Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia
Bab 6


__ADS_3

Askara tak faham dengan yang namanya perasaan. Seperti bagaimana manusia bisa merasakan sakit tatkala ditinggal oleh seseorang. Mengapa sebuah kepergian diiringi oleh tangisan dan derai air mata. Apa ini sebuah keharusan atau memang terjadi begitu saja.


Askara bingung saat melihat orang-orang yang berkumpul dan menangisi suatu. Atau orang-orang yang bersorak dan tertawa lepas. Emosi itu hanya milik mereka tetapi tidak bagi Askara.


"Kriiing." Suara telepon memecah lamunan Askara.


Ia kemudian merogoh sakunya dan mengangkat telepon. Askara nampak sangat serius saat mengangkat telepon itu.


"Ya. Baik. Aku ke sana sekarang."


Askara tanpa ragu langsung menyuruh Asiyah pulang di tengah kesedihan dan kedukaan yang dialaminya tatkala kepergian Abinya.


Askara memacu mobilnya dengan cepat. Ada hal mendesak yang tengah menunggunya. Usai mengantar Asiyah ke rumahnya Askara langsung pergi ke suatu tempat. Askara melepas kartu sim di handphonenya. Ia juga mengganti pakaiannya. Askara kini mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan kacamata hitamnya.


Askara tiba di tempat itu. Sebuah pulau kecil yang janya bisa diakses menggunakan perahu milik pribadi. Pulau itu tersembunyi dari peta. Sebuah pulau misterius yang menjadi markas besar kelompok mafia kelas kakap.


Askara berjalan dengan cepat, di depannya sudah ada dua orang yang menunggunya. Askara lalu menjabat tangan kedua orang itu.


"Kau sudah ditunggu oleh ketua." Ucap salah seorang itu.


"Aku tahu." Jawab Askara.


"Dia tengah marah besar. Kau jangan sampai salah ucap atau apapun." Ucap seseorang yang lain.


Askara langsung berjalan menuju lift mewah dengan tombol yang begitu banyak. Tetapi lift itu tidak digunakan untuk naik ke lantai atas, melainkan ke lantai yang ada di bawah tanah. Markas besar meraka berada di bawah tanah dengan penjagaan yang luar biasa ketat. Tidak sembarang orang bisa menembusnya.


Askara tiba di lantai yang dituju. Ia kemudian berjalan lagi menuju sebuah ruangan yang ada di hadapannya. Ruang itqu adalah ruang pertemuan para mafia. Terdapat banyak kursi yang kini kosong dan hanya diisi oleh beberapa orang. Askara lalu berjalan menuju kursi utama. Kursi dimana sang ketua mafia duduk.


"Ah, si alexithymia, bagus kali ini kau datang tepat waktu." Ucap ketua Mafia.


"Namaku Askara."


"Aku tahu. Tapi aku suka memanggilmu dengan alexithymia. Karena hanya kau yang memiliki kepribadian semacam itu. Hahahaha." Ketua Mafia tertawa puas.


"...." Askara hanya terdiam.


"Beberapa orang didunia ini juga memilikinya. Aku hanya salah satu dari mereka." Askara menjawab datar.


"Sudah kubilang aku tahu!" Ketua mafia jadi emosi.


"Ah, aku lupa. Kau hanya akan terdiam walau aku marah, tersenyum atau menagis didepanmu sekalipun. Mengapa aku tidak bisa mengontrol diri didepan orang semacam mu." Ketua lalu duduk kembali.


"Jadi, mengapa anda memanggil saya?" Tanya Askara.


"Litan. Habisi dia! Dia sudah gagal dalam menjalankan tugasnya dan malah membuat kita dalam masalah. Menyesal aku menaruhnya menjadi dewan legislatif. Sekarang tugasmu adalah menumpasnya. Selesaikan itu malam ini juga."


"..." Askara kembali terdiam.

__ADS_1


"Mengapa? Kau tidak mau? Apa aku sendiri yang harus turun tangan?"


"Bukan begitu."


"Lalu kenapa? Justru aku memilih mu untuk tugas ini karena kau tidak akan menangis atau bersedih setelah melakukannya. Kau orang yang tepat untuk tugas ini. Kau mau menolak perintah dariku?"


"Tidak."


"Bagus, bagus. Sekarang jalankan tugas itu."


"..." Askara lalu pergi.


Askara memacu mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia merasa gelisah dan tak tenang. Tetapi ia sendiri juga bingung dengan apa yang tengah ia rasakan. Perasaan semacam apa ini? Kenapa setiap kali ia menghabisi seseorang rasanya seluruh tubuhnya sesak dan panas. Hantinya seperti tercekik. Askara lalu mengendorkan kerah bajunya.


Ia mengehtikan mobilnya secara mendadak. Ia tiba-tiba teringat kenangan tentang Litani. Pria yang selalu ceroboh dalam melakukan apapun. Askara mulai mengutuk pria itu, mengapa ia berani masuk ke jurang mafia jika ia tahu bahwa dirinya seceroboh itu. Askara mulai keringat dingin. Apa Litani akan selesai malam ini di tangan Askara? Askara lalu melajukan kembali mobilnya.


Ia akhirnya sampai di sebuah jalan kosong dengan sebelah kanan jalan adalah tebing dan sebelah kirinya adalah jurang yang mengarah langsung ke laut. Nampak sebuah mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan. Itu adalah mobil Litani.


"Mengapa kau malah datang?" Ucap Askara dalam hatinya.


Askara lalu keluar dari mobil dan mendekati Litani.


"Ternyata kau yang disuruh oleh ketua. Tak sangka jika malam ini aku akan berakhir di tanganmu." Ucap Litani.


"Kenapa kau malah datang?" Tanya Askara.


"Dasar bodoh! Mengapa kau bertindak seceroboh itu? Mengapa?" Askara tiba-tiba merasakan perasaan aneh, sesutu yang membuat dadanya sesak dan matanya panas.


"Arrgh! Memang benar rumor yang beredar itu, bahwa kau tak pernah membunuh targetmu dengan tanganmu sendiri! Mengapa kau terus mengasihani diriku? Kau bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata! Manusia macam apa dirimu?" Litani lalu merampas pistol yang ada di saku baju Askara.


"Kau mau apa?" Askara mencoba mengambil pistol itu dari tangan Litani.


"Jika kau tak mampu menghabisiku, maka biar aku yang melakukannya sendiri."


"Kau jangan bertindak gegabah lagi…"


"Dor!" Belum sempat Askara menghentikannya, Litani sudah menembakkan pistol itu ke kepalanya sendiri.


Tubuh Litani ambruk begitu saja. Askara langsung menopangnya.


"Tolong, jaga Tresa dan Liana, bilang padanya bahwa aku mencintai mereka." Mulut Litani lalu memuntahkan darah yang begitu banyak. Tak lama ia pun mengembuskan nafas terakhirnya.


Askara lalu menutup kedua kelopak mata Litani. Askara gemetaran seluruh tubuhnya, lagi-lagi ia merasakan hal aneh ini. Semacam suatu penyakit yang tiba-tiba menjangkitinya tatkala ia menyaksikan kejadian tragis. Penyakit itu membuat dadanya sesak dan nafasnya tak beraturan. Namun meski begitu, ekspresi Askara hanya datar, meski ia telah melihat temannya sendiri mati di depan matanya.


Usai menyelesaikan persoalan mengenai Litani, Askara kembali pulang ke rumahnya. Ini sudah larut malam, mungkin orang rumah sudah tidur. Askara lalu naik ke kamarnya. Askara kaget saat melihat kondisi kamarnya.


Ia lalu mencari dalang dibalik kasus penyelundupan kamarnya. Ternyata itu adalah ulah wanita itu.

__ADS_1


"Maaf Mas, aku tak tahu jika kamar itu tidak boleh dibersihkan." Ucap Asiyah.


"Siapa yang sudah mengizinkanmu untuk masuk ke kamarku?"


"Mamah! Mamah yang mengizinkannya." Mamah tiba-tiba muncul.


"Berani sekali Mamah mengizinkan wanita ini masuk ke kamarku!"


"Wanita itu istrimu Askara! Berhenti memanggilnya dengan sebutan wanita itu. Dan dia juga berhak untuk ikut campur mengenai kamarmu atau bahkan hidupmu. Karena sekarang dia istrimu!" Mamah terlihat jengkel.


"Oh, jadi karena itu Mamah menikahkan ku dengannya."


"Ya. Agar dia bisa merubahmu! Jangan suruh dia tidur di kamar lain. Suami istri harus tidur sekamar." Ucap Mamah.


"Jangan atur hidupku lagi!"


"Kami akan selalu mengatur hidupmu, selam kau bersikap seperti ini terus maka kami akan bersikap seperti ini juga." Tiba-tiba Ayah muncul.


"Oh, begitu ya. Baiklah, sekarang aku dan wanita ini akan pindah ke rumahku sendiri. Aku sudah tak tahan terus menerus diatur oleh kalian." Askara lalu menarik lengan Asiyah.


"Kita mau kemana mas?" Asiyah tampak bingung dan ragu.


"Sudah, ikuti saja aku."


"Askara kau tidak bisa meninggalkan rumah ini." Ayah mencegah Askara.


"Benarkah? Bukankah aku tidak boleh meninggalkan rumah ini selama aku masih lajang dan jadi anak kalian? Sekarang aku sudah bukan lajang lagi, aku sudah menikah, jadi aku bebas untuk pergi dari rumah ini. Bukankah fungsi wanita ini adalah sebagai pengganti kalian kan ? Yang akan mengaturku selama di sana?"


"..." Ayah dan Mamah hanya bungkam setelah mendengar ucapan dari Askara.


"Nah, jadi tolong biarkan aku pergi sekarang." Askara lalu berjalan pergi bersama Asiyah.


Askara pergi mengemasi semua barangnya. Melihat Askara yang kerepotan Asiyah lalu mencoba untuk menawarkan bantuan.


"Mas mau dibantu?"


"Tak usah. Urus saja punyamu."


"Tapi punya Ica sudah rapi, bahkan sejak datang ke sini. Asiyah belum membuak barang bawaann Ica semenjak datang."


"Yasudah kau diam saja."


"Baiklah." Asiyah lalu duduk menunggu Askara.


Setelah semuanya selesai mereka lalu berangkat.


"Kita mau kemana mas?" Tanya Asiyah.

__ADS_1


"Ke tempat yang jauh dari sini." Jawab Askara.


__ADS_2