
Malam itu Askara ditelpon oleh Ketua. Askara sudah mengira kalau ini akan terjadi. Askara lalu mengangkat telpon itu. Usai menerima telpon itu Askara langsung memutar arah. Ia melajukan mobilnya ke tempat suruhan ketuanya.
Askara ternyata pergi ke markas besar. Tanpa basa-basi lagi Askara langsung menghadap ketua. Askara disambut dengan dingin oleh ketua.
"Askara Nirwana Sadewa." Ketua menyebut nama lengkap Askara.
"..." Askara berjalan terus mendekati ketua.
"Sudah enam tahun semenjak keikutsertaan mu dalam kelompok ini. Kukira itu cukup untuk mematikan jiwa belas kasihanmu. Ternyata tidak." Katua kini berdiri dan mendekati Askara.
"Aku tidak pernah menaruh rasa iba atau belas kasihan kepada siapapun." Jawab Askara dingin.
"Benarkah? Lalu kenapa kau tidak membunuh Litani dengan tanganmu sendiri hah? Apa karena dia sahabatmu sehingga kau merasa iba terhadapnya?" Ketua kini memegang dahu Askara.
"Dis bukan sahabatku. Aku tidak pernah berkawan dengan siapapun." Askara masih nekat menjawab.
"Lalu kenapa kau tak membunuhnya langsung?" Ketua kini mendorong wajah Askara dengan kencang sehingga membuat Askara tersungkur.
"Karena dia yang terlebih dahulu menghabisi dirinya sendiri." Askara mencoba untuk bangkit.
"Kenapa kau tidak menghabisnya duluan? Kau memang payah." Ketua langsung meninju Askara dengan kencang.
"Buk! Buk!" Hampir sekujur tubuh Askara ditinju oleh Ketua.
"Kau memang payah! Merasakan emosi tidak bisa! Bahkan mematikan rasa peduli pun tak bisa! Manusia macam apa kau ini hah?" Ketua kini meniorokkan Askara ke ponok dengan keras.
"Arrrggghhh!" Askara mengeram kesakitan.
"Tok-tok-tok!" Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ketua langsung berhenti memukuli Askara.
"Siapa?" Tanya ketua dengan emosi.
"Nayara." Terdengar suara perempuan menjawab.
"Masuk." Ujar ketua.
Masuklah seorang wanita bersetelan jas hitam dengan perawakan yang tinggi serta paras yang cantik. Wanita itu mengernyit saat menatap ke arah Askara.
"Ada hal mendesak yang ingin aku sampaikan padamu ketua. Ini terkait paket dari Cina." Bisik wanita itu.
"Kau diminta untuk mengeceknya segera." Kata wanita itu.
"Argh! Sialan. Kali ini kau selamat. Lihat saja, lain kali kau tidak akan lolos." Gertak ketua pada Askara. Ketua pun peegi meninggalkan ruangannya.
Wanita itu terus memperhatikan kepergian ketua, baru setelah dirasa sudah tidak ada, wanita itu langsung mendekati Askara.
"Kau berulah lagi?" Wanita itu kini membantu Askara untuk bangkit.
"Aku bisa melakukannya sendiri." Askara lalu bangkit dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Untung saja aku punya alasan untuk memisahkan kau dari ketua. Tapi lain kali, aku tak yakin." Ujar wanita itu.
"Kau tak usah repot-repot membantuku seperti ini. Aku bukan orang yang ingin dibelas kasihani." Askara lalu memegang luka di bibirnya. Ia pun mengernyit kesakitan.
"Askara! Ini bukan soal belas kasihan. Ini karena aku peduli padamu." Kata wanita itu.
__ADS_1
"Untuk apa kau peduli padaku?" Tanya Askara.
"Karena… karena…karena kau temanku." Wajah wanita itu tiba-tiba berubah nerah.
"Aku tak pernah memintamu untuk menjadi temanku." Askara masih tak peka dengan apa yang dirasakan oleh wanita itu padanya.
"Askara, aku tahu kau tak bisa memahami emosiku, tapi kau harus tahu bahwa manusia itu saling membutuhkan. Tak selamanya kau bisa hidup sendiri."
"Aku bisa berdiri di kaki ku sendiri."
"Berhentilah bersikap arogan dan belajarlah untuk memahami emosi seseorang." Wanita itu kini menatap wajah Askara dengan penuh kesungguhan.
"Jangan ajari aku jika aku sendiripun sama."
"Aku tidak sama seeprtimu Askara."
"Sudah, cukup. Aku harus pergi sekarang."
"Ketua akan berada di ruang dewan, kau jangan lewat sana." Wanita itu menasihati.
"Aku tahu. Aku pergi sekarang." Askara lalu berjalan dengan cepat.
Askara pun berhasil keluar dari gedung markas dengan selamat. Saat ia hendak menyalakan mobilnya wajita u muncul lagi menghampiri Askara.
"Askara, buka!" Wanita itu mengetuk kaca mobil.
"Apa lagi?" Tanya Askara.
"Jika Minggu ini ada seseorang suruhan dari ketua yang menelponmu dan menintamu untuk datang ke suatu tempat kau jangan datang. Mereka akan menjebakmu lagi." Jelas wanita itu.
"Dan satu hal lagi." Ucap gadis itu ragu.
"Apa?"
"Aku sebenarnya….,"
"Nayara!" Seseorang dari arah belakang meneriaki gadis itu. Sehingga gadis itu belum sempat menyelesaikan ucapannya.
"Pergilah, kau akan dalam masalah jika tidak menggubris mereka." Kata Askara.
"Argh, baik, baik, aku ke sana sekarang. Kau jaga dirimu." Ucap wanita itu pada Askara.
"Ya." Jawab Askara.
Wanita itu lalu pergi. Askara kemudian menyalakan mobilnya dan pergi dari tempat itu. Askara lalu mengendarai mobilnya sampai ke rumahnya. Saat turun dari mobil, Askara baru ingat bahwa ia sudah berjanji pada Asiyah untuk pulang lebih awal. Ah, sudahlah, paling wanita itu sudah tidur sekarang, pikir Askara. Askara lalu masuk membuka pintu.
Askara langsung disambut oleh istrinya, wajah Asiyah terlihat begitu panik saat melihat kondisi Askara yang babak belur. Askara mencoba untuk menyembunyikan lukanya tetapi sudah kepalang tanggung. Asiyah lalu tampak sangat cemas.
Tetapi untungnya, Asiyah merawat Askara dengan baik. Asiyah mengobati luka Askara dengan telaten. Askara sangat heran dengan istrinya. Mengapa ia berbeda dari wanita lain diluar sana.
Setiap kali Askara berada terlalu dekat dengan istrinya, perasaan aneh itu muncul. Askara merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia juga merasakan sekujur tubuhnya keringat dingin. Askara bingung dengan apa yang tengah ia rasakan.
"Ya Allah, kenapa wajah mas bisa sampai babak belur begini? Mas gak berantem atau tawuran kan?" Tanya Asiyah sambil mengoleskan obat merah ke luka yang ada di bibir Askara.
"Tausah banyak tanya." Askara kemudian berbicara pelan.
__ADS_1
"Tausah banyak tanya bagaimana? Jelas-jelas Ica khawatir mas. Mas berangkat baik-baik saja, tapi pulang-pulang sudah begini." Asiyah kini tampak sedih.
"Mengapa kau tampak sedih? Aku yang terluka, bukan kau." Askara heran dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Asiyah.
"Karena Ica kasihan dengan Mas, Ica khawatir mas." Asiyah kini menitikkan air mata.
Askara kembali merasakan perasaan yang aneh di hatinya. Apakah ini yang dinamakan emosi manusia? Begitu ucapan Askara dalam hatinya.
"Aku sebenarnya…." Askara hendak menyampaikan apa yang terjadi sebenarnya.
"Ya…" Asiyah sudah sangat serius memperhatikan wajah Askara lekat-lekat.
"Aku habis dikeroyoki oleh orang-orang yang mencoba memalakku di jalan." Askara ternyata malah beralibi.
"Innalilahi Mas, Ica jadi sangat khawatir mendengarnya. Besok-besok mas jangan lewat sana lagi ya." Asiyah lalu membalut luka di wajah Askara dwngan kain kasa.
"Ya." Jawab Askara singkat.
"Yasudah, mas sekarang makan ya, Ica sudah siapkan makanan yang Ica masak sendiri untuk mas." Kata Asiyah.
Askara hanya bisa menuruti perintah dari istrinya. Ia lalu duduk di meja makan dan memakan makanan yang dihidangkan oleh istrinya. Askara kaget karena semua masakan yang dimakan oleh istrinya enak-enak.
"Mas mau tambah?" Tanya Asiyah.
"Tidak, cukup. Aku sudah kenyang." Jawab Askara.
"Baik, kalau begitu Ica ambilkan menu penutupnya ya." Asiyah lalu berjalan kw belakang.
Asiyah kembali dengan membawa makanan penutup. Sebuah ouding cake yang tampak manis dan lembut. Asiyah laku menyajikannya pada suaminya.
"Ada hal yang ingin kukatakan padamu." Askara tiba-tiba berbicara dwngan nada serius pada Asiyah.
"Ada apa mas?"
"Kantorku sedang membutuhkan seorang pimpinan manager, kudengar kau S3 dari fakultas ekonomi dan bisnis. Kurasa kau bisa mengisi posisi itu." Kata Askara.
"Emmm, bagaiman ya Mas… Ica mau-mau saja. Tapi Ica takut jika Ica bekerja nangi Mas dan rumah ini malah tak terurus." Jawab Asiyah.
"Rumah ini bisa diurus oleh asisten rumah tangga. Nanti kau cari saja orangnya, kau bekerja hanya dari oagi sampai sore. Untuk sore sampai malam kau bisa mengurusku. Lagi pula kau tidak memiliki seorang anak jadi tidak ada hak yang membebanimu." Jelas Askara.
"Kalau mas mau Ica bekerja, Ica akan turuti kemauan Mas. Selama mmitu dalam ridho mas. Insyaallah Ica juga tidak akan melupakan kewajiban Ica sebagai seorang istri. Tapi, jika mas mau ica sibuk di rumah mengurus mas dan anak-anak mas ica juga bisa. Mas mau bikin sekarang?" Asiyah malah menggoda Askara.
"Kau jangan berbicara yang tidak-tidak." Askara tampak kikuk setelah mendengar ucapan dari Asiyah.
"Apa yang tidak-tidak? Kan kita sudah suami istri mas. Perbincangan semacam itu sudah wajar. Mas mau Ica layani malam ini?" Asiyah masih menggoda Askara.
"Aku tidak berselera. Aku akan istirahat. Seluruh badanku rasanya remuk." Askara lalu bangkit dari kursinya dan berjalan naik ke kamarnya.
"Baiklah Mas, selamat malam. Semoga mas tidur dengan nyenyak ya, Ica minta maaf atas semua kesalahan Ica. Ica mohon keridhoannya ya Mas. Assalamualaikum." Asiyah lalu mencium tangan Aksara.
"Sejuk betuk mendengar ucapannya." Tutur Askara dalam hatinya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Askara.
Askara lalu beranjak naik ke atas.
__ADS_1
"Sulit betul untuk meluluhkan hatinya. Mau sampai kapan aku dan dia saling asing seperti ini. Ia bahkan belum menyentuhku sama sekali. Apa kami bisa mempertahankan rumah tangga ini?" Tutur Asiyah dalam hatinya.