Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 39


__ADS_3

Askara turun dari mobilnya. Ia berjalan masuk ke rumahnya dengan terburu-buru. Nampaknya ada sesuatu yang tengah Askara kejar.


“Assalamualaikum.” Ucap Askara membuka pintu.


“Waalaikumsalam. Mas? Mas sudah pulang? Kebetulan sekali, Ica sudah selesai masak.” Asiyah menyambut kedantangan Askara.


“Tidak ada waktu Ca. Kau taruh dimana berkas saham dan aset kita?” Askara tiba-tiba bertanya terkait hal itu.


“Berkas saham dan aset? Memangnya kenapa Mas? Ada sesuatu yang terjadi kah kepada Ayah dan Mamah?” Asiyah tampak kaget bercampur heran saat Askara menyinggung soal harta mereka.


“Tidak, ini bukan soal Mamah atau Ayah. Ada yang lebih penting lagi. Jadi kau taruh dimana? Kau kan yang membereskannya?” Tanya Askara.


“Iya, Ica taruh di atas. mari Ica tunjukkan.” Asiyah lalu mengajak Askara untuk naik ke lantai atas.


Asiyah lalu membuka berangkas yang disimpan di kamar mereka. Asiyah lalu memasukkan PIN berangkas, lalu berangkas pun terbuka.


“Ini Mas.” Asiyah menunjukkan berkas-berkas itu.


“Aku akan membawanya sekarang untuk ditukar menjadi cek.” Ucap Askara.


“Maksud Mas dicairkan? Untuk apa?” Asiyah masih bingung.


“huft.” Askara lalu menarik nafas panjang. Askara lalu menyuruh Asiyah duduk di sampingnya.


“Sini, ada yang ingin mas bicarakan.” Kata Askara.


“Apa Mas?” Asiyah lalu duduk di samping Askara.


“Ca, Ica tahu kan kalau Mas tengah berupaya untuk kasus pembunuhan Dewangga. Mas ingin menjebloskan Wirga ke penjara untuk seumur hidup, bahkan kalau perlu hukuman mati. Tetapi, Mas tidak bisa gegabah begitu saja. Wirga akan menyeret Ayah juga karena Ayah dulu juga rekannya, walau Ayah sudah jauh meninggalkan dunia mafia berpuluhh-puluh tahun yang lalu. Maka dari itu, Mas ingin menjebloskan Wirga dengan tuduhan lain yang lebih kuat. Selain dari pembunuhan Dewangga, Mas menemukan banyak kasus kejahatan yang telah dilakukan oleh Wirga tanpa ada kaitannya dengan Ayah.” Jelas Askara.

__ADS_1


“Lalu semua ini? untuk apa semua ini Mas? Mas tidak berencana akan menyuap hakim kan Mas? Istigfar mas, ingat dosa Mas.” Ucap Asiyah.


“Tidak Ca. Mas tidak akan melakukannya. Semua ini mas siapkan untu seseorang. Dia adalah salah satu korban Wirga. Dia telah ditipu oleh wirga dengan jumlah yang tak main-main. dia tidak ingin bersuara, hanya dnegan memberi ganti rugilah dia baru mau memberi kesaksian.” Jelas Askara.


“Mas juga harus melindungi keselamatan keluarganya juga. Dan menjamin hidup mereka jika terjadi sesuatu terhadap saksi.” Tambah Askara.


“Sebenarnya Mas tak harus mengganti rugi hal yang tidak Mas lakukan. Tetapi, kembali itu semua Ica serahkan kepada Mas.” Ucap Asiyah sambi mengelus lengan Askara.


“Terima kasih Ca, karena telah mendukung dan menerimaku apa adanya. Mas juga berbuat seperti ini atas nama Ayah. Dulu, Ayah pernah masuk ke dunia mafia dan merugikan beberapa orang, ya itung-itung ini sebagai sedikit ganti ruginya.” Ucap Askara.


“Ica doakan semoga apa yang sedang Mas perjuangkan dipermudah oleh Allah.” Ujar Asiyah.


“Aamiin.” Asiyah lalu bersender di bahu Askara. Askara kemudian mengelus kepala Asiyah dengan lembut.


Beberapa hari berikutnya, menjelang sidang Askara mengunjungi sel tahanan Wirga. Melihat kedatangan Askara Wirga nampak tak peduli. Seolah ia tak merasakan kehadiran Askara.


“Putus asa? Tidak ada kata putus asa dalam kamus hidup seorang Wirga.” Ternyata Wirga masih se sombong dan arogan seperti dulu.


“Oh, rupanya penjara tak mengubah tabiat burukmu ya. baiklah, kau nikmati saja sisa waktu indahmu karena tak lama setelah ini kau akan membayar apa yang telah kau perbuat.” Ucap Askara.


“Jangan senang dulu. Kau belum melihat perlawanan yang sesungguhnya.” Ancam Wirga.


“Simpan saja omong kosongmu itu untuk persidangan nanti.” Ucap Askara lalu meninggalkan Wirga.


Di hari berikutnya, sidang pun digelar. Askara masih cemas karena saksi belum hadir. Askara khawatir jika saksi tak hadir. Sidang pun akhirnya dibuka tanpa kehadiran saksi.


“Saya mohon beri waktu sebentar lagi Yang Mulia. Saksi masih dalam perjalanan.” Ucap Pengacara dari Askara.


Akhirnya hakim pun menyetujuinya.

__ADS_1


“Kau sudah pastikan ia akan datang kan?” Tanya Pengacara kepada Askara.


“Ya, aku sudah memastikannya. Entah apa yang sedang terjadi padanya.” Askara tampak cemas.


Beberapa waktu berlalu, saksi belum kunjung datang. Hampir saja persidangan dibatalkan. Tetapi, di saat-saat terakhir mereka dikejutkan dengan kedatangan saksi yang cukup banyak. Orang-orang yang Askara temui dulu, mereka kini hadir di persidangan. Askara tampak tak percaya. padahal dulu mereka menolak ajakan dari Askara mentah-mentah.


Pak Rusly, saksi pertama yang menyetujui ajakan dari Askara bersaksi kepada hakim bahwa mereka sempat dihadang oleh kompotan mafia suruhan dari Wirga.


“Saya tak menyangka jika akan mendapat hal semacam itu. Untung saja Pak Askara memberikan nomor telpon pihak pengawalnya kepada saya. Saat itu juga saya menelpon nomor itu dan tak lama bantuan pun datang. Kami akhirnya bisa selamat dari komplotan mafia itu.” Ucap Pak Rusly.


Persidangan pun berlangsung alot. Saksi demi saksi meberikan keterangan. Tetapi Pihak dari Wirga pun tak kalah kuat. Akhirnya persidangan sampai di tahap akhir. Hakim kini akan mengumumkan hasil persidangan.


“Dan kami nyatakan saudara Wirga dikenakan pasal berlapis terkait pembunuhan, penipuan, pengedaran barang haram narkoba, serta jual beli ilegal. Untuk itu saudara dijatuhkan hukuman tembak mati dan denda sebesar XXX.” Palu pun diketuk. Keputusan hakim sudah bulat.


Mendengar hal itu, Askara langsung sujud syukur. Akhirnya perjuangannya tidak sia-sia. Wirga akhirnya bisa dihukum pidana. Bukan hanya Askara yang senang melainkan para saksi lainnya juga ikut bahagia. Rasanya seperti mimpi. Akhirnya Askara, Asiyah dan keluarganya berhasil keluar dan terbebas dari dunia mafia yang kelam itu.


“Mas.” Asiyah langsung memeluk Askara. Askara lalu memeluk Asiyah dengan erat.


“Kita berhasil Ca. Mas sudah terbebas dari dunia Mafia sialan itu.” Ucap Askara dengan amat berkaca-kaca.


“Alahamdulillah.” Asiyah menangis haru.


Ayah dan Mamah lalu menghampiri Askara.


“Kau hebat nak. Ayah bangga padamu.” Ucap Ayah lalu menepuk pundak Askara.


“Dewangga pasti senang melihatnya.” Ucap Mamah.


Mereka semua bersuka cita di hari itu. Kini, mereka bisa menjalani hidup dengan tenang. Usa dari persidangan itu, Aksara lalu mengurus para saksi yang menjadi korban kejahatan Wirga. Askara dan Ayah menyantuni mereka. Askara dan Ayah juga sudah membuat keputusan, bahawa mereka akan membiayai hidup para korban yang telah menjadi yatim piyatu atau janda karena suaminya dihabisi oleh para mafia. Askara juga mendirikan Yayasan pendidikan dan rumah susun geratis bagi para korban. Hal itu Aksara lalukan untuk menebus kesalahannya dan kesalahan Ayahnya di masa lalu sebagai seorang Mafia.

__ADS_1


__ADS_2