
"Dewangga!" Askara sontak kaget dan tak percaya atas apa yang baru saja ia lihat. Pria dibalik topeng itu ternyata adalah saudara kembarnya sendiri.
"Mengapa? Kau kaget? Dasar pecundang! Aku dari dulu memang sudah mengacungkan pisau kepadamu. Aku ingin menusukmu dari belakang!" Ucap Dewangga dengan marah.
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" Teriak Ayah marah. Ia kesal saat mengetahui bahwa semua ini ulah anaknya sendiri.
"Diam! Diam kau orang tua payah! Punya hak apa kau melarangku untuk melakukan hal ini hah? Kemana kau saat itu di lima belas tahun yang lalu? Kemana kau saat aku sendirian dan ketakutan? Oh, aku lupa. Kau tengah sibuk mencari anak emasmu. Anak emasmu juga hilang, apa lagi dia sering sakit-sakitan. Betul begitu kan Ayah?" Dewangga kini memegang dagu Ayah lalu memalingkan wajahnya dengan amat sombong.
"Sadarlah nak, ini bukan kau yang sebenarnya. Kau tengah dirasuki oleh amarah dan dendam. Kembalilah menjadi dirimu sendiri sebelum semuanya terlambat." Ucap Mamah sembari menitikkan air mata.
"Sabar? Sabar kau bilang? Sabarku sudah habis sejah belasan tahun yang lalu. Buang kata itu jauh-jauh dariku. Memangnya tahu apa kau tentang sabar bila kau sendiri tak mampu mengurus kedua anakmu dengan baik." Kata-kata yang keluar dari mulut Dewangga berhasil melukai hati Mamah. Mamah lalu menitikkan air mata.
"Beraninya kau berkata seperti itu kepada mereka! Jika kau benci padaku maka benci saja padaku sesuka hati mu. Tetapi jangan bawa-bawa mereka dalam urusan kita." Askara kini ikut menimpali.
"Oh, tidak bisa. Aku butuh mereka. Makanya aku bawa kalian semua kesini. Kita akan sedikit bersenang-senang." Dewangga lalu mengacungkan tangannya sebagai tanda isyarat kepada salah satu pengikutnya.
"Tetapi, sebelum semua itu. Biarkan aku perkenalkan seseorang pada kalian. Seseorang yang begitu berjasa dalam menjalankan rencana ini." Dewangga melirik ke arah seseorang yang datang dari arah depan.
Orang itu datang dengan pakaian serba hitam. Ditambah aksesoris kacamata yang menghiasi wajah datar nan dinginnya. Orang itu lalu berdiri tepat disamping Dewangga.
"Show yourself to us my girl." Ucap Dewangga.
Orang itu membuka kacamatanya dan mengangkat kepalanya sedikit agar wajahnya terlihat jelas.
"Nayara." Askara terkejut saat mengetahui siapa orang itu sebenarnya.
"Kau pasti sudah tidak asing lagi dengannya kan?" Ucap Dewangga kepada Askara.
"Kenaa kau lakukan ini Nayara?" Tanya Askara.
"...." Nayara hanya terdiam.
"Kau tidak tahu? Sudah jelas karena ia cinta padamu bodoh!" Dewangga terlihat jijik saat mengucapkan kata itu.
"Dia...siapa mas?" Asiyah yang dari tadi diam kini bersuara.
"Dia bukan siapa-siapa Ca. Kami hanya kenal sebagai sesama anggota mafia. Tidak lebih dari itu, tolong jangan salah faham terlebih dahulu." Ucap Askara.
__ADS_1
"Siapa yang kamu bilang bukan siapa-siapa? Dasar laki-laki buaya!" Kini Nayara angkat suara.
"Aku memang berkata yang sebenarnya, kita memang tidak ada apa-apa. Apa aku salah?" Askara kembali menegaskan.
"Cuh!" Nayara meludah ke arah Askara.
"Bertahun-tahun aku bergelut dengan mafia sialan itu, menantang nyawa dan menaruhkan harga diri dan sekarang kau bilang bukan apa-apa. Aku rela mengikutimu hingga masuk ke dunia mafia, aku sanggup mati hanya karenamu Askara! Dan sekarang ini balasanmu?" Ucap Nayara dengan wajah kesal kepada Askara.
"Kau yang berharap lebih Nayara." Ucap Askara.
"Aku memang berharap lebih kepadamu! Dan akan selalu begitu." Nayara meninggikan nada suaranya.
"Diam!" Dewangga tiba-tiba berteriak.
"Ini bukan saatnya untuk berdebat. Ingat tujuan kita Nayara. Kontrol dirimu." Ucap Dewangga yang kini menenangkan Nayara. Nayara akhirnya luluh.
"Nah, bagus. Langsung saja, aku tidak ingin mengulur lagi waktu. Tujuan kalian semua aku kumpulkan kesini ialah karena aku ingin mengambil semua harta keluarga kita! Ahahaha." Ucap Dewangga dengan rasa puas.
"Kami tidak akan pernah mau menuruti keinginan hajatmu lagi Dewangga. Sudah cukup kami dibuat susah dengan ulahmu." Ucap Ayah menolak mentah.
"Oh, tenang saja. Aku tidak perlu persetujuan darimu. Karena mau tak mau kalian harus menyetujui keputusan ini. Jika kalian ingin melihat anak kesayangan kalian tetap hidup dan bisa keluar dari tempat ini dengan aman, maka tanda tanganni surat ini segera! Atau kalian tidak mau maka..." Dewangga kemudian memberikan kode kepada beberapa orang pesuruhnya.
"Tidaaaak!" Ucap Mamah sembari berteriak.
"Kalau begitu...tanda tangani ini segera!" Dewangga menyodorkan surat itu dengan kasar.
"Jangan!" Baru saja Dewangga hendak maju mendekati Ayah, Askara langsung mencegahnya.
"Jangan lakukan itu! Dia hanya memanfaatkan kita. Jangan terbujuk oleh omong kosongnya." Ucap Askara.
"Dor." Terdengar bunyi pistol dengan sangat kencang. Membuat semua orang yang ada di sana kaget.
"Maaas!" Asiyah memberontak dengan kuat. Akhirnya ia bisa melepaskan diri darj penjaga dan langsung berlari ke Askara.
"Askara!" Mamah sontak panik saat mendengar suara pistol yang ditembakkan.
Untungnya, orang suruhan Dewangga hanya menembakkan ke atas. Tidak mengarah ke Askara. Mereka kembali ke posisinya masing-masing. Asiyah kembali diseret oleh orang suruhan Dewangga.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" Asiyah mencoba melawan.
"Diam kau!" Ucap orang itu dengan kasar.
"Jangan pernah mencoba untuk main-main denganku! Atau nyawamu berakhir." Ancam Dewangga kepada Askara.
Mereka semua sudah dalam keadaan terpojok. Mereka tidak bisa lagi lari kemanapun. Asiyah hanya bisa menangis dan mencemaskan nasib mereka.
"Tanda tangani ini sekarang juga!" Ucap Dewangga kepada Ayah dan Mamah.
"Kumohon, dengarkanlah aku. Jangan..." Askara masih berusaha mencegah mereka untuk menandatangani surat itu. Tetapi percuma, Ayah sudah membubuhkan tanda tangannya diatas materai. Begitupun dengan Mamah. Kini, giliran Askara yang harus menandatanganinya.
"..." Askara tak bergeming. Ia menolak untuk menandatangani surat itu.
"Tanda ranganni sekarang juga bodoh! Jangan membuat aku kesal!" Dewangga mulai naik pitam.
"...." Askara masih tak bergeming.
"Kau!" Dewangga mencekik leher Askara.
"Kau ingin menghabisiku? Ya habisi saja, jika itu membuatmu puas. Tapi jangan sakiti mereka." Askara melirik ke arah Asiyah. Ia memandangi istrinya dengan tatapan haru.
Melihat Askara yang tampak tengah mencemaskan istrinya, Dewangga kemudian terpikirkan sebuah ide.
"Ya, tentu. Wanita ini juga ada gunanya." Dewangga lalu mendekati Asiyah. Ia lalu menjambak jilbab Asiyah dan menyeretnya dengan kasar.
"Jangan sentuh dia sedikitpun dengan tangan kotormu itu!" Askara kini benar-benar murka.
"Kenapa? Kau takut dia kenapa-napa? Kau takut jika wanita manis ini akan tergores saat dekat-dekat denganku?" Dewangga membelai wajah Asiyah.
"Lepaskan tanganmu dari wajahnya dasar keparat!" Askara memberontak dengans sekuat tenaga tapi hasilnya sia-sia.
"Lepaskan." Asiyah merintih.
"Bertahanlah untum sebentar lagi." Ucap Askara kepada Asiyah dengan mata berbinar-binar.
"..."Asiyah kemudian menangis.
__ADS_1
"Jika kau ingin wanita ini selamat, maka tanda tanganni ini sekarang juga payah!" Ucap Dewangga kepada Askara.
"Jangan Mas..." Asiyah mencoba menahan Askara agar tidak menandatangani surat itu.