Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 28


__ADS_3

Askara tengah mondar mandir tak jelas, perasanya tengah diliputi oleh kecemasan. Istrinya belum kunjung terlihat juga batang hidungnya. Askara tak bisa diam saja, ia harus melakukan sesuatu.


“Kau mau kemana Askara?” Tanya Ayah yang kemudian bangkit menyusul Askara.


“Aku akan mencarinya.” Jawab Askara.


“Kau jangan bertindak gegabah. Di luar berbahaya, kau tak bisa keluar begitu saja. Mereka bisa menangkapmu. Ayah tidak ijinkan kau kemanapun. Tetap diam di sini.” Ucap Ayah dengan tegas.


“Aku tak perduli. Aku akan tetap mencarinya.” Askara memaksa keluar.


“Askara!” Ayah mengejar Askara.


“Ayah, biarkan saja.” Tiba-tiba Mamah menghentikan Ayah.


“Apa kau sudah gila? Dia akan dihabisi jika keluar begitu saja.” Ayah tampak kesal karena sudah dihentikan oleh Mamah.


“Aku tahu, tetapi ia tak bisa kita hentikan. Semuanya hanya akan sia-sia. Kau tahu jika mereka tak bisa dipisahkan.” Jelas Mamah.


Ayah kemudian duduk. Ia mengelus jidatnya lalu menghembuskan nafas dengan berat. Seakan semua beban tengah memenuhi ruang pikirannya.


Sementara itu, Askara kini tengah keluar. Beberapa petugas mencoba menghentikannya tetapi tak ada yang berhasil. Meski kondisinya masih lemah, Askara tetap bisa melawan rintangan yang ada di hadapannya.


Askara lalu masuk ke hutan sendirian. Dia sudah tidak menggunakan akal sehatnya. Dengan tangan kosong dan tubuh yang lemah, ia memaksa masuk ke dalam hutan. Tak ada lagi rasa takut. Hanya keselamatan istrinya yang tengah ia khawatirkan saat ini.


“srrrrk...” terdengar suara misterius dari dekat Askara berdiri. Askara langsung memutar badan.


“Siapa? Maju dan lawan aku jika berani.” Ucap Askara dengan wajah sangar.


Suara itu mulai menghilang lagi.


“krek, krek,...” suara yang berbeda mulai terdengar. Kini Askara lebih waspada. Ia mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya. Ternyata ia sudah bersiap siaga sebelum masuk ke hutan ini.


“Keluar kau, jangan hanya menggertak saja!” Askara kini mengacungkan pistolnya.


Suara itu lalu hilang.

__ADS_1


“Kriing..” Jantung Askara rasanya hampir copot. Ia kaget saat mendengar bunyi handphone yang berasal dari sakunya.


Askara lalu mengangkat panggilan itu. Sebuah nomor tak dikenal tengah memanggil.


“Halo, siapa kau?” Askara sudah kehabisan kesabaran.


“Tenanglah, santai. Tak ada yang perlu kau takutkan.” Terdengar suara seorang pria dengan nada lembut yang dibuat-buat.


“Kau pasti dalang dibalik semua ini kan? Dimana kau sembunyikan istriku hah?” Askara marah-marah dan membentak pria itu.


“Istrimu aman di tempatku, sudah kubilang jangan khawatirkan apapun.” Ucap pria itu.


“Buang basa basimu itu. Jadi kau mau apa dariku hah? Jangan harap aku mau menurutinya. Aku tengah melacak posisimu, begitu aku tahu keberadaanmu maka jangan harap kau akan lolos.” Ucap Askara dengan berapi-api.


“Ya, silahkan saja coba jika kau bisa. tetapi jika gagal, aku minta satu hal, datanglah nanti ke sutu tempat yang telah aku janjikan, bawa orang tuamu sekalian, jika kau ingin isrtimu kembali ke pangkuanmu dengan selamat.” Ancam pria itu.


“Jangan harap, tunggu saja hingga aku menangkap basah dirimu dan ku jebloskan kau ke penjara hingga membusuk.” Askara lalu menutup telpon itu dengan emosi.


“Arrrghh!” Askara marah besar. Seisi hutan kaget saat mendengar jeritan Askara.


Askara lalu melajutkan langkahnya. Kini, ia tahu harus ke mana. Ia menyusuri hutan menuju gubuk itu. Pasti para mafia itu masih ada di sana. Askara berencana untuk menyelamatkan Asiyah secara sembunyi-sembunyi.


Askara menyusun rencana terlebih dahulu. Ia juga kembali lagi ke tempat persembunyiannya dan keluarganya terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang yang diperlukan. Setelah itu Askara kembali melanjutkan perjalanannya.


Askara menembus hutan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan beberapa anggota mafia yang tengah berjaga.


“Hei! Tangkap dia!” Ucap salah sat mafia yang melihat kemunculan Askara.


Akhirnya adegan kejar mengejar tak terhindarkan. Askara lari sekencang mungkin. Ia juga mencoba untuk bersembunyi dan menghindar dari tembakan peluru yang diarahkan padanya.


Askara juga mencoba melawan dengan senjata miliknya. Tetapi nampaknya semua itu percuma. Askara masih kalah jumlah dengan para mafia itu. Askara dikejar dari arah depan belakang, kanan dan kirinya. Akhirnya Askara tertangkap oleh para mafia itu dengan luka tembakan di kaki. Itu membuat Askara tak bisa berlari lagi.


“Sudah kubilang kan, dia pasti akan kembali.” Ucap salah satu mafia yang meringkus Askara.


“Lepaskan!” Askara memberontak.

__ADS_1


“Jangan harap! Gara-gara kau aku harus menerima hukuman yang sadis dari ketua. Andai waktu itu kau tak kabur!” salah satu mafia yang dulu juga menangkap Askara kini mengikat lengan Askara degan sangat kencang, sehingga membuat aliran dara di bagian pergelangan tersumbat.


“Sekarang, nikmatilah perjumpaanmu dengan ketua.” Ucap anggota mafia yang lain.


Askara lalu di ringkus ke dalam ruang bawah tanah. Tempat itu milik keluarganya, kini tempat itu sudah dikuasai mafia. Semuanya jadi tampak beda.


Kini, Askara tengah dibawa menghadap ke ketua. Para anggota mafia yang berada di dalam ruangan menatap Askara dengan senyuman licik. Askara sudah melawan beberapa kali, tapi tak ada yang berhasil.


Tibalah Askara menghadap ketua. Tampak wajah ketua amat puas saat melihat kemunculan Askara lagi di hadapannya.


“Ah, korban menyerahkan dirinya secara suka rela. Kalau begitu, tak perlu lah aku melakukan pencarian semacam ini.” Ucap ketua. Suaranya tampak aneh dan membuat siapapun yang mendengarnya akan ketakutan.


“diamana kau sembunyikn istriku!” terisk Askara.


“Istrimu? Memangnya kau sudah punya istri? Aku baru tahu. tapi, baguslah. Kita akan bawa dia juga kemari untuk menyaksikan kehancuranmu.” Ucap ketua.


“Jangan berlagak sok tidak tahu! kau sembunyikan dia di mana hah? Jika kau ingin menghabisiku maka habisi saja aku, tapi jangan sentuh keluargaku sedikitpun.” Ucap Askara.


“Memangnya apa kepentingan kami untuk ikut campur dalam urusan keluargamu hah? Tetapi, jika kau memang merugikan kami, maka kami akan jadikan keluargamu sebagai ancaman yang tepat.” Ujar ketua.


“Cukup! sekali lagi di mana kau sembunyikan istriku hah!” Askara memberontak dengan burtal. Beberapa orang yang memeganginya langsung tersungkur. Askara kini meggertak ketua dari arah yang sangat dekat.


“sudah kubilang aku tidak tahu tentang keluargamu! Istrimu atau siapapun! Oh, jadi kau kemari karena itu hah? Baguslah, kami tak usah repot-repot lagi mengancammu. Nampaknya musuhmu bukan hanya kami.” Ketua kini mencekik Askara. Saat Askara meringis kesakitan ketua melepaskan Askara kembali.


Askara langsung tersungkur. Ia menarik nafas dalam-dalam. Rasanya sesak untuk beberapa saat.


“Aku tidak akan membunuhmu secara langsung, melainkan perlahan-lahan.” Ucap ketua.


Askara lalu kembali dibawa oleh para mafia.


“Bawa dia ke pintu neraka.” Ucap ketua. Ia kemudian duduk kembali.


“Baik ketua.” Para mafia itu langsung menyeret Askara keluar dari ruangan. Askara kini benar-benar akan dibawa ke pintu neraka, tempat disiksanya para korban dari kelompok mafia. Tetapi, Askara sendiri tak menghawatirkan atau memikirkan keadaanya. Ia, bahkan sampai saat ini terus memikirkan kondisi istrinya, Asiyah.


Ketua bilang jika bukan mafia yang menyembunyikan Asiyah, lalu siapa tadi yang menelpon Askara? Siapa dalang yang sebenarnya? Siapa sosok di balik penculikan Asiyah? Askara kini diliputi oleh kehawatiran akan istrinya.

__ADS_1


Kondisi tubuhnya mulai melemah, darah terus keluar dari luka tembakan di kakinya, belum lagi luka jahitan bekas operasi yang kembali berdarah. Wajah Askara sudah pucat, perlahan ia mulai kehilangan kesadaran. Askara lalu jatuh pingsan.


__ADS_2