
"Sudah terkirim. Terima kasih. Sampai jumpa di kantor." Ucap Askara singkat. Ia lalu melajukan mobilnya.
"Arrrggghhh! Awas kau Askara,! Akan kubuat kau jatuh cinta kepadaku se jatuh-jatuhnya!" Ucap Mawar dengan sangat kesal.
Askara tiba di kantor tepat waktu. Semua karyawan menyambutnya dengan hormat. Mereka tak mengetahui jika CEO mereka adalah seorang mafia. Askara dikenal sebagai sosok CEO yang tegas namun berwibawa juga visioner. Di kantor Askara disegani sekaligus dihormati oleh bawahannya.
"Pagi Pak." Ucap salah satu karyawan Askara yang berpapasan dengan Askara.
"Pagi." Jawab Askara.
Askara tiba-tiba terhenti di sebuah ruangan yang kosong. Penghuni ruangan itu nampaknya tak masuk hari ini. Askara lalu masuk ke ruangan itu. Askara mendekati meja kerja yang ada di ruangan itu. Di atas meja itu terdapat papan nama yang bertuliskan Jendral Manager | Litani Waraga.
"Pak." Seseorang masuk ke ruangan itu.
"Ya, ada apa?" Tanya Askara.
"Ah, rupanya bapak sudah mendengar kabar kepergian Pak Litani. Saya turut berdukacita atas kepergian Pak Litani. Selain itu ada hal lain yang ingin saya sampaikan. Ini terkait posisi Pak Litani di kantor ini." Jelas orang itu.
"Dia telah tiada. Seseorang harus mengganti posisinya." Askara sudah tahu maksud dari orang itu.
"Ya Pak. Kita harus segera merekrut orang untuk menggantikan posisi Pak Litani. Saya sudah melampirkan beberapa CV untuk para kandidat di meja Bapak."
"Baik. Akan ku lihat segera."
"Baik Pak. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Saya izin keluar sekarang. " Orang itu lalu beranjak pergi.
"Ya silahkan." Jawab Askara.
__ADS_1
Askara lalu pergi ke ruang kerjanya. Di depan ruangannya sudah ada Mawar dan wakil sekertarinya yang tengah bekerja. Askara sengaja tak menyapa atau menengok ke arah Mawar. Askara tahu gadis itu tengah marah padanya.
Askara lalu duduk di meja kerjanya. Ia mulai membuka CV para pelamar. Askara tak menemukan kandidat yang cocok dari semua CV itu. Ia mulai merasa bosan. Askara lalu menutup CV yang menumpuk itu dan mulai mengerjakan pekerjaan lainnya.
Usai menyelesaikan pekerjaannya yang padat dan super sibuk akhirnya Askara bisa pulang juga. Askara lalu pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri, tiba-tiba di tengah jalan Askara mendapatkan telpon. Askara membuka layar ponselnya dan melihat panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Askara tanpa ragu langsung mengangkat telpon itu.
"Ya. Aku sudah selesai dengan semua pekerjaanku." Askara berbicara dengan nada yang sedikit aneh.
"Baik. Aku akan ke sana sekarang." Askara menutup layar telponnya lalu menyalakan kembali mesin mobilnya. Askara lalu pergi ke suatu tempat, yang jelas bukan ke rumahnya.
Sementara itu, di rumah, Asiyah tengah menanti kepulangan Askara. Sebelumnya ia telah mengirim pesan pada Askara di aplikasi chatting untuk segera pulang setelah pekerjaannya selesai. Asiyah bilang pada Askara kalau hari ini ia memasak menu yang spesial untuk Askara. Jadi Askara tidak boleh pergi makan di luar.
Asiyah duduk di meja makan sambil memandangi masakannya. Beberapa kali ia membenarkan posisi hidangannya. Ia juga sengaja tak makan duluan agar bisa makan malam bersama Askara.
Tetapi Askara tak kunjung pulang juga. Lama sekali Asiyah menunggu kepulangan Askara. Sampai Asiyah terlelap tidur di meja makan. Asiyah kemudian terbangun lagi. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu pukul 11 malam. Asiyah mulai cemas, kemana suaminya pergi hingga selarut ini. Asiyah lalu berjalan ke ruang tamu. Ia duduk di ruang tamu untuk menunggu Askara pulang.
"Ya Allah kemana suamiku pergi hingga selarut ini? Tolong jaga ia dimanapun ia berada Y Allah, semoga ia selalu dalam lindungan-Mu. aamiin."
Asiyah lalu pergi ke kamarnya. Tak lama Asiyah mendengar suara mobil Askara. Asiyah langsung turun ke bawah dan menyambut Askara. Asiyah tiba-tiba kaget saat melihat kondisi Askara yang babak belur.
"Mas? Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?" Asiyah lalu menuntun Askara untuk berjalan.
"..." Askara tak menjawab pertanyaan dari Asiyah. Asiyah lalu membaringkan Askara di sofa. Asiyah segera mengambil kotak p3k dan mengobati luka Askara.
"Ya Allah, kenapa wajah mas bisa sampai babak belur begini? Mas gak berantem atau tawuran kan?" Tanya Asiyah sambil mengoleskan obat merah ke luka yang ada di bibir Askara.
"Tausah banyak tanya." Askara kemudian berbicara pelan.
"Tausah banyak tanya bagaimana? Jelas-jelas Ica khawatir mas. Mas berangkat baik-baik saja, tapi pulang-pulang sudah begini." Asiyah kini tampak sedih.
"Mengapa kau tampak sedih? Aku yang terluka, bukan kau." Askara heran dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Asiyah.
"Karena Ica kasihan dengan Mas, Ica khawatir mas." Asiyah kini menitikkan air mata.
Askara kembali merasakan perasaan yang aneh di hatinya. Apakah ini yang dinamakan emosi manusia? Begitu ucapan Askara dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku sebenarnya…." Askara hendak menyampaikan apa yang terjadi sebenarnya.